Monday, 15 June 2026
above article banner area

Sistem Saraf

Sistem Saraf

 

1.   Pengertian

 

Sistem saraf manusia terdiri atas dua bagian besar, yaitu sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Sistem saraf pusat meliputi otak dan sumsum tulang belakang, sedangkan sistem saraf tepi berupa juluran-juluran saraf yang keluar dari otak dan

 

 

sumsum tulang belakang. Otak hampir mengurusi atau menjadi pusat perilaku yang disadari  sedangkan  sumsum  tulang  belakang  membawahi  perilaku  yang  tidak disadari atau refleks. Saraf tepi memiliki dua divisi yaitu divisi simpatis dan divisi parasimpatis.

Sistem saraf disusun oleh bermilyar-milyar sel saraf. Sel saraf menyusun sistem saraf dimana satu sel saraf dengan sel saraf yang lain saling berhubungan dengan membentuk sinapsis. Komunikasi antar sel saraf membutuhkan suatu zat kimia atau  neurotransmitter  dan  informasi  diproyeksikan  melalui  suatu  sinapsis. Jalinan  kerja  sel  saraf  menentukan  dan  berpengaruh  terhadap  beberapa  bentuk belajar.  Sedangkan  tingkat  otak  terutama  adalah  korteks  sebagai                 pusat  operasi kognitif misalnya, sensasi, persepsi, dan ingatan (Haberlandt, 1994).

 

2.    Sel saraf

 

 

Sel saraf  mempunyai aneka ragam bentuk dan ukuran, menyerupai bintang atau balon yang tertambat pada tali panjangnya. Cara kerja sel saraf diumpamakan sebagai  telepon  dimana  pesan  pembicaraan  dibuat  kode-kode dalam pola  impuls elektrik yang diterima saraf penerima kemudian diteruskan ke anggota tubuh atau bagian lainya yang menjadi target dari saraf (Boddy, 1978).   Sel saraf adalah elemen pemroses   informasi dan pengantar informasi (Carlson, 1994). Sel saraf adalah sel yanga aktif mengeluarkan dan yang mempunyai seluruh organisasi biosintesis yang diperlukan untuk membuat enzim dan neurotransmitter. Semua sel saraf mempunyai sifat sama yang terancang untuk kerja sel saraf yaitu mampu  untuk bereaksi terhadap rangsang, meneruskan secara cepat eksitasi yang timbul ke bagian-bagian lain pada sel, dan untuk mempengaruhi sel saraf lain, sel otot, dan sel kelenjar. Setiap sel saraf

 

 

terdiri atas : (1) badan sel (soma), (2) dendrit, (3) axon, (4) bouton terminal (Noback

 

& Demarest, 1995).

 

Soma atau badan sel berisi nukleus atau inti sel dan beberapa mesin yang menyediakan proses kehidupan bagi sel, sitoplasma, neuroplasma, mitokondria, substansi Nissl, aparat Golgi, lisosom, butir lipofusin, mikrotubul, neurofilamen dan kadang-kadang silia (Noback & Damarest, 1995).   Nukleus berbentuk bundar dan besarnya sebanding dengan sel saraf yang ditempatinya, terletak dalam pusat sel. Nukleus mengandung deoksiribonukleik Acid (DNA) yaitu pembawa sifat-sifat keturunan, dan didalam nukleus terdapat nukleolus yang tersusun sebagian besar dari asam ribonukleik (RNA) dan protein yang berhubungan yaitu substansi kimiawi yang terlibat dalam sintesa protein. Neuroplasma adalah sitoplasma  yang  mikroskopik tanpa struktur dan di dalamnya terletak substansi Nissl, mitokondrion, dan inklusi lainnya. Dalam neuroplasma ditemukan ion kalium dan kesatuan kimia lain yang sangat penting bagi transmisi rangsang dan dan bagi metabolisme sel.  Mitokondrion adalah seperti batang kecil, langsing dan agak bundar terletak di sembarang seluruh badan sel. Mitokondrion kaya akan enzim oksidatif dan hidrolitik. Energi disimpan dalam bentuk adenosin triphosphat (ATP) yang kaya energi. Mitokondrion dapat dipandang sebagai pembangkit tenaga bagi semua sel. Substansi Nissl ialah titik-titik nodus dalam retikulum endoplasma yang menyusup ke dalam seluruh badan sel dan dendrit. Aparat Golgi adalah organel yang tersebar luas di dalam sitoplasma, khususnya sebagai retikulum yang mengelilingi nukleus. Aparat ini terletak di bagian proksimal dendrit tetapi tidak ada dalam akson.  Lisosom terdapat di dalam sel saraf, merupakan sistem pencernaan intrasel yang dibuat untuk menjamin pembuangan

 

organ rusak dan “hasil sampah” lain.  Mikrotubul atau neurotubul dan neurofialmen

 

ialah struktur protein yang ditemukan dalam badan sel, dendrit dan akson.

 

Dendrit  berasal  dari  kata  dendron  (Yunani)  yang  berarti  pohon.  Dendrit adalah sebenarnya perluasan protoplasma badan sel dan mempunyai ciri-ciri struktural dan fungsional yang sama dengan badan sel. Dendrit bercabang-cabang yang relatif pendek, dari dasar yang tebal, batang dendrit mengecil dan kemudian dapat bercabang-cabang lagi. Batang dan cabang dapat terbagi-bagi lagi beberapa kali.          Sel saraf berhubungan dengan sel saraf  lain dan dendrit memegang peran penting sebagai  penerima pesan.

Akson biasanya diselubungi oleh lapisan bersegmen tidak sinambung, yang dinamakan sarung myelin. Sarung ini pada jarak-jarak yang teratur terputus oleh simpul Ranvier. Ke bagian distal tiap axon bercabang-cabang banyak dan dengan cara yang tidak beraturan menjadi terminal yang dikenal sebagai telodendrion. Ujung akhir tiap cabang dinamakan terminal buton.Terminal buton adalah segmen terminal dari akson  yang  mempunyai dilatasi (pelebaran) seperti manik atau pentul yang menggelembung. Tiap buton merupakan unsur prasinaps suatu sinapis.

3.    Sinapsis

 

Noback & Damarest (19952) menjelaskan sinapsis (sambungan sinaptik) adalah daerah tempat terdapat kontak khusus antara sel saraf dengan sel saraf, antara sel saraf dengan organ efektor, atau antar dua serabut otot. Menurut perkiraan, otak manusia mempunyai sebanyak 10 pangkat 14 sinapsis. Sinapsis merupakan suatu cara untuk melaksanakan komunikasi dari sel ke sel. Sinapsis dapat menggunakan bahan  kimia  atau  arus  listrik  sebagai  perantara  untuk  komunikasi.                                     Pada  sinaps

 

kimiawi, zat transmiter kimia dilepaskan oleh sel saraf prasinaps dan zat itu mampu untuk menimbulkan respon di dalam sel pascasinaps. Pada sinapsis kimia, sel prasinaps selalu sebuah sel saraf, sel pascasinaps mungkin sebuah sel saraf, sel otot atau sel kelenjar. Sinaps listrik, adalah dua sel digandeng dengan cara listrik sedemikian rupa hingga suatu penyebaran elektronik impuls saraf melintasi sinaps secara langsung dari sel prasinaps ke sel pascasinaps. Senaps jenis ini merupakan hubungan sel prasinaps ke sel pascasinaps mungkin berupa sinaps sel saraf ke sel saraf, sinaps sel otot jantung ke sel otot jantung, atau sinaps sel otot polos ke sel otot polos.

Diantara  sinaps  kedua sel terdapat suatu celah kecil sebesar 20 – 200 Å yang disebut celah sinapsis (Carlson, 1994). Celah ini memungkinkan terjadinya berbagai macam perubahan di dalam sambungan antar sel saraf. Sambungan ini ada yang tetap dan ada yang dapat berubah, sehingga otak dapat menyusun pola-pola yang membangkitkan ingatan, mengendalikan pikiran, dan mengatur kegiatan. Pada beberapa  sel  saraf  sebanyak  40  persen  dari  permukaan  badan  sel  tertutup  oleh sinapsis.

 

4.    Zat Transmiter

 

 

Bagaimana cara impuls listrik pada satu sel saraf dapat dipindahkan ke sel saraf yang lain, menurut Bailey (1989) ada dua  teori untuk menjelaskan fenomena tersebut. Pertama adalah teori “percikan” yang mengatakan bahwa impuls saraf tentu akan melompati celah sinapsis, seperti arus listrik yang melompati celah pada sebuah busi. Teori kedua adalah  yang berpendapat bahwa impuls saraf itu tidak cukup kuat untuk melompati sinapsis;  impuls saraf harus dibawa menyeberang oleh suatu bahan

 

 

 

 

 

 

 

kimia.  Bahan  kimia  yang  menjadi  jembatan  bagi  impuls  listrik  itu  disebut  zat transmiter yang dikeluarkan oleh vesikel sinaps di terminal buton.

Zat transmiter akan dilepaskan apabila sel saraf disulut oleh impuls listrik yang mengalir sepanjang akson. Zat kimia ini memancar dari sel, menyeberangi sinapsis dan menghujankan tembakan pada dinding selaput sel saraf lainnya. Zat transmiter yang dikeluarkan oleh vesikel sinaps menimbulkan dua macam efek pada membran pascasinaps. Jika zat transmitter itu termasuk jenis “eksitatori/perangsang” maka selaput                         pascasinpas akan diubah permeabilitasnya sehingga Natrium dapat memasuki sel, dengan demikian terjadilah pertukaran Natrium dan Kalium yang berarti sangat penting dan timbullah impuls listrik.  Jika zat pemancar termasuk jenis “penghambat” maka pori selaput pascasinaps akan diubah sehingga Natrium tidak dapat memasuki sel dan terjadi hambatan aliran impuls saraf.

Zat pemancar impuls saraf mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap perilaku.   Ramuan   racun   yang   digunakan   suku   Indian   di   Amerika   Selatan menghalangi kerja zat transmiter tertentu dan mencegah lewatnya isyarat saraf sehingga   menimbulkan   kelumpuhan   dan   kemudian   kematian.   Obat-obat   lain terutama mariyuana, LSD, dan amfetamin juga melancarkan pengaruhnya dengan cara mengganggu zat transmitter.

Macam substansi transmitter yang penting antara lain : acetylcholin, monoamin,         asam    amino, dan   peptid            (Carlson,            1994).             Acetylcholine          (ACh) dikeluarkan oleh sinapsis pada otot skeletal dan ditemukan pula pada ganglia sistem saraf dan organ target sistem saraf otonom cabang parasimpatik. ACh memiliki efek eksitatori  pada membran serabut otot skeletal dan efek menghambat pada membran

 

 

 

 

 

 

 

serabut otot jantung. Selain itu ACh juga ditemukan di otak yang berperan pada mengingat dan belajar, serta mengontrol fase tidur dimana terjadi mimpi.

Monoamine misalnya epinephrine, norepenephrine, dopamine, dan serotonin adalah empat macam bahan kimia yang tergolong dalam monoamin yang diproduksi oleh bebrapa sistem saraf otak

Dopamine menyebabkan potensial pascasinaps yang berperan pada gerakan, perhatian dan belajar. Simtom penyakit Parkinson dapat berkurang bila dopamine lebih banyak dibebaskan oleh sel saraf dopaminergik. Sebaliknya schizophrenia akan meningkat simtomnya oleh karena membanjirnya dopamine dalam sel saraf.

Norepinephrine seperti halnya ACh banyak ditemukan pada sel saraf. Adrenalin  dan  epinephrin  adalah  sinonim,  demikian  juga                                                      noradrenalin  dan norepinephrine. Epinephrine adalah hormon yang dihasilkan oleh  adrenal  bagian medula. Epinephrine juga sebagai za transmiter dalam otak, tetapi kurang penting jika dibandingkan dengan norepinephrine. Norepinephrine dalam otak utamanya terlibat dalam mengontrol siaga dan tidur. Noradrenalin dalam   sistem saraf pusat menyebabkan hambatan pascasinaps, sedangkan dalam sistem saraf simpatis menyebabkan efek eksitatori.

Serotonin    (5-HT    atau    5-hydroxytryptamine)    menyebabkan    hambatan potensial  pascasinaps.  Serotonin  memegang  peranan  dalam  pengaturan  mood, kontrol terhadap makan, dan kontrol terhadap tidur dan jaga, serta meregulasi perasaan sakit.                              LSD (salah satu jenis napza) mempunyai fungsi yang hampir sama dengan  serotonin,  yaitu  menyebabkan  halusinasi  walaupun  yang  menggunakan sedang jaga atau bangun.

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *