Saturday, 18 April 2026
above article banner area

Dzikir Nasional Dan Persatuan Ummat

Harian  Republika,  Selasa tanggal 28 Desember 2010 kemarin mengiklankan tentang akan diselenggarakan dzikir Nasional di Masjid Agung At-Tin Taman Mini Indonesia Indah di Jakarta. Dzikir itu akan dihadiri dan sekaligus menyambut Menteri Agama dan  Ust.Muhammad Arifin Ilham. Selain itu, akan memberi tausiyah Dr.KH.Said Agil Siradj, Dr.Haidar Nashir, Dr.M.Hidayat Nurwahid,MA, Ust.Toto Tasmara, Ust.Tengku Zulkarnain, Prof. Dr. Tutty Alawiyah. Untuk menambah kekhusukan dzikir tersebut,  dianjurkan agar hadirin mengenakan pakaian putih-putih.

  Bagi umat Islam, dzikir  adalah hal biasa, yang seharusnya dijalankan sehari-hari, atau bahkan  pada setiap saat atau waktu. Dalam al Qurán  disebut sebuah konsep, yaitu  ulul albaab.  Dijelaskan dalam kitab suci itu  bahwa salah satu  ciri ulul al baab  adalah orang-orang yang selalu berdzikir pada saat berdiri, duduk dan berbaring, yadzkuruunallah qiyaman wa qukudan wa ala junuubihim. Menikuti konsep itu, maka seharusnya pada setiap saat, seseorang yang menghendaki agar menyandang identitas mulia, yaitu  sebagai  ulul al baab, maka seharusnya selalu berdzikir atau mengingat Allah pada setiap waktu.     Disadari atau tidak, bahwa posisi setiap orang selalu hanya pada tiga keadaaan. Yaitu, dalam keadaan berdiri,  duduk dan atau berbaring.  Jika tidak sedang dala keadaan berdiri atau berbaring maka duduk, dan jika tidak duduk atau tidak sedang berdiri, maka berbaring. Pada setiap saat, manusia ulul albaab  hendaknya  selalu berdzikir atau mengingat Allah dalam keadaan apapun. Oleh karena itu,  acara yang digagas Republika,  dan diselenggarakan secara nasional itu menjadi hal yang sangat tepat,  untuk mengingatkan   betapa pentingnya berdzikir itu,  dan hendaknya  selalu dilakukan oleh kaum muslimin  pada setiap saat.   Hal menarik dari rencana kegiatan dzikir itu, bahwa di antaranya disebut sebagai bersifat nasional. Sebutan nasional menggambarkan  bahwa lingkup tokoh,  peserta, partisipan, atau  lainnya datang dari  banyak unsur  atau  elemen yang luas.  Penyebutan istilah nasional  mestinya  digunakan untuk menggambarkan bahwa kegiatan itu  diikuti oleh kalangan luas. Sebagaimana misalnya, sebutan   seminar nasional, ujian nasional, gerakan nasional, organisasi politik nasional, dan lain-lain diikuti oleh kalangan luas,  merepresentasikan secara nasional.  Sebutan dzikir nasional rasanya masih baru diperkenalkan. Biasanya  sebutan dzikir dipadukan dengan kata akbar, sehingga disebut dzikir akbar,  karena  diikuti oleh sejumlah besar orang.     Tatkala membaca iklan dimaksud, saya mencoba untuk memahami, sebutan nasional dalam kontek  berdzikkir dimaksud. Dzikir tersebut  hanya akan dilaksanakan di Jakarta, dan mungkin juga hanya diikuti oleh kaum muslimin  yang berdomisili di ibu kota. Umpama ada peserta dari daerah lain, mungkin tidak terlalu banyak jumlahnya.  Selain itu, dzikir itu juga tidak dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia hingga tepat disebut sebagai gerakan nasional. Jika demikian,  maka apa sebenarnya relevansi sebutan nasional dalam kegiatan dzikir itu.  Mungkin akan lebih tepat disebut sebagai dzikir ibu kota. Akan tetapi jika disebut demikian, ——-misalnya,  dzikir ibu kota, maka rasanya juga kurang tepat dan atau kurang lazim istilah  itu digunakan.   Selanjutnya, masih dalam upaya  menemukan  relevansi   sebutan itu, saya mencoba melihat orang-orang penting  yang akan hadir dan memawarnai kegiatan dzikir itu. Disebutkan misalnya, ada  Menteri Agama RI, Dr.KH Said Agil Siradj, Ketua PBNU, Dr.Haidar Nashir, Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. M.Hidayat Nurwahid, MA tokoh PKS dan lainnya. Melihat identitas di belakang masing-masing tokoh yang akan hadir pada kegiatan tersebut, maka saya baru berhasil menemukan  relevansi sebutan nasional itu.  Bahkan sekaligus juga merasakan  keindahan  yang akan terjadi dalam kegiatan dzikir itu.     Keindahan itu akan tampak dan terasa,  karena  dzikir itu akan dihadiri  oleh   para tokoh Islam tingkat nasional yang berbeda-beda latar belakang organisasi yang dipimpin.  Mereka akan  bertemu dan melaksanakan kegiatan ritual secara  bersama-sama.  Padahal selama ini,  dalam  kegiatan ritual,  pada umumnya jarang  sekali, mereka  melakukannya  secara bersama-sama.  Kegiatan ritual biasanya dilakukan di antara kelompokmnya masing-masing  yang  berbeda-beda. Tempat dan kadang waktunya bisa berbeda-beda pula. Sebagian shalat Id di masjid, sebagian lainnya di lapangan. Sebagian berhari raya, hari senin misalnya, sementara lainnya hari Selasa, dan seterusnya.  Mereka sudah terbiasa berseminar, berdiskusi, dialog bersama-sama, tetapi tidak demikian dalam beritual.  Di antara mereka tidak mudah disatukan.   Bahkan lebih aneh lagi, ada di antaranya saling mengklaim masjid, mushala dan juga madrasah,   hingga muncul kabar masjid kelompok tertentu diklaim oleh kelompok atau organoisasi lainnya. Akibatnya,  timbul problem yang tidak sederhana dan mudah diselesaikan. Kegiatan ritual yang semestinya menjadi sarana pemersatu bagi umat Islam, akhirnya justru menjadi sebab perpecahan. Berbeda dengan itu, dzikir nasional yang akan segera dilaksanakan,  justru akan menyatukan di antara para tokoh  yang berasal dari latar belakang organisasi yang berbeda-beda itu.   Dengan demikian, maka letak keindahan kegiatan itu, bukan saja bisa didengar  dan dirasakan dari suara dzikir,  yaitu dalam bertasbih, tahlil, tahmid,  dan takbir oleh  semua yang hadir, melainkan  juga  dari  berkumpul dan  menyatunya para tokoh Islam  yang datang dari berbagai kelompok atau organisasi itu. Maka, semogalah, dzikir nasional ini benar-benar menghasilkan makna yang luas dan mendalam, tidak terkecuali dalam upaya membangun kesadaran tentang betapa pentingnya persatuan  ummat,  yang hal itu seharusnya dimulai dari para tokohnya. Mudah-mudahan kegiatan  dzikir nasional yang segera akan dilaksanakan tersebut,  menjadi awal persatuan ummat di negeri ini.   Wallahu a’lam.     

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *