Kinerja Keuangan
Kinerja perusahaan pada dasarnya terdapat dua perspektif utama yaitu perspektif keuangan dan non-keuangan, akan tetapi sehubungan dengan topik yang telah dikemukakan penulis pada latar belakang masalah, maka akan difokuskan pada kinerja perusahaan ditinjau dari perspektif keuangan. Istilah kinerja keuangan ini telah banyak dikenal oleh masyarakat pelaku ekonomi. Kinerja keuangan merupakan tingkat prestasi (performance) yang dicapai oleh perusahaan, sebagaimana yang terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kinerja memiliki beberapa pengertian; (a) sesuatu yang dicapai; (b) prestasi yang dihasilkan; (c) kemampuan kerja. Sedangkan menurut Prawisentono (1999) mengemukakan bahwa:
“kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau sekolompok orang dalam sautu organisasi, sesuai dengan tanggungjawab masing-masing, dalam rangka untuk mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral dan etika.”
Pengertian tesebut diatas menujukkan bahwa kinerja perusahaan bukan hanya dapat dilihat dari sisi hasil kerja yang dicapai, akan tetapi kesesuaian akan tangungjawab, norma-norma, serta peraturan-peraturan yang telah ditetapkan dalam lingkup internal (perusahaan) maupun yang ditetapkan oleh lingkungan eksternal perusahaan (pemerintah). Kinerja perusahaan (copoerate performance) sangat ditentukan oleh seluruh komponen yang terkait terutama karyawan sebagai salah satu unsur sumber daya yang dimiliki perusahaan. Ini berarti bahwa kinerja yang baik yang ditunjukkan oleh para karyawan merupakan indikator penting pada kinerja perusahaan secara keseluruhan.
Disamping aspek penting yang dikemukakan di atas, berikut ini dipertegas oleh Mulyadi (2001) bahwa :
“kinerja perusahaan adalah penciptaan kekayaan dalam jumlah memadai.”
Akan tetapi penciptaan kekayaan dalam jumlah yang memadai tidak cukup untuk menciptakan kinerja organisasi perusahaan apalagi dalam kondisi usaha yang semakin kompetitif. Hal lain yang harus dilakukan oleh perusahaan adalah pencapaian kinerja organisasi perusahaan melalui pelipatgandaan kekayaan perusahaan dengan cara peletakan leverage kepada sumber daya manusia guna membangun keunggulan kompetitif melalui peningkatan human capital, manajer berperan dalam menjadikan produktif pengetahuan (knowledge) yang dikuasai oleh karyawan. Jadi kemampuan organsiasi perusahaan dalam mengelola intangible asset akan menjadikan perusahaan menjadi lebih sukses. Intangigle asset yang dimaksud mencakup pengembangan hubungan dengan pelanggan, pengenalan produk baru, kemampuan menghasilkan produk jasa dengan kualitas tinggi dengan biaya yang minimal, kemampuan meningkatkan skils dan pemberian motivasi kepada karyawan, serta pengembangan teknologi informasi.
Penilaian kinerja perusahaan seperti yang dikemukakan pada uraian tersebut diatas merupakan penilaian kinerja berdasarkan aspek keuangan dan non-keuangan yang dikenal dengan istilah balanced scorecard. Meskipun penilaian kinerja dapat dilakukan dari kedua aspek tersebut (Keuangan dan non-keuangan) akan tetapi dalam penelitian ini difokuskan pada kinerja perusahaan PT. Berdikari United Livestock ditinjau dari aspek keuangan, dengan sasaran umum penilaian kinerja difokuskan kepada likuiditas, rentabilitas, solvabilitas dan aktivitas usaha.
Sehubungan dengan sasaran pencapaian kinerja keuangan perusahaan tersebut di atas, menurut Kaplan dan Norton (1996:48) bahwa :
“Financial objectives can differ considerably at each stage of a busines’s life cycle. Bussines strategy theory suggest different strategies that bussiness units can follow, ranging from aggressive market share growth down to consilidation, exit, and liquidation, for simplification purpose, we identify just there stages:
Growth
Sustain
Harvest,”
Berdasarkan pada pernyataan di atas, maka dipahami bahwa pengukuran kinerja keuangan perlu mempertimbangkan adanya tahapan siklus kehidupan bisnis yaitu pertumbuhan (growth), bertahan (sustain), dan memanen (harvest). Pada setiap tahapan siklus kehidupan tersebut memiliki sasaran yang berbeda, sehingga penekanan pengukuran yang dilakukan akan berbeda pula.
Menurut Kaplan dan Norton (1996:48) bahwa “growth bussines are a the early stages of their live cycle. They have products or services with the significant grrowth potential”. Pertumbuhan (growth) sebagai tahapan awal siklus kehidupan perusahaan yang ditunjukkan dengan adanya produk atau jasa yang secara signifikan memiliki potensi pertumbuhan yang baik. Pada tahapan ini, beberapa hal yang dijalankan pihak manajemen adalah komitmen untuk mengembangkan suatu produk atau jasa baru, membangun fasilitas pelayanan, menambah kemapuan operasi pelayanan, mengembangkan sistem, infrastruktur dan jaringan distribusi, dan mengembangkan hubungan dengan nasabah/pelanggan.
Arabiyatuna Arabiyatuna
