Sunday, 24 May 2026
above article banner area

Pelajaran di Balik Tragedi Jatuhnya Sukhoi

Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si

pelajaran di balik tragedi jatuhnya sukhoi superjet 100.jpg

Dunia penerbangan di Indonesia geger. Pesawat komersial buatan Rusia  yang konon dianggap salah satu yang tercanggih di dunia, Sukhoi Superjet 100,  jatuh berkeping-keping  setelah menabrak tebing Gunung  Salak, Bogor Jawa Barat pada Rabu, 9/5/2012. Gunung Salak pun tiba-tiba menjadi sangat terkenal. Orang pada ingin tahu di mana Gunung Salak berada dan berapa ketinggiannya hingga  Sukhoi menabraknya  sampai  hancur berkeping-keping.

Seluruh penumpang dan awak pesawat yang berjumlah sekitar 50 orang diyakini tewas. Isak tangis dan rasa duka yang mendalam dari sanak keluarga yang menjadi korban tidak  terhindarkan. Wajar mereka kehilangan orang-orang yang dicintai dan dibanggakan dengan tragis dan tiba-tiba. Ucapan bela sungkawa tidak saja datang  dari sanak saudara, teman dekat,  dan tetangga, tetapi juga Presiden SBY, atas nama pemerintah dan masyarakat Indonesia.  Tak ketinggalan Presiden  Rusia, Vladimir Putin, dan Perdana Menteri Rusia, Dmitry Medvedev. keduanya atas nama pemerintah dan rakyat Rusia juga menyampaikan rasa duka cita kepada keluarga korban.

Kedua pemimpin Rusia yang baru saja tukar jabatan itu sudah selayaknya berbelasungkawa , karena bukan saja pilot pesawat naas itu dari Rusia, tetapi juga karena pesawat Sukhoi merupakan produk terbaru Rusia yang saat ini sedang gencar-gencarnya dipromosikan  ke berbagai negara untuk menandingi pesawat-pesawat  cangggih dari belahan Eropa dan Amerika Serikat yang sudah lebih dulu menguasai penerbangan dunia.

Peristiwa naas itu tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Menurut laporan resmi, pesawat dalam kondisi  100% prima. Prasyarat penerbangan seperti  flight plan untuk mengenal medan yang akan dilalui juga telah dilakukan oleh pilot. Pilot pesawat bernama Aleksandr Yablontsev juga tergolong senior dan dia pula yang menerbangkan pesawat pada penerbangan sebelumnya. Pada penerbangan sebelumnya semuanya berjalan mulus sejak awal hingga akhir. Seperti penerbangan sebelumnya, penerbangan kedua ini — yang ganti rute — juga untuk unjuk kebolehan terbang (joy flight), tetapi akhirnya  berubah menjadi petaka yang memilukan. Tidak lagi berupa joy, tetapi disaster yang memilukan dan menambah deret panjang jumlah kecelakaan pesawat terbang di Indonesia.

Sajian pendek ini tidak akan membahas masalah teknologi pesawat atau dunia penerbangan karena bukan kompetensi saya untuk membahas hal tersebut, melainkan tentang pelajaran yang bisa dipetik di balik peristiwa tersebut.  Ada beberapa pelajaran penting yang bisa dipetik. Pertama, kematian sungguh milik Tuhan Sang  Maha Pencipta. Menurut berita yang saya ikuti ada beberapa calon penumpang yang sudah terdaftar akan ikut terbang. Tetapi karena ada kegiatan yang waktunya bersamaan, mereka urungkan niat untuk ikut terbang dan digantikan dengan orang lain yang sejatinya tidak masuk dalam daftar. Tentu saja penumpang pengganti tersebut akhirnya menjadi korban. Sedangkan yang tidak  jadi terbang — walau sudah terdaftar — selamat. Konon ada calon penumpang yang ditinggal karena masih mengerjakan sholat, ada yang tiba-tiba membatalkan ikut terbang walau sudah masuk pesawat karena  rute yang akan dilalui  terasa ganjil. Semua menjadi bukti yang nyata bahwa kematian adalah hak Yang Kuasa untuk menentukannya.

Saya teringat sebuah peristiwa yang dialami seorang senior saya di kantor.  Seorang kawan senior ini mengajak saya untuk segera mengunjungi kawannya yang sedang sakit dan dirawat di rumah sakit. Dia meminta saya untuk tidak menunda waktu berkunjung karena kondisi pasien sudah sangat gawat. Tidak sekali dua kali dia mengingatkan saya untuk menemani dia berkunjung. Kunjungan ke rumah sakit pun dilakukan. Benar bahwa kondisi pasien sangat gawat dengan berbagai penyakit kronisnya. Secara medis, harapan hidup sangat tipis. Tetapi sekali lagi hak hidup dan mati ada pada Allah. Si pasien itu sembuh dan hingga kini sehat segar bugar. Justru kawan senior yang mengajak saya untuk segera berkunjung itu malah beberapa saat kemudian meninggal dunia.

Allah adalah penentu seseorang hidup atau mati. Dengan kata lain, kehidupan dan kematian sepenuhnya adalah hak Allah. Siapapun tidak berhak menjadikan manusia mati dan menghalangi manusia untuk hidup, karena memang bukan haknya. Karena itu, membunuh, dalam agama apapun, termasuk salah satu dosa besar yang dilaknat Allah.

