Thursday, 23 April 2026
above article banner area

Rumah Tanpa Penghuni

Dalam kunjungan  ke desa  beberapa hari lalu, saya  menemukan rumah aneh.  Rumah itu berukuran cukup besar, tetapi tidak ada satu pun penguhinya. Suami isteri pemiliknya sudah lama meninggal. Sedang ahli warisnya sudah berdomisili di tempat lain, sehingga  sehari-hari  tidak pernah bisa menungguinya. 

  Harta kekayaan yang tersisa dari keluarga yang telah tiada itu masih utuh, tersimpan di rumah tersebut. Televisi ukuran besar, baju, bahan pecah belah dan lain-lain masih rapi tersesimpan di tempatnya.  Bahkan buah kelapa yang biasa dipetik oleh salah seorang tetangga rumah itu,  yang diamanahi sejak pemiliknya masih hidup, tertata rapi  di bagian  pojok rumah itu. Semua aman, tidak ada yang berkurang.   Rumah tersebut   berdekatan dengan masjid dan madrasah, sehingga pada siang hari  banyak orang di situ. Parta tetangga rumah itu pada setiap waktu  datang ke masjid untuk  shalat berjamaah bersama-sama. Demikian  pula, suasana lingkungan madrasah dan diniyah   tidak pernah  sepi dari para murid-murid. Namun pada malam hari, pedesaan itu tampak sepi.   Di  desa itu terdapat post penjagaan, tetapi   tidak ada satpam atau peronda yang  secara disiplin menunaikan tugasnya. Hal itu bisa dipahami oleh karena tidak pernah terjadi pencurian, perampokan,  atau tindaklan menyimpang lainnya. Penduduk mengatakan bahwa desa tersebut memang terasa aman.   Keadaan ekonomi masyarakat sebenarnya biasa-biasa saja.  Penduduk desa ini sebagian petani, nelayan,  dan ada pula yang bekerja  srabutan. Penghasilan mereka  merata,  hanya sekedar cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.  Tidak tampak kesenjangan yang menyolok di antara warga desa. Anak-anak muda sebagian kecil saja yang berpendidikan hingga perguruan  tinggi. Umumnya  lulus sekolah menengah, mereka bekerja sebagai petani, nelayan atau  ke kota bekerja di pabrik atau lainnya.   Sekalipun  keadaan ekonomi hanya sebatas cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari , tetapi kehidupan keagamaan cukup terasakan. Pada setiap waktu shalat lima waktu,  laki-laki dan perempuan  datang ke masjid untuk berjamaáh. Kegiatan ritual justru dipandang lebih penting daripada bekerja mencari rizki.  Mereka  memiliki pandangan bahwa   rizki  hanyalah sekedar  penting untuk  digunakan sebagai  bekal hidup. Sedangkan tujuan hidup yang sebenarnya  adalah untuk beribadah.           Apa yang dirumuskan dalam hidup mereka itu terasa sederhana, tetapi sebenarnya justru  lebih mendasar. Banyak orang  di tem pat lain bekerja hanya  untuk mencari rizki. Bahkan  memperbanyak  rizki dianggap sebagai tujuan pokok.  Bagi orang yang  terlalu berorientasi pada rizki,   ibadah , ——-dalam pengertian menjalankan ritual, hanya untuk melengkapi hidupnya. Sebaliknya kebanyakan orang di kampung ini,  konsentrasi hidup mereka sehari-hari adalah untuk beribadah,  atau mengabdi kepada Tuhan.   Sikap hidup orang  di kampung tersebut menjadikan   masyarakatnya  aman. Pencurian, perampokan, saling serobot, mengambil hak milik orang lain,  tidak pernah terjadi.  Sedermikian amannya kampung  itu, sehingga menjadikan rumah kosong tanpa penghuni  yang masih terdapat di dalamnya harta  berharga sekalipun,  tidak pernah berkurang karena diambil orang. Masyarakat di kampung  itu tidak memerlukan  petugas khusus yang bertanggung jawab terhadap keamanan, semisal satpam atau petugas kamling.   Saya membayangkan, umpama sikap hidup masyarakat  kampung   tersebut juga dimiliki oleh bangsa ini secara keseluruhan, maka betapa  besar  biaya yang bisa dihemat  oleh negara sehingga bisa dimanfaatkan  untuk menanggulangi kemiskinan, kebodohan dan lain-lain. Negara dengan tingkat keamanan seperti itu,  tidak memerlukan  polisi, jaksa, hakim, KPK, penjara,  dan lain-lain.  Selain itu media massa seperti koran, majalah, televisi dan lain-lain tidak akan menyiarkan berita korupsi, mafia, sogok menyogok, yang menjadikan siapa saja sumpek dan sakit hati.   Kampung yang saya gambarkan tersebut menjadi aman,  oleh karena hati masyarakatnya bersih. Mereka menempatkan  ibadah melebihi dari sekedar kegiatan mencari rizki. Rizki memang dianggap pentingt, tetapi itu semua hanya diposisikan sebagai bekal hidup dan bukan tujuan hidup. Masyarakatnya religious sehingga menjadikan antara satu dengan yang lain saling memperhatikan,  menghargai, dan tolong menolong.  Kampung  tersebut menjadi aman, sehingga ada rumah yang tanpa penghuni pun  tidak ada yang mengganggu. Mestinya, bangsa ini secara keseluruhan bisa mewujudkan keadaan seperti itu. Wallahu a’lam.         

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *