Thursday, 30 April 2026
above article banner area

Pencitraan Diri

Akhir-akhir ini dikenal  istilah pencitraan,  hingga kemudian  juga  muncul politik pencitraan. Citra  juga disebut kesan, pendapat, penilaian yang diberikan  terhadap orang, sekelompok orang, organisasi atau bahkan negara. Pasti semua orang menyukai dicitrakan sebagai orang baik, atau berpribadi unggul. Orang yang memiliki citra baik akan teruntungkan dalam banyak hal.

  Oleh karena itu membangun citra diri menjadi penting.  Berapapun besarnya dana yang harus dikeluarkan, asalkan masih terjangkau,  akan dibayar. Dengan  menggunakan kalkulasi pedagang, maka  uang yang dibayarkan, pada suatu saat,  akan kembali. Sebab  dengan citra baik, maka akan banyak hal yang bisa dijual hingga mendatangkan  uang.   Citra baik selain  mahal harganya juga tidak mudah diraih.  Secara sederhana,  agar dicitrakan sebagai pribadi baik, maka harus selalu tampil mantap.  Jenis pakaiannya harus terpilih dan  demikian pula potongannya. Penampilan  harus memberi kesan tersendiri, tampak anggun misalnya. Dengan demikian, orang menjadi tertarik dan memberikan kesan positif.  Selain itu, untuk meraih citra pribadi baik, orang  menempuh  lewat berbagai cara. Di antaranya misalnya,  dengan membubuhkan gelar akademik di depan atau belakang namanya.  Itulah sebabnya,  sekalipun sibuk dan sudah menjadi pejabat, tidak sedikit orang ikut kuliah untuk mendapatkan gelar akademik. Gelar akademik dianggap sebagai  bagian  dari citra diri.    Dengan gelar akademik  yang dimiliki, maka  citra dirinya diharapkan menjadi naik dan dikenal luas. Selain itu, dengan citra yang baik itu,   akan mendapatkan keuntungan dalam berbagai hal, baik dari aspek sosial, poilitik  bahkan juga ekonomi. Akhirnya citra diri harus dibangun dan dipelihara secara terus menerus.   Tatkala zaman sudah berubah, maka hal yang dianggap menaikkan citra  juga berubah.  Dulu seseorang dihargai oleh karena memiliki kelebihan yang bersifat fisik. Misalnya berbadan tegap, gagah, dan perkasa.  Seseorang dihargai oleh karena kegagahannya itu.  Mereka  dianggap sebagai jagoan karena penampilannya. Seorang yang tampak perkasa disegani dan bahkan juga ditakuti.   Namun pada zaman modern seperti sekarang ini, penghargaan itu menjadi bergeser. Bukan keperkasaan, melainkan kecerdasan dan  karakter yang dimiliki. Keperkasaan, —–sekalipun tetap penting, tidak memiliki arti apa-apa, manakala tidak diikuti oleh tingkat kecerdasan dan karakter yang tinggi. Bahkan akhir-akhir ini, kecerdasan pun harus disempurnakan oleh karakter itu. Cerdas tanpa karakter atau akhlak yang tinggi  tidak akan mendapatkan penghargaan dari masyarakat.  Kelebihan sebagaimana disebutkan  itu,  tidak  mudah dibangun dan diraih. Membangun citra diri memerlukan waktu yang lama, sabar,  dan istiqomah. Sedemikian berat membangun citra diri itu. Padahal citra diri yang sudah baik,  segera runtuh, hanya karena kesalahan kecil.  Itulah sebabnya, selain membangunnya cukup berat, maka  demikian pula menjaganya.   Akhir-akhir ini masyarakat sangat  menghargai terhadap  kecerdasan  dan karakter seseorang. Namun ternyata, tidak semua orang mampu menangkapnya.  Kedua kelebihan  itu selalu diuji secara terus menerus  oleh masyarakat lingkungannya. Ujian itu, kadang dari   hal yang sepele. Seseorang dianggap baik dan pintar, tetapi hanya karena dikenal sebagai orang yang suka demo,  maka penghargaan itu runtuh. Contoh sepele, seorang peserta test pegawai, —–sekalipun cerdas, karena diketahui pernah demo, namanya dicoret, dinyatakan tidak lulus.    Membangun citra diri menjadi penting dan tidak mudah dilakukan. Citra diri tidak bisa dibangun secara cepat dan apalagi mendadak.  Citra diri itu  datang dari masyarakat berupa catatan tentang perilaku yang  tampak sehari-hari. Catatan tentang seseorang di tengah masyarakat tidak mudah dihapus atau dilupakan. Sebab,  catatan itu tidak ditulis di atas kertas,  melainkan di hati masing-masing orang. Catatan yang tertulis di hati  itulah sebenarnya hingga  justru menjadi tidak mudah dihapus itu.  Akhirnya,  membangun citra diri memang benar-benar tidak mudah, dan begitulah keadaannya. Wallahu a’lam.  

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *