Penataan Lingkungan Terapi Kelompok
a. Tempat
Tempat yang akan dipergunakan untuk melaksanakan terapi kelompok harus memenuhi persyaratan terapeutik ( tenang dan nyaman). Sedangkan untuk pengaturan ruangan dan tempat duduk dapat memilih bentuk lingkaran, bentuk tapal kuda, bentuk lain yang disesuaikan dengan kebutuhan dan metoda terapi kelompok yang dipilih.
Gambar 1 : Berbagai bentuk posisi terapi kelompok :
|
C C C C
|
C C C C
C C C C
Ketr.:
• Terapis
Anggota kelompok.
b. Waktu dan frekwensi
Lama terapi kelompok dalam satu pertemuan (session) minimal satu jam dan maksimal satu setengah jam. Satu session dilaksanakan satu kali seminggu per kelompok.
Banyaknya session yang dilakukan disesuaikan dengan target yang ingin dicapai bagi masing-masing anggota kelompok. Untuk kelompok pasien rawat inap dianjurkan session tunggal agar suatu masalah dapat sekaligus diselesaikan sehingga tidak menimbulkan konflik.
8. Proses dan Tahapan Terapi Kelompok
a. Proses
1) Mekanisme dalam terapi kelompok
Proses terapi kelompok lebih kompleks daripada terapi individual, oleh karena itu untuk memimpinnya diperlukan pengalaman di dalam psikoterapi individual.Terapis didalam kelompok akan kehilangan sebagian otoritasnya dan menyerahkannya kepada kelompok. Terapis dapat berperan sebagai berikut :
– Katalisator : mempermudah komunikasi dan interaksi.
– Regulator : mengarahkan proses ke jurusan yang bermanfaat.
– Auxilary ego : sebagai penopang bagi anggota yang egonya terlalu lemah.
Terapis sebaiknya mengusahakan terciptanya suasana yang tingkat kecemasannya sesuai sehingga dengan tingkat kecemasan pasien, sehingga pasien dapat didorong untuk membuka diri tetapi tidak
menimbulkan atau mengembalikan mekanisme pertahanan dirinya. Setiap permulaan dari suatu terapi kelompok yang baru merupakan saat yang kritis karena prosedurnya merupakan sesuatu yang belum pernah dialami oleh anggota, dan mereka dihadapkan dengan orang lain.
Setelah pasien berkumpul, mereka duduk berkeliling. Terapis memperkenalkan diri terlebih dahulu dan juga memperkenalkan co- terapis dan kemudian mempersilahkan anggota untuk memperkenalkan diri secara bergiliran. Bila ada anggota yang tidak mampu maka terapis memperkenalkannya. Terapis kemudian menerangkan maksud dan tujuan serta prosedur terapi kelompok dan juga masalah yang akan dibicarakan dalam kelompok. Topik atau masalah bisa ditentukan oleh terapis atau berdasarkan usulan anggota. Ditetapkan bahwa anggota bebas membicarakan apa saja, bebas mengkritik siapa saja termasuk terapisnya. Terapis sebaiknya bersifat moderat dan menghindari-kata- kata yang dapat diartikan sebagai perintah, misalnya : “Saudara harus begini!”, dsb.
Jika terjadi blocking atau kemacetan ditengah berlangsungnya terapi kelompok, maka terapis dapat membiarkannya sementara. Blocking yang terlalu lama dapat menimbulkan kecemasan yang tinggi. Jika keadaannya sudah demikian, maka terapis perlu menolong mencairkan blocking tersebut dengan berbagai cara sesuai dengan kondisi kelompok pada saat itu. Mungkin beberapa anggota kelompok masih ada yang perlu dikirim untuk mengikuti terapi individual, atau terapis
kelompok bisa merangsang anggota yang banyak bicara agar mengajak temannya yang kurang banyak bicara. Adanya terapis pembantu (co- terapis) juga bisa membantu mengatasi kemungkinan kemacetan.
Bila terjadi kekacauan, maka anggota yang menimbulkan kekacauan dikeluarkan dan terapi kelompok berjalan terus dengan ketentuan perlu diberikan penjelasan kepada semua anggota kelompok.
Setiap komentar atau permintaan yang datang dari anggota diperhatikan dengan sungguh-sungguh dan diberi tanggapan yang serius. Terapis bukanlah guru, dan juga bukan penasehat, atau juga bukan wasit. Terapis lebih banyak bersifat pasif atau sebagai katalisator. Ucapan terapis seperti “menurut saya itu salah”, “hal itu tidak baik”, dan sebagainya haruslah dihindarkan.
Apabila terapis ingin mengetahui sesuatu pendapat dari anggota sebaiknya dimulai dengan “Mungkin yang lain punya pendapat tentang hal itu…” Bila tidak ada reaksi maka dilanjutkan dengan “Bagaimana pendapat saudara A”. dan sebagainya.
Terapis tidak menghadapi individu dalam suatu kelompok, tetapi menghadapi kelompok yang terdiri dari individu-individu.
Pada akhir terapi kelompok terapis menyimpulkan apa yang dibicarakan selama terapi kelompok secara singkat dan kemudian membuat perjanjian dengan anggota untuk pertemuan berikutnya.
2) Fungsi kecemasan
Kecemasan bisa menjadi suatu kekuatan yang konstruktif untuk menuju kemajuan adaptasi dan kematangan. Reaksi yang berhubungan dengan kecemasan adalah bagian dari pengalaman setiap orang. Yang paling penting dalam terapi kelompok ialah bahwa apabila kecemasan digunakan secara konstruktif akan menimbulkan pengaruh yang positif terhadap fungsi kepribadian.
Di dalam terapi kelompok, kecemasan yang terjadi pada orang-orang di dalam hubungan kelompok merupakan suatu pertahanan dan perlindungan terhadap adanya bahaya hubungan yang terlalu dekat. Kecemasan tersebut mengekspresikan respon emosional pada kelompok dan terapis. Tindakan mengumpulkan pasien di dalam sebuah kelompok dan meningkatkan keakraban diantara mereka biasanya menciptakan kecemasan tambahan, khususnya pada saat permulaan.
Dengan berkembangnya kecemasan tambahan, pola tingkah laku karakteristik dari anggota-anggota kelompok menjadi jelas. Pola tingkah laku mereka merupakan mekanisme pertahanan yang sudah sejak lama digunakan di dalam hubungan keluarga sebagai perlindungan terhadap bahaya yang terlalu dekat, setiap perubahan tersebut dikenali dan dicatat.
Selama periode terapi kelompok, terapis mendorong para anggota untuk mendiskusikan, memeriksa dan mengenal tingkah laku
yang terjadi selama pertemuan kelompok. Namun perlu diketahui bahwa jika kecemasan dan ketegangan yang berlebihan timbul di kalangan anggota kelompok maka muncullah problema-problema yang dapat menimbulkan disorganisasi kelompok.
Alasan-alasan rasional utuk mempertahankan keutuhan kelompok menjadi terancam oleh reaksi-reaksi emosional di kalangan para anggota kelompok.
Problema ini meliputi kekakuan yang berlebihan dan destruktif, permusuhan dan sikap diam, agresif dalam pertemuan, mangkir, pengkambinghitaman, kompetisi dengan terapis dan pembentukan sub kelompok didalam atau diluar kelompok. Kegagalan dalam menangani
/ mengatasi kecemasan yang berlebihan dapat mengakibatkan drop out ataupun kelompok kehilangan anggotanya, dan ini merupakan problem yang dapat dialami dalam terapi kelompok.
Kerja kelompok yang efektif dapat dilakukan setelah kecemasan kelompok dapat diatasi dengan baik. Tetapi hal ini membutuhkan waktu. Untuk terapi kelompok rehabilitasi terutama untuk pasien kronik, hal ini memerlukan waktu yang lebih lama tetapi bagi pasien yang target terapeutiknya hanya sederhana tidak memerlukan waktu yang lama. Karena itu perlu menetapkan target yang akan dicapai untuk setiap anggota kelompok. Target tersebut berbeda untuk setiap anggota, misalnya pasien yang sudah mampu bekerja dan secara klinis dia asimptomatis tetapi kurang memiliki kemampuan komunikasi
maka targetnya adalah agar mampu mengekspresikan dirinya. Pasien yang mampu bekerja tapi kurang mempunyai kemampuan sosial dan dengan gejala klinis ringan ditargetkan untuk sosialisasi dan kalau mungkin meringankan gejala psikiatrinya.
Target tersebut dapat direvisi dan dirubah sesuai dengan perkembangan dan kemajuan pasien selanjutnya, sehingga tercapailah hasil optimal dari terapi kelompok.
3) Kehilangan dan Penambahan Anggota
Dalam proses terapi kelompok dapat terjadi kehilangan sebagian anggota kelompok. Hal ini menyebabkan mereka marah terhadap terapis dan takut kelompok akan bubar.
Sebab-sebab kehilangan anggota kelompok menurut Yalom (1975)
antara lain :
a) Sebab-sebab fisik : sebagaian anggota kelompok pulang atau sakit fisik, melarikan diri atau meninggal dunia dan sebagainya.
b) Sebab-sebab psikologis : kambuh (relapse), tidak kooperatif. c) Model terapi kelompok yang dipakai tidak tepat.
d) Sikap terapis dan co-terapis yang kurang empati.
Bila terjadi penambahan anggota, maka hal ini harus diberitahukan kepada seluruh anggota kelompok, dan anggota baru tersebut harus memperkenalkan diri atau diperkenalkan. Pada interval kemudian. Penambahan anggota dapat menimbulkan kecemasan, karena itu penambahan harus disesuaikan dengan kebutuhan kelompok.
4) Kehadiran Anggota
Pentingnya kehadiran anggota harus ditekankan terlebih dahulu oleh terapis. Bila ada anggota yang tidak hadir, maka terapis perlu mengetahui perasaan anggota lain terhadap ketidakhadiran tersebut. Pada pertemuan permulaan anggota cenderung memberi reaksi terhadap ketidakhadiran salah satu anggotanya. Dalam hal ini aspek yang penting bagi terapis ialah menjelaskan kepada anggota tentang ketidakhadiran tersebut dan memahami serta membicarakan perasaan mereka.
Terapis harus menyadari bahwa setelah berkembangnya transferensi maka reaksi anggota terhadap ketidakhadiran salah satu anggota dapat berupa timbulnya rasa permusuhan atau sebaliknya anggota yang tidak hadir dapat mengalami kecemasan. Dia akan takut hadir dalam pertemuan berikutnya serta bimbang apakah dia akan terus menjadi anggota atau tidak. Terapis harus menghilangkan perasaan bermusuhan terhadap anggota yang tidak hadir tersebut serta memberikan dukungan misalnya dengan memusatkan pembicaraan pada penyebab ketidakhadirannya.
Selama proses terapi kelompok sebaiknya anggota kelompok tidak diperkenankan meninggalkan kelompok.
b. Tahap-tahap dalam terapi kelompok
Menurut Prawitasari (1989), karena yang dihadapi terapis tidak hanya satu individu, maka perlu dibuat suatu tahapan sebagai berikut :
1) Persiapan
Pertama kali yang perlu dilakukan adalah menjelaskan perihal terapi kelompok juga tanggung jawab terapis dan anggota di dalam kelompok. Tentang proses kelompok, keuntungan yang diperoleh bila ia bergabung di dalam kelompok, tentang jumlah anggota yang diperkirakan akan bergabung, waktu dan lamanya pertemuan, tentang kelompok yang tertutup (anggota tetap selama terapi kelompok berlangsung dalam waktu tertentu) dan seleksi anggota.
Setelah persiapan selesai, mulailah dengan pertemuan pertama yang disebut peran serta, terapis perlu melakukan langkah-langkah berikut :
a) Perkenalan, anggota diminta untuk mengenalkan diri dengan menyebut nama, pekerjaan dan alamat masing-masing.
b) Penentuan agenda, Agenda adalah tujuan yang akan dicapai dalam kelompok yang sesuai dengan ketidakpuasan yang selama ini dialami oleh masing-masing anggota, yang paling efektif adalah mengemukakan ketidakpuasan ini dalam perilaku yang nyata dan perubahan yang nyata yang ingin dicapainya setelah kelompok berakhir.
c) Norma kelompok, kerahasiaan merupakan hal yang sangat penting untuk dikemukakan. Apa yang terjadi di dalam kelompok, dilarang dibicarakan diluar kelompok dengan orang lain. Bila ingin bercerita pada
orang lain diluar kelompok dilarang menyebut nama. Kehadiran dan presensi penting untuk diingatkan, diharapkan, semua anggota akan hadir dalam tiap pertemuan. Bila berhalangan harus memberitahu ketidakhadiran salah satu anggota akan menimbulkan pertanyaan bagi terapis maupun bagi anggota yang lain. Terutama bila pertemuan sebelumnya terjadi konflik antara anggota. Perlu juga dibina suasana positif dalam kelompok. Aturan main dalam memberikan umpan balik, perlu juga dipahami, demi kepentingan anggota lain dan bukan untuk kepuasan diri sendiri. Yang boleh dipentingkan adalah pemberian penghargaan pada apa yang telah dilakukan oleh anggota lain.
d) Sebelum mengakhiri pertemuan yang pertama perlu digali ide-ide serta perasaan-perasaan yang muncul, usul-usul perlu ditampung dan perasaan jengah yang masih mengganjal perlu diungkapkan. Hal ini penting untuk menjaga rasa positif anggota terhadap kelompok. Anggota yang merasa tidak memperoleh apapun dalam pertemuan pertama, biasanya tidak akan hadir lagi.
2) Transisi
Saat transisi antara awal terapi dengan terapi yang sesungguhnya inilah biasanya ditandai oleh adanya ketegangan pada anggota, mungkin pula timbul resistensi dari anggota, begitu diketahui secara jelas tentang apa yang diharapkan oleh terapis maupun anggota lain, seseorang menjadi ambivalen tentang keanggotaannya dalam kelompok.
Pasien merasa enggan bila harus membuka diri, untuk itulah dibutuhkan ketrampilan terapis dalam beberapa hal, seperti :
a) Kepekaan waktu.
Saat transisi adalah saat yang kritis, diperlukan kemampuan terapis untuk peka terhadap ketepatan antara intervensi dan waktu. Terapis perlu peka kapan harus memberikan dukungan, juga peka terhadap kebutuhan anggota saat itu. Bila terjadi ketegangan didalam kelompok, terapis perlu mengkomunikasikan observasinya ini pada saat yang tepat. Komentar- komentar proses seperti ini membutuhkan kepiawaian yang dapat diperoleh dari pengalaman.
b) Memperhatikan pola perilaku anggota di dalam kelompok.
Seandainya terapis perlu memperhatikan anggota yang selalu menyita waktu, sangat pasif, selalu mencela, sering merasa bersalah Pengamatan yang akurat disertai data yang konkret yang dikomunikasikan oleh terapis akan sangat bermanfaat bagi anggota.
c) Mengenal suasana emosi.
Menurut Yalom (dalam Prawitasari, 1989) suasana emosi dapat dikenal melalui reaksi terapis terhadap suasana didalam kelompok. Reaksi terapis dapat dipakai sebagai barometer suasana emosi kelompok.
3) Kerja Kelompok
Kerja kelompok yang sesungguhnya ditandai oleh tingkatan moral yang tinggi dan rasa memiliki kelompok yang tinggi pula. Anggota mulai memenuhi agenda yang dikemukakannya, ataupun yang sudah dikehendakinya. Kemudian mereka mulai berlatih dengan perilakunya yang baru. Interaksi antar anggota-terapis menurun dan interaksi diantara
anggota mulai meningkat. Di saat inilah terapis lebih berperan sebagai pengamat dan fasilitator. Sehingga untuk mengelola bermacam-macam sifat individu dalam terapi kelompok diperlukan beberapa tahapan yang dimulai dari persiapan, transisi dan kerja kelompok itu sendiri.
9. Pendokumentasian Hasil Terapi Kelompok
Semua hal yang terjadi dalam setiap session harus dicatat. Dalam hal ini bisa dipergunakan alat bantu seperti tape recorder dan sebagainya. Catatan dapat dilakukan secara deskriptif ataupun pengisian matriks dengan aspek- aspek yang dianggap penting dalam hubungannya dengan target yang ingin dicapai oleh masing-masing anggota kelompok.
Arabiyatuna Arabiyatuna
