Wednesday, 29 April 2026
above article banner area

Gay

Gay

 

Istilah gay menunjuk pada homophili laki-laki. Gay berarti orang yang meriah. Istilah ini muncul ketika lahir gerakan emansipasi kaum homoseks36 (laki-laki maupun perempuan) yang dipicu oleh Peristiwa Stonewall di New York pada tahun 60-an. Istilah gay ini mengacu pada gaya hidup, suatu sikap bangga, terbuka, dan kadang-kadang militan terhadap masyarakat. Orang yang menyebut diri gay, ke-gay-annya itu dianggap mencakupi keseluruhan pribadinya.37

Kabangkitan kaum gay secara umum ditandai dengan dibangunnya tugu

 

homomonument,  sebagai  peringatan  perjuangan  kaum  gay  dan  lesbian  di

 

34   Harbert  Marcuse,  Eros  and  Civilization,  Sphere  Books,  London,  1970,  Trjm.  Imam

Baehaqie, Cinta dan Peradaban, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2004, h.259-260

35 Foucault, Op. cit., h. 63

36Pengertian  homoseksual  sendiri  merupakan  sebuah  rasa  ketertarikan  secara  perasaan dalam  bentuk  kasih  sayang,  hubungan  emosional  baik secara  erotis atau tidak,  di mana  ia bisa

muncul secara menonjol,  ekspresif  maupun secara ekslusif  yang ditujukan terhadap  orang-orang berjenis kelamin sama. Dalam Hatib, Op. cit.,h.66, Lebih lanjut Colin Spencer menjelaskan bahwa istilah homoseksualitas  muncul pertama kali dalam bahasa Inggris pada tahun 1890 dalam tulisan karya Charles Gilbert  yang menerjemahkan  Psychopathia  Sexualis  karya R. Von K, dan pernah muncul dalam bahasa  Jerman pada tahun 1869 dalam sebuah naskah anonym,  namun ini hanya salah satu dari sekian banyaknya kata yang diciptakan dan dipakai pada masa itu untuk mendeskripsikan seksualitas antara dua orang yang berjenis kelamin sama. Colin Spencer, Histoire de I’homosexualite:  De  I’antiquite  a nos jours,  trjm. Ninik  Rochani,  Sejarah  Homoseksualitas Dari Zaman Kuno Hingga Sekarang, Kreasi Wacana, Yogyakarta, 2004.

37 Dede Oetomo, Memberi Suara Pada Yang Bisu, Galang Press, Yogyakarta, 2001, h.7

 

 

Netherlands (Belanda). Didirikan pada tahun 1987, tepatnya di jalan Westermarkt tepat di tengah kota Amsterdam. Tugu tersebut diinspirasi dari pengalaman   sejarah   kaum   homoseksual   di   masa   lalu,   sebagai   simbol perjuangan  mereka  melawan  homophobic38.  Sebagai  memori  laki-laki  dan

perempuan yang dihukum mati sebagai homoseksual.39

 

Pada tahun-tahun sebelumnya gerakan kaum gay sudah cukup masif di negara Inggris dan Amerika. Dengan nama gerakannya disingkat GLF/Front Pembebasan Gay, lahir di London pada tahun 1970, terinspirasi dari gerakan yang sama di Amerika pada tahun sebelumnya.  Di tahun 1972 hampir dua ribu orang laki-laki dan perempuan berjalan kaki menuju Hyde Park di bawah

panji-panji GLF.40

 

Gerakan   tersebut   menyadari   atas   apa   yang   dilakukan   masyarakat terhadap para gay. Bahwa penindasan dimulai dengan distribusi peran-peran menurut  jenis  kelamin  dalam  keluarga  yang menjadi  contoh  laki-laki  yang dominan, istri tidak lebih sebagai pembantu dan anak-anak dituntut untuk mencontoh  model tersebut.  Sehingga  homoseksual  dikesampingkan,  terlihat lebih rendah (inferior).  Dan terlebih  dari posisi peran antara suami dengan istri,  rupa-rupanya  gay  sendiri  memiliki  kecenderungan  untuk  jatuh  pada

skema ini.41 Jeffreys dalam Anticlimax juga menyatakan bahwa dalam sejarah

 

gay, terlihat eksisnya hasrat heteroseksual melalui erotisme dominasi/submisif

 

 

 

38 Kelompok yang membenci dan menghancurkan  keberadaan kaum homoseksual.  Adapun reaksi mereka ketika bertemu gay ataupun berada di lingkungan gay adalah merasa tidak tenang, gelisah,   khawatir,   takut  tertular  “penyakit   homoseksual”,   merinding  dan  tidak  sedikit  yang langsung   kabur   atau   menjauh.   Dan   ada   pula   homophobia   yang   sampai   mengisolasi   dan memprovokasi  masyarakat  untuk menjauhi kaum gay. Baca dalam penelitian lika liku kehidupan gay Jakarta, http://queercurious.blogspot.com./2008/07/lika-liku-kehidupan-kaum-gay-jakarta.html

39 Jurnal “K”, Untuk Hidup Lebih Baik, vol2. nomor2. tahun 2007, h.65

40 Colin Spencer, Op. cit.,h.447-449

41Colin Spencer, Op. cit.,h.449

 

 

yang didasarkan atas perbedaan kelas/usia ataupun melalui praktik permainan peran.42  Diceritakan oleh Colin Spencer hingga tahun enampuluhan para gay tidak memiliki pilihan untuk mengikuti struktur sosial yang heteroseksual, dan satu-satunya   posibilitas   untuk   terlepas   dari  hal  ini  adalah   menghindari kehidupan   secara   berpasangan   dan   dengan   cara   diam-diam   memburu pertemuan dengan orang asing secara rahasia.43

Hal itu salah satunya memicu gay untuk memiliki banyak mitra seksual

 

dan biasanya mereka berganta-ganti pasangan dengan cepat, walaupun sebenarnya juga banyak laki-laki gay yang setia dalam sebuah hubungan abadi dengan seorang pasangan.

Studi-studi  serupa yang telah dikutip di atas menunjukkan  fakta bahwa kebanyakan  orang yang dihubungi  mengaku  telah menjalin  pertalian  dengan satu pasangan utama, setidaknya selama dua tahun atau lebih. Riset yang telah dilakukan oleh The Kinsey Institute pada awal tahun 1990-an yang didasarkan atas  wawancara  dengan  beberapa  ratus  laki-laki  homoseksual  (gay) menunjukkan   bahwa   sebenarnya   semua   berada   dalam   kondisi   pacaran, setidaknya selama setahun. Dalam pengembangan hubungan, gay telah mendahului  kebanyakan  kaum heteroseksual.  Dalam artian hubungan mereka tanpa  ditentukan   kerangka-kerangka   pernikahan   tradisional   dalam  kondisi

kesetaraan yang relativ antar pasangan.44

 

Laki-laki    gay     sebenarnya    menyadari    kalau    dirinya    dipandang masyarakat   sebagai   laki-laki   yang   gagal,   mereka   tahu   kadang   mereka dikucilkan, cenderung untuk mendapatkan perawatan dari psikiater. Seringkali mereka  dicemooh  oleh kolega-kolega  dan menjadi  bahan pembicaraan  atau ejekan.  Sehingga  untuk  melakukan  pertahanan  salah  satunya  dengan  cara tidak menonjolkan diri. Hanya sedikit diantaranya yang mau mengungkapkan

diri kepada keluarga atau kolega-koleganya.45

 

 

 

42Dalam Ratna Batara Munti, Op. cit.h.70

43Colin Spencer, Op. cit.,h.450

44 Anthony Giddens, Op. cit.h. 16-18

45 Colin Spencer, Op. cit.,h.450-463

 

 

