Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Tujuan pembelajaran kooperatif berbeda dengan kelompok tradisional yang
menerapkan sistem kompetisi, di mana keberhasilan individu diorientasikan pada
kegagalan orang lain. Sedangkan tujuan dari pembelajaran kooperatif adalah
menciptakan situasi di mana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi
oleh keberhasilan kelompoknya (Slavin, 1994).
Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai stidaktidaknya
tiga tujuan pembelajaran penting yang dirangkum oleh Ibrahim, et al.
(2000), yaitu:
a. Hasil belajar akademik
Dalam belajar kooperatif meskipun mencakup beragam tujuan sosial, juga
memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademis penting lainnya.
Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa
memahami konsep-konsep sulit. Para pengembang model ini telah
menunjukkan bahwa model struktur penghargaan kooperatif telah dapat
27
meningkatkan nilai siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang
berhubungan dengan hasil belajar. Di samping mengubah norma yang
berhubungan dengan hasil belajar, pembelajaran kooperatif dapat memberi
keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang
bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik.
b. Penerimaan terhadap perbedaan individu
Tujuan lain model pembelajaran kooperatif adalah penerimaan secara luas dari
orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan,
dan ketidakmampuannya. Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi
siswa dari berbagai latar belakang dan kondisi untuk bekerja dengan saling
bergantung pada tugas-tugas akademik dan melalui struktur penghargaan
kooperatif akan belajar saling menghargai satu sama lain.
c. Pengembangan keterampilan sosial
Tujuan penting ketiga pembelajaran kooperatif adalah, mengajarkan kepada
siswa keterampilan bekerja sama dan kolaborasi. Keterampilan-keterampilan
sosial, penting dimiliki oleh siswa sebab saat ini banyak anak muda masih
kurang dalam keterampilan sosial.
4. Keterampilan Kooperatif
Dalam pembelajaran kooperatif tidak hanya mempelajari materi saja, tetapi
siswa atau peserta didik juga harus mempelajari keterampilan-keterampilan
khusus yang disebut keterampilan kooperatif. Keterampilan kooperatif ini
berfungsi untuk melancarkan hubungan kerja dan tugas. Peranan hubungan kerja
dapat dibangun dengan membangun tugas anggota kelompok selama kegiatan.
28
Keterampilan-keterampilan selama kooperatif tersebut antara lain sebagai berikut
(Lungdren, 1994).
a. Keterampilan Kooperatif Tingkat Awal
1) Menggunakan kesepakatan
Yang dimaksud dengan menggunakan kesepakatan adalah menyamakan
pendapat yang berguna untuk meningkatkan hubungan kerja dalam
kelompok.
2) Menghargai kontribusi
Menghargai berarti memperhatikan atau mengenal apa yang dapat
dikatakan atau dikerjakan anggota lain. Hal ini berarti harus selalu setuju
dengan anggota lain, dapat saja kritik yang diberikan itu ditujukan
terhadap ide dan tidak individu.
3) Mengambil giliran dan berbagi tugas
Pengertian ini mengandung arti bahwa setiap anggota kelompok bersedia
menggantikan dan bersedia mengemban tugas/tanggungjawab tertentu
dalam kelompok.
4) Berada dalam kelompok
Maksud di sini adalah setiap anggota tetap dalam kelompok kerja selama
kegiatan berlangsung.
5) Berada dalam tugas
Yang dimaksud berada dalam tugas adalah meneruskan tugas yang
menjadi tanggungjawabnya, agar kegiatan dapat diselesaikan sesuai waktu
yang dibutuhkan.
29
6) Mendorong partisipasi
Mendorong partisipasi berarti mendorong semua anggota kelompok untuk
memberikan kontribusi terhadap tugas kelompok.
7) Mengundang orang lain
Maksudnya adalah meminta orang lain untuk berbicara dan berpartisipasi
terhadap tugas.
8) Menyelesaikan tugas dalam waktunya
9) Menghormati perbedaan individu
Menghormati perbedaan individu berarti bersikap menghormati terhadap
budaya, suku, ras atau pengalaman dari semua siswa atau peserta didik.
b Keterampilan Tingakat Menengah
Keterampilan tingkat menengah meliputi menunjukkan penghargaan dan
simpati, mengungkapkan ketidaksetujuan dengan cara dapat diterima,
mendengarkan dengan arif, bertanya, membuat ringkasan, menafsirkan,
mengorganisir, dan mengurangi ketegangan.
c. Keterampilan Tingkat Mahir
Keterampilan tingkat mahir meliputi mengelaborasi, memeriksa dengan
cermat, menanyakan kebenaran, menetapkan tujuan, dan berkompromi.
5. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif
Urutan langkah-langkah prilaku guru menurut model pembelajaran kooperatif
yang diuraiakan oleh Arends (1997) adalah sebagaimana terlihat pada tabel 2.1.
30
Tabel 2.1
Sintaks Pembelajaran Kooperatif
Fase Tingkahlaku Guru
Fase 1:
Menyampaikan tujuan dan
memotivasi siswa
Guru menyampaikan semua tujuan
pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran
tersebut dan memotivasi siswa belajar.
Fase 2:
Menyajikan informasi
Guru menyajikan informasi kepada siswa
dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan
bacaan.
Fase 3:
Mengorganisasikan siswa ke
dalam kelompok-kelompok
belajar
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana
caranya membentuk kelompok belajar dan
membantu setiap kelompok agar melakukan
transisi secara efisien.
Fase 4:
Membimbing kelompok bekerja
dan belajar
Guru membimbing kelompok-kelompok
belajar pada saat mereka mengerjakan tugas
mereka.
Fase 5:
Evaluasi
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang
materi yang telah dipelajari atau masingmasing
kelompok mempresentasikan hasil
kerjanya.
Fase 6:
Memberikan penghargaan
Guru mencari cara-cara untuk menghargai
baik upaya maupun hasil belajar individu
dan kelompok.
(Arends, 1997)
Terdapat enam fase utama dalam pembelajaran kooperatif (Arends, 1997).
Pembelajaran dalam kooperatif dimulai dengan guru menginformasikan tujuantujuan
dari pembelajaran dan memotivasi siswa untuk belajar. Fase ini diikuti
dengan penyajian informasi, sering dalam bentuk teks bukan verbal. Kemudian
dilanjutkan langkah-langkah di mana siswa di bawah bimbingan guru bekerja
bersama-sama untuk menyelesaikan tugas-tugas yang saling bergantung. Fase
terakhir dari pembelajaran kooperatif meliputi penyajian produk akhir kelompok
atau mengetes apa yang telah dipelajari oleh siswa dan pengenalan kelompok dan
usaha-usaha individu.
31
6. Pendekatan dalam Pembelajaran Kooperatif
Walaupun prinsip dasar pembelajaran kooperatif tidak berubah, terdapat
beberapa variasi dari model tersebut. Ada empat pendekatan pembelajaran
kooperatif (Arends, 2001). Di sini akan diuraikan secara ringkas masing-masing
pendekatan tersebut.
a. Student Teams Achievement Division (STAD)
STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di
Universitas John Hopkin dan merupakan pendekatan pembelajaran kooperatif
yang paling sederhana. Guru yang menggunakan STAD, juga mengacu kepada
belajar kelompok siswa, menyajikan informasi akademik baru kepada siswa setiap
minggu menggunakan presentasi verbal atau teks. Siswa dalam suatu kelas
tertentu dipecah menjadi kelompok dengan anggota 4-5 orang, setiap kelompok
haruslah heterogen, terdiri dari laki-laki dan perempuan, berasal dari berbagai
suku, memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Anggota tim
menggunakan lembar kegiatan atau perangkat pembelajaran yang lain untuk
menuntaskan materi pelajarannya dan kemudian saling membantu satu sama lain
untuk memahami bahan pelajaran melalui tutorial, kuis, satu sama lain dan atau
melakukan diskusi. Secara individual setiap minggu atau setiap dua minggu siswa
diberi kuis. Kuis itu diskor, dan tiap individu diberi skor perkembangan. Skor
perkembangan ini tidak berdasarkan pada skor mutlak siswa, tetapi berdasarkan
pada seberapa jauh skor itu melampaui rata-rata skor yang lalu.
