Thursday, 30 April 2026
above article banner area

Membangun Dan Memelihara Tradisi

Menjalani hidup dengan tradisi yang mantap  sebenarnya menjadi   mudah dan dirasakan lebih enak. Dengan tradisi maka apa saja yang dilakukan  dapat dijalani secara otomatis dan menyenangkan. Berbeda dengan tatkala menghadapi sesuatu yang baru, maka harus beradaptasi, berpikir, menimbang-nimbang, dan bahkan bertanya ke sana ke mari,  agar apa yang dilakukan tidak salah.    

  Tradisi yang dibangun dan dipelihara,  tentu seharusnya dipilih yang baik dan mulia. Sedangkan yang baik dan mulia itu selalu bersumber dari ajaran yang datang dari Dzat Yang Maha Kuasa, ialah kitab suci. Sebaliknya, tradisi yang buruk harus dihindari. Berbohong, mengambil sesuatu milik orang lain, berkata buruk, suka menyakiti orang lain adalah contoh-contoh perbuatan yang tidak semestinya ditradisikan.   Tradisi  ada yang bersifat pribadi atau  individu,  mulai yang  sederhana,  misalnya  bangun  pagi sebelum waktu subuh,   bekerja dengan teratur dan disiplin, menepati janji, mengucapkan salam setiap bertemu, dan semacamnya. Tradisi  tersebut  seharusnya  dipelihara.  Tradisi juga akan menjadi  identitas seseorang. Misalnya, identitas seorang muslim adalah  bersih, disiplin, menepati janji, selalu berkata benar dan lain-lain.     Islam  mentradisikan sesuatu yang  baik, sehat,  dan menguntungkan.  Tradisi itu mulai dari hal yang kecil dan  sederhana, misalnya selalu mengucap basmallah setiap memulai pekerjaan dan mengakhiri dengan hamdallah, menjaga kebersihan dan kesucian  atau thaharah,  bersilaturahmi, saling menolong atau membantu antar sesama dan lain-lain.   Bangun pagi dalam tuntunan Islam harus  tepat waktu, yaitu dilakukan sebelum  terbit fajar, untuk kemudian shalat subuh. Dengan begitu,  maka ummat Islam di pagi buta sudah saling   bertemu dengan para tetangga,  tatkala bersama-sama mereka menunaikan shalat di masjid. Kegiatan itu dilakukan dengan enak oleh karena sudah menjadi tradisi. Dan  sebaliknya,  berat  jika hal itu  tidak biasa dilakukan,  atau hanya  kadang-kadang dijalani.   Di pagi itu, tatkala memulai kehidupan,  ummat Isalam sudah ditradisikan mengucapkan kalimat-kalimat yang mulia,  yaitu bertakbir,  bertasbih, tahmid dan tahlil.  Ummat Islam dibiasakan atau ditradisikan menyebut nama nabi yang menjadi anutannya, membaca ayat-ayat al Qurán, menjalankan rukuk, sujud dan berdoa bersama-sama.  Islam juga mentradisikan  untuk mencari dan mengembangkan  ilmu pengetahuan.  Seorang muslim dianjurkan selalu membaca, memahami, dan merenungkan  isi atau pesan-pesan al Qurán. Kitab suci ini, sekalipun  bersifat  garis besar,  memuat berbagai keterangan tentang kehidupan ini secara keseluruhan dan sempurna. Al Qurán  ditradisikan untuk dibaca sehari-hari. Imam Al Ghazali, menyebutkan bahwa mempelajari al Qurán sebagai fardhu ain. Artinya setiap muslim harus mempelajari dan memahami sesuai dengan kemampuannya masing-masing.       Dalam pergaulan  sehari-hari, setiap ketemu dengan orang lain, kaum muslimin   mengucapkan salam, ketika saudara sakit supaya menjenguknya, ketika diundang supaya mendatangi, tatkala dimintai nasehat agar  diberikan nasehat, tatkala seorang meninggal supaya bertakziyah dan bahkan tatkala orang lain bersin dan mengucapkan hamdallah agar didoakan. Selain itu,  semua kegiatan supaya dilakukan dengan amanah, sabar, ikhlas, istiqamah,   dan  tawakkal.  Dengan tradisi itu  maka  seorang muslim akan mendapatkan yang terbaik dalam hidupnya.   Dengan memelihara tradisi  tersebut maka, semestinya di tengah masyarakat muslim tidak akan  terjadi sesuatu yang buruk dan merugikan, seperti  korupsi, kolusi dan nepotisme, konflik, permusuhan, saling membidik dan mencelakakan. Seorang muslim tidak diperbolehkan berbohong, menempatkan sesuatu  tidak pada tempatnya, berperilaku menyimpang,  dan apalagi merugikan bagi orang lain.  Sedemikian indah ajaran Islam,  sehingga jika sementara  ummat ini  belum maju dan  menjadi tauladan bagi lainnya,  maka sebenarnya hal itu disebabkan oleh karena ajaran  mulia itu belum berhasil dijadikan  tradisi  dalam kehidupan sehari-hari.  Kaum muslimin masih menggunakan tradisinya masing-masing,  sekalipun  belum tentu  sejalan dengan ajaran Islam itu sendiri. Islam sedemikian indah,  tetapi  belum  terlalu  tampak pada kehidupan sehari-hari secara sempurna.   Anehnya,  kesalahan itu belum sepenuhnya disadari.  Tatkala bangun  pagi terlambat, tidak mendatangi masjid dan shalat berjamaáh, menunda-nunda dalam menyelesaikan tugas, menunaikan amanah seadanya,  berkata tidak benar,  dan lain-lain  belum dianggap hal yang keliru. Sehingga yang terjadi antara Islam pada tataran ideal dan Islam dalam kenyataan,  masih terasa berjarak. Kadang jarak  itu masih sedemikian jauh,   disebabkan  tradisi Islam belum dibangun dan dipelihara sepenuhnya. Wallahu a’lam.    

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *