Pola Pengembangan Pendidikan Agama Islam
Pola Pembelajaran adalah model yang menggambarkan kedudukan serta peran guru dan pelajar dalam proses pembelajaran. Pada awalnya, pola pembelajaran didominasi oleh guru sebagai satu-satunya sumber belajar, penentu metode belajar, bahkan termasuk penilai kemajuan belajar pelajar. Kondisi tersebut tampak pada pola pembelajaran sebagai berikut:[1]
Perkembangan pembelajaran telah mempengaruhi pola pembelajaran. Guru yang semula sebagai satu-satunya sumber belajar, peranannya mulai dibantu media pembelajaran sehingga proses pembelajaran tampak berubah lebih efisien. Pola ini dapat diamati pada diagram berikut :
Pembelajaran terus mengalami perkembangan sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu, kuranglah memadai kalau sumber belajar hanya berasal dari guru atau berupa media buku teks atau audio visual. Kondisi ini mulai dirasakan perlu ada cara baru dalam mengkomunikasikan pesan verbal maupun nonverbal. Kecenderungan pembelajaran dewasa ini adalah sistem belajar mandiri dalam program terstruktur. Untuk itu perlu dipersiapkan sumber belajar secara khusus yang memungkinkan dapat dipergunakan pelajar secara langsung. Sumber belajar jenis ini lazimnya berupa media yang dipersiapkan oleh kelompok guru dengan tenaga ahli media sehingga hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran. Guru dan ahli media berinteraksi dengan pelajar berdasarkan satu tanggung jawab bersama. Pola pembelajaran jenis ini dapat dicermati pada diagram berikut:[2]
Dalam diagram tersebut terlihat kerjasama guru dengan guru ahli media, sangat membantu kegiatan belajar pelajar dan di sisi lain peran guru dalam pembelajaran terbantu oleh penggunaan media pembelajaran.
Sejalan dengan meningkatnya kebutuhan akan kualitas tenaga guru yang profesional, salah satu jalan yang dapat ditempuh adalah dengan membekali para guru agar mampu mengembangkan berbagai media pembelajaran. Guru dapat mempersiapkan bahan pembelajaran yang sistematis dan terprogram seperti buku ajar, modul atau media lain yang dapat menunjang kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, pelajar akan lebih mandiri dalam melakukan kegiatan pembelajaran.
Keempat pola dasar pembelajaran tersebut masih mungkin dikombinasikan supaya proses pembelajaran sebagai suatu sistem dapat berjalan secara lebih efektif dan efisien. Kombinasi keempat pola dasar pembelajaran tersebut dapat diamati pada diagram berikut :[3]
Dari diagram tersebut tampak sekali bahwa pola pembelajaran dapat dijalani melalui interaksi antara guru, guru media (media berfungsi guru), dan guru dengan media dengan pelajar. Sumber belajar bagi pelajar bisa berupa guru,media yang dirancang oleh guru, dan guru dengan media yang merupakan suatu sistem dalam proses pembelajaran. Untuk lebih jelasnya, kombinasi keempat pola dasar pembelajaran tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :
Dalam praktiknya tidak ada pola pembelajaran yang baku dan dapat digunakan dalam berbagai kondisi pembelajaran. Berbagai pola tersebut saling berbaur dan melengkapi satu dengan yang lainnya. Secara operasional, penerapan pola pembelajaran tersebut mempunyai ciri pokok, antara lain :
- Fasilitas fisik sebagai perantara penyajian informasi.
- Sistem pembelajaran dan pemanfaatan fasilitas yang merupakan komponen terpadu.
- Adanya pilihan yang memungkinkan terjadinya (1) perubahan fisik tempat belajar, (2) hubungan guru dan pelajar yang dibantu media, (3) aktifitas peserta didik yang lebih mandiri, (4) perlunya kerjasama lintas disiplin ilmu seperti ahli instruksional, ahli media pembelajaran, (5) perubahan peranan dan kecakapan mengajar, dan (6) keluwesan waktu dan tempat belajar.[4]
Dari model seperti itu selain ditunjang dengan adanya media ataupun sumber belajar lain, disini kebeadaan guru juga harus bisa menyeimbangkan antar materi yang akan disampaikan dengan keahlian yang dimiliki, karena hal ini sangat membantu dalam proses pembelajaran.
Arabiyatuna Arabiyatuna
