Materi Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam Pada Anak
Pada dasarnya, materi pendidikan agama Islam bersifat universal, yang mengandung aturan-aturan berbagai aspek kehidupan baik yang mengangkat Hablum Minallaah dan Hablum Minannaas. Secara garis besarnya materi pendidikan agama Islam meliputi akidah, ibadah, dan akhlak.
- a. Akidah
Akidah adalah konsep-konsep yang diimani manusia sehingga seluruh perbuatan dan perilakunya bersumber pada konsepsi tersebut. Akidah Islam dijabarkan melalui rukun-rukun iman dan berbagai cabangnya seperti tauhid uluhiyah atau penjauhan diri dari perbuatan syirik.[1] Dalam masalah akidah (keimanan), orang tua harus berpedoman pada wasiat yang dipesankan rosulullah kepada umatnya sebagai berikut:
- Mengenalkan kalimat Laa Ilaaha Illallaah
Al-Hakim meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra dari Nabi SAW, bahwa beliau bersabda:
افتحو ا على صبينكم اول كلمة بلا اله الا الله (رواه الحكيم)
Artinya:”Bacakanlah kepada anak-anak kamu kalimat pertama Laa Ilaaha Illallaah (Tiada Tuhan selain Allah)”.[2]
Hal ini dilakukan ketika pertama kali manusia lahir kedunia ini, dengan cara mengadzaninya. Upaya ini diharapkan mempengaruhi terhadap penanaman dasar-dasar akidah, tauhid dan iman bagi anak.
- Mengenalkan hukum-hukum halal dan haram kepada anak sejak dini
Ibnu Jarir dari Ibnu Mundzir meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, bahwa ia berkata:
اعلموا بطا عة الله واتقوا معا صى الله ومروا اولادكم بامتثال الا وامر, واجتناب النوا هى, فذ لك وقا ية لهم ولكم من النار (رواه ابن جرير وابن مندر)
Artinya:”Ajarkanlah mereka untuk taat kepada Allah dan takut berbuat maksiat kepada Allah serta suruhlah anak-anak kamu untuk mentaati perintah dan menjauhi larangan-larangan. Karena halitu akan memelihara mereka dan kamu dari dari api neraka”.[3]
Rahasianya adalah, agar ketika anak tumbuh dewasa, dan dapat menentukan pilihannya sendiri, anak tidak terjerumus kepada hal-hal yang dilarang oleh Allah. Tetapi sebaliknya anak akan selalu taat dan patuh menjalankan perintah dan menjauhi larangannya. Karena dalam diri anak sudah terikat dengan hukum-hukum syariat Islam.
- Mendidik anak untuk mencintai Rosulullah, keluarganya dan membaca al-Qur’an.
Ath-thabrani meriwayatkan dari Ali ra, bahwa Nabi SAW bersabda:
ادبوا اولا لدكم على ثلاث خصال: حب نبيكم وحب اهل بيته وتلاوة القران فان حملة القران في ظل عرش الله يوم لا ظل الا ظله مع انبياءه واصفيائه (رواه الطبراني)
Artinya:”Didiklah anak-anakmu pada tiga hal: mencintai Nabi kamu, mencintai keluarganya dan membaca al-Quran. Sebab orang-orang yang ahli al-Quran itu berada dalam lindungan singgasana Allah pada hari tidak ada perlindungan selain perlindungan-Nya beserta para nabi dan orang-orang yang suci”. [4]
Dari hadis diatas dapat diambil kesimpulan, bahwa agar anak-anak mampu meneladani pengalaman-pengalaman orang terdahulu baik mengenai gerakan, kepahlawanan maupun jihad; dan juga agar mempunyai kterkaitan jiwa dan kejayaan; dan juga agar mereka meneladani al-Quran baik dari segi bacaan dan semangtnya.
- b. Ibadah
Firman Allah dalam surat Adz-Dzariyat ayat 56:
وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون(الذا ريات:56)
Artinya:”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”[5]
Jadi mnusia tidak lain dan tidak bukan hanyalah untuk beribadah (dalam arti luas). Dan itu sudah menjadi kewajiban seorang hamba kepada tuannya dalam hal ini adalah Allah. Adapun cara/bentuk ibadah yang dilakukan sebagai pengabdiannya antara lain:
- Shalat
Shalat adalah masalah yang penting, sebagaimana awal diturunkannya perintah shalat melalui nabi Muhammad SAW dalam perjalanan Isra’ Mi’rajnya. Shalat merupakan sarana penting guna mensucikan jiwa dan memelihara ruhani. Shalat juga merupakan ritus utama dalam agama Islam yang akan mengintegrasikan kehidupan manusia kedalam ruhaniah dan shalat itu juga disebut juga sebagai tiang agama, serta amal ibadah yang ditimbang pertama kali diakherat nanti.[6]
Firman Allah surat An-Nisa ayat 77
ألم تر إلى الذين قيل لهم كفوا أيديكم وأقيموا الصلاة 000 (النساء:77)
Artinya:”Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: “Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang…”.[7]
Firman Allah surat Al-Baqarah ayat 238
حافظوا على الصلوات والصلاة الوسطى وقوموا لله قانتين(البقرة :238)
Artinya:” Peliharalah segala shalat (mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu`. “[8]
Shalat dipandang perlu dan penting karena shalat dapat mencegah dari perbuatan munkar, sebagai wasilah minta pertolongan kepada sang Kholik (Allah) dan sebagai wasilah dalam mengingat Allah.
