Konsep diri mahasiswa sebagai kelompok remaja
Cooley (dalam Rakhmat, 1985) menyebut konsep diri sebagai looking glass self, artinya individu pada saat bersamaan menjadi subyek dan obyek persepsi sekaligus. Pernyataan Cooley menegaskan bahwa konsep diri bukan sesuatu yang bersifat genetis, tetapi hasil ciptaan sosial. Grinder (1978) mengungkapkan konsep diri berkembang sejalan dengan bertambahnya umur dan pengalaman individu selama berinteraksi dengan lingkungan.
Hurlock (1999) menyatakan konsep diri merupakan harapan dan citi-cita yang
ingin dicapai individu dan usaha untuk mewujudkannya baik secara fisik maupun psikologis.
Rakhmat (1985) mengemukakan konsep diri pada masa remaja banyak mengalami perubahan baik bentuk, sifat maupun strukturnya. Perubahan ini menurut Grinder (1978) adalah upaya remaja untuk mematangkan konsep diri yang telah terbentuk pada masa pra remaja. Hasil penelitian Montemayor dan Eissen (Rosenberg dan Caplan, 1982) menunjukan bahwa pada usia remaja konsep diri bergeser dari yang bersifat konkrit menjadi lebih abstrak dan obyektif.
Usia remaja adalah masa transisi dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Ia secara fisik sudah mencapai pada perkembangan orang dewasa, tetapi kematangan psikologisnya belum stabil.
Mahasiswa pada tingkat strata satu kebanyakan pada usia remaja akhir,
sehingga konsep diri yang dimilikinya masih dalam proses pembentukan, atau dalam usaha mencari “jati diri”/ konsep diri. Jika remaja mampu menerima keadaan dari perubahan fisik yang dialaminya, maka pemahaman atas konsep dirinya menjadi positif. Sebaliknya, jika remaja tidak dapat menerima perkembangan fisik yang dimilikinya, maka akan merasa dirinya mengalami kekuranga n dan berakibat pada interaksi sosial dengan lingkungan menjadi renggang.
Arabiyatuna Arabiyatuna
