Sampai saat ini tidak kurang 70 mahasiswa asing yang belajar di UIN Maliki Malang. Mereka itu berasal dari berbagai negara, seperti dari Malaysia, Thailand, Singapura, Madagaskar, Papua New Ginie, Sudan, Dagistan, Khazan, Cehnya, Palestina dan lain-lain.Mahasiswa asing di UIN Maliki Malang itu mengambil jurusan berbeda-beda, tetapi pada umumnya untuk sementara ini, yang paling banyak adalah belajar tentang Islam.
Sebelum mengikuti kuliah bidang studi yang dipilih, mahasiswa asing diajari bahasa Indonesia. Mereka yang berasal dari berbagai negara dengan latar belakang bahasanya masing-masing juga harus bisa berbahasa Indonesia. Bagi siapapun yang belajar di UIN Maliki Malang tidak dibedakan dari mahasiswa Indonesia sendiri, semuanya harus mampu menulis karya ilmiah dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Selain itu, khususnya bagi mereka yang berasal dari negara yang sehari-hari tidak menggunakan bahasa al Qurán, diajari Bahasa Arab. Mereka yang belum banyak mengerti Bahasa Arab itu adalah datang dari Thailand, Malaysia, Moskow, Dagistan, Cehnya, Khazan, dan lain-lain. Kemampuan Bahasa Arab penting dikuasai, sebagai alat untuk melakukan kajian Islam yang bersumber dari al Qurán dan hadits. Sedangkan bagi mereka yang berasal dari Sudan, Palestine, dan lain-lain, dianggap tidak perlu, oleh karena sehari-hari mereka sudah berbahasa Arab. Selain Bahasa Indonesia, mahasiswa asing juga diajari filsafat Pancasila. Melalui pelajaran itu, diharapkan agar para mahasiswa yang berasal dari berbagai negara tersebut bisa memahami falsafah bangsa Indonesia. Melalui mata kuliah tersebut akan tunjukkan bahwa, bangsa Indonesia yang bhineka tunggal ika, yaitu terdiri atas berbagai suku, bahasa daerah, agama dan adat istiadat, serta menempati wilayah yang sedemikian luas, berhasil dipersatukan. Pancasila yang dijadikan sebagai dasar negara bangsa Indonesia dipandang perlu diperkenalkan kepada mahasiswa asing, agar tatkala mereka pulang dan menjadi pemimpin di negaranya masing-masing, bisa dijadikan sebagai bekal tatkala nanti, mereka menempati posisi penting di negaranya. Konsep menyatukan masyarakat tersebut diyakini bukan sesuatu yang sederhana. Sebab, berdasarkan pengalaman di berbagai negara selama ini, ——- apalagi negara yang penduduknya beraneka ragam, ternyata upaya persatuan rakyat/ umat bukan persoalan yang mudah diselesaikan. Konflik-konflik yang terjadi di negara asal mahasiswa asing tersebut, bukan saja oleh karena perbedaan agama, melainkan juga terjadi karena aliran-aliran yang berbeda di antara penganut agama yang sama. Persatuan akhirnya menjadi sesuatu yang mahal harganya. Oleh karena itu konsep yang selama ini dijadikan sebagai dasar dan falsafah bangsa Indonesia dipandang perlu diperkenalkan kepada semua mahasiswa asing tersebut. UIN Maliki Malang bertekat akan memberikan sesuatu yang terbaik dan bermanfaat bagi orang lain. Hal demikian adalah sangat relevan dengan hadits nabi, bahwa sebaik-baik orang adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi orang lain. Hadits tersebut, jika ditarik dalam wilayah yang lebih luas, akan menjadi berbunyi bahwa, sebaik-baik bangsa adalah bangsa yang berhasil memberi manfaat bagi bangsa lain. Sementara ini secara jujur harus diakui, bahwa bangsa Indonesia belum bisa member sumbangan besar terkait dengan pengembangan sains dan teklnologi. Tetapi setidak-tidaknya, dengan cara tersebut akan memberikan konsep falsafah yang bisa menyatukan komunitas yang beraneka ragam latar belakangnya. Bangsa ini dalam hal-hal tertentu, harus menjadi guru bagi bangsa lain, setidaknya adalah guru dalam membangun persatuan dan kesatuan, lewat konsep Pancasila ini. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
