Tulisan ini bukan ingin mengajak berdiskusi perlu atau tidak perlu ujian nasional, tetapi mengajak untuk melihat kembali, apakah pelaksanaan ujian dengan cara memberikan soal-soal yang harus dijawab oleh para siswa sebagaimana yang dilaksanakan selama ini masih tepat. Dulu waktu saya bersekolah dan bahkan juga kuliah di perguruan tinggi, bahan pelajaran jumlahnya masih terbatas. Keterbatasan itu tidak saja dialami oleh para siswa, tetapi juga oleh guru atau dosen.
Para guru hanya memiliki satu atau dua buah buku. Tugas guru adalah menjelaskan isi buku tersebut dari awal hingga akhir. Kadangkala penjelasan itu diulang-ulang untuk menyesuaikan waktu yang tersedia. Tidak mungkin guru harus menghentikan pelajaran dengan alasan bahannya habis. Sementara mencari bahan lain tidak mungkin, oleh karena ketika itu memang tidak ada yang lain. Dalam keadaan seperti digambarkan itu, maka pelaksanaan ujian untuk mengetahui seberapa jauh para siswa menguasai bahan pelajaran yang telah diajarkan, guru membuatkan pertanyaan yang jawabnya dapat diperoleh dari buku-buku yang dimaksudkan itu. Agar tidak nyontek dalam ujian, maka para murid dilarang membawa buku atau catatan-catatan ke dalam kelas. Murid harus hafal atau setidaknya mengenali seluruh isi buku pelajaran itu. Selain itu, pada waktu ujian, para siswa dilarang bekerjasama atau saling menyontek. Maka setiap ujian para guru bertindak sebagai pengawas ujian. Para siswa harus mengerjakan soal-soal ujian sendiri-sendiri. Bagi mereka yang menguasai buku yang diajarkan akan lulus dan demikian pula sebaliknya. Oleh karena itu, sebelum ujian dilaksanakan, ——sudah menjadi terbiasa, guru menunjukkan bahan-bahan ujian atau buku yang akan diujikan. Sekarang ini keadaannya sudah berubah. Buku-buku pelajaran sudah membanjir dan sangat mudah didapatkan. Bahkan tidak sedikit sekolah yang menyediakan buku-buku pelajaran dimaksud. Selain itu, ukuran buku-buku juga semakin tebal. Coba kita perhatikan, anak-anak semakin tinggi jenjangnya, maka tas sekolahnya semakin besar ukurannya. Buku-buku yang harus dipelajari dan dihafal isinya semakin banyak jumlahnya. Hal lainnya lagi yang perlu diperhatikan bahwa, dengan kemajuan teknologi informasi, maka menjadikan bahan pelajaran bisa diperoleh dari berbagai media, seperti internet, website, google dan lain-lain. Sekarang ini, anak-anak atau para siswa sudah terbiasa mendapatkan makalah, tulisan ilmiah, dan lain-lain melalui internet. Informasis menjadi membanjir dan bisa diperoleh di mana-mana. Oleh karena itu, kalau para guru masih mengharuskan siswanya untuk menghafal bahan pelajaran sebagaiomana dilakukan oleh para guru zaman dahulu, maka kiranya sudah tidak relevan lagi dengan zamannya. Demikian pula, kalau cara mengukur kemampuan siswa masih sama dengan cara yang dilakukan oleh guru ketika belum mengenal internel, website, google dan lain-lain, maka sudah tidak relevan lagi. Munculnya kritik tajam dari masyarakat tentang pelaksanaan ujian nasional, bisa jadi juga disebabkan oleh pandangan seperti itu. Dalam keadaan seperti sekarang ini, membebani murid agar menghafalkan bahan pelajaran yang sedemikian banyak, sementara guru dan bahkan kepala sekolahnya sendiri sudah tidak mampu menghafalkannya, maka cara itu perlu dikaji ulang. Mungkin sudah waktunya dipikirkan kembali secara mendalam, tentang cara baru dalam mengajar dan termasuk menguji para murid pada setiap jenjang pendidikan. Terjadinya kasus-kasus penyimpangan ujian dengan berbagai bentuknya, bisa jadi disebabkan oleh cara ujian itu sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan zamannya. Jika pandangan ini benar, maka sebenarnya ketika terjadi saling menyontek, bahkan terjadi nyontek massal, bukan karena murid-muridnya yang salah, melainkan karena para guru ——juga para ahli evaluasi pendidikan, tidak bisa mengikuti tuntutan zaman ini. Atau setidak-tidaknya, hiruk pikuk perubahan zaman yang ditandai dengan membanjirnya informasi selama ini tidak dikenali secara baik oleh para guru dan juga para ahli pendidikan. Persoalan tersebut bukan sederhana, oleh karena menyangkut masa depan anak-anak. Jika pendidikan dilakukan dengan cara salah atau kurang tepat, maka kita telah gagal dalam mengantarkan generasi muda menyiapkan masa depannya. Pendidikan bukan untuk para orang dewasa, melainkan untuk anak-anak atau generasi mendatang yang akan menjalaninya. Kita tidak boleh membebani atau melakukan hal yang salah dalam pendidikan. Jangan sampai mereka menanggung beban sebagai akibat kesalahan guru atau para penangung jawab pendidikan saat ini. Menugasi para siswa menghafal semua buku yang dikarang oleh pengarangnya, —–yang belum tentu mereka masih menghafalnya, adalah merupakan tindakan yang berlebih-lebihan. Hal penting lagi yang perlu dipertimbangkan adalah, apakah hafalan itu memang diperlukan oleh para siswa di masa depannya. Keadaan sekarang sudah jauh berubah dari zaman dulu, sehingga semestinya juga menuntut cara-cara berbeda dalam mengajar, dan tidak terkecuali adalah cara mengevaluasinya. Persoalan tersebut kiranya bukan perupakan hal mudah dan ringan. Oleh karena itu, diperlukan perenungan, kajian terus menerus, dan langkah-langkah solusi yang tepat. Yang jelas, bahwa setiap generasi selalu menghadapi persoalan yang berbeda, sehingga memerlukan cara-cara berbeda pula di dalam menghadapi dan meresponnya, tidak terkecuali dalam persoalan pendidikan, dan tentu juga cara mengevaluasinya. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
