Akhir-akhir ini dikenal istilah pencitraan, hingga kemudian juga muncul politik pencitraan. Citra juga disebut kesan, pendapat, penilaian yang diberikan terhadap orang, sekelompok orang, organisasi atau bahkan negara. Pasti semua orang menyukai dicitrakan sebagai orang baik, atau berpribadi unggul. Orang yang memiliki citra baik akan teruntungkan dalam banyak hal.
Oleh karena itu membangun citra diri menjadi penting. Berapapun besarnya dana yang harus dikeluarkan, asalkan masih terjangkau, akan dibayar. Dengan menggunakan kalkulasi pedagang, maka uang yang dibayarkan, pada suatu saat, akan kembali. Sebab dengan citra baik, maka akan banyak hal yang bisa dijual hingga mendatangkan uang. Citra baik selain mahal harganya juga tidak mudah diraih. Secara sederhana, agar dicitrakan sebagai pribadi baik, maka harus selalu tampil mantap. Jenis pakaiannya harus terpilih dan demikian pula potongannya. Penampilan harus memberi kesan tersendiri, tampak anggun misalnya. Dengan demikian, orang menjadi tertarik dan memberikan kesan positif. Selain itu, untuk meraih citra pribadi baik, orang menempuh lewat berbagai cara. Di antaranya misalnya, dengan membubuhkan gelar akademik di depan atau belakang namanya. Itulah sebabnya, sekalipun sibuk dan sudah menjadi pejabat, tidak sedikit orang ikut kuliah untuk mendapatkan gelar akademik. Gelar akademik dianggap sebagai bagian dari citra diri. Dengan gelar akademik yang dimiliki, maka citra dirinya diharapkan menjadi naik dan dikenal luas. Selain itu, dengan citra yang baik itu, akan mendapatkan keuntungan dalam berbagai hal, baik dari aspek sosial, poilitik bahkan juga ekonomi. Akhirnya citra diri harus dibangun dan dipelihara secara terus menerus. Tatkala zaman sudah berubah, maka hal yang dianggap menaikkan citra juga berubah. Dulu seseorang dihargai oleh karena memiliki kelebihan yang bersifat fisik. Misalnya berbadan tegap, gagah, dan perkasa. Seseorang dihargai oleh karena kegagahannya itu. Mereka dianggap sebagai jagoan karena penampilannya. Seorang yang tampak perkasa disegani dan bahkan juga ditakuti. Namun pada zaman modern seperti sekarang ini, penghargaan itu menjadi bergeser. Bukan keperkasaan, melainkan kecerdasan dan karakter yang dimiliki. Keperkasaan, —–sekalipun tetap penting, tidak memiliki arti apa-apa, manakala tidak diikuti oleh tingkat kecerdasan dan karakter yang tinggi. Bahkan akhir-akhir ini, kecerdasan pun harus disempurnakan oleh karakter itu. Cerdas tanpa karakter atau akhlak yang tinggi tidak akan mendapatkan penghargaan dari masyarakat. Kelebihan sebagaimana disebutkan itu, tidak mudah dibangun dan diraih. Membangun citra diri memerlukan waktu yang lama, sabar, dan istiqomah. Sedemikian berat membangun citra diri itu. Padahal citra diri yang sudah baik, segera runtuh, hanya karena kesalahan kecil. Itulah sebabnya, selain membangunnya cukup berat, maka demikian pula menjaganya. Akhir-akhir ini masyarakat sangat menghargai terhadap kecerdasan dan karakter seseorang. Namun ternyata, tidak semua orang mampu menangkapnya. Kedua kelebihan itu selalu diuji secara terus menerus oleh masyarakat lingkungannya. Ujian itu, kadang dari hal yang sepele. Seseorang dianggap baik dan pintar, tetapi hanya karena dikenal sebagai orang yang suka demo, maka penghargaan itu runtuh. Contoh sepele, seorang peserta test pegawai, —–sekalipun cerdas, karena diketahui pernah demo, namanya dicoret, dinyatakan tidak lulus. Membangun citra diri menjadi penting dan tidak mudah dilakukan. Citra diri tidak bisa dibangun secara cepat dan apalagi mendadak. Citra diri itu datang dari masyarakat berupa catatan tentang perilaku yang tampak sehari-hari. Catatan tentang seseorang di tengah masyarakat tidak mudah dihapus atau dilupakan. Sebab, catatan itu tidak ditulis di atas kertas, melainkan di hati masing-masing orang. Catatan yang tertulis di hati itulah sebenarnya hingga justru menjadi tidak mudah dihapus itu. Akhirnya, membangun citra diri memang benar-benar tidak mudah, dan begitulah keadaannya. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
