Saturday, 18 April 2026
above article banner area

Menjadi Pebisnis Memerlukan Mental Bisnis

Mengawali bisnis selalu memerlukan kemampuan, pengalaman, modal  dan juga semangat. Tanpa  bekal itu semua,  maka akan sulit memulai pekerjaan itu. Akan tetapi selain itu, masih  ada lagi yang lebih penting dari semuanya itu, ialah mental berdagang atau bisnis.  Sekalipun tersedia modal, fasilitas,  dan  pengalaman, namun apabila tidak dilengkapi dengan mental berdagang, maka kegiatan itu tidak akan  berkembang.

  Jiwa berdagang mutlak diperlukan. Seseorang memiliki pengetahuan tentang perdagangan, atau mungkin telah lulus pendidikan bisnis, tetapi oleh karena tidak memiliki jiwa bisnis, maka pengetahuannya tidak berhasil diaplikasikan dalam dunia itu. Oleh karena itu, pengetahuan memang penting dicari dan dikembangkan. Akan tetapi, pengetahuan itu harus  disempurnakan dengan  mental bisnis.   Sebaliknya, seseorang tidak pernah mendapatkan pengetahuan akademik tentang bisnis atau perdagangan, akan tetapi karena memiliki jiwa atau mental bisnis, maka justru akan berhasil dalam mengembangkan bisnis yang digeluti. Mental bisnis harus dimiliki oleh setiap pebisnis. Mental bisnis bagaikan nyawa, ruh atau jiwa yang menjadi kekuatan penggerak dirinya. Dengan menyandang mental bisnis, seseorang akan menyenangi usahanya dan sanggup menanggung segala resikonya.        Pertanyaannya kemudian adalah,  bagaimana membangun mental bisnis yang sedemikian penting itu. Selama ini, setahu saya,  tidak tersedia sekolah yang khusus membangun mental itu. Mental bisnis harus dikembangkan sendiri oleh yang bersangkutan, di antaranya melalui latihan,  pemagangan, praktek kerja lapangan dan lain-lain. Dan ternyata, mengembangkan mental bisnis kadang kala, jauh  lebih sulit dari pada menambah pengetahuan yang diperlukan.   Rupanya aspek membangun mental ini  masih gagal ditumbuh-kembangkan oleh banyak lembaga pendidikan, tidak terkecuali  di perguruan tinggi. Akibatnya, seorang telah menjadi sarjana bidang ilmu tertentu tetapi, ilmunya belum tergambar dari perilakunya sehari-hari. Seorang  sarjana pertanian misalnya, lebih menyukai menjadi wartawan daripada bekerja sesuai dengan bidangnya. Lulus dari fakultas ekonomi, namun  karena tidak memiliki mental bisnis, maka tidak mampu merintis usaha ekonomi. Mental sedemikian penting dibangun agar seseorang mencintai apa yang sedang dikerjakan.   Kegagalan itu tidak saja di dunia bisnis, tetapi juga di kalangan mahasiswa tatkala menyelesaikan studinya. Tidak sedikit mahasiswa yang kuliah di fakultas tertentu, semakin tinggi jenjang semester yang dilalui, bukan menjadi semakin mencintai disiplin ilmunya, malah justru sebaliknya. Tatkala masih di semesdter awal sedemikian percaya diri dan mencintai  ilmu pilihannya. Akan tetapi semakin  meningkat semester yang dilalui,  menjadi semakin ragu, merasa bosan  dan bahkan akhirnya tidak menyukai bidang ilmunya itu. Mental seperti ini banyak dialami oleh mahasiswa. Akibatnya, banyak mahasiswa drop out, atau meneruskan kuliahnya hanya sebatas agar lulus dan secara  formal mendapatkan ijazah.   Mahasiswa  yang mengalami keadaan seperti itu,  sebenarnya   telah gagal membangun mental atau jiwa yang diperlukan.  Semestinya semakin bertambah tinggi jenjang yang dilalui oleh seseorang di perguruan tinggi, maka semakin mencintai ilmunya. Mereka semakin bangga disebut mahasiswa bidang ilmu yang dipelajari. Mereka akan semakin yakin bahwa dengan disiplin ilmu yang dikuasai, akan sukses hidupnya, dan  akan berhasil mengabdi di tengah-tengah masyarakat. Bahkan, mereka sanggup mengorbankan apa saja untuk mengembangkan keahliannya itu.   