Gay
Istilah gay menunjuk pada homophili laki-laki. Gay berarti orang yang meriah. Istilah ini muncul ketika lahir gerakan emansipasi kaum homoseks36 (laki-laki maupun perempuan) yang dipicu oleh Peristiwa Stonewall di New York pada tahun 60-an. Istilah gay ini mengacu pada gaya hidup, suatu sikap bangga, terbuka, dan kadang-kadang militan terhadap masyarakat. Orang yang menyebut diri gay, ke-gay-annya itu dianggap mencakupi keseluruhan pribadinya.37
Kabangkitan kaum gay secara umum ditandai dengan dibangunnya tugu
homomonument, sebagai peringatan perjuangan kaum gay dan lesbian di
34 Harbert Marcuse, Eros and Civilization, Sphere Books, London, 1970, Trjm. Imam
Baehaqie, Cinta dan Peradaban, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2004, h.259-260
35 Foucault, Op. cit., h. 63
36Pengertian homoseksual sendiri merupakan sebuah rasa ketertarikan secara perasaan dalam bentuk kasih sayang, hubungan emosional baik secara erotis atau tidak, di mana ia bisa
muncul secara menonjol, ekspresif maupun secara ekslusif yang ditujukan terhadap orang-orang berjenis kelamin sama. Dalam Hatib, Op. cit.,h.66, Lebih lanjut Colin Spencer menjelaskan bahwa istilah homoseksualitas muncul pertama kali dalam bahasa Inggris pada tahun 1890 dalam tulisan karya Charles Gilbert yang menerjemahkan Psychopathia Sexualis karya R. Von K, dan pernah muncul dalam bahasa Jerman pada tahun 1869 dalam sebuah naskah anonym, namun ini hanya salah satu dari sekian banyaknya kata yang diciptakan dan dipakai pada masa itu untuk mendeskripsikan seksualitas antara dua orang yang berjenis kelamin sama. Colin Spencer, Histoire de I’homosexualite: De I’antiquite a nos jours, trjm. Ninik Rochani, Sejarah Homoseksualitas Dari Zaman Kuno Hingga Sekarang, Kreasi Wacana, Yogyakarta, 2004.
37 Dede Oetomo, Memberi Suara Pada Yang Bisu, Galang Press, Yogyakarta, 2001, h.7
Netherlands (Belanda). Didirikan pada tahun 1987, tepatnya di jalan Westermarkt tepat di tengah kota Amsterdam. Tugu tersebut diinspirasi dari pengalaman sejarah kaum homoseksual di masa lalu, sebagai simbol perjuangan mereka melawan homophobic38. Sebagai memori laki-laki dan
perempuan yang dihukum mati sebagai homoseksual.39
Pada tahun-tahun sebelumnya gerakan kaum gay sudah cukup masif di negara Inggris dan Amerika. Dengan nama gerakannya disingkat GLF/Front Pembebasan Gay, lahir di London pada tahun 1970, terinspirasi dari gerakan yang sama di Amerika pada tahun sebelumnya. Di tahun 1972 hampir dua ribu orang laki-laki dan perempuan berjalan kaki menuju Hyde Park di bawah
panji-panji GLF.40
Gerakan tersebut menyadari atas apa yang dilakukan masyarakat terhadap para gay. Bahwa penindasan dimulai dengan distribusi peran-peran menurut jenis kelamin dalam keluarga yang menjadi contoh laki-laki yang dominan, istri tidak lebih sebagai pembantu dan anak-anak dituntut untuk mencontoh model tersebut. Sehingga homoseksual dikesampingkan, terlihat lebih rendah (inferior). Dan terlebih dari posisi peran antara suami dengan istri, rupa-rupanya gay sendiri memiliki kecenderungan untuk jatuh pada
skema ini.41 Jeffreys dalam Anticlimax juga menyatakan bahwa dalam sejarah
gay, terlihat eksisnya hasrat heteroseksual melalui erotisme dominasi/submisif
38 Kelompok yang membenci dan menghancurkan keberadaan kaum homoseksual. Adapun reaksi mereka ketika bertemu gay ataupun berada di lingkungan gay adalah merasa tidak tenang, gelisah, khawatir, takut tertular “penyakit homoseksual”, merinding dan tidak sedikit yang langsung kabur atau menjauh. Dan ada pula homophobia yang sampai mengisolasi dan memprovokasi masyarakat untuk menjauhi kaum gay. Baca dalam penelitian lika liku kehidupan gay Jakarta, http://queercurious.blogspot.com./2008/07/lika-liku-kehidupan-kaum-gay-jakarta.html
39 Jurnal “K”, Untuk Hidup Lebih Baik, vol2. nomor2. tahun 2007, h.65
40 Colin Spencer, Op. cit.,h.447-449
41Colin Spencer, Op. cit.,h.449
yang didasarkan atas perbedaan kelas/usia ataupun melalui praktik permainan peran.42 Diceritakan oleh Colin Spencer hingga tahun enampuluhan para gay tidak memiliki pilihan untuk mengikuti struktur sosial yang heteroseksual, dan satu-satunya posibilitas untuk terlepas dari hal ini adalah menghindari kehidupan secara berpasangan dan dengan cara diam-diam memburu pertemuan dengan orang asing secara rahasia.43
Hal itu salah satunya memicu gay untuk memiliki banyak mitra seksual
dan biasanya mereka berganta-ganti pasangan dengan cepat, walaupun sebenarnya juga banyak laki-laki gay yang setia dalam sebuah hubungan abadi dengan seorang pasangan.
Studi-studi serupa yang telah dikutip di atas menunjukkan fakta bahwa kebanyakan orang yang dihubungi mengaku telah menjalin pertalian dengan satu pasangan utama, setidaknya selama dua tahun atau lebih. Riset yang telah dilakukan oleh The Kinsey Institute pada awal tahun 1990-an yang didasarkan atas wawancara dengan beberapa ratus laki-laki homoseksual (gay) menunjukkan bahwa sebenarnya semua berada dalam kondisi pacaran, setidaknya selama setahun. Dalam pengembangan hubungan, gay telah mendahului kebanyakan kaum heteroseksual. Dalam artian hubungan mereka tanpa ditentukan kerangka-kerangka pernikahan tradisional dalam kondisi
kesetaraan yang relativ antar pasangan.44
Laki-laki gay sebenarnya menyadari kalau dirinya dipandang masyarakat sebagai laki-laki yang gagal, mereka tahu kadang mereka dikucilkan, cenderung untuk mendapatkan perawatan dari psikiater. Seringkali mereka dicemooh oleh kolega-kolega dan menjadi bahan pembicaraan atau ejekan. Sehingga untuk melakukan pertahanan salah satunya dengan cara tidak menonjolkan diri. Hanya sedikit diantaranya yang mau mengungkapkan
diri kepada keluarga atau kolega-koleganya.45
42Dalam Ratna Batara Munti, Op. cit.h.70
43Colin Spencer, Op. cit.,h.450
44 Anthony Giddens, Op. cit.h. 16-18
45 Colin Spencer, Op. cit.,h.450-463
Berdirinya komunitas-komunitas homoseksual di Indonesia sendiri sekitar tahun 1920-an, yang kemunculannya hanya di kota besar Hindia Belanda. Baru pada tahun 1969 di Jakarta organisasi wadam (baca gay) pertama, Himpunan Wadam Djakarta (HIWAD) berdiri difasilitasi oleh Gubernur Jakarta Raya Ali Sadikin. Tahun selanjutnya pada tanggal 1 Maret
1982 organisasi gay terbuka pertama di Indonesia berdiri, dengan kesekretariatannya di Solo. Dalam waktu singkat terbentuklah cabang-cabang di Yogyakarta, Surabaya, Jakarta dan tempat lain. Juga terbit buletin G:gaya hidup ceria (1982-1984). Dari organisasi Lambda pada tahun 1992 terjadi ledakan berdirinya organisasi-organisasi gay di Indonesia. Antara lain Jakarta, Pekanbaru, Bandung dan Denpasar. Menyusul tahun 1993 di Malang dan
Ujungpandang.46
Selain keberadaan organisasi, biasanya gay juga mempunyai tempat berkumpul disuatu arena ngeber47. Ngeber menjadi tempat bersosialisasi, pemenuhan kebutuhan psikologis, tempat menumpahkan rasa kebersamaan senasib dengan kelompok orang yang mempunyai orientasi seksual sama. selain itu juga menjadi tempat penyaluran hasrat biologis, mulai dengan mencari pasangan, dari yang menginginkan berganti pasangan, dengan didasarkan atas perasaan saling suka.48
Beberapa kasus yang ada, kisah awal terjunnya individu ke dunia gay
dengan individu gay yang lain bisa sangat berbeda. Seperti yang dikisahkan oleh Eva (nama samaran)
46 Wahyu Awaludin, Lika-liku Kehidupan Kaum Gay Jakarta, www. google. com. Diakses pada 14 Juli 2008.
47 Tempat untuk berkumpul dan ngedugem.
48 Wahyu Awaludin, Op. cit.
Eva merasa kecewa berat pada suaminya yang sudah hampir setahun usia perkawinannya, dengan dikaruniai seorang anak berusia balita. Selalu dirundung curiga dan selalu kesal dengan perubahan penampilan, sikap dan gaya hidup suaminya. Belakangan pakaian suaminya dinilai aneh dengan ikat pinggang warna-warni metal mengkilap, kaos dan celana serba ketat, sepatu model bulldog dan rambutnya selalu basah pakai foam. Bukan hanya itu, kalung yang melingkari leher bapak beranak satu ini bergandul pernak-pernik. Semakin Eva memperhatikan gelagat suaminya, ia semakin menemukan keanehan kerena semuanya tidak dikenali pada saat sebelumnya. Ketika didengarnya gaya bicara suami menjadi sangat feminin, lembut dengan gerakan jari-jemari. Pembicaraan suami yang tidak lepas dari kata nek dan bok itu semakin mengagetkan Eva. Ia sedikit demi sedikit berusaha meraba dan menyadari bahwa kini suami beranjak puber kedua dan menjadi seorang gay karena belakangan ia mengetahui bahwa rekan suaminya itu para cowok.
