Arah Pengembangan Pendidikan Agama Islam
Di dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa “tujuan Tuhan menciptakan jin dan manusia adalah agar mereka menyembah kepada-Nya” ibadah itu menckup segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia, baik berupa amal perbuatan, pemikiran ataupun perasaan, yang senantiasa ditujukan/diarahkan kepada Allah SWT. Tujuan Tuhan menciptakan manusia ini kemudian dijadikan sebagai tujuan akhir dari kegiatan pendidikan Islam.
Dalam khazanah pemikiran pendidikan Islam, pada umumnya para Ulama’ berpendapat bahwa tujuan akhir pendidikan Islam adalah “untuk beribadah kepada Allah SWT. Misalnya :
- Dr. Muhammada Munir Mursyi, dalam bukunya Al-tarbiyah al-Islamiyah Ushuluha wa Tathawwuruha fi al-Bilad al-‘Arabiyah menyatakan “wa tuhdafu al-Tarbiyah al-Islamiyah ila tansyi’ah al-Insan alladzi ya’budullaha wa yahsyahu” (pendidikan Islam itu diarahkan kepada peningkatan manusia yang menyembah kepad Allah dan takut kepada-Nya).
- Dr. Ali Asyraf, dalam bukunya “New Horizon in Muslim Educatian” menyatakan bahwa para sarjana muslim yang bertemu di Konferensi Dunia Pertama tentang pendidikan Islam, mereka berpendapat: “The Ultimate aim of muslim education lies in the realization of complete submission to Allah on the level of the individual, the community and humanity at large” (Tujuan akhir dari pendidikan Islam terletak pada perwujudan penyerahan diri atau ketundukan yang mutlak kepada Allah pada tingkat individu, masyarakat, dan kemanusiaan pada umumnya).
- Dr. Abdul Fattah Jala, dalam bukunya “Min al Ushul al-Tarbawiyah fi al-Islam menyatakan: “Kana al-Hadaf al-Kulli li al-Tarbiyah fi al-Islam i’dadu al-Insan al-‘Abid alladzi tanthabiqu ‘alaihi shifat allati athlaqqaha Allah Subhanahu wa Ta’ala ‘Ibad al-Rahman” (Tujuan umum pendidikan Islam adalah mempersiapkan manusia yang beribadah atau ‘Abid, yaitu manusia yang memiliki sifat-sifat yang diberikan oleh Allah SWT kepada Ibadurrahman atau hamba Allah yang mendapat kemuliaan).[1]
Sifat-sifat Hamba Allah yang mendapat kemuliaan itu secara terperinci dijelaskan dalam Q.S Al Furqan 63-77
ûïÏ%©!$#ur cqä9qà)t $oY/u ó=yd $oYs9 ô`ÏB $uZÅ_ºurør& $oYÏG»Íhèur no§è% &úãüôãr& $oYù=yèô_$#ur úüÉ)FßJù=Ï9 $·B$tBÎ) ÇÐÍÈ
“Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (Kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”
E. Konsep Prestasi Belajar
- 1. Pengertian Prestasi Belajar
Prestasi belajar adalah sebuah kalimat yang terdiri dari dua kata, yakni prestasi dan belajar. Antara prestasi dan belajar mempunyai arti yang berbeda. Oleh karena itu, sebelum penulis membahas pengertian prestasi belajar, maka penulis akan memberikan pengertian prestasi dan belajar. Langkah ini bertujuan untuk memudahkan dalam memahami lebih mendalam tentang pengertian tersebut.
Prestasi belajar terdiri dari dua kata yang mempunyai pengertian sendiri-sendiri yakni prestasi dan belajar, tetapi dalam pembahasan ini kedua kata tersebut sangat berhubungan.
Prestasi adalah hasil yang telah dicapai dari suatu usaha yang telah dikerjakan,[2] menurut Zainal Arifin berasal dari kata prestatie bahasa Belanda yang berarti “hasil usaha”. Jadi prestasi belajar merupakan hasil usaha belajar.[3]
Menurut Nasru Harahap prestasi adalah penilaian pendidikan tentang perkembangan dan kemajuan murid yang berkenaan dengan penguasaan bahan pelajaran yang disajikan kepada mereka serta nilai-nilai yang terdapat dalam kurikulum. Sedangkan Menurut Djamarah prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, dan diciptakan, baik secara individual maupun kelompok.[4]
Dari beberapa pengertian prestasi yang dikemukan para ahli diatas, jelas terlihat perbedaan pada kata-kata tertentu sebagai penekanan, namun intinya sama yakni hasil yang dicapai dari suatu kegiatan. Untuk itu dapat dipahami, bahwa prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan, yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja, baik secara individual maupun kelompok dalam bidang kegiatan tertentu.
Dari pengertian prestasi yang dikemukakan para ahli diatas, mempunyai inti yang sama yaitu hasil yang dicapai dari suatu kegiatan.
Dengan demikian, dapat diambil pengertian yang cukup sederhana mengenai hal ini, yakni sebagaimana dikemukakan oleh Djamarah bahwa prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar yang sesuai dengan nilai-nilai Islam.[5]
Prestasi tidak akan pernah dihasilkan selama seseorang tidak melakukan suatu kegiatan. Dari kegiatan yang digeluti maka seseorang mendapatkan prestasi. Dalam hal ini berhasil atau gagalnya tujuan belajar adalah terletak pada dirinya sendiri. Maka dirinya sendirilah yang bertanggung jawab untuk melakukan kegiatan belajar agar berhasil. Andai kata mengalami kegagalan maka akibat yang memikulnya adalah dirinya sendiri, tidak mungkin perbuatan-perbuatan belajar dilakukan oleh orang lain, orang tua, guru, teman. Orang lain hanya sebagai petunjuk saja. Yang memberikan dorongan dan bimbingan yang diberikan serta untuk selanjutnya dipelajari sendiri dengan mengolah, menyimpan dan memanifestasikan serta menerapkannya. Oleh karena itu kesuksesan ini terletak pada diri sendiri (pelajar). Sudah barang tentu faktor kemauan, minat, ketekunan, tekad untuk sukses, cita-cita yang tinggi merupakan unsur-unsur mutlak yang bersifat mendukung usahanya.
Hasil belajar dan penguasaan ini diketahui melalui pengukuran atau tes dan penelitian usaha belajar yang dinyatakan dalam bentuk simbul-simbul, sehingga dapat diketahui pencapaian belajar, yang sering disebut dengan prestasi belajar. Hal ini sesuai dengan pendapat Dra. Sutratinah Tirtonegoro yang memaparkan sebagai berikut: “kualitas prestasi belajar adalah hasil dari pengukuran serta peralatan usaha belajar. Kualitas belajar disini adalah penilaian hasil usaha kegiatan belajar yang dinyatakan dalam bentuk simbol, angka, huruf maupun kalimat yang dapat mencerminkan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak dalam periode tertentu.[6]
Jadi pengertian kualitas prestasi belajar adalah mutu yang terdapat dalam penilaian hasil usaha kegiatan belajar yang telah dilakukan oleh manusia secara sadar dalam mengajarkan, membimbing, melatih, membina, dan mendidik manusia menuju kesempurnaan serta kedewasaan dalam hidup dan kehidupan. Yang dinyatakan dalam bentuk simbul, angka, huruf maupun kalimat yang dapat mencerminkan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak dalam periode tertentu.
Sementara itu kata yang kedua adalah belajar. Belajar menurut Slameto adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Sedangkan menurut Hamalik belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman[7]. Dan menurut Djamarah belajar adalah suatu aktivitas yang dilakukan secara sadar untuk mendapatkan sejumlah kesan dari bahan yang telah dipelajari.
Dari berbagai pengertian diatas, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa belajar merupakan suatu usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya baik ranah kognitif, afektif maupun psikomotorik.
Agar kita bisa lebih jelas mengetahui arti dari belajar, ada beberapa ciri perubahan tingkah laku dalam belajar, antara lain:
- Perubahan yang terjadi secara sadar, yaitu individu menyadari akan terjadinya perubahan dalam dirinya.
- Perubahan dalam belajar yang bersifat kontinyu dan fungsional, yaitu perubahan yang terjadi secara terus-menerus dan dinamis, hal ini banyak membawa manfaat dalam kehidupan individu.
- Perubahan dalam belajar yang bersifat posesif dan aktif, yaitu perubahan yang senantiasa bertambah dan tertuju untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya.
- Perubahan dalam belajar yang bukan bersifat sementara, yaitu perubahan yang bersifat sementara tetapi perubahan yang terjadi adalah setelah belajar dan bersifat permanen dan menetap.
- Perubahan yang terarah dan bertujuan, yaitu perubahan tingkah laku yang terjadi karena adanya tujuan yang ingin dicapai.
- Perubahan yang mencakup seluruh aspek tingkah laku, yaitu hasil belajar yang mencapai pada perubahan tingkah laku secara keseluruhan baik dalam sikap, pengetahuan dan keterampilan.
Setelah menelusuri uraian diatas, maka dapat dipahami mengenai kata prestasi dan belajar. Prestasi pada dasarnya adalah hasil yang diperoleh dari suatu aktifitas. Sedangkan belajar pada dasarnya adalah suatu proses yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu, yakni perubahan tingkah laku yang baik yang sesuai dengan nilai-nilai Islam.
[1] Drs. Muhaimin, MA,et.al, Loc. Cit., hlm 48
[2] Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2003), hlm 895
[3] Zainal Arifin, Evaluasi Instruksional Prinsip Teknik Prosedur (Bandung: Remaja Karya, 1988), hlm 123
[4] Syaiful Bahri Djamarah, Op. Cit., hlm. 19
[5] Ibid, hlm 23
[6] Dra. Sutratinah Tirtonegoro, Anak Supernormal dan Program Pendidikannya (Jakarta: Bina Aksara, 1984), hlm 43
[7] Prof. Dr. Oemar Hamalik, Prose Belajar Mengajar (Jakarta: Bumi Aksara, 2004), hlm 27
Arabiyatuna Arabiyatuna
