Analisis Semiotika
Istilah semiotika atau semiotik, yang dimunculkan pada akhir abad ke-19 oleh filsuf aliran pragmatic Amerika, Charles Sanders Pierce, merujuk kepada “doktrin formal tentang tanda – tanda”. Yang menjadi dasar dari semiotika adalah konsep tentang tanda : tidak hanya bahasa dan sistem komunikasi yang tersusun oleh tanda – tanda, melainkan dunia itu sendiripun sejauh terkait dengan pikiran manusia, seluruhnya terdiri atas tanda – tanda, karena jika tidak begitu manusia tidak akan bisa menjalin hubungan dengan realitas.[1]
Semiotika adalah suatu ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda. Tanda-tanda adalah perangkat yang kita pakai dalam upaya berusaha mencari jalan didunia ini, ditengah-tengah manusia dan bersama-sama manusia. Semiotika pada dasarnya hendak mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memaknai hal-hal (things). Memaknai (to sinify) dalam hal ini tidak dapat dicampur adukkan dengan mengkomunikasikan (to communicate). “Memaknai berarti bahwa objek-objek tidak hanya membawa informasi, dalam hal mana objek-objek itu hendak berkomunikasi, tetapi juga mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda”.[2]
Semiotika seperti kata Lecthe (2001:191), adalah teori tentang tanda dan penandaan. Lebih jelas lagi
Metode semiotika digunakan karena penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna dari tanda-tanda yang muncul dalam teks, gambar atau pun foto pada iklan yang akan diteliti tersebut. Karena pada dasarnya tanda-tanda itu sendiri merupakan pesan-pesan yang dipertukarkan dalam proses komunikasi.
Menurut John Fiske yang dikutip oleh Idi subandy dalam bukunya Cultural and Communication Studies (Sebuah Pengantar Paling Komprehensif) terdapat tiga area penting dalam studi semiotik, yaitu:
- “Tanda itu sendiri. Hal ini berkaitan dengan beragam tanda yang berbeda, seperti yang mengantarkan makna serta cara menghubungkannya dengan orang yang menggunakannya. Tanda itu adalah buatan manusia dan hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang menggunakannya.
- Kode atau sistem dimana lambang-lambang disusun. Studi ini meliputi bagaimana beragam kode yang berbeda dibangun untuk mempertemukan dengan kebutuhan masyarakat dalam sebuah kebudayaan.
- Kebudayaan dimana kode lambang itu beroperasi.”[3]
Karena itu, semiotika memfokuskan perhatiannya terutama pada teks. Semiotika lebih suka memilih istilah “pembaca” (bahkan untuk foto) untuk “penerima” karena hal tersebut secara tak langsung menunjukkan derajat aktivitas yang lebih besar dan juga pembacaan merupakan sesuatu yang kita pelajari untuk melakukannya, karena itu pembacaan tersebut ditentukan oleh pengalaman kultural pembacanya. Pembaca membantu menciptakan makna teks dengan membawa pengalaman, sikap dan emosinya terhadap teks tersebut.
Penelitian dengan menggunakan analisis semiotika merupakan perangkat yang dapat memecahkan atau mendefinisikan makna dengan pikiran yang logis melalui tanda – tanda yang ada khususnya pada media cetak.
Simbol merupakan jenis tanda yang bersifat arbitrer dan konvensional. Tanda-tanda kebahasaan pada umumnya adalah simbol-simbol. Dengan kata lain, apa yang disebut pengertian yang terakhir ini, apa yang disebut sebagai simbol sebetulnya berekuivalensi dengan pengertian Saussure tentang tanda adalah “sesuatu hal yang penting untuk dicatat bahwa media peletak dasar semiotika ini ternyata saling berkesesuaian mengenai pengertian yang fundamental ini”.[4]
Pada dasarnya simbol dapat dibedakan (Hartoko & Rahmanto, 1998 : 133) :
- “Simbol-simbol universal, berkaitan dengan arketipos, misalnya tidur sebagai lambang kematian.
- Simbol kultural yang dilatarbelakangi oleh suatu kebudayaan tertentu (misalnya keris dalam kebudayaan Jawa)
- Simbol individual yang biasanya dapat ditafsirkan dalam konteks keseluruhan karya seorang pengarang”.[5]
Pada penjabaran analisa dilakukan melalui dua tahap yaitu tahap analisa sintagmatik dan paradigmatik. Dengan meminjam pendekatan linguistik dari Saussure, Barthes melihat bahwa elemen teks disusun berdasar model paradigmatik yaitu wilayah pengertian elemen teks itu dan model sintagmatik yaitu hubungan-hubungan antara elemen-elemen teks itu.
Tahap Sintagmatik adalah suatu tahapan dimana kita memberikan makna satu persatu pada setiap simbol yang ada pada teks. Analisa sintagmatik adalah semacam rantai dan pada analisis sintagmatik, teks diperiksa diuji sebagai rangkaian dari kejadian-kejadian yang membentuk narasi. Tahap paradigmatik adalah suatu tahap lanjutan dimana kita menggabungkan seluruh makna pada tahap paradigmatik akan kita kaitkan dengan beberapa ideologi yang berhubungan dengan hasil analisis. Sintagmatik yaitu penjabaran secara mikro (detail atau khusus) dan analisa paradigmatik yaitu penjabaran secara makro, analisa yang dilakukan secara keseluruhan atau umum.
Dengan demikian Barthes dan pendekatan semiotika justru memberi peran lebih besar kepada pembaca teks dan proses membaca ketimbang sebuah usaha untuk mencari makna obyektif sebuah teks. “Hal ini terjadi karena pengertian-pengertian yang menyusun model paradigmatik dan model sintagmatik itu dimiliki baik oleh pengarang maupun oleh pembaca dalam konteks budaya mereka masing-masing”.[6]
Charles Sanders Peirce, pendiri tradisi semiotika Amerika mengidentifikasi relasi segitiga antara tanda, pengguna dan realitas eksternal sebagai suatu keharusan model untuk mengkaji makna.
Tanda
Interpretant Objek
Skema 3.1 Unsur makna dari Peirce
(Sumber: Cultural and Communication Studies, Sebuah Pengantar Paling Komprehensif – John Fiske: 1990)
“Panah dua arah menekankan bahwa masing-masing istilah dapat dipahami hanya dalam relasinya dengan yang lain. Sebuah tanda mengacu pada sesuatu di luar dirinya sendiri – objek, dan ini dipahami oleh seseorang: dan ini memiliki efek di benak penggunanya – interpretant. Kita mesti menyadari bahwa interpretant bukanlah pengguna tanda, namun Peirce menyebutnya di mana-mana sebagai efek pertandaan yang tepat: yaitu konsep mental yang dihasilkan baik oleh tanda maupun pengalaman pengguna terhadap objek”.[7]
[1] Alex Sobur, Op. Cit., hal. 13.
[2] Ibid., hal. 15.
[3] Idi Subandy, John Fiske: Cultural and Communication Studies : Sebuah Pengantar Paling Komprehensif, Jalasutra, Yogyakarta, 2004, hal. 60.
[4] Kris Budiman, Op. Cit., hal. 32.
[5] Alex Sobur, Semiotika Komunikasi, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2004, hal. 157.
[6] PMRAM Online (Persekutuan Melayu Republik Arab Mesir) The Malay Association in Arab Republic of Egypt, Paradigmatik, 30 Januari 2006. www.pmramonline.com
[7] Idi Subandy, Op. Cit., hal. 63.
Arabiyatuna Arabiyatuna