Suatu saat Eva berusaha mencari tahu dengan mencoba bernegoisasi dengan suaminya sambil menantang bahwa ia siap ditinggal selingkuh dengan perempuan lain daripada menjadi gay. Namun suami Eva yang kebetulan memang berpenghasilan cukup lumayan tersebut, mengaku langsung dihadapan Eva bahwa bos dalam kerjanya adalah gay. Ia pun menjadi gay karena kebiasaan bergaul dengan bos dan beberapa rekan kerjanya yang kebanyakan juga gay.49
The Kinsey Institute New Report On Sex pada tahun 1990 memaparkan sebuah kasus dimana seorang laki-laki berusia 65 tahun yang ditinggal mati istrinya setelah 45 tahun menjalani pernikahan yang bahagia, bisa jatuh cinta terhadap seorang pria. Dari pengakuannya, sebelumnya belum pernah tertarik secara seksual pada laki-laki bahkan membayangkannya pun belum pernah. Yang menjadi permasalahan bagi dia sekarang adalah bagaimana
menceritakannya pada anak-anaknya.50
Lain lagi dengan permasalahan laki-laki gay yang mulai tumbuh memasuki dunia gay dari usia remaja. Kesadaran awal terhadap identitas seksual mereka berupa penafsiran kembali atas pengalaman masa kanak- kanak (tentang kontak fisik dengan seks mereka sendiri) yang diperjelas melalui hasrat-hasrat yang lebih lambat datangnya, Colin Spencer
menjelaskannya secara diam-diam. Peristiwa ini sekitar usia duabelas dan
49 Jurnal K, Op. cit, h.60-61
50 Anthony Giddens, Op. cit.h.18-17
tigapuluh tahun. Setelah identifikasi biasanya pergi ke tempat perkumpulan gay atau bar yang khusus kaum gay. Dari sana teman-teman yang lain mampu mendeteksi seseorang yang baru, masih dalam “kebingungan”. Lelaki tertentu mengaku tidak mempunyai pemikiran apapun sebelum memasuki tempat
khusus gay.51
Menurut para gay yang lain (dalam GLF/Front Pembebasan Gay), pada awalnya seharusnya orang-orang gay bisa menerima dirinya sendiri agar mampu memandang dirinya tanpa rasa malu, dan tidak perlu melihat dirinya dengan sudut pandang masyarakat. Begitu mereka bisa menerima dirinya sendiri maka mereka akan mampu berbicara pada keluarga, teman-teman atau koleganya. Tanpa merasa malu dan terhina yang seringkali menghinggapi
perasaan anak-anak muda gay.52
Ada gay yang akhirnya mencoba untuk menikah, dengan anggapan bisa menjadi hetero sejati tetapi kenyataannya libido terhadap sesama jenis semakin manjadi, seperti dalam penuturannya
Aku adalah seorang gay yang menikah. Semula kupikir pernikahan bisa menghapus hasrat seksualku terhadap laki-laki dengan sendirinya. Namun kenyataannya, setelah lima tahun menikahi istriku hasrat seksualku terhadap laki-laki justru semakin tinggi.53
Pada dasarnya gay tetap menganggap dirinya sebagai laki-laki. Baru dalam melakukan hubungan seksual seringkali ada yang bertindak sebagai pihak pasif (seperti peran perempuan dalam berhubungan seksual) dan sebaliknya ada yang bertindak aktif (seperti peran laki-laki), Namun dari
51 Colin Spencer, Op. cit.,h.463
52 Colin Spencer, Op. cit.,h.448
53 Buletin bulanan GAYa NUSANTARA, Nomor 14/ Tahun 03, h.3
masing-masing tetap menganggap dirinya sebagai laki-laki, baik secara fisik maupun psikis.54
Pemaparan diatas dapat kita temukan beberapa paradoks yang dialami oleh gay, yang seringkali berbeda antara individu gay satu dengan yang lain. Maka dapat kita tarik sebuah garis besar bahwa apa yang terjadi atau dialami oleh seorang gay tidak bisa serta merta diuniversalkan terhadap semua gay.
Arabiyatuna Arabiyatuna
