Dalam kunjungan ke desa beberapa hari lalu, saya menemukan rumah aneh. Rumah itu berukuran cukup besar, tetapi tidak ada satu pun penguhinya. Suami isteri pemiliknya sudah lama meninggal. Sedang ahli warisnya sudah berdomisili di tempat lain, sehingga sehari-hari tidak pernah bisa menungguinya.
Harta kekayaan yang tersisa dari keluarga yang telah tiada itu masih utuh, tersimpan di rumah tersebut. Televisi ukuran besar, baju, bahan pecah belah dan lain-lain masih rapi tersesimpan di tempatnya. Bahkan buah kelapa yang biasa dipetik oleh salah seorang tetangga rumah itu, yang diamanahi sejak pemiliknya masih hidup, tertata rapi di bagian pojok rumah itu. Semua aman, tidak ada yang berkurang. Rumah tersebut berdekatan dengan masjid dan madrasah, sehingga pada siang hari banyak orang di situ. Parta tetangga rumah itu pada setiap waktu datang ke masjid untuk shalat berjamaah bersama-sama. Demikian pula, suasana lingkungan madrasah dan diniyah tidak pernah sepi dari para murid-murid. Namun pada malam hari, pedesaan itu tampak sepi. Di desa itu terdapat post penjagaan, tetapi tidak ada satpam atau peronda yang secara disiplin menunaikan tugasnya. Hal itu bisa dipahami oleh karena tidak pernah terjadi pencurian, perampokan, atau tindaklan menyimpang lainnya. Penduduk mengatakan bahwa desa tersebut memang terasa aman. Keadaan ekonomi masyarakat sebenarnya biasa-biasa saja. Penduduk desa ini sebagian petani, nelayan, dan ada pula yang bekerja srabutan. Penghasilan mereka merata, hanya sekedar cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Tidak tampak kesenjangan yang menyolok di antara warga desa. Anak-anak muda sebagian kecil saja yang berpendidikan hingga perguruan tinggi. Umumnya lulus sekolah menengah, mereka bekerja sebagai petani, nelayan atau ke kota bekerja di pabrik atau lainnya. Sekalipun keadaan ekonomi hanya sebatas cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari , tetapi kehidupan keagamaan cukup terasakan. Pada setiap waktu shalat lima waktu, laki-laki dan perempuan datang ke masjid untuk berjamaáh. Kegiatan ritual justru dipandang lebih penting daripada bekerja mencari rizki. Mereka memiliki pandangan bahwa rizki hanyalah sekedar penting untuk digunakan sebagai bekal hidup. Sedangkan tujuan hidup yang sebenarnya adalah untuk beribadah. Apa yang dirumuskan dalam hidup mereka itu terasa sederhana, tetapi sebenarnya justru lebih mendasar. Banyak orang di tem pat lain bekerja hanya untuk mencari rizki. Bahkan memperbanyak rizki dianggap sebagai tujuan pokok. Bagi orang yang terlalu berorientasi pada rizki, ibadah , ——-dalam pengertian menjalankan ritual, hanya untuk melengkapi hidupnya. Sebaliknya kebanyakan orang di kampung ini, konsentrasi hidup mereka sehari-hari adalah untuk beribadah, atau mengabdi kepada Tuhan. Sikap hidup orang di kampung tersebut menjadikan masyarakatnya aman. Pencurian, perampokan, saling serobot, mengambil hak milik orang lain, tidak pernah terjadi. Sedermikian amannya kampung itu, sehingga menjadikan rumah kosong tanpa penghuni yang masih terdapat di dalamnya harta berharga sekalipun, tidak pernah berkurang karena diambil orang. Masyarakat di kampung itu tidak memerlukan petugas khusus yang bertanggung jawab terhadap keamanan, semisal satpam atau petugas kamling. Saya membayangkan, umpama sikap hidup masyarakat kampung tersebut juga dimiliki oleh bangsa ini secara keseluruhan, maka betapa besar biaya yang bisa dihemat oleh negara sehingga bisa dimanfaatkan untuk menanggulangi kemiskinan, kebodohan dan lain-lain. Negara dengan tingkat keamanan seperti itu, tidak memerlukan polisi, jaksa, hakim, KPK, penjara, dan lain-lain. Selain itu media massa seperti koran, majalah, televisi dan lain-lain tidak akan menyiarkan berita korupsi, mafia, sogok menyogok, yang menjadikan siapa saja sumpek dan sakit hati. Kampung yang saya gambarkan tersebut menjadi aman, oleh karena hati masyarakatnya bersih. Mereka menempatkan ibadah melebihi dari sekedar kegiatan mencari rizki. Rizki memang dianggap pentingt, tetapi itu semua hanya diposisikan sebagai bekal hidup dan bukan tujuan hidup. Masyarakatnya religious sehingga menjadikan antara satu dengan yang lain saling memperhatikan, menghargai, dan tolong menolong. Kampung tersebut menjadi aman, sehingga ada rumah yang tanpa penghuni pun tidak ada yang mengganggu. Mestinya, bangsa ini secara keseluruhan bisa mewujudkan keadaan seperti itu. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
