Saturday, 18 April 2026
above article banner area

Kalah Namun Tidak Bermental Kalah

Kalah atau menang dalam pertandingan olah raga adalah hal biasa. Tidak ada sesuatu yang perlu disesali. Kekalahan bisa menimpa siapa saja, dan sebaliknya  juga kemenangan. Tatkala  kalah dalam bertanding,  tidak perlu ada pihak-pihak yang  disalahkan. Kalau ada pihak-pihak yang ternyata melakukan, itupun juga hal biasa. Sudah barang tentu, kesalahan itu tidak mungkin disengaja atau sesuatu yang selalu berhasil  dihindari.

  Memang tampak oleh sementara orang, beberapa pemain dalam sepak bola final pertama di Malaysia melakukan kesalahan, misalnya salah umpan, tendangan terlalu jauh, melenceng, operan salah sasaran dan lain-lain. Kekeliruan Itu semua, kiranya  dipahami oleh semua orang. Demikian pula, umpama  ada  supporter yang sedih, kecewa, jengkel, juga tidak perlu disalahkan. Sebab itu pertanda bahwa mereka  simpatik, sayang,  dan mencintai kesebelasannya.   Partandingan antar kesebelasan di Malaysia adalah bukan pertandingan biasa. Pertandingan itu adalah babak final. Artinya kedua belah pihak sudah sama-sama kuat. Masing-masing sudah melewati berbagai tahap penyisihan. Menganggap bahwa lawan yang dihadapi  adalah ringan merupakan  hal keliru, sekalipun  dalam pertandingan sebelumnya,  mereka pernah dikalahkan.   Selain itu pertandingan tersebut belum berakhir. Setelah kesebelasan Indonesia kalah hingga tiga kosong,  tahap  itu belum final. Masih ada kesempatan berikutnya. Bisa jadi, kalau para pemain Indonesia tidak kalah mental, masih memiliki semangat, kepercayaan diri dan tidak  terkena  penyakit berjiwa kalah, maka masih sangat memungkin pada  tahap  final kedua akan  menang. Peluang untuk memenangkan pertandingan masih terbuka lebar.   Adapun yang dimaksud  bermental kalah, misalnya,  mereka masih marah, murung, nyesal, jengkel, menyalahkan teman, sumpek, frustasi, selalu meletakkan kedua tangannya di antara kepala sehingga menggambarkan orang sedang susah,  dan seterusnya. Mental pemenang dan juara tidak begitu. Semua dianggapnya biasa, apa yang telah terjadi dianggap pelajaran penting, tokh  kemenangan itu  suatu saat akan berhasil  diraih.      Memang  siapapun yang bertanding  ingin merebut  kemenangan. Kedua belah pihak berusaha keras mendapatkannya. Namun tetap saja, bahwa peluang menang itu hanya satu, yaitu di antara keduanya yang  beruntung dan lebih berkualitas. Pertandingan itu sendiri, sebenarnya adalah proses untuk  mendapatkan yang terbaik. Dalam pertandingan, siapa yang  paling berkualitas, maka itulah yang  akan  mendapatkan kemenangan. Maka apapun pihak pemenang   harus  diakui sebagai   yang berkualitas dan unggul.   Semua orang  selalu menghendaki untuk  mendapatkan kemenangan. Akan tetapi, keinginan itu tidak selalu terpenuhi.  Jika yang disebut berkualitas itu ternyata belum berada  pada pihak dirinya, maka sikap yang bagus adalah mengakui bahwa lawannya memang masih unggul.  Keunggulan itu ke depan harus direbut.  Sementara sekalipun tidak bermental kalah, maka kekalahan itu harus diterima.  Ke depan,  yang terpenting  adalah harus  berusaha keras  memperbaiki diri.    Akhirnya, bahwa yang seharusnya dibangun, ——dalam keadaan apapun,   adalah mental pemenang. Setidaknya, sekalipun sedang  dalam keadaan kalah  harus mampu  mengakui kelebihan dan kehebatan pihak lain, berpikir obyektif, dan berkeyakinan bahwa suatu ketika kemenangan itu akan diraih.  Dengan demikian maka  artinya,  mental menang bisa dipelihara. Kalah tetapi masih bermental tidak kalah. Wallagu a’lam      

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *