Wednesday, 29 April 2026
above article banner area

Kualitas Pendidikan dan Tantangan Masa Depan

Berbicara tentang kualitas pendidikan Islam apalagi tatkala dikaitkan  dengan upaya menjawab tantangan masa depan, maka  banyak hal yang harus diperbinangkan. Agar pendidikan Islam menjadi maju dan berkualitas,  maka harus dilakukan pembenahan,   baik menyakut konsep,  orientasi, organisasi,  dan harus diimplementasikan  secara disiplin dan sungguh-sungguh. Lembaga pendidikan, sekalipun menggunakan nama besar, ——Islam misalnya,  jika tidak dikelola sesuai dengan tuntutan kualitas maka  akan ditinggalkan oleh peminatnya.

Masyarakat masa depan yang bercirikan  semakin   rasional, kritis, dan obyektif,  maka menuntut pelayanan yang tidak saja mementingkan  simbol-simbol atau lambang-lambang tetapi menuntut kualitas yang sebenarnya. Kehidupan masa depan  yang disebut sebagai era modern, maka akan terjadi persaingan  secara terbuka. Dalam persaingan itu, maka siapa saja yang mampu menjadikan dirinya kuat dan unggul,  maka merekalah yang  akan memenangkan persaingan itu.Lembaga pendidikan yang diurus dengan model sambilan sehingga tidak menghasilkan  produk-produk yang unggul, maka tidak akan mampu memenangkan  persaingan. Banyak  orang mengatakan bahwa kunci kemajuan itu adalah pada pendidikan, namun  pendidikan yang dimaksudkan  adalah pendidikan yang berkualitas. Pada saat sekarang ini orang masih bisa bangga  dengan  ijazah yang disandang.  Akan tetapi pada saatnya nanti, ijazah itu akan diuji kembali oleh masyarakat secara terbuka. Pemegang ijazah yang tidak menggambarkan ijazah yang disandangnya itu, maka tidak akan dipercaya.Maka  untuk menghadapi masa depan, dan apalagi ingin memenangkan persaingan, maka kuncinya  adalah berkualitas unggul. Oleh karena itu, sangat tepat kiranya Sekolah Tinggi Agama Islam Wasilatul Falah Rangkasbitung, dalam momentum wisuda sarjana mengajak berbicara tentang peningkatan kualitas pendidikan untuk menjawab tantangan masa depan itu. Persoalan MindsetDalam Islam dikenal bahwa, untuk  menunaikan sesuatu harus dimulai dengan niat yang benar. Bahkan kualitas dari suatu hasil kegiatan,  dikatakan tergantung pada niatnya. Niat memiliki posisi yang sangat strategis. Dalam  manajemen modern, niat bisa disebut dengan istilah mindset. Maka para manager biasanya  mengajak para staf mengubah atau memperbaiki mindset bagi semua yang terlibat dalam organisasinya. Niat atau mindset itu berada dalam hati. Untuk menatanya tidak memerlukan anggaran yang harus diada-adakan. Bahkan tanpa anggaran  maupun  sarana dan prasarana pun, ——asalkan mau, maka penataan niat  bisa dilakukan.  Apabila berhasil membangun dan   menata niat ini, maka satu tahap kekuatan yang harus dibangun telah terselesaikan. Namun sayangnya, menata  dan menyamakan niat  ternyata tidak mudah. Kesulitan itu tidak saja dialam i oleh para pemimpin zaman  sekarang, melainkan juga dialami oleh nabi sendiri tatkala melakukan hijrah dari makkah ke madinah. Ada saja sementara sahabat yang mengikuti hijrah, tetapi hijrah yang dilakukan itu  sebatas untuk mengikuti suami, isteri atau untuk mendapatkan keuntungan, baik keuntungan politik maupun  keuntungan ekonomi. Oleh karena itulah , muncul hadits nabi menjelaskan tentang niat berhijrah yang kita mengenalnya hingga sekarang. Demikian pula dalam membangun lembaga pendidikan, menata niat secara bersama-sama  ternyata tidaklah mudah. Ada sementara orang, memiliki idealisme tinggi. Mereka bergabung  dalam mengembangkan lembaga pendidikan, mereka  benar-benar berniat untuk ibadah.  