Memang lebih cocok judul dalam tulisan ini tidak menggunakan kata pembeli tetapi pengimport. Tetapi sengaja dipilih pembeli, agar cakupan maknanya bisa meliputi keduanya, yaitu membeli dari luar negeri atau membeli dari dalam negeri sendiri. Namun intinya melalui tulisan ini, saya ingin mengajak untuk melakukan perenungan, sekalipun dangkal, tentang posisi bangsa ini bila dihadapkan pada dua pilihan, yaitu sebagai produsen atau konsumen. Umpama pilihannya adalah sebagai konsumen, maka selamanya akan selalu pada pihak yang kalah, yaitu sebagai pasar.
Manakala bangsa ini pilihannya adalah sebagai bangsa konsumen, memang tidak akan berhasil menyediakan lapangan kerja. Sebagai pihak konsumen maka yang diperlukan adalah uang untuk membeli. Berbeda dengan itu adalah sebagai produsen, maka akan selalu berpikir inovatif, efisiensi dan efektifitas, modal, kebutuhan tenaga kerja, pemasaran dan seterusnya, sebagai ciri khas masyarakat industri. China, Jepang, Thaiwan dan lain-lain, sebagai tujuan tenaga kerja Indonesia untuk mencari pekerjaan adalah masuk kategori negara produsen. Pabrik-pabrik berbagai macam kebutuhan tidak hentin-hentinya tumbuh di negara-negara tersebut. Akibatnya, sekalipun penduduknya melimpah, mereka masih menerima tenaga kerja dari manapun, termasuk dari Indonesia. Berbeda dengan negara-negara tersebut, Indonesia dikemas sebagai pasar. Produsen dari mana saja memperebutkannya. Tidak perlu contoh yang sulit-sulit dicari, bahwa semua jenis kendaraan dan juga alat-alat elektronik di tanah air ini adalah hasil import. Semua jenis kendaraan misalnya, kalau tidak dari Jepang, adalah dari china atau lainnya. Padahal Indonesia sendiri telah lama memiliki lembaga pendidikan teknik, mulai dari tingkat menengah hingga perguruan tinggi. Indonesia telah lama mengembangkan pendidikan bidang teknologi, mulai dari deploma, S1, S2, dan bahkan S3. Namun demikian, kita saksikan sendiri, belum pernah melihat di jalan-jalan kendaraan roda dua yang sederhana sekalipun, yang dihasilkan oleh insinyur teknik dari perguruan tinggi Indonesia sendiri. Melihat kenyataan itu, saya pernah bertanya kepada seorang sarjana teknik, apakah Indonesia ini belum bisa sekedar membuat sepeda motor alternative yang lebih baik dari produk-produk import selama ini. Saya sangat terkejut terhadap jawaban yang diberikan. Mereka mengatakan bahwa sekedar membuat kendaraan untuk masyarakat klas menengah ke bawah adalah sangat bisa. Ia menambahkan, jangankan hanya membuat sepeda motor, putra-putri Indonesia terbaik pernah berhasil membuat kapal terbang sendiri. Bahkan produksinya berhasil dipesan dan laku di beberapa negara. Namun sayangnya, pemerintah tidak memberikan dukungan yang cukup, hingga perusahaan yang sebenarnya membawa nama baik dan kebanggaan bangsa ini harus gulung tikar. Jika selama ini bangsa Indonesia belum menghasilkan produk teknologi sendiri, bukan disebabkan para lulusan perguruan tingginya tidak mampu, melainkan hanya disebabkan semata-mata karena belum adanya dukungan dari para pemimpin bangsa ini secara utuh dan menyheluruh. Semboyan yang digunakan oleh mereka selama ini adalah untuk apa memproduk sendiri bila membeli lebih murah dan cepat. Jargon tersebut mungkin ada benarnya bila dilihat dalam perspektif jangka pendek. Sebaliknya, jika dilihat dalam jangka panjang, akan menyebabkan kerugian yang luar biasa. Semboyan tersebut dikatakan betul, sebab membangun pabrik sendiri memerlukan modal, investasi, pemasaran dan lain-lain. Namun sebenarnya dalam jangka panjang akan sangat menguntungkan dan harus dilakukan. Keuntungan itu dengan mudah bisa dibayangkan, yaitu umpama kebutuhan kendaraan bermotor yang sehari-hari membikin macet di sepanjang jalan di negeri ini bisa dicukupi oleh pabrik-pabrik dalam negeri, maka berapa besar keuntungan yang didapat oleh negara. Keuntungan itu belum termasuk jumlah tenaga kerja yang berhasil diserap, dan bahkan harkat dan martabat bangsa yang berhasil diangkat, karena telah mampu bersaing dengan bangsa lain. Oleh karena industri tidak berkembang, —–atau tidak dikembangkan, menyerah sebagai bangsa pembeli, maka bahan mentah yang dimiliki harus dijual. Harga bahan mentah di mana dan kapan pun selalu murah dan tidak akan menyerap tenaga kerja. Padahal sebaliknya, setelah menjadi barang jadi dan diimport kembali, maka harganya menjadi berlipat-lipat. Melalui penglihatan yang sederhana saja bisa dibayangkan, betapa banyak kerugian yang diderita oleh bangsa ini sebagai akibat keputusan yang berorientasi pada jangka pendek itu. Akibat berorientasi sebagai pembeli itu, maka bangsa ini tidak saja menderita rugi secara financial, melainkan juga selalu dianggap tidak memiliki kecakapan dan selalu kalah bersaing. Selain itu, rakyatnya akan berbondok-bondong ke luar negeri untuk mendapatkan pekerjaan. Hal itu mereka lakukan, karena pemerintah tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan yang cukup. Oleh karena itu, kalau selama ini kita gelisah dengan pengiriman tenaga kerja ke luar negeri, sebenarnya fenomena itu adalah sebagai akibat dari kebijakan sebelumnya yang kurang tepat. Yaitu selalu berorientasi dan bervisi jangka pendek. Anehnya lagi, kebijakan impor itu tidak saja berupa produk-produk teknologi, bahkan kebutuhan pokok seperti beras, bawang, kedelai, dan bahkan garam, —–menurut informasi yang saya dapatkan, ternyata mengimport. Kita mesti harus bertanya, kemana para petani beras, petani kedelai, petani bawang, dan bahkan petani buah-buahan di negeri ini. Tidak ada bedanya adalah juga para peternak. Untuk memenuhi kebutuhan daging, bangsa ini juga masih import. Maka kemana peternak-peternak kita selama ini. Fenomena sebaliknya yang banyak berekses negative dan menyedihkan, adalah mengekport tenaga kerja sebagai buruh kasar, seperti sopir, pembantu rumah tangga dan sejenisnya itu. Tenaga kerja yang berangkat ke luar negeri tersebut dibesar-besarkan hatinya dengan sebutan sebagai pahlawan devisa. Kiranya, upaya membesarkan hati tersebut tidak terlalu salah, oleh karena memang di dalam negeri sendiri untuk mendapatkan lapangan pekerjaan sulitnya telah dirasakan oleh banyak orang. Namun umpama eksport tenaga kerja itu adalah sebagai tenaga ahli, misalnya tenaga dokter, insinyur, konsultan dan sebagainya maka akan membanggakan. Tetapi pada kenyataannya tidak seperti itu, melainkan pada umumnya adalah tenaga yang tidak berpendidikan cukup, dan kemudian sebagai akibatnya banyak di antara mereka yang dibohongi tidak dibayar, dipandang rendah, bahkan disiksa dan lain-lain. Oleh karena itu, para pengambil kebijakan perlu melihat atau membangun visi yang agak jauh ke depan. Bangsa ini harus semakin lebih cerdas dan produktif, harus menjadi produsen dan bukan hanya sebatas sebagai bangsa pembeli. Jika tidak, maka selamanya akan menjadi bangsa pembeli atau pengimport dengan segala resiko, sebagaimana beratnya yang kita rasakan selama ini. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