- Puasa
Firman Allah surat Al-Baqarah ayat 183
ياأيها الذين ءامنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون(البقرة :183)
Artinya:” Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”[9]
Dari ayat diatas sangat jelas bahwa perintah puasa dianjurkan kepada semua orang muslim baik laki-laki atau perempuan, tua-muda, orang dewasa atau anak-anak (dengan catatan sudah ada kekuatan baginya). Karena dengan berpuasa nafsu yang ada pada diri manusia dapat dilemahkan, sejalan dengan melemahnya alairan darah dalam tubuh. Sebab syetan masuk melalui jalan darah apabila perjalanannya lemah lemah pula pengaruh dari syetan.
- Silaturrahim
Setelah membahas shalat, puasa yang merupakan ibadah yang lebih mengarah kepada Hablum Minallaah, pada bahasan ini akan dijelaskan pentingnya pembinaan ibadah yang berhubungan dengan sesama (Hablum Minannas) yaitu silaturrahim. Silaturrahim merupakan hubungan antara manusia dengan sesama dalam mewujudkan rasa persaudaraan. Dengan silaturrahim, dan dengan ridha Allah kehidupan manusia akan berjalan harmonis dan akan terwujud sikap saling tolong-menolong.
Firman Allah surat An-Nisa ayat 1
واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبا(النساء:1)
Artinya:” Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”[10]
Firman Allah surat Ar-Ra’du ayat 21
والذين يصلون ما أمر الله به أن يوصل ويخشون ربهم ويخافون
سوء الحساب(الرعد:21)
Artnya:”Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan (yaitu mengadakan hubungan silaturrahim dan tali persaudaraan), dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.”[11]
Dari ayat di atas jelas bahwasanya silaturahim sangat diperlukan adanya dalam kehidupan dan hidup bermasyarakat. Dan akan membawa manusia kepada sikap tolong menolong,
- c. Akhlak
Akhlak adalah sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan dan hidup manusia beragama. Pendidikan akhlak yang pertama diberikan anak dalam lingkungan keluarga adalah berbuat baik kepada orang tua.
Firman Allah surat Luqman ayat 14:
ووصينا الإنسان بوالديه حملته أمه وهنا على وهن وفصاله في عامين أن اشكر لي ولوالديك إلي المصير(لقمان:14)
Artinya:” Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”[12]
Dari ayat di atas jelas bahwa pendidikan akhlak yang pertama dlam keluarga dirujukan untuk berbuat baik kepada kedua orang tua. Barulah kemudian dilanjutkan dengan pendidikan kesabaran, dimana anak selalu dilatih untuk bersabar dalam mengahadapi segala sesuatu yang dihadapinya. Sifat sabar ini sangat dianjurkan oleh Allah dalam firman-Nya surat Ath-Thur ayat 48:
واصبر لحكم ربك فإنك بأعيننا وسبح بحمد ربك حين تقوم(الطور:48)
Artinya:” Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri,”[13]
Firman-Nya surat Al-Baqarah ayat 45:
واستعينوا بالصبر والصلاة وإنها لكبيرة إلا على الخاشعين(البقرة :45)
Artinya:” Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`,”[14]
Allah juga memerintahkan manusia untuk tidak bersifat angkuh atau sombong kepada sesama. Karena hal itu akan membawa kepada perpecahan dan kehancuran manusia. Sifat sombong adalah sifat melekat pada Allah sebagai penguasa alam ini. Tiada yang terwujud didunia ini melainkan karena kehendaknya. Manusia pun ada karena kehendak Allah bukan karena kepandaian dan kekuatan yang dimilikinya.
Firman Allah surat An-Nisa’ ayat 36:
إن الله لا يحب من كان مختالا فخورا(النساء:36)
Artinya:”Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,”[15]
Firman Allah surat Luqman ayat 18:
ولا تصعر خدك للناس ولا تمش في الأرض مرحا إن الله لا يحب كل مختال فخور(لقمان :18)
Artinya:” Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”[16]
Begitu juga dalam pergaulan dengan sesama, Allah pun sangat memperhatikan. Dalam bergaul manusia dianjurkan menunjukkan sikap lemah lembut, saling meyayangi dan berbicara sopan.
Firman Allah surat Luqman ayat 19:
واقصد في مشيك واغضض من صوتك إن أنكر الأصوات
لصوت الحمير(لقمان :19)
Artinya:Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.[17]
Ayata di atas juga menjelaskan baghwa dalam berperilaku kita dilarng untuk sombong seperti ketika berjalan kita tidak sepatutnya untuk menegakkan kepala atau dalam bersuara kita tidak mau kalah kerasnya dengan orang lain dan harus lebih
- d. Ilmu Pengetahuan Dan Ketrampilan
Islam memberikan perhatian khusus terhadap ilmu dan pendidikan, sehingga pahala ilmu dan belajar sangat besar tanpa tandingan. Perhatian terhadap ilmu dan belajar sedemikian rupa sehingga ilmu dan belajar dijadikan sebagai tolok ukur kemajuan sebauh peradaban. Sebagian keluarga dianggap mulia karena didalamnya dipenuhi oleh orang-orang yang berilmu.
Untuk membentuk keluarga yang mulia, maka orang tua perlu membina keilmuan dan ketrampilan anak sebagai bekal dalam hidup. Karena begitu luasnya ilmu yang ada dalam Islam, maka orang tua tidak perlu membatasinya, namun semua harus diajarkan.
Menurut Maulawy orang tua harus menyuruh anak-anaknya untuk mendatangi tempat halaqah (Kajian-kajian ilmu), pengajian-pengajian, pelatihan-pelatihan dan majlis-majlis dzikir yang ada dilingkungannya. Dengan maksud kelak anak dapat menimba ilmu dan ketrampilan darinya dan dapat menggali dari sumbernya.[18]
Bagi orang yang berilmu Allah akan meninggikan derajnyanya, sebagaimana firman-Nya surat Al-mujadalah ayat 11:
…يرفع الله الد ين امنوا منكم والد ين او توا العلم د ر جت…(المجادلة:11)
Artinya :” …Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…”.[19]
Perlu kita ketahui, apabila anak sudah terbiasa mengikuti halaqah-halaqah, pengajian-pengajian, pelatiahan-pelatihan, kelak akan memotivasi diri dimasa yang akan datang untuk selalu mengikuti kegiatan tersebut. Sehingga kebiasaan ini akan menjadi bagian dari kepribadiannya.
Sedangkan ketrampilan akan berguna bagi mereka untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan. Dan juga untuk menangkal pengaruh barat seperti ketrampilan memode dan menjahit diharapkan anak tidak mengikuti mode dari barat tetapi mereka membuat mode sendiri yang sesuai dengan ajaran Islam.
Adapun ketrampilan lainnya, orang tua harus melatih anak-anaknya bekerja semenjak kecil. Seorang Ibu bertanggung jawab mengajari anak-anak perempuannya pekerjaan rumah. Seperti membersihkan rumah, membersihkan alat-alat dapur, dan menyekolahkan sesuai dengan bakat dan kemampuan yang dimilikinya.
Sedangkan para bapak punya tanggung jawab melatih anak laki-lakinya bekerja dengan diawali pekerjaan rumah. Selanjutnya mereka harus dibekali cara berdagang (wirausaha), cara bertani, membuat rumah, dan lain-lain. Sehingga mereka mempunyai bekal untuk melanjutkan hidup.
Sebagaimana yang dikatakan Nasih Ulwan, tanggung jawab yang harus dipikul pendidik (orang tua) atas anak-anaknya adalah memberi dorongan untuk mendapatkan pekerjaan yang bebas, baik pertukangan, pertanian, atau nperdagangan.[20]
Islam sebagai agama universal, telah menganggap pekerjaan itu sebagai hal yang suci dan mulia. Islam juga memuliakan orang-orang yang bekerja. Pekerjaan seseorang dalam mencari nafkah berdasarkan kemampuannya sendiri dalam Islam dianggap sebagai pekerjaan yang baik. [21]
[1] Abdurrahman An-Nahlawi, Pendidikan Islam Di Rumah Sekolah dan Masyarakat, Gema Insani Pers, Jakarta, 2002., hal. 84
[2] Abdullah Nasih Ulwan, Pendidikan Anak Dalam Islam II, Pustaka Amani, Jakarta, 2002, hal. 166
[3] Ibid, hal. 166-167
[4] Ibid, hal. 168
[5] Depag RI, Op. cit, hal. 417
[6] Sentot Haryanto, Psikologi Shalat, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2002, hal. 61
[7] Depag RI, Op. cit, hal. 71
[8] Depag RI, Ibid, hal. 30
[9] Depag RI, Ibid, hal. 21
[10] Depag RI, Ibid, hal. 61
[11] Depag RI, Ibid, hal. 201
[12] Depag RI, Ibid, hal. 329
[13] Depag RI, Ibid, hal. 420
[14] Depag RI, Ibid, hal. 7
[15] Depag RI, Ibid, hal. 66
[16] Depag RI, Ibid, hal. 329
[17] Depag RI, Ibid, hal. 329
[18] Said Muhammad Maulawy, ibid., hal. 9
[19] Depag RI, Ibid, hal. 343
[20] Abdullah Nasih Ulwan, Op. cit,, hal. 595
[21] Abdullah Nasih Ulwan, Ibid, hal. 596
Arabiyatuna Arabiyatuna