Yang mereka cita-citakan hanyalah agar lembaga pendidikan yang dibangun  menjadi maju, dan berkualitas unggul. Apapun yang harus dilakukan dan bahkan apa saja yang perlu  dikorbankan, maka akan dipenuhi. Akan tetapi niat seperti itu tidak selalu dimiliki oleh semua orang yang bergabung dalam lembaga pendidikan itu. Saya pribadi  telah terlibat dalam mengurus lembaga pendidikan Islam tidak kurang dari 30 tahun, ternyata  mendapatkan pengalaman sebagai berikut. Ada sementara orang yang keterlibatannya dalam lembaga pendidikan berniat untuk berjuang, dan oleh karena itu mereka bersedia untuk berkorban. Akan tetapi ada  pula di antara lainnya  yang  keterlibatannya dalam mengembangkan lembaga pendidikan,  selain berniat  berjuang,   juga sambil  mendapatkan rizki.  Niat seperti ini akan melahirkan perilaku berbeda dibanding dengan mereka yang hanya berniat untuk berjuang.Masih terkait dengan  katagori terseb ut,  ternyata  masih ada pula orang yang motivasi atau niat awal ikut terlibat dalam membangun lembaga pendidikan adalah   untuk mendapatkan kehidupan namun sambil berjuang. Dan bahkan ada sementara orang lagi yang keberadaannya di lembaga pendidikan hanya untuk mendapatkan penghidupan saja. Dua kategori  terakhir ini  harus diubah terlebih dahulu,  hingga semua yang terlibat dalam pengembangan lembaga pendidikan harus berniat secara fokus, yaitu untuk pengembangan pendidikan. Pekerjaan menyatukan niat  tampaknya tidak sulit, akan tetapi ternyata  yang justru selalu gagal di mana-mana  adalah dalam menata niat ini. Terjadinya konflik di berbagai lembaga pendidikan hingga mengakibatkan tidak maju dan bahkan  aktifitasnya  berhenti atau bahkan  mati, adalah disebabkan oleh karena gagal dalam membangun mindset atau niat bersama itu. Oleh karena itu, maka silaturrahmi, saling memberikan nasehat tentang kebenaran dan kesabaran, sebagaimana dipesankan oleh Al Qurán harus  selalu menjadi pegangan. Dua Posisi  Penentu  Kualitas PendidikanTatkala berbicara tentang pendidikan, maka biasanya  menyangkut tentang kelembagaan, kepemimpinan, sarana dan prasarana, biaya pendidikan, linghkungan, kurikulum, evaluasi dan bahkan wisuda hingga   penyerahan ijazah. Agar pendidikan berjalan senakin baik dan apalagi diharapkan mendapatkan hasil yang berkualitas, maka faktor-faktor yang disebutkan  itu semua harus dipenuhi.Akan tetapi selain itu semua, masih   ada dua posisi penentu untuk menaikkan  kualitas pendidikan, yaitu adalah guru dan murid. Di perguruan tinggi kedua istilah itu  disebut dosen dan mahasiswa. Kualaitas pendidikan sebenarnya  lebih banyak ditentukan oleh dua peran itu. Apa dan bagaimanapun keadaan lainnya, asalkan kedua factor tersebut  memiliki semangat, etos atau  mindset yang benar, maka pendidikan  akan berjalan dengan baik dan akan menghasilkan  kualitas yang unggul. Pendidikan sebenarnya  merupkan proses transpormasi ilmu  pengetahuan, pembiasaan, ketauladanan yang diberikan oleh para guru kepada murid-muridnya. Oleh karena itu asalkan di lembaga pendidikan itu terdapat para guru yang menyandang ilmu pengetahuan yang luas dan mendalam, memiliki integritas yang tinggi, ikhlas, sabar, istiqomah dan amanah, maka akan menghasilkan murid-murid yang berkualitas pula. Tentu kualitas  guru sebagaimana disebutkan itu harus diimbangi oleh kesungguhan, dan sifat-sifat tertentu yang harus dimiliki oleh para siswa atau mahasiswa, misalnya ketaatan, tawadhu, disiplin dan lain-lain. Betapa penting dan strategis posisi guru, dapat dibuktikan dari sejarah lembaga pendidikan terdahulu. Pesantren besar dan terkenal  atau masyhur, bukan dilihat dari bangunan rumah kyai/ajengan, besarnya masjid dan  tempat menginap para santrinya, melainkan dilihat dari kealiman para pengasuhnya.  Ulama atau kyai yang alim dan memiliki kearifan yang tinggi, maka selalu didatangi oleh para santri dari berbagai penjuru. Para santri yang  belajar dari ulama itu akan memperoleh ilmu yang bermanfaat dan akhirnya akan mendapatkan  pengakuan dari masyarakatnya.      Oleh karena itu untuk membangun lembaga pendidikan, termasuk pendidikan tinggi,  maka yang diperlukan adalah adanya para dosen atau guru yang berkualitas dalam berbagai halnya. Guru bagaikan  mata air. Manakala mata air  itu  mampu memancarkan  air yang jenih  yang bisa menghilangkan rasa haus,  dan apalagi menyehatkan,  maka mata air itu  akan didatangi oleh orang dari manapun asalnya. Demikian pula lembaga pendidikan, mestinya harus dibangun bagaikan mata air itu.  Mata air biasanya juga terdapat di tempat-tempat yang teduh, bersuasana tenang, dan  bebatuan serta tanah yang subur. Lembaga pendidikan juga harus mampu menciptakan ketenangan itu, agar ilmu dan kearifan selalu mengalir dari lembaga itu.   Lingkungan Pendidikan IslamBerbicara pendidikan yang berkualitas, semestinya juga memperbincangkan tentang lingkungan. Lingkungan sangat penting untuk membentuk watak, perilaku,  dan atau karakter manusia. Orang menjadi baik dan bahkan sebaliknya, oleh karena jenis atau keadaan  lingkungannya. Lingkungan pendidikkan  yang  baik, tidak semata-mata oleh karena  lembaga pendidikkan itu dilengkapi dengan taman  yang indah,  tetapi juga bersuasana yang bisa menumbuhkan spiritual dan juga berkembangkan intelektual.Adanya  masjid yang selalu digunakan  untuk berjamaáh bagi seluruh warga kampus pada setiap wakitu shalat, adanya bacaan kitab suci al Qurán, kegiatan kajian keagamaan dan lain–lain  adalah merupakan lingkungan  yang diperlukan untuk menumbuhkan spiritual. Selain itu, suara  atau ucapan yang indah, mulai dari hal sederhana, misalnya ucapan salam  dari orang-orang yang saling bertemu, saling mendoakan, dan lain-lain seharusnya selalu terdengar di kampus itu. Selain itu  kegiatan di perpustakaan, laboratorium, ruang-ruang kelas, dan bahkan halaqoh di taman-taman area kampus,  kegiatan  diskusi, seminar dan lain–lain   adalah juga merupakan lingkungan yang  bisa menumbuhkan kehidupan intelektual. Para penghuni kampus, baik dosen, karyawan dan mahasiswanya  terbiasa membicarakan tentang hasil-hasil  penelitian, buku baru yang dibaca, dan seterusnya  adalah  merupakan lingkungan akademik yang diharapkan selalu tumbuh dan berkembang. Dengan demikian maka kampus harus  menjadi taman ilmu. Siapa saja yang masuk pada lingkungan itu maka akan terbawa pada kegiatan spiritual dan sekaligus intelektual. Lingkungan seperti itu harus selalu ditumbu-kembangkan, sebagai upaya untuk mengembangkan  suasana, semangat,  etos dan bahkan budaya ilmu pengetahuan.Jika beberapa hal tersebut dimuka bisa dikembangkan, maka perguruan tinggi Islam akan tumbuh dan berkembang menjadi sebuah institusi yang akan melahirkan orang-orang yang memiliki kedalaman spiritual, keagungan akhlak, keluasan ilmu dan kematangan professional. Perguruan tinggi Islam akhirnya bukan saja tempat bagi orang-orang yang hanya bergerak untuk memenuhi syarat minimal untuk  melakukan perannya masing-masing. Misalnya, para dosennya melakukan tugas 16 sks pada setiap minggu, dan demikian pula para mahasiswanya menyelesaikan 160 sks agar disebut lulus sebagai sarjana.Akhirnya bahwa, mengembangkan perguruan tinggi Islam harus dimulai dari niat yang lurus dan benar, selanjutnya   diikuti oleh  gerakan yang ikhlas, amanah, sabar,  dan  istiqomah dan diakhiri dengan selalu bersyukur dan memuji Tuhannya. Maka hal demikian itu akan melahirkan  orang-orang yang diharapkan menjadi kaya ilmu, iman dan amal shaleh,  serta berakhlakul karimah. Inilah pendidikan Islam yang diharapkan berhasil menjawab tantangan masa depan yang diperlukan. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *