Saturday, 18 April 2026
above article banner area

Mahasiswa sebagai kelompok remaja

Mahasiswa sebagai kelompok remaja

 

Mahasiswa strata satu rata-rata berada pada perkembangan masa remaja akhir. Memang diantara para ahli tidak terdapat kata sepakat tentang batasan usia remaja.

1.   Hurlock (1979) memberi batasan umur 13-18 tahun;

 

2.   Jersild (1967) dengan batasan remaja pada umur 12-21 tahun;

 

3.   Cole  (1963)  membatasi  usia  remaja  dengan  umur  13-21  tahun  dengan membagi dalam 3 subperkembangan yaitu,

a)  remaja awal berusia 13-15 tahun, b)  remaja pertengahan 15-19 tahun,

 

 

 

 

 

c)  remaja akhir 19-21 tahun

 

4.   Syah (1999) membatasi usia remaja 12 atau 13 tahun sampai 21 atau 22 tahun ;

5.   Gunarso  &  Gunarso(1983)  memberi  batasan  remaja  13-21  tahun  yang terdiri dari 3 masa perkembangan yaitu ;

a)  remaja dini berusia 12-14 tahun,

 

b)  remaja madya berusia 15-17 tahun, c)  remaja lanjut berusia 18-21 tahun.

Penulis sependapat dengan pembatasan usia remaja dari Cole (1963) dan Gunarso & Gunarso (1983) bahwa mahasiswa strata satu berada pada tahap perkembangan remaja akhir yang berusia antara 18 atau 19-21 tahun.

Setiap fase dan tahap perkembangan manusia memiliki sifat dan ciri tersendiri. Ciri khas pada remaja  akhir menurut Gunarso & Gunarso (1983) adalah :

1.   kecanggungan   dalam   pergaulan   dan   kekakuan   yang   sering   menjadikannya menjadi pemalu atau overacting,

2.   ketidakstabilan dalam pengendalian emosi,

 

3.   perubahan pandangan hidup yang telah diperolehnya pada masa sebelumnya,

 

4.   mulai berani menunjukan sikap berbeda atau menentang pendapat orang tua atau orang dewasa,

5.   pertentang di dalam dirinya sering menjadi sumber konflik dengan lingkungan

 

sekitar,

 

 

 

 

 

6.   mengalami kegelisahan karena adanya kesenjangan antara keinginan dan harapan dengan kemampuan yang dimilikinya,

7.   mulai senang melakukan eksperimentasi dan eksplorasi di dalam kehidupan,

 

8.   banyak memiliki fantasi dan imajinasi tentang kehidupan yang akan dilewati,

 

9.   kecenderungan    membentuk    kelompok    dan    menjaga     kesetiaan    terhadap kelompoknya.

Manusia pada setiap tahap perkembangan memiliki tugas-tugas perkembangan yang berbeda. Tugas-tugas pada tahap perkembangan remaja akhir menurut Havighurst (1972) adalah :

1.   Mengembangkan hubungan secara tepat dengan teman sebaya baik yang sama

 

jenis maupun berbeda jenis,

 

2.   mencari jaminan untuk dapat mandiri secara ekonomi,

 

3.   mempersiapkan dan menentukan  jenis pekerjaaan untuk dapat memasuki pasaran kerja,

4.   memahami dan mampu bertingkah laku yang dapat dipertanggungjawabkan,

 

5.   mempersiapkan diri untuk keluarga.

 

Gunarso & Gunarso (1983) menjelaskan tugas-tugas yang dihadapi pada remaja akhir adalah :

1.   Menerima keadaan fisiknya,

 

2.   memperoleh kebebasan emosional,

 

3.   mampu bergaul,

 

4.   menemukan model untuk identifikasi,

 

 

 

 

 

5.   mengetahui dan menerima kemampuan diri sendiri,

 

6.   memperkuat penguasaan diri atas dasar skala nilai dan norma,

 

7.   meninggalkan reaksi dan cara penyesuaian kekanak-kanakanan.

 

Tugas-tugas pada masa perkembangan remaja akhir membantu dan mendorong remaja  untuk  dapat  membentuk  efikasi  diri  dan  konsep  diri  untuk  menjadi  lebih matang dari pada usia sebelumnya. Tugas-tugas yang membantu remaja akhir dalam pembentukan  efikasi  diri  seperti  mampu  bergaul,                                                                                         mengetahui  kemampuan  diri sendiri, mampu menentukan jenis pekerjaan, berusaha mandiri secara ekonomi, dan mengembangkan perilaku. Sedangkan tugas-tugas perkembangan pada masa remaja akhir yang membantu dalam pembentukan konsep diri adalah menemukan model untuk identifikasi, meninggalkan reaksi dan cara penyesuaian kekanak-kanakan, menerima keadaan fisiknya, dan mengembangkan hubungan secara tepat dengan teman sebaya.

Remaja     akhir     dalam    melaksanakan     tugas-tugas    perkembangan     akan menghadapi sejumlah kesulitan yang dapat mengganggu perkembangannya. Keniston (Hurlock,1999) menyebut  sejumlah kesulitan yang dihadapi remaja akhir, yaitu :

1.   apabila remaja harus memasuki dunia kerja, maka remaja dipaksa untuk belajar menjadi dewasa dalam waktu lebih cepat,

2.   remaja yang masih tergantung secara ekonomi kepada pihak lain, tidak dapat bebas dalam menentukan keinginannya sehingga merasa tidak tenang dan percaya diri,

 

 

 

 

 

3.   orang    tua   yang    tidak    mempersiapkan    dan   melatih    para    remaja    untuk menyelesaikan  tugas-tugas  perkembanga n  pada  masa  remaja  dalam  rangka memasuki masa dewasa.