Setiap minggu pada suatu lembar penilaian singkat atau dengan cara lain,
diumumkan tim-tim dengan skor tertinggi, siswa yang mencapai skor
32
perkembangan tinggi, atau siswa yang mencapai skor sempurna pada kuis-kuis
itu. Kadang-kadang seluruh tim yang mencapai kriteria tertentu dicantumkan
dalam lembar itu.
b. Investigasi Kelompok
Investigasi kelompok mungkin merupakan model pembelajaran kooperatif
yang paling kompleks dan paling sulit untuk diterapkan. Model ini dikembangkan
pertama kali oleh Thelan. Berbeda dengan STAD dan jigsaw, siswa terlibat dalam
perencanaan baik topik yang dipelajari maupun bagaimana jalannya penyelidikan
mereka. Pendekatan ini memerlukan norma dan struktur kelas yang lebih rumit
daripada pendekatan yang lebih terpusat pada guru.
Dalam penerapan investigasi kelompok ini guru membagi kelas menjadi
kelompok-kelompok dengan anggota 5 atau 6 siswa yang heterogen. Dalam
beberapa kasus, kelompok dapat dibentuk dengan mempertimbangkan keakraban
persahabatan atau minat yang sama dalam topik tertentu. Selanjutnya siswa
memilih topik untuk diselidiki, melakukan penyelidikan yang mendalam atas
topik yang dipilih itu. Selanjutnya menyiapkan dan mempresentasikan laporannya
kepada seluruh kelas.
c. Pendekatan Struktural
Pendekatan ini dikembangkan oleh Spencer Kagen dan kawan-kawannya.
Meskipun memiliki banyak kesamaan dengan pendekatan lain, namun pendekatan
ini memberi penekanan pada penggunaan struktur tertentu yang dirancang untuk
mempengaruhi pola interaksi siswa. Struktur tugas yang dikembangkan oleh
33
Kagen ini dimaksudkan sebagai alternatif terhadap struktur kelas tradisional,
seperti resitasi, di mana guru mengajukan pertanyaan kepada seluruh kelas dan
siswa memberi jawaban setelah mengangkat tangan dan ditunjuk. Struktur yang
dikembangkan oleh Kagen ini menghendaki siswa bekerja saling membantu
dalam kelompok kecil dan lebih dicirikan oleh penghargaan kooperatif, daripada
penghargaan individual.
Ada struktur yang dikembangkan untuk meningkatkan perolehan isi
akademik, dan ada struktur yang dirancang untuk mengajarkan keterampilan
sosial atau keterampilan kelompok. Dua macam struktur yang terkenal adalah
think-pair-share dan numbered-head-together, yang dapat digunakan oleh guru
untuk mengajarkan isi akademik atau untuk mengecek pemahaman siswa terhadap
isi tertentu. Sedangkan active listening dan time token, merupakan dua contoh
struktur yang dikembangkan untuk mengajarkan keterampilan sosial.
d. Jigsaw
Jigsaw pertama kali dikembangkan dan diujicobakan oleh Elliot Aronson
dan teman-teman di Universitas Texas, dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan
teman-teman di Universitas John Hopkins (Arends, 2001).
Untuk melihat dengan jelas perbandingan antara keempat pendekatan
pembelajaran kooperatif atau yang lebih sering disebut sebagai tipe pembelajaran
kooperatif dapat dilihat pada tabel 2-2.
34
Tabel 2.2
Perbandingan Empat Pendekatan dalam Pembelajaran Kooperatif
STAD Jigsaw Penyelidikan
Kelompok
Pendekatan
Struktur
Tujuan
kognitif
Informasi
akademik
sederhana
Informasi
akademik
sederhana
Informasi
akademik tingkat
tinggi dan
keterampilan
inkuiri
Informasi
akademik
sederhana
Tujuan
sosial
Kerja kelompok
dan kerja sama
Kerja kelompok
dan kerja sama
Kerja dalam
kelompok
kompleks
Keterampilan
kelompok dan
keterampilan
sosial
Struktur
tim
Kelompok belajar
heterogen dengan
4-5 orang
anggota
Kelompok belajar
heterogen dengan
5-6 orang
anggota,
menggunakan
pola “kelompok
asal” dan
“kelompok ahli”
Kelompok belajar
dengan 5-6 orang
anggota homogen
Bervariasi,
berdua,
bertiga,
kelompok 4-6
orang anggota
Pemilihan
topik
pelajaran
Biasanya guru Biasanya guru Biasanya siswa Biasanya guru
Tugas
utama
Siswa dapat
menggunakan
lembar kegiatan
dan saling
membantu untuk
menuntaskan
materi belajarnya
Siswa
mempelajari
materi dalam
“kelompok ahli”,
kemudian
membantu
anggota
“kelompok asal”
mempelajari
materi itu
Siswa
menyelesaikan
inkuiri kompleks
Siswa
mengerjakan
tugas-tugas
sosial dan
kognitif
Penilaian Tes mingguan Bervariasi, dapat
berupa tes
mingguan
Menyelesaikan
proyek dan
menulis laporan,
dapat
menggunakan tes
uraian.
Bervariasi
Pengakuan Lembar
pengetahuan dan
publikasi lain
Publikasi lain Lembar
pengakuan dan
publikasi lain
Bervariasi
(Sumber: Arends, 2001).
35
E. Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran
kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang
bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu
mengarjarkan bagian tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya (Arends,
1997).
Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan model pembelajaran
kooperatif, dengan siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4–6 orang
secara heterogen dan bekerjasama saling ketergantungan yang positif dan
bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari
dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain (Arends,
1997).
Jigsaw didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap
pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya
mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan
dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain. Dengan
demikian, “siswa saling tergantung satu dengan yang lain dan harus bekerja sama
secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan” (Lie, A., 1994).
Para anggota dari tim-tim yang berbeda dengan topik yang sama bertemu untuk
diskusi (tim ahli) saling membantu satu sama lain tentang topik pembelajaran
yang ditugaskan kepada mereka. Kemudian siswa-siswa itu kembali pada
tim/kelompok asal untuk menjelaskan kepada anggota kelompok yang lain tentang
apa yang telah mereka pelajari sebelumnya pada pertemuan tim ahli.
36
Pada model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, terdapat kelompok asal
dan kelompok ahli”. Kelompok asal, yaitu kelompok induk siswa yang
beranggotakan siswa dengan kemampuan, asal, dan latar belakang keluarga yang
beragam. Kelompok asal merupakan gabungan dari beberapa ahli. Kelompok ahli,
yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok asal yang berbeda yang
ditugaskan untuk mempelajari dan mendalami topik tertentu dan menyelesaikan
tugas-tugas yang berhubungan dengan topiknya untuk kemudian dijelaskan
kepada anggota kelompok asal. Hubungan antara kelompok asal dan kelompok
ahli digambarkan sebagai berikut (Arends, 2001).
Kelompok Asal
Kelompok Ahli
Gamb ar 2.1: Ilustrasi Kelompok jigsaw
Para anggota dari kelompok asal yang berbeda, bertemu dengan topik yang
sama dalam kelompok ahli untuk berdiskusi dan membahas materi yang
ditugaskan pada masing-masing anggota kelompok serta membantu satu sama lain
untuk mempelajari topik mereka tersebut. Setelah pembahasan selesai, para
anggota kelompok kemudian kembali pada kelompok asal dan mengajarkan pada
teman sekelompoknya apa yang telah mereka dapatkan pada saat pertemuan di
+ =
X *
+ +
+ +
+ =
X *
+ =
X *
+ =
X *
= =
= =
X X
X X
* *
* *
37
kelompok ahli. Jigsaw didesain selain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab
siswa secara mandiri juga dituntut saling ketergantungan yang positif (saling
memberi tahu) terhadap teman sekelompoknya. Selanjutnya di akhir
pembelajaran, siswa diberi kuis secara individu yang mencakup topik materi yang
telah dibahas. Kunci tipe Jigsaw ini adalah interdependensi setiap siswa terhadap
anggota tim yang memberikan informasi yang diperlukan dengan tujuan agar
dapat mengerjakan kuis dengan baik.
Untuk pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, disusun langkahlangkah
pokok sebagai berikut; (1) pembagian tugas, (2) pemberian lembar ahli,
(3) mengadakan diskusi, (4) mengadakan kuis. Adapun rencana pembelajaran
kooperatif tipe jigsaw ini diatur secara instruksional sebagai berikut (Slavin,
1995):
a. Membaca: siswa memperoleh topik-topik ahli dan membaca materi tersebut
untuk mendapatkan informasi.
b. Diskusi kelompok ahli: siswa dengan topik-topik ahli yang sama bertemu
untuk mendiskusikan topik tersebut.
c. Diskusi kelompok: ahli kembali ke kelompok asalnya untuk menjelaskan
topik pada kelompoknya.
d. Kuis: siswa memperoleh kuis individu yang mencakup semua topik.
e. Penghargaan kelompok: penghitungan skor kelompok dan menentukan
penghargaan kelompok.
Setelah kuis dilakukan, maka dilakukan perhitungan skor perkembangan
individu dan skor kelompok. Skor individu setiap kelompok memberi sumbangan
38
pada skor kelompok berdasarkan rentang skor yang diperoleh pada kuis
sebelumnya dengan skor terakhir. Arends (1997) memberikan petunjuk
perhitungan skor kelompok sebagaimana terlihat dalam Tabel berikut.
Tabel 2.3
Konversi Skor Perkembangan
Skor Kuis Individu Skor Perkembangan
1. Lebih dari 10 poin di bawah skor awal
2. 10 poin sampai 1 poin di bawah skor awal
3. Skor awal sampai 10 poin di atasnya
4. Lebih dari 10 di atas skor awal
5. Nilai sempurna (tidak berdasarkan skor awal)
5
10
20
30
30
Untuk menentukan tingkat penghargaan yang diberikan untuk prestasi
kelompok, menurut Arends (1997) dapat dilihat dalam Tabel 2.4 berikut.
Tabel 2.4
Tingkat Penghargaan Kelompok
Rata- rata kelompok Penghargaan
15
20
25
Good Team (tim yang bagus)
Great Team (tim yang hebat)
Super Team (tim yang super)
F. Pokok Bahasan Aksi Interaksi
Konsep tentang Aksi Interaksi dapat dijelaskan secara ringkas sebagai
berikut (Karmana O., 2002; Ibarat T. et al., 2000; Pratiwi D.A. et al., 2000; dan
Lederer R., 1985). Suatu organisme hidup akan selalu membutuhkan organsime
lain dan lingkungan hidupnya. Hubungan yang terjadi antara individu dengan
lingkungannya sangat kompleks, bersifat saling mempengaruhi atau timbal balik.
Hubungan timbal balik antara unsur-unsur biotik dengan abiotik membentuk
sistem ekologi yang disebut ekosistem.
39
Pola-pola interaksi terjadi dalam berbagai tingkatan, mulai dari individu,
populasi, komunitas, sampai tingkatan ekosistem. Interaksi antara faktor-faktor
biotik dan abiotik secara garis besar dapat dilihat pada pola rantai makanan, aliran
energi, jaring-jaring makanan, dan sistem biogeokimia.
Dalam suatu interaksi, terjadi proses pengaliran energi. Aliran energi terjadi
karena adanya peristiwa makan-memakan. Peristiwa makan-memakan
membentuk suatu rantai makanan. Rantai makanan saling terkait membentuk
jaring-jaring makanan.
Rantai makanan adalah perpindahan materi dan energi dari makhluk yang
satu ke makhluk yang lainnya melalui sederetan organisme yang makan dan yang
dimakan. Para ilmuwan ekologi mengenal tiga macam rantai pokok, yaitu rantai
pemangsa, rantai parasit, dan rantai saprofit.
Rantai pemangsa landasan utamanya adalah tumbuhan hijau sebagai
produsen. Rantai pemangsa dimulai dari hewan yang bersifat herbivor yang
memakan tumbuhan sebagai konsumen I, dilanjutkan dengan hewan karnivora
yang memangsa organisme konsumen I sebagai konsumen II, dan berakhir pada
hewan pemangsa karnivor maupun herbivor sebagai konsumen III. Rantai parasit
berlangsung antara organisme besar misalnya babi, kerbau, manusia, pohon
beringin, pohon johar, dan hewan dan tumbuhan tinggi lainnya. Rantai parasit
dimulai dari organisme besar hingga organisme yang hidup sebagai parasit.
Contoh organisme parasit antara lain cacing pita yang hidup sebagai parasit pada
babi, bakteri yang hidup sebagai parasit pada usus manusia, dan benalu yang
hidup sebagai parasit pada pohon beringin. Rantai saprofit berlangsung antara
40
sisa-sisa organisme yang mati (seperti tumbuhan dan hewan) dan organisme yang
berperan sebagai pengurai, misalnya bakteri dan jamur di dalam tanah. Rantai
saprofit dimulai dari organisme mati atau bagian organisme yang jatuh ke tanah
seperti daun, buah, batang mati, dan biji, sampai organisme pengurai.
Dalam ekosistem terjadi siklus biogeokimia. Siklus biogeokimia merupakan
siklus unsur atau senyawa kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke biotik
dan kembali lagi ke abiotik. Siklus biogeokimia antara lain siklus nitrogen, siklus
karbon dioksida, siklus oksigen, dan siklus air.
Dalam keberadaannya, ekosistem selalu mengalami perkembangan.
Perkembangan ekosistem menuju kedewasaan dan keseimbangan disebut suksesi.
Suksesi dibedakan menjadi dua, yaitu suksesi primer dan suksesi sekunder.
Suksesi primer terjadi jika komunitas asal terganggu yang menyebabkan
hilangnya komunitas secara total sehingga di komunitas asal tersebut terbentuk
habitat baru. Suksesi sekunder terhadi bila suatu komunitas mengalami gangguan
baik secara alami maupun buatan dan tidak merusak total tempat tumbuh
organisme sehingga dalam komunitas tersebut substrat lama dan kehidupan masih
ada.
Hubungan komunitas dengan lingkungan membentuk berbagai ekosistem.
Ditinjau dari penyusunnya, suatu ekosistem terdiri atas unsur abiotik, produsen,
konsumen, dan dekomposer.
Ekosistem terbagi menjadi ekosistem darat dan ekosistem perairan.
Ekosistem darat terbagi atas bioma gurun, bioma padang rumput, bioma hutan
basah, bioma hutan gugur, taiga, dan bioma tundra. Ekosistem perairan dibagi
41
menjadi ekosistem air tawar dan ekosistem air laut. Ekosistem air tawar terdiri
dari sungai dan danau, sedangkan ekosistem air laut terdiri dari ekosistem laut,
ekosistem pantai, ekosistem estuari, dan ekosistem terumbu karang. Seluruh
ekosistem di bumi ini membentuk satu kesatuan yang disebut biosfer.
Ditinjau dari segi struktur isi, pokok bahasan Aksi Interaksi terdiri dari tiga
subpokok bahasan yang antara masing-masing subpokok bahasan relatif tidak
merupakan suatu prasarat untuk pokok bahasan yang lain. Di samping itu,
berdasarkan tuntutan GBPP Bidang Studi Biologi Kurikulum 1994, pembelajaran
yang sesuai adalah pembelajaran secara berkelompok yang berbasis pada
keterampilan proses dan aktivitas siswa yang berorientasi pemecahan masalah
berdasarkan pengamatan dan diskusi dengan menggunakan metode ilmiah untuk
memahami prinsip dan pola interaksi dalam ekosistem. Pembelajaran yang
mungkin dilakukan adalah pembelajaran yang berorientasi pemecahan masalah
berdasarkan hasil pengamatan dan diskusi kelompok yang identik dengan model
pembelajaran kooperatif tipe jigsaw.
G. Penelitian-penelitian yang Relevan
Di bawah ini akan disajikan beberapa hasil penelitian yang relevan dengan
penelitian ini. Hasil penelitian pendukung yang dimaksud yaitu hasil penelitian
penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pada pembelajaran IPA
umumnya, maupun pada pengajaran bidang studi biologi itu sendiri, serta
pengajaran matematika antara lain:
42
1. Hasil penelitian yang dilakukan Budiningarti, H. (1998) yang
mengembangkan perangkat pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pada
pengajaran fisika di SMU menunjukkan, bahwa hasil belajar siswa pada kelas
guru model dan kelas guru mitra menunjukkan peningkatan pengetahuan
untuk tes hasil belajar produk dan tes hasil belajar psikomotor. Hasil
penelitian ini juga menunjukkan bahwa guru dapat menerapkan model
pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan baik dan meningkatkan
keterampilan kooperatif siswa selama PBM berlangsung.
2. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Setyaningsih, S. (1999), bahwa
pembelajaran biologi pada kelas I SLTP yang berorientasi model
pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, dapat meningkatkan keterampilan guru
mengelola KBM, meningkatkan kualitas pengelolaan proses belajar mengajar
oleh guru, meningkatkan kualitas interaksi siswa dengan lingkungan belajar,
dan meningkatkan prestasi belajar siswa yang meliputi peningkatan nilai ratarata
dan meningkatkan jumlah siswa yang mencapai ketuntasan belajar.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Widada W., (1999) mengungkapkan bahwa,
dengan pengembangan perangkat pembelajaran yang berorientasi model
pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ternyata 82,35% dari keseluruhan TPK
yang diajarkan telah tuntas dipelajari oleh siswa pada mata pelajaran
matematika di SMU.
4. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Pendi (2002) dengan menerapkan
pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dalam pembelajaran mata kuliah Fisika
Dasar II pokok bahasan arus listrik dan rangkaian listrik arus searah
43
menunjukkan, bahwa secara umum kemampuan dosen dalam mengelola
pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah baik. Dosen mampu melatihkan
keterampilan kooperatif dan mengoperasikan perangkat pembelajaran yang
hampir sesuai dengan alokasi waktu yang tersedia, serta membuat mahasiswa
antusias dalam mengikuti pembelajaran. Mahasiswa pada umumnya
menyatakan senang dan baru terutama tentang keterampilan kooperatif.
Mahasiswa berminat untuk mengikuti pembelajaran selanjutnya dengan model
yang sama. Kemudian dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe
jigsaw mahasiswa mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang
sulit.
H. Kerangka Berpikir
Keberhasilan pendidikan madrasah pada pondok pesantren sangat ditentukan
oleh akademik intelektual dan penampilan moral seorang alumni madrasah.
Bagaimanapun nilai raport dan hasil ujiannya, moral keagamaan yang melekat
pada sikap dan perilakunya akan menjadi tolok ukur bagi keberhasilan lembaga
pendidikan tempat ia belajar.
Apabila dikaji lebih lanjut berdasarkan teori yang telah ada maka salah satu
alternatif peningkatan kualitas pembelajaran pada madrasah pondok pesantren
yang menekankan pendidikan kecerdasan akademik dan moral atau akhlak adalah
penerapan teori kognitif. Teori belajar konstruktivis adalah salah satu penerapan
teori kognitif.
44
Salah satu implikasi teori belajar konstruktivis dalam pembelajaran adalah
penerapan pembelajaran kooperatif. Dalam pembelajaran kooperatif siswa atau
peserta didik lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit
apabila mereka saling mendiskuiskan masalah-masalah tersebut dengan temannya.
Melalui diskusi dalam pembelajaran kooperatif akan terjalin komunikasi di mana
siswa saling berbagi ide atau pendapat. Melalui diskusi akan terjadi elaborasi
kognitif yang baik, sehingga dapat meningkatkan daya nalar, keterlibatan siswa
dalam pembelajaran dan memberi kesempatan pada siswa untuk mengungkapkan
pendapatnya
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif
tipe jigsaw memiliki dampak yang positif terhadap kegiatan belajar mengajar,
yakni dapat meningkatkan aktivitas guru dan siswa selama pembelajaran,
meningkatkan ketercapaian TPK, dan dapat meningkatkan minat siswa dalam
mengikuti pembelajaran berikutnya.
Selain itu, pembelajaran kooperatif tipe jigsaw merupakan lingkungan
belajar di mana siswa belajar bersama dalam kelompok kecil yang heterogen,
untuk menyelesaikan tugas-tugas pembelajaran. Siswa melakukan interaksi sosial
untuk mempelajari materi yang diberikan kepadanya, dan bertanggung jawab
untuk menjelaskan kepada anggota kelompoknya. Jadi, siswa dilatih untuk berani
berinteraksi dengan teman-temannya.
Keseluruhan aspek kooperatif yang dilakukan oleh siswa selama
pembelajaran yang berorientasi kooperatif merupakan bagian dari pendidikan
akhlak atau moral kepada peserta didik. Dan apabila keterampilan-keterampilan
45
kooperatif terus dilatihkan kepada siswa selama pembelajaran maka cermin siswa
yang berakhlak mulia yang ditunjukkan dengan sikap-sikap positif dapat tercapai.
Berdasarkan kerangka berfikir secara teoritis yang dikutip dari pendapat
para ahli, dan secara empiris dari hasil penelitian terdahulu, dapat dikatakan
bahwa pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan kualitas
pembelajaran. Dengan demikian, diharapkan penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan kualitas proses dan kualitas hasil
belajar biologi pokok bahasan Aksi Interaksi pada siswa kelas I Madrasah Aliyah
Pondok Pesantren Nurul Haramain Putri NW Narmada Lombok Barat NTB.
Arabiyatuna Arabiyatuna