Manakala mental atau jiwa telah tumbuh, maka artinya mahasiswa yang bersangkutan akan berhasil mengembangkan ilmu sekaligus juga jiwanya. Semakin lama semakin mencintai kampusnya, guru-gurunya, orang-orang yang telah sukses hidupnya dari jenis ilmu pilihannya itu. Dengan bangga, mereka menunjukkan bahwa dengan ilmunya itu ditemukan kebahagiaan. Dan  den gan ilmunya itu pula, bisa menyelesaikan persoalan yang ada di tengah masyarakat.   Untuk mengembangkan mental bisnis atau berdagang,  ——-belajar dari kehidupan Rasulullah, Muhammad dulu pernah menjadi pembantu  Siti Khadijah  yang bekerja sebagai pedagang, dan  bahkan kemudian wanita majikannya tersebut dinikah menjadi isterinya. Dalam konteks sekarang  Muhammad pernah magang sebagai pedagang.  Beliau tidak langsung menjadi majikan yang pintar dan ahli perdagangan. Ilmu tentang berdagang  diperoleh oleh Muhammad secara  langsung dalam kegiatan perdagangan. Dari kegiatan itulah maka banyak pengalaman yang diperoleh olehnya, tentu termasuk jiwa berdagang atau bisnis.   Kiranya apa yang dialami oleh Muhamma, juga  dijalani oleh pedagang sukses lainnya hingga sekarang. Seseorang yang semula hanya berperan sebagai pembantu, akhirnya menjadi seorang majikan sukses.  Pernah saya membaca kisah menarik, bahwa ternyata salah seorang pemilik maskapai penerbangan besar di Indonesia ini, kariernya diawali dari sekedar menjadi calo tiket pesawat terbang. Selama menekuni pekerjaan itu ia selalu membuka mata, telinga dan pikirannya untuk  memperkaya pengetahuan dan pengalaman yang terkait  dengan bisnis penerbangan. Pengalamannya dan jiwa bisnis itulah yang kemudian dijadikan modal usahanya, akhirnya menjadi pemilik maskapai besar dan terpandang.   Kisah lainnya, seseorang semula hanya sebagai sopir pengangkut air minum kemasan. Lewat pekerjaannya itu ia menjadi tahu bagaimana memproses pengelolaan air, menjualnya, mendapatkan modal, dan juga seluk beluk yang berhubungan dengan bisnis air minum kemasan. Sedikit demi sedikit dia mencoba dan ternyata mendapatkan keuntungan.  Singkat cerita, akhirnya ia menjadi pengusaha air minum kemasan dan bahkan menjadi pengusaha terbesar di bidang itu di kotanya. Jika pada awalnya, ia  hanya sebatas menjadi sopir mobil pengangkut air minum kemasan, ternyata berubah menjadi pengusaha besar di bidang itu dengan memiliki ratusan mobil pengangkut. Sebagai pekerja, ia sekaligus belajar dan menumbuhkan jiwa bisnisnya.   Memang, tidak sedikit pekerja yang seumur-umur tidak berubah dan berkembang. Sejak awal hingga udzur,  pekerjaan yang ditangani tetap. Awalnya jadi sopir pengangkut hingga badannya tidak kuat lagi bekerja tidak berubah, tetap sebagai driver. Demikian pula, banyak  orang yang seumur-umur hidupnya hanya sebagai pembantu. Oleh karena  tidak mengembangkan wawasan, pikiran dan jiwanya, maka statusnya tidak pernah berubah. Penglihatan, pendengaran dan pikirannya tidak dikembangkan, akhirnya nasipnya tidak berkembang. Oleh karena itulah, maka  ayat al Qurán yang pertama kali turun merupakan perintah  membaca.  Membaca alam semesta menjadikan  pikiran berubah. Demikian pula dengan mengalami sendiri, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah, maka jiwa bisnis atau mental pedagang akan tumbuh. Wallahu a’lam.        

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *