Teori Persepsi dan Representasi
Persepsi dalam Psikologi diartikan sebagai salah satu perangkat psikologis yang menandai kemampuan seseorang untuk mengenal dan
52 Lihat dalam Gregory Castle, Postkolonial Discourses An Anthology, (Massachutsetts: USA 2001). p. 504.
53 Hogg, Michael A. The Social Identity Perspective: Intergroup Relation, Self-Conception
and Small Group. Journal Small Group Research, Vol. 35. No. 3, June 2004, (Sage Publication,
2004) p. 246-248.
memaknakan sesuatu objek yang ada di lingkungannya. Menurut Scheerer persepsi adalah representasi fenomenal tentang objek distal sebagai hasil dari pengorganisasian dari objek distal itu sendiri, medium dan rangsangan proksinal (Salam, 1994). Dalam persepsi dibutuhkan objek atau stimulus yang mengenai alat indera dengan perantaraan syaraf sensorik, kemudian diteruskan ke otak sebagai pusat kesadaran (proses psikologis). Selanjutnya, dalam otak terjadilah sesuatu proses hingga individu itu dapat mengalami persepsi (proses psikologis).
Psikologi kontemporer menyebutkan persepsi secara umum diperlukan sebagai satu variabel campur tangan (intervening variabel), bergantung pada faktor-faktor motivasional. Artinya, suatu objek atau satu kejadian objektif ditentukan oleh kondisi perangsang maupun oleh faktor-faktor organisme. Dengan alasan demikian, JP. Caplin (1999) berpendapat bahwa, persepsi itu setiap individu berbeda. Hal ini desebabkan karena setiap individu dalam menanggapinya dalam situasi tertentu.
Proses pemaknaan persepsi yang bersifat psikologis sangat dipengaruhi oleh pengalaman, pendidikan dan lingkungan sosial secara umum. Sarwono (1993) mengemukakan bahwa persepsi juga dipengaruhi oleh pengalaman- pengalaman dan cara berpikir serta keadaan perasaan atau minat tiap-tiap orang. Sehingga persepsi seringkali dipandang bersifat subjektif. Karena itu tidak mengherankan jika seringkali terjadi perbedaan paham yang disebabkan oleh perbedaan persepsi antara 2 orang terhadap 1 objek. Persepsi tidak sekedar pengenalan atau pemahaman, tetapi juga evaluasi bahkan persepsi juga bersifat inferensional (menarik kesimpulan).
Persepsi sosial menurut David O Sears (1994)54 adalah bagaimana kita membuat kesan pertama, prasangka apa yang mempengaruhi mereka, jenis informasi apa yang kita pakai untuk sampai pada kesan tersebut, dan bagaimana akuratnya kesan itu. Menurut Istiqomah dkk (1988), Persepsi sosial mengandung unsur subyektif.
Kekeliruan atau perbedaan persepsi ini dapat membawa macam- macam akibat dalam hubungan antar manusia. Persepsi sosial berhubungan dengan adanya rangsangan-rangsangan sosial. Rangsangan- rangsangan sosial ini dapat mencakup banyak hal, dapat terdiri dari (a) orang atau orang-orang berikut ciri-ciri, kualitas, sikap dan perilakunya, (b) persitiwa-peristiwa sosial dalam pengertian peristiwa-peristiwa yang melibatkan orang-orang, secara langsung maupun tidak langsung, norma-
norma, dan lain-lain.55
Penelitian lain menunjukkan bahwa proses persepsi juga dipengaruhi oleh pengalaman belajar dari masa lalu, harapan dan preferensi (Bartol & Bartol, 1994). Terkait dengan persepsi sosial, Istiqomah menyebutkan ada 3 hal yang mempengaruhi, yakni;
Pertama, variabel obyek-stimulus. Kedua, variabel latar atau suasana pengiring keberadaan obyek-stimulus. Ketiga, variabel diri preseptor (pengalaman, intelegensia, kemampuan menghayati stimuli, ingatan, disposisi kepribadian, sikap, kecemasan, dan pengharapan).56
Osgood (1994), menjelaskan tiga dimensi dasar yang terkait dengan persepsi, yakni evaluasi (baik-buruk), potensi (kuat-lemah), dan aktivitas (aktif-pasif). Menurutnya evaluasi merupakan dimensi utama yang mendasari
persepsi, disamping potensi dan aktivitas.57
54 David O, Sears, et. al. Psikologi Sosial, Jilid 1, Alih bahasa oleh Micahael Adriayanto dan Savitri Soekrisno (Jakarta: Penerbit Erlangga, 1994) hal 159.
55 Istiqomah, dkk, Modul 1-9: Materi Pokok Psikologi Sosial (Jakarta: Penerbit Karunika
Universitas Terbuka, 1988). hal 69.
56 Ibid. hal 79.
57 David O, Sears, et. al. Psikologi Sosial, Jilid 1, Alih bahasa oleh Micahael Adriyanto dan
Savitri Soekrisno (Jakarta: Penerbit Erlangga, 1994) hal 140.
Representasi sosial merupakan asusumsi dasar pengetahuan kita tentang dunia untuk berpartisipasi dalam proses intersaksi sosial. Ini merupakan pandangan sosial untuk mempertahankan identitasnya dari gempuran dari luar. Dalam pandangan Moscovici (1973), representasi sosial merupakan sistem
kognitif, logika dan bahasa. Seperti di kutip oleh Shikha Dixit58 berikut;
. . . social representations are cognitive systems with a logic and language of their own and a pattern of implications, relevant to both values and concepts, and with a characterstic kind of discourse. They do not represent simply “opinions about”, “images of ” or “attitudes towards” but “theories” or “branches of knowledge” in their own right,
for the discovery and organization of reality.59
Barker (2000), memahami bahwa, representasi mengandung makna pelibatan (inklusi) dan penyingkiran (ekslusi). Eksklusi dan inklusi selalu terkandung dalam proses kuasa.60 Pemahaman singkat yang diajukan oleh
Chris Barker di atas sebenarnya memiliki uraian yang cukup panjang dalam
konteks kajian budaya. Pola-pola representasi tidak serta merta berhubungan erat dengan rajutan dua identitas kebudayaan atau lebih yang membentuk pergumulan bersama, akan tetapi juga berkaitan erat dengan proses pembentukan sterotype. Menurut Dyer (dalam Barker 2000) stereotipe adalah pemberian ciri negatif terhadap orang-orang yang berbeda dengan diri kita. Hal
ini menunjukkan cara kerja kuasa dalam proses pemberian stereotype dan
58 Shikha Dixit adalah professor psikologi yang tergabung dalam Associate Proffessor of Psychology. Dalam keseharianya, dia mengajar di fakultas Humaniora dan pengetahuan sosial di Indian Institute of Technology, Kanpur. Selain itu dia juga banyak mempelajari tentang kognisi sosial dan aplikasi psikologi kognitif. Disamping mengajar dia juga bekerja di Area of Social Representations dan studi hukum dan konseptualisasinya di lapangan.
59 Shikha Dixit, Meaning and Explanations of Mental Illness: A Social Representations
Approach. (Indian Psychology and Developing Societies: Sage Publications New Delhi, 2005) p.
4.
60 Barker, Chris, Op.cit. hal. 274.
perannya dalam proses penyingkiran kelompok lain dari tatanan sosial, simbolis, dan moral.61
Cara kerja stereotype adalah dengan proses pembentukan dan pelaksanaan aturan yang dirancang untuk kemenangan sebuah kelompok tertentu, sehingga terdapat kelompok lain (identitas lain) yang menjadi korban dan tersingkir. Barker berkeyakinan bahwa pemberian stereotype dianggap sebagai praktek pereduksian, pengesensialisasian, pengalamiahan, dan
pembakuan perbedaan.62
Berbeda halnya dengan Michael A Hogg, dia memiliki pemahaman bahwa, stereotype dibangun oleh kelompok yang berada di luar komunitas. Dengan sendirinya setereotype senantiasa mendapatkan respon yang berupa prototype. Prototype harus dilakukan untuk memberikan perlindungan pada kelompoknya. Dengan prototype seperti ini, kelompok tertentu mampu merepresentasikan identitas sosial. Lebih lanjut Hogg juga menjelaskan bahwa proses terjadinya identitas sosial melewati beberapa fase yaitu, sosial
categorization, prototype, dan depersonalization.63
Teori representasi ini, oleh peneliti ditempatkan bukan dalam konteks cara kerja kekuasaan selama ini membentuk identitas. Namun representasi dalam konteks penelitian ini adalah untuk mengetahui cara kerja kebudayaan komunitas Tengger memunculkan identitasnya, dan tentu saja cara kerjanya berbeda dengan formasi diskursif yang salama ini dihadirkan oleh kekuasaan.
Representasi dalam konteks ini peneliti lihat sebagai political meaning.
61 Ibid. hal. 275.
62 Ibid, hal. 275.
63 Hogg, Michael A. The Social Identity Perspective: Intergroup Relation, Self-Conception and Small Group. Journal Small Group Research, Vol. 35. No. 3, June 2004, (Sage Publication,
2004) p. 247-249.
Sebagaimana yang disampaikan oleh Andrew Edgar dan Peter Sedgwick “Key Concept in Cultural Theory” bahwa representasi juga berkaitan erat dengan pola pola perjuangan dalam mengusung nilai-nilai keterwakilan, pelembagaan politik, serta tekanan-tekanan politik. Dia juga memahami bahwa, representasi juga berhubungan erat dengan pembentukan ‘konstitusi politik’ melalui proses- proses politik. Proses-proses politik itu sendiri berkenaan dengan diskursus
seputar ras dan etnisitas.64
Karena representasi tercipta dari proses-proses politik, maka representasi kebudayaan sebenarnya sangat terkait dengan modus kerja kekuasaan. Representasi bisa dilihat sebagai proses yang sengaja diciptakan untuk menandai kehadiran identitas yang lain, tetapi juga simbol dominasi kelompok yang mencipta. Pola representasi seperti ini biasanya berjalan secara
hibrid65 (bercampur), karena diproyeksikan untuk memanipulasi keadaan dari
kultur marjinal itu sendiri. Namun representasi juga muncul dikarenakan suatu proses desakan kultural ditengah ketertutupan simbol-simbol kebudayaan yang dilakukan kelompok dominan terhadap kelompok marjinal.
Arabiyatuna Arabiyatuna