Berdirinya   komunitas-komunitas   homoseksual   di   Indonesia   sendiri sekitar  tahun  1920-an,  yang  kemunculannya  hanya  di  kota  besar  Hindia Belanda.  Baru  pada  tahun  1969  di  Jakarta  organisasi  wadam  (baca  gay) pertama, Himpunan Wadam Djakarta (HIWAD) berdiri difasilitasi oleh Gubernur Jakarta Raya Ali Sadikin. Tahun selanjutnya pada tanggal 1 Maret

1982    organisasi    gay    terbuka    pertama    di    Indonesia    berdiri,    dengan kesekretariatannya di Solo. Dalam waktu singkat terbentuklah cabang-cabang di Yogyakarta, Surabaya, Jakarta dan tempat lain. Juga terbit buletin G:gaya hidup ceria (1982-1984). Dari organisasi Lambda pada tahun 1992 terjadi ledakan berdirinya organisasi-organisasi gay di Indonesia. Antara lain Jakarta, Pekanbaru,  Bandung  dan  Denpasar.  Menyusul  tahun  1993  di  Malang  dan

Ujungpandang.46

 

Selain keberadaan organisasi, biasanya gay juga mempunyai tempat berkumpul disuatu arena ngeber47. Ngeber menjadi tempat bersosialisasi, pemenuhan kebutuhan psikologis, tempat menumpahkan rasa kebersamaan senasib  dengan  kelompok  orang  yang  mempunyai  orientasi  seksual  sama. selain  itu  juga  menjadi  tempat  penyaluran  hasrat  biologis,  mulai  dengan mencari pasangan, dari yang menginginkan berganti pasangan, dengan didasarkan atas perasaan saling suka.48

Beberapa kasus yang ada, kisah awal terjunnya individu ke dunia gay

dengan individu gay yang lain bisa sangat berbeda. Seperti yang dikisahkan oleh Eva (nama samaran)

 

 

 

46 Wahyu Awaludin, Lika-liku Kehidupan Kaum Gay Jakarta, www. google. com. Diakses pada 14 Juli 2008.

47 Tempat untuk berkumpul dan ngedugem.

48 Wahyu Awaludin, Op. cit.

 

 

Eva merasa  kecewa  berat  pada  suaminya  yang  sudah  hampir  setahun usia perkawinannya, dengan dikaruniai seorang anak berusia balita. Selalu dirundung  curiga  dan selalu  kesal  dengan  perubahan  penampilan,  sikap  dan gaya hidup suaminya. Belakangan pakaian suaminya dinilai aneh dengan ikat pinggang  warna-warni  metal mengkilap,  kaos dan celana serba ketat, sepatu model  bulldog  dan  rambutnya  selalu  basah  pakai  foam.  Bukan  hanya  itu, kalung yang melingkari leher bapak beranak satu ini bergandul pernak-pernik. Semakin   Eva  memperhatikan   gelagat   suaminya,   ia  semakin   menemukan keanehan kerena semuanya tidak dikenali pada saat sebelumnya. Ketika didengarnya   gaya  bicara   suami   menjadi   sangat   feminin,   lembut   dengan gerakan jari-jemari. Pembicaraan suami yang tidak lepas dari kata nek dan bok itu semakin  mengagetkan  Eva. Ia sedikit  demi  sedikit  berusaha  meraba  dan menyadari  bahwa kini suami beranjak puber kedua dan menjadi seorang gay karena belakangan ia mengetahui bahwa rekan suaminya itu para cowok.