Kedua, sehebat apapun kemampuan manusia tetap ada batasnya.  Pesawat Sukhoi yang konon salah satu yang tercanggih di dunia, lengkap dengan peralatan deteksi gangguan penerbangan, ternyata gagal mendeteksi ketinggian Gunung Salak.  Ini bisa menyadarkan kita bahwa manusia tidak boleh takabur atau sombong.  Islam dan juga agama-agama lainnya juga melarang umatnya untuk berbuat sombong atau takabur. Sebab, perilaku sombong bukan hak manusia. Banyak ayat dalam al Qur’an menegaskan ketidaksukaan Allah terhadap orang-orang  yang sombong.

Ketiga, peristiwa gunung Salak bisa dijadikan momentum bagi perusahaan Sukhoi untuk berbenah lebih baik, baik dari sisi teknologi pesawat, manajemen perusahaan, dan kompetensi para teknisinya. Menurut berita yang sempat disiarkan oleh  sebuah stasiun televisi swasta di Tanah Air, beberapa tahun lalu diketemukan bahwa setidaknya 75 tenaga teknisi Sukhoi ternyata berijazah palsu, sehingga wajar jika kualitas komponen pesawat Sukhoi tidak bagus. Ini sangat berbahaya. Sebab, penerbangan merupakan aktivitas dengan high risk. Karena itu, semua komponen perbangan, mulai dari kondisi pesawat, kecakapan para awak pesawat, terutama pilot, manajemen penerbangan dan sebagainya  harus super prima. Sedikit saja ada celah kelemahan dan kelengahan akibatnya sangat fatal.

Keempat, di tengah sistem sosial kita yang semakin rapuh akhir-akhir ini terbukti dengan mudahnya kekerasan terjadi di tengah-tengah masyarakat ternyata kita menyaksikan pemandangan yang sangat menyejukkan hati, yakni aksi sosial yang ditunjukkan oleh para anggota relawan. Mereka tidak membedakan suku, agama, bahasa para korban. Niat mereka tulus, yakni membantu meringankan beban keluarga korban dengan mencari korban di lembah juram yang kedalamannya mencapai ratusan meter. Mereka bekerja keras, seolah melupakan resiko pribadi , karena harus melewati medan yang sangat sulit dan membahayakan.

Dalam hati saya berkesimpulan kendati berbagai peristiwa sosial terus saja terjadi selama satu dekade terakhir seolah sendi-sendi harmoni sosial seperti kesetiakawanan sosial dan gotong royong dikhawatirkan telah rapuh, ternyata masih ada sekelompok masyarakat yang suka rela tanpa pamrih sanggup bekerja meringankan beban keluarga korban atas nama kemanusiaan. Mereka terdiri atas para relawan dari kelompok pendaki gunung, PMI, anggota Kopassus, Korps Marinir, Brimob, dan masyarakat biasa sekitar lokasi kejadian. Mereka menyatu dalam aksi kemanusiaan, tanpa ada upacara seremonial, surat tugas, pelantikan dan acara-acara formal sejenisnya. Andai saja ada “humanity award”, merekalah yang  layak menerimanya.

Hal yang sama bisa kita saksikan setiap terjadi peristiwa di Tanah Air yang dampaknya bersifat masif, seperti peristiwa tsunami di Aceh delapan tahun lalu, gempa bumi di Yogyakarta, meletusnya gunung Merapi, dan sebagainya. Selalu saja hadir para relawan yang sigap menolong para korban. Tanpa ada komando, bantuan material, berupa makanan, pakaian, obat-obatan, juga mengalir ke lokasi kejadian hingga jumlahnya  melimpah.

Kita semua masih ingat pada peristiwa meletusnya gunung Merapi di Magelang yang akhirnya merenggut jiwa Mbah Marijan para relawan dari berbagai kelompok menggendong para orang tua dengan jarak ratusan meter karena tidak kuat berjalan, mengamankan  binatang ternak piaraan warga, ada yang menjaga rumah warga tanpa menghiraukan jiwa mereka sendiri sesungguhnya terancam oleh lahar panas Merapi.

Jika kerja para relawan itu dipakai untuk melihat masa depan negeri ini, saya masih punya sikap optimisme bahwa di negeri ini masih orang baik, dan karena itu masih akan bisa menjadi bangsa besar yang bermartabat. Sebab, menurut saya kebesaran dan tingginya martabat sebuah bangsa tidak semata-mata ditentukan oleh kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuannya, melainkan oleh tingginya nilai-nilai kemanusiaan yang dimiliki oleh bangsa itu sendiri.

Oleh karena itu, mari kita selalu berpikir positif dan bersikap optimis dalam segala hal agar energi kita tidak terkuras untuk memikirkan hal-hal yang tidak bermanfaat. Untuk sementara lupakan saja berbagai kasus korupsi yang menimpa Angelina Sondakh, Nunun, Miranda Gultom, dan para tersangka korupsi yang lain. Sebab, masih banyak orang baik di negeri ini yang tidak menggerogoti uang rakyat, seperti para relawan yang siap berkorban dan bekerja tanpa pamrih atas nama nilai-nilai kemanusiaan.

__________

Kuala Lumpur,  15 Mei 2012

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *