Pendekatan Pendidikan Islam
Dalam kenyataanya pendidikan agama Islam terasa kurang terkait dan kurang konsentrasi terhadap persoalan bagaimana mengubah pengetahuan agama yang bersifat kognitif menjadi “makna” dan “nilai”[1] yang perlu diinternalisasikan dalam diri seorang dengan cara, metode, media dan forum, selanjutnya makna yang terhayati menjadi sumber motivasi bagi peserta didik untuk bergerak dan prilaku secara kongkret-agamisdalam wilayah kehidupan sehari-hari.
Pendidikan Islam yang sekarang berjalan agaknya lebih menitik beratkan pada pendekatan naturalistic-positifistik. Yaitu jenis pendekatan yang lebih menitik beratkan pada aspek koherensi kognitif,[2] tanpa banyak menyentuh moralitas-praktis. Walaupun mungkin pengetahuan yang menitik beratkan pada aspek korespodensi-tekstual, yang lebih menekankan peserta didik menghafal teks-teks agama yang ada.
Sedangkan pada prinsip-prinsip dasar wilayah pertama kebeagamaan Islam perlu diadakan pendekatan doctriner, dan wilayah kedua perlu pendekatan scientific.
Pendidikan dan pengajaran yang diberikan secara doktriner akan cepat membosankan, terutama bagi generasi muda yang telah mengenal dari berbagai cabang ilmu (natural science atau behavioral science). Sedangkan pendekatan kedua cukup menarik bagi peserta didik, tetapi pada klimaksnya tidak bisa membentuk sikap hidup yang jelas. Dari kedua pendekatan di atas perlu kiranya diupayakan desain atau kemasan pendekatan pendidikan Islam yamg memberi nuansa harmonis secara pendekatan doctriner-scientific yang melibatkan peserta didik secara aktif-responsif.
Arabiyatuna Arabiyatuna
