Wednesday, 22 April 2026
above article banner area

Menjadi Bangsa Indonesia Sejati

Sejak  dini, anak-anak Indonesia ditanamkan perasaan bangga terhadap bangsanya sendiri. Diperkenalkan  bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang luhur, santun, setia kawan, suka berjuang dan sekaligus berkurban, ulet, hemat, mencintai sesama dan  masih banyak lagi sifat-sifat mulia  lainnya. Penanaman sifat itu dilakukanb oleh orang tua, tokoh masyarakat maupun  para guru di berbagai jenjang pendidikan.

  Mendengar sifat-sifat mulia seperti itu, sebagai anak bangsa  merasa bangga sekali. Apalagi, tatkala diterangkan tentang makna warna bendera merah putih, burung garuda yang sedemikian indah, lagu kebangsaan Indonesia raya dan juga lagu-lagu wajib  yang selalu dikumandangkan pada setiap saat, muncul kebanggaan yang luar biasa. Semua itu  sangat menggetarkan hati. Mendengarkan itu semua, pasti anak Indonesia merasa bangga,  menjadi bagian dari bangsa Indonesia.   Gambaran ideal  itu  terasa sempurna  dengan  berbagai komentar orang-orang asing, dari hal  yang sederhana,  misalnya tatkala sedang  berhaji pada setiap tahun  Dibandingkan dengan jamaáh dari berbagai negara lainnya, jamaáh haji Indonesia dikenal ramah, sopan, suka menolong, lebih mendahulukan orang lain dari dirinya sendiri, jujur dan lain-lain.    Kesan seperti itu, datang dari mana-mana, hingga banyak orang menyukai jamaáh haji Indonesia.    Tidak pernah bangsa Indonesia di mata  bangsa lain  dikenal memiliki sifat-sifat buruk, seperti keras, suka menang sendiri, tidak peduli dengan  orang lain, suka mengambil hak milik orang lain dan seterusnya. Bangsa Indonesia dikenal sebagai  bangsa yang baik. Sifat-sifat  baik,  itu selama ini telah teruji lewat berbagai aktivitas di tengah-tengah pergaulan dunia,  baik sebagai pekerja, pelajar atau mahasiswa di luar negeri.   Oleh karena itu, jika   pada akhir-akhir ini muncul berbagai kasus korupsi,  bahkan melibatkan banyak pejabat tinggi negara, baik di eksekutif, legislatif dan yudikatif,  maka  kiranya tidak tepat   disebut sebagai perilaku asli bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia tidak memiliki  sifat  sebagai koruptor, atau pengambil hak orang lain secara tidak syah.  Bangsa Indonesia sangat membenci sebutan buruk  seperti   korupsi,   pencuri, mencopet, merampok dan semacamnya. Kata-kata  itu bagi banghsa Indonesia dirasakan sangat rendah dan buruk. Apalagi para pelakunya, dianggap sangat cela dan buruk.   Demikian pula, jika sementara pemimpin bangsa ini  terlibat konflik, saling menuduh, dan menjatuhkan, maka lagi-lagi sifat itu juga bukan milik asli bangsa Indonesia. Pemimpin Indonesia memiliki sifat arif, bijak  atau waskito.  Tatkala terlibat dalam pertengkaran, apalagi dilakukan secara terbuka, maka sebenarnya bukan watak asli  pemimpin bangsa Indonesia. Bangsa Indonesioa lebih suka menghormati orang lain, ksatria,  dan menjunjung harkat dan martabat.     Bangsa Indonesia,  melalui pujangga Ranggo Warsito memiliki rumusan filsaafat hidup yang indah, yaitu  : menang tanpo ngasorake, sugih tanpo bondo, sekti tanpo aji-aji, kayungyun dening pepoyaning kauitaman. Bahwa untuk memperjuangan keutamanaan hidup, maka seseorang yang sedang berposisi menang  tidak mau  merendahkan pihak lain yang sedang kalah. Kekayaannya tidak selalu ditunjukkan dalam bentuk harta benda, melainkan hati atau jiwanya. Selain itu kesaktiannya bukan oleh karena kecanggihan senjatanya, melainkan dari kearifan dan budi pekertinya yang baik dan luhur. Dengan begitu, maka  bangsa Indonesia  menjadikan semua orang   merasa aman, tenteram,   dan selamat.   Oleh karena itu,  bangsa ini harus segera kembali pada identitasnya  yang mulia atau adhiluhung. Manakala bangsa ini  berhasil kembali pada identitas aslinya, maka tidak akan  ada lagi pejabat yang korup, yang mementingkan dirinya sendiri , keluarganya atau kelompoknya.  Bangsa Indonesia akhirnya secara keseluruhan  menjadi bangga  menyandang identitas sebagai bangsa yang memiliki karakteristik mulia, sopan santun,  rendah hati, suka menolong,  menghargai orang lain dan bahkan juga arif, jujur,  dan selalu mementingkan orang lain di atas kepentingan dirinya sendiri. Semoga  para pemimpin bangsa ini segera kembali dan berpegang teguh pada identitas aslinya, sebagai bangsa Indonesia sejati. Wallahu a’lam.    

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *