Berbicara tentang kualitas pendidikan Islam apalagi tatkala dikaitkan dengan upaya menjawab tantangan masa depan, maka banyak hal yang harus diperbinangkan. Agar pendidikan Islam menjadi maju dan berkualitas, maka harus dilakukan pembenahan, baik menyakut konsep, orientasi, organisasi, dan harus diimplementasikan secara disiplin dan sungguh-sungguh. Lembaga pendidikan, sekalipun menggunakan nama besar, ——Islam misalnya, jika tidak dikelola sesuai dengan tuntutan kualitas maka akan ditinggalkan oleh peminatnya.
Masyarakat masa depan yang bercirikan semakin rasional, kritis, dan obyektif, maka menuntut pelayanan yang tidak saja mementingkan simbol-simbol atau lambang-lambang tetapi menuntut kualitas yang sebenarnya. Kehidupan masa depan yang disebut sebagai era modern, maka akan terjadi persaingan secara terbuka. Dalam persaingan itu, maka siapa saja yang mampu menjadikan dirinya kuat dan unggul, maka merekalah yang akan memenangkan persaingan itu.Lembaga pendidikan yang diurus dengan model sambilan sehingga tidak menghasilkan produk-produk yang unggul, maka tidak akan mampu memenangkan persaingan. Banyak orang mengatakan bahwa kunci kemajuan itu adalah pada pendidikan, namun pendidikan yang dimaksudkan adalah pendidikan yang berkualitas. Pada saat sekarang ini orang masih bisa bangga dengan ijazah yang disandang. Akan tetapi pada saatnya nanti, ijazah itu akan diuji kembali oleh masyarakat secara terbuka. Pemegang ijazah yang tidak menggambarkan ijazah yang disandangnya itu, maka tidak akan dipercaya.Maka untuk menghadapi masa depan, dan apalagi ingin memenangkan persaingan, maka kuncinya adalah berkualitas unggul. Oleh karena itu, sangat tepat kiranya Sekolah Tinggi Agama Islam Wasilatul Falah Rangkasbitung, dalam momentum wisuda sarjana mengajak berbicara tentang peningkatan kualitas pendidikan untuk menjawab tantangan masa depan itu. Persoalan MindsetDalam Islam dikenal bahwa, untuk menunaikan sesuatu harus dimulai dengan niat yang benar. Bahkan kualitas dari suatu hasil kegiatan, dikatakan tergantung pada niatnya. Niat memiliki posisi yang sangat strategis. Dalam manajemen modern, niat bisa disebut dengan istilah mindset. Maka para manager biasanya mengajak para staf mengubah atau memperbaiki mindset bagi semua yang terlibat dalam organisasinya. Niat atau mindset itu berada dalam hati. Untuk menatanya tidak memerlukan anggaran yang harus diada-adakan. Bahkan tanpa anggaran maupun sarana dan prasarana pun, ——asalkan mau, maka penataan niat bisa dilakukan. Apabila berhasil membangun dan menata niat ini, maka satu tahap kekuatan yang harus dibangun telah terselesaikan. Namun sayangnya, menata dan menyamakan niat ternyata tidak mudah. Kesulitan itu tidak saja dialam i oleh para pemimpin zaman sekarang, melainkan juga dialami oleh nabi sendiri tatkala melakukan hijrah dari makkah ke madinah. Ada saja sementara sahabat yang mengikuti hijrah, tetapi hijrah yang dilakukan itu sebatas untuk mengikuti suami, isteri atau untuk mendapatkan keuntungan, baik keuntungan politik maupun keuntungan ekonomi. Oleh karena itulah , muncul hadits nabi menjelaskan tentang niat berhijrah yang kita mengenalnya hingga sekarang. Demikian pula dalam membangun lembaga pendidikan, menata niat secara bersama-sama ternyata tidaklah mudah. Ada sementara orang, memiliki idealisme tinggi. Mereka bergabung dalam mengembangkan lembaga pendidikan, mereka benar-benar berniat untuk ibadah. Yang mereka cita-citakan hanyalah agar lembaga pendidikan yang dibangun menjadi maju, dan berkualitas unggul. Apapun yang harus dilakukan dan bahkan apa saja yang perlu dikorbankan, maka akan dipenuhi. Akan tetapi niat