Menjalani hidup dengan tradisi yang mantap sebenarnya menjadi mudah dan dirasakan lebih enak. Dengan tradisi maka apa saja yang dilakukan dapat dijalani secara otomatis dan menyenangkan. Berbeda dengan tatkala menghadapi sesuatu yang baru, maka harus beradaptasi, berpikir, menimbang-nimbang, dan bahkan bertanya ke sana ke mari, agar apa yang dilakukan tidak salah.
Tradisi yang dibangun dan dipelihara, tentu seharusnya dipilih yang baik dan mulia. Sedangkan yang baik dan mulia itu selalu bersumber dari ajaran yang datang dari Dzat Yang Maha Kuasa, ialah kitab suci. Sebaliknya, tradisi yang buruk harus dihindari. Berbohong, mengambil sesuatu milik orang lain, berkata buruk, suka menyakiti orang lain adalah contoh-contoh perbuatan yang tidak semestinya ditradisikan. Tradisi ada yang bersifat pribadi atau individu, mulai yang sederhana, misalnya bangun pagi sebelum waktu subuh, bekerja dengan teratur dan disiplin, menepati janji, mengucapkan salam setiap bertemu, dan semacamnya. Tradisi tersebut seharusnya dipelihara. Tradisi juga akan menjadi identitas seseorang. Misalnya, identitas seorang muslim adalah bersih, disiplin, menepati janji, selalu berkata benar dan lain-lain. Islam mentradisikan sesuatu yang baik, sehat, dan menguntungkan. Tradisi itu mulai dari hal yang kecil dan sederhana, misalnya selalu mengucap basmallah setiap memulai pekerjaan dan mengakhiri dengan hamdallah, menjaga kebersihan dan kesucian atau thaharah, bersilaturahmi, saling menolong atau membantu antar sesama dan lain-lain. Bangun pagi dalam tuntunan Islam harus tepat waktu, yaitu dilakukan sebelum terbit fajar, untuk kemudian shalat subuh. Dengan begitu, maka ummat Islam di pagi buta sudah saling bertemu dengan para tetangga, tatkala bersama-sama mereka menunaikan shalat di masjid. Kegiatan itu dilakukan dengan enak oleh karena sudah menjadi tradisi. Dan sebaliknya, berat jika hal itu tidak biasa dilakukan, atau hanya kadang-kadang dijalani. Di pagi itu, tatkala memulai kehidupan, ummat Isalam sudah ditradisikan mengucapkan kalimat-kalimat yang mulia, yaitu bertakbir, bertasbih, tahmid dan tahlil. Ummat Islam dibiasakan atau ditradisikan menyebut nama nabi yang menjadi anutannya, membaca ayat-ayat al Qurán, menjalankan rukuk, sujud dan berdoa bersama-sama. Islam juga mentradisikan untuk mencari dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Seorang muslim dianjurkan selalu membaca, memahami, dan merenungkan isi atau pesan-pesan al Qurán. Kitab suci ini, sekalipun bersifat garis besar, memuat berbagai keterangan tentang kehidupan ini secara keseluruhan dan sempurna. Al Qurán ditradisikan untuk dibaca sehari-hari. Imam Al Ghazali, menyebutkan bahwa mempelajari al Qurán sebagai fardhu ain. Artinya setiap muslim harus mempelajari dan memahami sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Dalam pergaulan sehari-hari, setiap ketemu dengan orang lain, kaum muslimin mengucapkan salam, ketika saudara sakit supaya menjenguknya, ketika diundang supaya mendatangi, tatkala dimintai nasehat agar diberikan nasehat, tatkala seorang meninggal supaya bertakziyah dan bahkan tatkala orang lain bersin dan mengucapkan hamdallah agar didoakan. Selain itu, semua kegiatan supaya dilakukan dengan amanah, sabar, ikhlas, istiqamah, dan tawakkal. Dengan tradisi itu maka seorang muslim akan mendapatkan yang terbaik dalam hidupnya. Dengan memelihara tradisi tersebut maka, semestinya di tengah masyarakat muslim tidak akan terjadi sesuatu yang buruk dan merugikan, seperti korupsi, kolusi dan nepotisme, konflik, permusuhan, saling membidik dan mencelakakan. Seorang muslim tidak diperbolehkan berbohong, menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, berperilaku menyimpang, dan apalagi merugikan bagi orang lain. Sedemikian indah ajaran Islam, sehingga jika sementara ummat ini belum maju dan menjadi tauladan bagi lainnya, maka sebenarnya hal itu disebabkan oleh karena ajaran mulia itu belum berhasil dijadikan tradisi dalam kehidupan sehari-hari. Kaum muslimin masih menggunakan tradisinya masing-masing, sekalipun belum tentu sejalan dengan ajaran Islam itu sendiri. Islam sedemikian indah, tetapi belum terlalu tampak pada kehidupan sehari-hari secara sempurna. Anehnya, kesalahan itu belum sepenuhnya disadari. Tatkala bangun pagi terlambat, tidak mendatangi masjid dan shalat berjamaáh, menunda-nunda dalam menyelesaikan tugas, menunaikan amanah seadanya, berkata tidak benar, dan lain-lain belum dianggap hal yang keliru. Sehingga yang terjadi antara Islam pada tataran ideal dan Islam dalam kenyataan, masih terasa berjarak. Kadang jarak itu masih sedemikian jauh, disebabkan tradisi Islam belum dibangun dan dipelihara sepenuhnya. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