Suatu  saat  Eva  berusaha  mencari  tahu  dengan  mencoba  bernegoisasi dengan suaminya sambil menantang bahwa ia siap ditinggal selingkuh dengan perempuan  lain  daripada  menjadi  gay.  Namun  suami  Eva  yang  kebetulan memang    berpenghasilan    cukup    lumayan    tersebut,    mengaku    langsung dihadapan  Eva  bahwa  bos  dalam  kerjanya  adalah  gay.  Ia pun  menjadi  gay karena kebiasaan bergaul dengan bos dan beberapa rekan kerjanya yang kebanyakan juga gay.49

 

The Kinsey Institute New Report On Sex pada tahun 1990 memaparkan sebuah kasus dimana seorang laki-laki berusia 65 tahun yang ditinggal mati istrinya setelah 45 tahun menjalani pernikahan yang bahagia, bisa jatuh cinta terhadap seorang pria. Dari pengakuannya, sebelumnya belum pernah tertarik secara seksual pada laki-laki bahkan membayangkannya  pun belum pernah. Yang   menjadi             permasalahan                    bagi     dia     sekarang    adalah    bagaimana

menceritakannya pada anak-anaknya.50

 

Lain  lagi  dengan   permasalahan   laki-laki   gay  yang  mulai  tumbuh memasuki  dunia  gay  dari  usia  remaja.  Kesadaran  awal  terhadap  identitas seksual  mereka  berupa  penafsiran  kembali  atas  pengalaman  masa  kanak- kanak  (tentang  kontak  fisik  dengan  seks  mereka  sendiri)  yang  diperjelas melalui           hasrat-hasrat   yang       lebih              lambat datangnya,            Colin    Spencer

menjelaskannya  secara  diam-diam.  Peristiwa  ini  sekitar  usia  duabelas  dan

 

 

49 Jurnal K, Op. cit, h.60-61

50 Anthony Giddens, Op. cit.h.18-17

 

 

tigapuluh  tahun. Setelah identifikasi  biasanya  pergi ke tempat perkumpulan gay atau bar yang khusus kaum gay. Dari sana teman-teman yang lain mampu mendeteksi seseorang yang baru, masih dalam “kebingungan”. Lelaki tertentu mengaku  tidak  mempunyai  pemikiran  apapun  sebelum  memasuki  tempat

khusus gay.51

 

Menurut para gay yang lain (dalam GLF/Front Pembebasan Gay), pada awalnya  seharusnya  orang-orang  gay  bisa  menerima  dirinya  sendiri  agar mampu memandang dirinya tanpa rasa malu, dan tidak perlu melihat dirinya dengan  sudut  pandang  masyarakat.  Begitu  mereka  bisa  menerima  dirinya sendiri maka mereka akan mampu berbicara pada keluarga, teman-teman atau koleganya.  Tanpa  merasa  malu  dan  terhina  yang  seringkali  menghinggapi

perasaan anak-anak muda gay.52

 

Ada gay yang akhirnya mencoba untuk menikah, dengan anggapan bisa menjadi   hetero  sejati  tetapi  kenyataannya   libido  terhadap   sesama  jenis semakin manjadi, seperti dalam penuturannya

Aku adalah seorang gay yang menikah. Semula kupikir pernikahan bisa menghapus hasrat seksualku terhadap laki-laki dengan sendirinya. Namun kenyataannya,  setelah  lima tahun menikahi  istriku hasrat seksualku  terhadap laki-laki justru semakin tinggi.53

Pada  dasarnya  gay  tetap  menganggap  dirinya  sebagai  laki-laki.  Baru dalam  melakukan  hubungan  seksual  seringkali  ada  yang  bertindak  sebagai pihak pasif (seperti peran perempuan dalam berhubungan seksual) dan sebaliknya  ada  yang  bertindak  aktif  (seperti  peran  laki-laki),  Namun  dari

 

 

 

 

 

51 Colin Spencer, Op. cit.,h.463

52 Colin Spencer, Op. cit.,h.448

53 Buletin bulanan GAYa NUSANTARA, Nomor 14/ Tahun 03, h.3

 

 

masing-masing tetap menganggap dirinya sebagai laki-laki, baik secara fisik maupun psikis.54

Pemaparan diatas dapat kita temukan beberapa paradoks yang dialami oleh gay, yang seringkali berbeda antara individu gay satu dengan yang lain. Maka dapat kita tarik sebuah garis besar bahwa apa yang terjadi atau dialami oleh seorang gay tidak bisa serta merta diuniversalkan terhadap semua gay.

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *