Sejak dini, anak-anak Indonesia ditanamkan perasaan bangga terhadap bangsanya sendiri. Diperkenalkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang luhur, santun, setia kawan, suka berjuang dan sekaligus berkurban, ulet, hemat, mencintai sesama dan masih banyak lagi sifat-sifat mulia lainnya. Penanaman sifat itu dilakukanb oleh orang tua, tokoh masyarakat maupun para guru di berbagai jenjang pendidikan.
Mendengar sifat-sifat mulia seperti itu, sebagai anak bangsa merasa bangga sekali. Apalagi, tatkala diterangkan tentang makna warna bendera merah putih, burung garuda yang sedemikian indah, lagu kebangsaan Indonesia raya dan juga lagu-lagu wajib yang selalu dikumandangkan pada setiap saat, muncul kebanggaan yang luar biasa. Semua itu sangat menggetarkan hati. Mendengarkan itu semua, pasti anak Indonesia merasa bangga, menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Gambaran ideal itu terasa sempurna dengan berbagai komentar orang-orang asing, dari hal yang sederhana, misalnya tatkala sedang berhaji pada setiap tahun Dibandingkan dengan jamaáh dari berbagai negara lainnya, jamaáh haji Indonesia dikenal ramah, sopan, suka menolong, lebih mendahulukan orang lain dari dirinya sendiri, jujur dan lain-lain. Kesan seperti itu, datang dari mana-mana, hingga banyak orang menyukai jamaáh haji Indonesia. Tidak pernah bangsa Indonesia di mata bangsa lain dikenal memiliki sifat-sifat buruk, seperti keras, suka menang sendiri, tidak peduli dengan orang lain, suka mengambil hak milik orang lain dan seterusnya. Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang baik. Sifat-sifat baik, itu selama ini telah teruji lewat berbagai aktivitas di tengah-tengah pergaulan dunia, baik sebagai pekerja, pelajar atau mahasiswa di luar negeri. Oleh karena itu, jika pada akhir-akhir ini muncul berbagai kasus korupsi, bahkan melibatkan banyak pejabat tinggi negara, baik di eksekutif, legislatif dan yudikatif, maka kiranya tidak tepat disebut sebagai perilaku asli bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia tidak memiliki sifat sebagai koruptor, atau pengambil hak orang lain secara tidak syah. Bangsa Indonesia sangat membenci sebutan buruk seperti korupsi, pencuri, mencopet, merampok dan semacamnya. Kata-kata itu bagi banghsa Indonesia dirasakan sangat rendah dan buruk. Apalagi para pelakunya, dianggap sangat cela dan buruk. Demikian pula, jika sementara pemimpin bangsa ini terlibat konflik, saling menuduh, dan menjatuhkan, maka lagi-lagi sifat itu juga bukan milik asli bangsa Indonesia. Pemimpin Indonesia memiliki sifat arif, bijak atau waskito. Tatkala terlibat dalam pertengkaran, apalagi dilakukan secara terbuka, maka sebenarnya bukan watak asli pemimpin bangsa Indonesia. Bangsa Indonesioa lebih suka menghormati orang lain, ksatria, dan menjunjung harkat dan martabat. Bangsa Indonesia, melalui pujangga Ranggo Warsito memiliki rumusan filsaafat hidup yang indah, yaitu : menang tanpo ngasorake, sugih tanpo bondo, sekti tanpo aji-aji, kayungyun dening pepoyaning kauitaman. Bahwa untuk memperjuangan keutamanaan hidup, maka seseorang yang sedang berposisi menang tidak mau merendahkan pihak lain yang sedang kalah. Kekayaannya tidak selalu ditunjukkan dalam bentuk harta benda, melainkan hati atau jiwanya. Selain itu kesaktiannya bukan oleh karena kecanggihan senjatanya, melainkan dari kearifan dan budi pekertinya yang baik dan luhur. Dengan begitu, maka bangsa Indonesia menjadikan semua orang merasa aman, tenteram, dan selamat. Oleh karena itu, bangsa ini harus segera kembali pada identitasnya yang mulia atau adhiluhung. Manakala bangsa ini berhasil kembali pada identitas aslinya, maka tidak akan ada lagi pejabat yang korup, yang mementingkan dirinya sendiri , keluarganya atau kelompoknya. Bangsa Indonesia akhirnya secara keseluruhan menjadi bangga menyandang identitas sebagai bangsa yang memiliki karakteristik mulia, sopan santun, rendah hati, suka menolong, menghargai orang lain dan bahkan juga arif, jujur, dan selalu mementingkan orang lain di atas kepentingan dirinya sendiri. Semoga para pemimpin bangsa ini segera kembali dan berpegang teguh pada identitas aslinya, sebagai bangsa Indonesia sejati. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