seperti itu tidak selalu dimiliki oleh semua orang yang bergabung dalam lembaga pendidikan itu. Saya pribadi telah terlibat dalam mengurus lembaga pendidikan Islam tidak kurang dari 30 tahun, ternyata mendapatkan pengalaman sebagai berikut. Ada sementara orang yang keterlibatannya dalam lembaga pendidikan berniat untuk berjuang, dan oleh karena itu mereka bersedia untuk berkorban. Akan tetapi ada pula di antara lainnya yang keterlibatannya dalam mengembangkan lembaga pendidikan, selain berniat berjuang, juga sambil mendapatkan rizki. Niat seperti ini akan melahirkan perilaku berbeda dibanding dengan mereka yang hanya berniat untuk berjuang.Masih terkait dengan katagori terseb ut, ternyata masih ada pula orang yang motivasi atau niat awal ikut terlibat dalam membangun lembaga pendidikan adalah untuk mendapatkan kehidupan namun sambil berjuang. Dan bahkan ada sementara orang lagi yang keberadaannya di lembaga pendidikan hanya untuk mendapatkan penghidupan saja. Dua kategori terakhir ini harus diubah terlebih dahulu, hingga semua yang terlibat dalam pengembangan lembaga pendidikan harus berniat secara fokus, yaitu untuk pengembangan pendidikan. Pekerjaan menyatukan niat tampaknya tidak sulit, akan tetapi ternyata yang justru selalu gagal di mana-mana adalah dalam menata niat ini. Terjadinya konflik di berbagai lembaga pendidikan hingga mengakibatkan tidak maju dan bahkan aktifitasnya berhenti atau bahkan mati, adalah disebabkan oleh karena gagal dalam membangun mindset atau niat bersama itu. Oleh karena itu, maka silaturrahmi, saling memberikan nasehat tentang kebenaran dan kesabaran, sebagaimana dipesankan oleh Al Qurán harus selalu menjadi pegangan. Dua Posisi Penentu Kualitas PendidikanTatkala berbicara tentang pendidikan, maka biasanya menyangkut tentang kelembagaan, kepemimpinan, sarana dan prasarana, biaya pendidikan, linghkungan, kurikulum, evaluasi dan bahkan wisuda hingga penyerahan ijazah. Agar pendidikan berjalan senakin baik dan apalagi diharapkan mendapatkan hasil yang berkualitas, maka faktor-faktor yang disebutkan itu semua harus dipenuhi.Akan tetapi selain itu semua, masih ada dua posisi penentu untuk menaikkan kualitas pendidikan, yaitu adalah guru dan murid. Di perguruan tinggi kedua istilah itu disebut dosen dan mahasiswa. Kualaitas pendidikan sebenarnya lebih banyak ditentukan oleh dua peran itu. Apa dan bagaimanapun keadaan lainnya, asalkan kedua factor tersebut memiliki semangat, etos atau mindset yang benar, maka pendidikan akan berjalan dengan baik dan akan menghasilkan kualitas yang unggul. Pendidikan sebenarnya merupkan proses transpormasi ilmu pengetahuan, pembiasaan, ketauladanan yang diberikan oleh para guru kepada murid-muridnya. Oleh karena itu asalkan di lembaga pendidikan itu terdapat para guru yang menyandang ilmu pengetahuan yang luas dan mendalam, memiliki integritas yang tinggi, ikhlas, sabar, istiqomah dan amanah, maka akan menghasilkan murid-murid yang berkualitas pula. Tentu kualitas guru sebagaimana disebutkan itu harus diimbangi oleh kesungguhan, dan sifat-sifat tertentu yang harus dimiliki oleh para siswa atau mahasiswa, misalnya ketaatan, tawadhu, disiplin dan lain-lain. Betapa penting dan strategis posisi guru, dapat dibuktikan dari sejarah lembaga pendidikan terdahulu. Pesantren besar dan terkenal atau masyhur, bukan dilihat dari bangunan rumah kyai/ajengan, besarnya masjid dan tempat menginap para santrinya, melainkan dilihat dari kealiman para pengasuhnya. Ulama atau kyai yang alim dan memiliki kearifan yang tinggi, maka selalu didatangi oleh para santri dari berbagai penjuru. Para santri yang belajar dari ulama itu akan memperoleh ilmu yang bermanfaat dan akhirnya akan mendapatkan pengakuan dari masyarakatnya. Oleh karena itu untuk membangun lembaga pendidikan, termasuk pendidikan tinggi, maka yang diperlukan adalah adanya para dosen atau guru yang berkualitas dalam berbagai halnya. Guru bagaikan mata air. Manakala mata air itu mampu memancarkan air yang jenih yang bisa menghilangkan rasa haus, dan apalagi menyehatkan, maka mata air itu akan didatangi oleh orang dari manapun asalnya. Demikian pula lembaga pendidikan, mestinya harus dibangun bagaikan mata air itu. Mata air biasanya juga terdapat di tempat-tempat yang teduh, bersuasana tenang, dan bebatuan serta tanah yang subur. Lembaga pendidikan juga harus mampu menciptakan ketenangan itu, agar ilmu dan kearifan selalu mengalir dari lembaga itu. Lingkungan Pendidikan IslamBerbicara pendidikan yang berkualitas, semestinya juga memperbincangkan tentang lingkungan. Lingkungan sangat penting untuk membentuk watak, perilaku, dan atau karakter manusia. Orang menjadi baik dan bahkan sebaliknya, oleh karena jenis atau keadaan lingkungannya. Lingkungan pendidikkan yang baik, tidak semata-mata oleh karena lembaga pendidikkan itu dilengkapi dengan taman yang indah, tetapi juga bersuasana yang bisa menumbuhkan spiritual dan juga berkembangkan intelektual.Adanya masjid yang selalu digunakan untuk berjamaáh bagi seluruh warga kampus pada setiap wakitu shalat, adanya bacaan kitab suci al Qurán, kegiatan kajian keagamaan dan lain–lain adalah merupakan lingkungan yang diperlukan untuk menumbuhkan spiritual. Selain itu, suara atau ucapan yang indah, mulai dari hal sederhana, misalnya ucapan salam dari orang-orang yang saling bertemu, saling mendoakan, dan lain-lain seharusnya selalu terdengar di kampus itu. Selain itu kegiatan di perpustakaan, laboratorium, ruang-ruang kelas, dan bahkan halaqoh di taman-taman area kampus, kegiatan diskusi, seminar dan lain–lain adalah juga merupakan lingkungan yang bisa menumbuhkan kehidupan intelektual. Para penghuni kampus, baik dosen, karyawan dan mahasiswanya terbiasa membicarakan tentang hasil-hasil penelitian, buku baru yang dibaca, dan seterusnya adalah merupakan lingkungan akademik yang diharapkan selalu tumbuh dan berkembang. Dengan demikian maka kampus harus menjadi taman ilmu. Siapa saja yang masuk pada lingkungan itu maka akan terbawa pada kegiatan spiritual dan sekaligus intelektual. Lingkungan seperti itu harus selalu ditumbu-kembangkan, sebagai upaya untuk mengembangkan suasana, semangat, etos dan bahkan budaya ilmu pengetahuan.Jika beberapa hal tersebut dimuka bisa dikembangkan, maka perguruan tinggi Islam akan tumbuh dan berkembang menjadi sebuah institusi yang akan melahirkan orang-orang yang memiliki kedalaman spiritual, keagungan akhlak, keluasan ilmu dan kematangan professional. Perguruan tinggi Islam akhirnya bukan saja tempat bagi orang-orang yang hanya bergerak untuk memenuhi syarat minimal untuk melakukan perannya masing-masing. Misalnya, para dosennya melakukan tugas 16 sks pada setiap minggu, dan demikian pula para mahasiswanya menyelesaikan 160 sks agar disebut lulus sebagai sarjana.Akhirnya bahwa, mengembangkan perguruan tinggi Islam harus dimulai dari niat yang lurus dan benar, selanjutnya diikuti oleh gerakan yang ikhlas, amanah, sabar, dan istiqomah dan diakhiri dengan selalu bersyukur dan memuji Tuhannya. Maka hal demikian itu akan melahirkan orang-orang yang diharapkan menjadi kaya ilmu, iman dan amal shaleh, serta berakhlakul karimah. Inilah pendidikan Islam yang diharapkan berhasil menjawab tantangan masa depan yang diperlukan. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