Gunarso & Gunarso (1983) mengidentifikasi sejumlah kesulitan atau masalah yang dihadapi para remaja akhir adalah ;

1.   meningkatnya konflik, pertentangan dan krisis penyesuaian dengan lingkungan,

 

2.   kekecewaan dan penderitaan,

 

3.   impian dan khayalan,

 

4.   keterasingan dari kehidupan dewasa dan norma kebudayaan.

 

Lebih    lanjut    Keniston    (Hurlock,1979)    menjelaskan    faktor- faktor   yang mempengaruhi munculnya kesulitan pada remaja akhir, yaitu ;

1.   cepatnya masa transisi dari anak-anak menuju masa remaja akhir yang memiliki permasalahan lebih kompleks,

2.   intensitas  ketergantungan  kepada  orang  lain  akan  mempengaruhi  kemampuan dalam menyesuaikan diri dan kemandirian,

3.   masa transisi dari status anak-anak menuju orang dewasa akan membuat sikap mereka menjadi serba salah. Karena para remaja akhir merasa sudah bukan anak- anak lagi, tetapi mau bersikap sebagai orang dewasa belum memahaminya dengan benar.

4.   munculnya  tuntutan  yang  berbeda-beda  dari  orang  tua,  guru  (dosen),  teman

 

sebaya dan masyarakat menimbulkan konflik dan kebingungan untuk memilih

 

 

 

 

 

dan memenuhi tuntutan tersebut, yang kadang-kadang yang berbeda satu dengan yang lain,

5.   kemampuan  dalam  melihat  realitas  kehidupan  dan  kemampuan  diri  sendiri, artinya   remaja akhir sudah memiliki kema mpuan untuk mengkaji sesuatu yang mampu dikerjakan dan dicapai dan sesuatu yang tidak mampu dikerjakan dan dilaksanakan, sehingga tidak menimbulkan beban psikologis,

6.   tingkat dukungan dari lingkungan seperti keluarga, teman, dan guru pada remaja akhir  dalam  menghadapi  kesulitan-kesulitan  yang  dihadapinya,  karena  para remaja masih terbatas pengetahuan dan ketrampilan dalam mengelola masalah kehidupan.

Kesulitan pada remaja akhir akan teratasi, apabila kebutuhan-kebutuhan pada tahap perkembangan yang sedang dihadapi dapat terpenuhi. Edward (Nuryoto, 1995) menjelaskan sejumlah kebutuhan pada remaja akhir, yaitu ;

1.   mencapai prestasi  dan rasa superior,

 

2.   mendapatkan penghargaan dan pengakuan dari lingkungan,

 

3.   keteraturan dan kerapian,

 

4.   kebebasan menentukan sikap sesua i dengan pilihan dan aspirasinya,

 

5.   menciptakan hubungan persahabatan berdasar saling pengertian  dan penerimaan,

 

6. mencari bantuan dan simpati orang lain dalam memecahkan masalah yang dihadapinya,

7.   kesediaan membantu orang lain,

 

 

 

 

 

8.   variasi  dalam  kehidupan  dan  tidak  menyukai  hal- hal  yang  bersifat  rutin  dan monoton,

9.   melakukan interkasi dan komunikasi yang bersifat heteroseksual.

 

Perkembangan kognitif remaja akhir menurut Piaget  (Anderson, 1990) berada pada  tahap  formal  operasional.  Piaget  membagi  tahap  perkembangan  kognitif menjadi 4 kategori, yaitu ;

1.   usia 0-2 tahun tahap sensory-motor (sensori- motor)

 

2.   usia 2-7 tahun tahap pre-operational (preopersional)

 

3.   usia 7-11 tahun tahap concrete-operational (konkret-opersional)

 

4.   usia 11 tahun ke atas formal-operational (formal-operasional)

 

Pada    tahap    perkembangan    formal-operasional     para     remaja     memiliki kemampuan  kognitif  untuk             berpikir  secara  kausalitas                                     dan  abstrak.    Dengan kemampuan kausalitas remaja akhir mampu memahami dan melihat masalah dalam hubungan sebab akibat. Kemampuan berpikir abstrak dapat dilihat pada remaja akhir untuk dapat belajar filsafat, nilai- nilai spiritual, etika, keserasian dan keadilan.

Sejalan dengan perkembangan kognitif remaja akhir pada tahap formal operasional, maka perkembangan moralnya menurut Kohlberg (Syah, 1999) berada pada tingkat pascakonvensional. Kohlberg mengklasifikasikan tahap perkembangan moral menjadi tiga tingkatan besar, yaitu ;

1.   usia 4-10 tahun tahap moralitas prakonvensional

 

2.   usia 10-13 tahun tahap moralitas konvensional

 

3.   usia 13 tahun ke atas tahap pascakonvensional.

 

 

 

 

 

Pada tahap perkembangan moral pascakonvensional maka remaja akhir sudah mampu  untuk  berperilaku  berdasar  prinsip-prinsip moral pribadi yang bersumber pada nilai- nilai dan hukum yang selaras dengan kebaikan umum dan kepentingan orang lain. Selain itu remaja akhir dapat menerima perubahan hukum dan aturan jika diperlukan untuk memperoleh kebaikan dalam hidup bersama.

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *