Thursday, 13 August 2026
above article banner area

Penyelenggaraan Pemerintah Yang Baik Terhadap Lingkungan Hidup

Penyelenggaraan Pemerintah Yang Baik Terhadap Lingkungan Hidup

 

Ada hubungan  erat antara penyelenggaraan  pemerintahan  yang baik dengan pengelolaan  lingkungan  hidup  yang  baik.  Bahkan  ada  korelasi  sangat  positif antara  penyelenggaraan  pemerintah  yang  baik  dengan  pengelolaan  lingkungan hidup yang baik. Oleh karena itu, pengelolaan lingkungan hidup yang baik mencerminkan   tingkat           penyelenggaraan           pemerintah       yang                           baik.        Tanpa penyelenggaraan   pemerintah     yang   baik,   sulit   mengharapkan   akan   adanya pengelolaan lingkungan hidup yang baik.

 

 

Menurut   Keraf   (2002),   penyelenggaraan                     pemerintah   yang     baik      akan menentukan  komitmen  penyelenggara  pemerintah  terhadap  lingkungan  hidup. Tentu  saja,  pemerintah  perlu  menyadari  dan  merasa  yakin  mengenai            betapa pentingnya pengelolaan lingkungan hidup yang baik bagi kepentingan masyarakat dan bangsa. Pemerintah  juga perlu menyadari  bahwa keteledoran  dan kelalaian terhadap   lingkungan   hidup   akan   membawa   dampak   yang   merugikan   bagi masyarakat,  bangsa  dan  negara,  baik  dalam  jangka  pendek  maupun  jangka panjang.  Pemerintah  sendiri  perlu  menyadari                      secara  serius  bahwa  kesalahan kebijakan pada bidang lingkungan hidup akan sangat merugikan, baik dari segi ekonomi, sosial, kesehatan, lingkungan hidup itu sendiri, kehancuran budaya masyarakat yang terkait dengan lingkungan hidup, ketahanan sosial dan kualitas kehidupan manusia.

Oleh   karena   itu,   lingkungan   hidup   harus   menjadi   bagian   integral   dan keseluruhan  kebijakan  pembangunan.  Lingkungan  hidup  tidak  boleh  menjadi sekedar  aspek  pinggiran  dan  perhatian  terhadap  lingkungan  hidup  tidak  boleh hanya menjadi urusan sampingan   setelah   ekonomi.   Kesadaran   ini   kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai aturan perundang-undangan yang menjadi pegangan  bagi setiap  penyelenggaran  negara  dan masyarakat  dalam  mengelola dan menjaga lingkungan hidup.

 

2.9. Prinsip Good Environmental Governance (GEG)

 

Terciptanya   good    governance    merupakan   prasyarat    dari    pengelolaan lingkungan  yang  efektif.  Namun  pemerintah  yang  sudah  mampu  mewujudkan good governance belum tentu memiliki kepedulian terhadap aspek keberlanjutan ekosistem.  Oleh  sebab  itu  pemerintah  yang  telah  mengupayakan   aktualisasi prinsip-prinsip good governance  masih memerlukan  persyaratan tambahan yaitu mengaitkan seluruh kebijakan pembangunan dengan prinsip-prinsip keberlanjutan ekologi (ecological sustainability) (Santosa, 2001).

Menurut Siahaan (2004), azas-azas penyelenggaraan negara yang baik dalam mengelola lingkungan dengan prinsip keberlanjutan sumber daya (sustainability) disebut dengan prinsip good governance (GEG). Prinsip GEG ini didasarkan pada pasal  8 ayat  2 UU Pengelolaan  Lingkungna  Hidup (UUPLH)                                                                                        No. 23 Tahun

1997. Unsur-unsur penting dan GEG ini ialah adanya :

 

 

1.  Kedaulatan (soveireignty).

 

2.  Kekuasaan (power).

 

3.  Kebijakan (policy ).

 

4.  Pengendalian (controlling).

 

5.  Pengembangan  (developing) dan tanggung jawab (responsibility  and liability)

 

atas lingkungan hidup.

 

Prinsip  GEG  menurut  pasal  8  UUPLH  No.  23/1997,  yaitu kekuasaan  dan kompetensi Negara menguasai serta mempergunakan sumberdaya alam demi kemakmuran       rakyat,             menyebutkan                        bahwa       pemerintah   mengatur              dan mengembangkan kebijakan pengelolaan lingkungan hidup (pasal 8 ayat 2 butir a, b,   c   dan   d).   Pemerintah   mengatur   penyediaan,   peruntukan,   penggunaan, pengelolaan   lingkungan     hidup,     mengendalikan      kegiatan-kegiatan                        yang mempunyai  dampak  sosial,  disamping  mengembangkan  pe ndanaan bagi upaya pembinaan fungsi lingkungan hidup sesuai peraturan perundang-undangan.

Prinsip-prinsip  di atas selain menjadi  dasar hak dan kewajiban  masyarakat, setidaknya juga menyiratkan bahwa negara memiliki tanggungjawab pengelolaan lingkungan   hidup,  termasuk  segala  aspek  yang  berkenaan   dengan  tindakan preventif  dan representif  atas pencemaran  serta kerusakan  lingkungan.  Apabila masalah pertanggung jawaban dilihat dan visi pengaturan UUPLH                    No. 23/1997, maka didapat beberapa perbedaan. Sebagaimana  telah disebut sebelumnya bahwa prinsip  pengelolaan  lingkungan  hidup  yang  dianut  oleh  UUPLH  No.  23/1997 antara  lain secara  eksplisit  menunjukkan  kepada  prinsip  tanggungjawab  negara (state            responsibility),         prinsip             pembangunan     berkelanjutan                   (principle          of sustainability),   prinsip   manfaat   dengan   tujuan   mewujudkan   pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seutuhnya (environmentally sustainable development principle).

Ketiga prinsip ini dapat dilihat pada pasal 3 UUPLH No. 23/1997, yang mana ketiganya saling berkaitan erat sehingga lebih mencerminkan kepentingan- kepentingan  yang  lebih  padu  (holistic )  dalam  berbagai  dimensi.  Keterpaduan holistik  dan menyeluruh  dilakukan  antara negara dengan rakyatnya,  antar masa atau  generasi  kini  dengan  masa  atau  generasi  yang  akan  datang,  individual (manusia Indonesia pribadi yang seutuhnya) dengan masyarakat (seluruh manusia

 

 

Indonesia), serta kehidupan dalam perspektif fisik atau jasmani dengan kehidupan dalam persepktif rohaniah yang relegius. Selanjutnya Soemarwoto (2004) mengemukakan  bahwa pembangunan  mempunyai  tujuan jangka panjang  dalam arti kita tidak hanya membangun  untuk kita, generasi sekarang, melainkan juga untuk anak cucu kita, generasi yang akan datang.

 

2.10. Pendekatan Analytical Hierarchy Process (AHP)

 

Analytical  Hierarchy  Process  (AHP)  dikenal  dengan  istilah  proses  hirarki analitik (PHA) atau analisis jenjang keputusan (AJK), pertama kali dikembangkan oleh Thomas L. Saaty pada Tahun 1990-an. Untuk mendapatkan skenario optimal dalam     pengelolaan       kualitas             lahan    pasca               penambangan nikel         pada PT. AnekaTambang Tbk, maka digunakan pendekatan AHP. Analisis hirarki proses (AHP) merupakan metode yang memodelkan permasalahan  yang tidak terstruktur seperti dalam bidang ekologi, ekonomi, sosial dan kelembagaan.  Pada dasarnya, AHP   ini  di  desain   untuk   menangkap   secara   rasional   persepsi   orang   yang berhubungan sangat erat dengan permasalahan tertentu melaui suatu prosedur yang didesain untuk sampai pada suatu skala preferensi diantara berbagai set alternatif.

Saaty  (1993),  menyatakan  bahwa  Proses  Hirarki  Analisis  adalah  model luwes yang memberikan kesempatan bagi perorangan atau kelompok untuk membangun    gagasan- gagasan   dan   mendefenisikan   persoalan   dengan   cara membuat  asumsi dan memperoleh  pemecahan  yang  diinginkan.  Metode  AHP memasukkan  faktor kualitatif dan kuantitatif pikiran manusia. Aspek kualitatif mendefinisikan persoalan dan hirarkinya dan aspek kuantitatif mengekspresikan penilaian  dan  preferensi  secara  ringkas  dan  p adat.  Proses  ini  dengan  jelas menunjukkan  bahwa  demi  pengambilan  keputusan  yang  sehat  dalam  situasi yang komplek diperlukan penetapan prioritas dan melakukan perimbangan.

AHP  adalah  mengidentifikasi,   memahami  dan  menilai  interaksi- interaksi suatu  sistem  sebagai  suatu  keseluruhan.   Data  yang  dianalisis  meliputi  data struktur  hierarki  keputusan  berdasarkan  hasil wawancara  dan kuisioner  dengan pendekatan AHP yang menggunakan analisis komparasi berpasangan. Untuk menggambarkan perbandingan berpasangan berpengaruh relatif atau berpengaruh pada  setiap  elemen  terhadap  masing- masing  tujuan  yang  setingkat  di  atasnya dilakukan perbandingan berdasarkan  judgement  dari para pengambil keputusan

 

 

dengan melakukan penilaian terhadap tingkat kepentingan antara satu elemen dibandingkan dengan elemen lainnya, maka digunakan pembobotan berdasarkan skala prioritas AHP.

Dalam penyelesaian per masalahan dengan AHP, ada beberapa prinsip dasar

 

yang harus dipaha mi, antara lain

 

1.  Decompsisi,    setelah     didefinisikan    maka    dilakukan    dekompsisi    yaitu memecahkan                             persoalan       yang      utuh     menjadi      unsur-unsurnya.    Jika menginginkan  hasil  yang  akurat    maka  dilakukan  pe mecahan  unsur- unsur tersebut  sa mpai  tidak  dapat  dipecahkan   lagi  sehingga  didapat  beberapa tingkat dari perso alan tadi.

2.  Comparative   Judgment,   prinsip   ini   berarti   membuat   penilian   tentang

 

kepentingan  relatif  dua ele men  pada  suatu  tingkat  tertentu  dala m kaitanya dengan tingkat di atasnya. Penilaian ini merupakan inti dari AHP karena akan berpengaruh  terhadap prioritas elemen-elemen.  Hasil dari penilaian ini lebih mudah          disajikan          dala m   bentuk        perbandingan               berpasangan                         (pairwise comparation).

3.  Synthis of  Priority, dari setiap matriks pairwise comparation kemudian dicari eigen vektornya untuk mendapatkan  prioritas lokal. Karena matriks  pairwise comparation terdapat suatu tingkat maka untuk mendapatkan  prioritas global harus dilakukan  sintesis  diantara  prioritas  lokal. Prosedur  melakuan  sistesis berbeda menurut bentuk hirarki.

4.  Logical Consistency, ko nsistensi memiliki dua makna, makna perta ma bahwa obyek-obyek yang serupa dikelompokkan sesuai dengan keragaan dan relevasinya.   Kedua,   adalah   tingkat   hubungan   antara   objek-objek   yang didasarkan pada kriteria tertentu.

5.  Pendekatan   AHP  menggunakan   skala  Saaty  mulai  dari  bobot  1  sampai

 

dengan  9. Nilai    bobot  1 menggambarkan  sama penting,  ini berarti atribut yang      sama            skalanya,   nilai      bobotnya               1,    sedangkan    nilai    bobot    9 menggambarkan  kasus  atribut  yang  penting  absolut  dibandingkan  dengan yang lainnya. Jika hasil perhitungan menunjukkan nilai Consisten Ratio (CR)

<  0,10  artinya  penilaian  pada  pengisian  kuesioner  tergolong  konsisten,

 

sehingga   nilai   bobotnya   dapat   digunakan.   Untuk   menganalisis   data   ini

 

 

digunakan computer dengan bantuan program  expert choice 2000. Untuk lebih jelas, dapat dilihat pada Tabel 3.

Prinsip  kerja AHP adalah menyederhanakan  suatu persoalan  kompleks  dan tidak   terstruktur   serta   bersifat   strategi,   melalui   upaya   penataan   rangkaian variabelnya  dala m  suatu  hierarki.  Keunggulan   lain  dari  AHP  adalah  dapat menjelaskan   proses   pengambilan   keputusan   secara   grafis,   sehingga   mudah dipahami oleh semua pihak yang terlibat dalam proses bersangkutan. Dengan memakai metode AHP, proses keputusan yang bersifat kompleks dapat diuraikan menjadi sejumlah keputusan yang lebih kecil (terbatas), sehingga dapat ditangani dengan  lebih  mudah.       Selain  itu  dalam  aplikasinya,  metode  ini  juga  menguji konsistensi  berbagai penilaian, khususnya apabila terjadi penyimpangan penilaian terlalu jauh dari penilaian konsistensi yang sempurna.

Menurut  Eriyatno  et.,  al  (2007),  dala m penga mbilan  keputusan  kelompok (Group   Decision   Support)   dengan   memanfaatkan   survei   pakar,   biasanya digunakan metode  Strength, Weakness, Opportunity dan Threat   (SWOT), untuk merumuskan strategi kebijakan. Namun banyak para ahli mempertanyakan kehandalan SWOT, karena kelemahannya  SWOT yang tidak dilengkapi dengan alat/ teknik untuk mampu menganalisis tingkat kepentingan masing- masing faktor atau penilan kesesuaian antara faktor dan alternatif keputusan. Untuk mengatasi kelema han  ini,  beberapa  peneliti  menggabungkan  SWOT  dengan  teknik  lain, misalnya AHP atau OWA (Ordered Weighted Averaging).

 

 

Tabel 3. Skala banding secara berpasangan dalam AHP

 

 

Tingkat

Kepentingan

1


 

Keterangan                                   Penjelasan

 

• Kedua          elemen         sama • Dua elemen mempunyai pengaruh

 

pentingnya

 

3          • Elemen yang satu sedikit lebih penting dari pada elemen yang lain


yang sama terhadap tujuan

 

• Pengalaman dan penilaian sedikit mendukung   satu      elemen dibandingkan elemen lainnya

 

 

5          • Elemen     yang    satu     lebih • Pengalaman  dan penilaian  sangat

 

penting  dari pada elemen yang

lain


kuat     mendukung    satu    elemen

dibandingkan elemen lainnya

 

 

7          • Elemen  yang  satu  jelas  lebih • Pengalaman  dan penilaian  sangat

 

penting

 

• Penting dari pada elemen yang

9             lain

• Elemen yang satu mutlak lebih

penting dari pada elemen yang lain

 

• Nilai- nilai   antara   dua   nilai pertimbangan yang berdekatan


kuat    mendukung    satu    elemen dibandingkan            dengan  elemen lainnya

 

• Satu elemen dengan kuat didukung dan dominan terlihat dalam praktek

• Bukti yang mendukung elemen yang satu terhadap elemen yang lain memiliki tingkat penegasan tertinggi yang mungkin menguatkan

 

2,4,6,8


• Jika untuk aktivitas i mendapat • Nilai ini diberikan bila ada

 

kebalikan


satu angka bila dibandingkan dengan aktifitas j, maka j mempunyai nilai kebalikannya bila dibandingkan dengan i.


dua kompromi diantara dua pilihan

 

Su mber : Saaty, T. L. 1993

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *