Thursday, 23 April 2026
above article banner area

Mengajarkan Pancasila Kepada Mahasiswa Asing

Sampai saat ini tidak kurang 70 mahasiswa asing yang belajar di UIN Maliki Malang. Mereka itu berasal dari berbagai negara, seperti  dari Malaysia, Thailand, Singapura, Madagaskar, Papua New Ginie, Sudan, Dagistan, Khazan, Cehnya, Palestina dan lain-lain.Mahasiswa asing di UIN Maliki Malang itu mengambil jurusan berbeda-beda, tetapi  pada umumnya untuk sementara ini,  yang paling banyak adalah belajar tentang Islam.

  Sebelum mengikuti  kuliah  bidang studi yang dipilih,  mahasiswa asing  diajari bahasa Indonesia. Mereka yang berasal dari berbagai negara dengan latar belakang bahasanya masing-masing juga harus bisa berbahasa Indonesia.   Bagi siapapun  yang belajar di UIN Maliki Malang   tidak dibedakan dari mahasiswa Indonesia sendiri,  semuanya harus mampu menulis karya ilmiah dengan menggunakan Bahasa Indonesia.   Selain itu, khususnya  bagi mereka yang berasal dari negara yang sehari-hari tidak menggunakan  bahasa al Qurán, diajari Bahasa Arab.  Mereka yang belum banyak mengerti Bahasa Arab itu adalah  datang dari Thailand, Malaysia, Moskow,  Dagistan, Cehnya, Khazan, dan lain-lain. Kemampuan Bahasa Arab penting dikuasai,  sebagai alat untuk melakukan kajian Islam yang bersumber dari al Qurán dan hadits.  Sedangkan bagi mereka yang berasal  dari Sudan, Palestine, dan lain-lain,  dianggap tidak perlu, oleh karena sehari-hari mereka sudah berbahasa Arab.      Selain Bahasa Indonesia, mahasiswa asing  juga diajari  filsafat  Pancasila. Melalui  pelajaran itu, diharapkan agar para mahasiswa yang berasal dari berbagai negara tersebut  bisa memahami falsafah bangsa Indonesia.   Melalui mata kuliah tersebut   akan tunjukkan bahwa,  bangsa Indonesia yang  bhineka tunggal ika, yaitu  terdiri atas berbagai suku, bahasa daerah, agama dan adat istiadat,  serta  menempati wilayah yang sedemikian luas,  berhasil  dipersatukan.   Pancasila yang dijadikan sebagai dasar  negara bangsa Indonesia  dipandang perlu diperkenalkan   kepada mahasiswa asing, agar tatkala mereka pulang dan menjadi pemimpin di negaranya masing-masing,  bisa dijadikan sebagai bekal  tatkala nanti,  mereka menempati posisi penting di negaranya. Konsep menyatukan masyarakat tersebut diyakini bukan sesuatu yang sederhana. Sebab, berdasarkan pengalaman  di berbagai  negara  selama ini, ——- apalagi negara yang penduduknya beraneka ragam, ternyata  upaya persatuan rakyat/ umat  bukan   persoalan yang  mudah diselesaikan.       Konflik-konflik  yang terjadi di negara asal mahasiswa asing  tersebut,  bukan saja oleh karena perbedaan agama, melainkan juga terjadi karena aliran-aliran yang berbeda di antara penganut agama yang sama. Persatuan  akhirnya menjadi sesuatu yang mahal harganya. Oleh karena itu konsep yang selama ini dijadikan sebagai dasar dan falsafah bangsa Indonesia dipandang perlu diperkenalkan kepada semua mahasiswa asing tersebut.   UIN Maliki Malang  bertekat  akan  memberikan sesuatu yang terbaik dan  bermanfaat bagi orang lain. Hal demikian  adalah sangat relevan dengan  hadits nabi,  bahwa sebaik-baik orang adalah yang paling banyak memberi  manfaat bagi orang lain. Hadits  tersebut, jika ditarik dalam wilayah yang lebih luas,  akan  menjadi  berbunyi  bahwa,  sebaik-baik bangsa adalah bangsa yang berhasil memberi manfaat bagi bangsa lain.   Sementara ini  secara jujur harus diakui,  bahwa  bangsa  Indonesia   belum bisa member sumbangan besar  terkait dengan pengembangan sains dan teklnologi.  Tetapi setidak-tidaknya, dengan cara tersebut akan    memberikan konsep falsafah yang bisa menyatukan komunitas  yang beraneka ragam  latar belakangnya.  Bangsa ini dalam hal-hal tertentu, harus menjadi guru bagi bangsa lain, setidaknya adalah guru dalam membangun persatuan dan kesatuan,  lewat  konsep Pancasila ini. Wallahu a’lam.  

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *