Sunday, 19 April 2026
above article banner area

Tujuan Pembelajaran Kooperatif

Tujuan Pembelajaran Kooperatif

Tujuan pembelajaran kooperatif berbeda dengan kelompok tradisional yang

menerapkan sistem kompetisi, di mana keberhasilan individu diorientasikan pada

kegagalan orang lain. Sedangkan tujuan dari pembelajaran kooperatif adalah

menciptakan situasi di mana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi

oleh keberhasilan kelompoknya (Slavin, 1994).

Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai stidaktidaknya

tiga tujuan pembelajaran penting yang dirangkum oleh Ibrahim, et al.

(2000), yaitu:

a. Hasil belajar akademik

Dalam belajar kooperatif meskipun mencakup beragam tujuan sosial, juga

memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademis penting lainnya.

Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa

memahami konsep-konsep sulit. Para pengembang model ini telah

menunjukkan bahwa model struktur penghargaan kooperatif telah dapat

27

meningkatkan nilai siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang

berhubungan dengan hasil belajar. Di samping mengubah norma yang

berhubungan dengan hasil belajar, pembelajaran kooperatif dapat memberi

keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang

bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik.

b. Penerimaan terhadap perbedaan individu

Tujuan lain model pembelajaran kooperatif adalah penerimaan secara luas dari

orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan,

dan ketidakmampuannya. Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi

siswa dari berbagai latar belakang dan kondisi untuk bekerja dengan saling

bergantung pada tugas-tugas akademik dan melalui struktur penghargaan

kooperatif akan belajar saling menghargai satu sama lain.

c. Pengembangan keterampilan sosial

Tujuan penting ketiga pembelajaran kooperatif adalah, mengajarkan kepada

siswa keterampilan bekerja sama dan kolaborasi. Keterampilan-keterampilan

sosial, penting dimiliki oleh siswa sebab saat ini banyak anak muda masih

kurang dalam keterampilan sosial.

4. Keterampilan Kooperatif

Dalam pembelajaran kooperatif tidak hanya mempelajari materi saja, tetapi

siswa atau peserta didik juga harus mempelajari keterampilan-keterampilan

khusus yang disebut keterampilan kooperatif. Keterampilan kooperatif ini

berfungsi untuk melancarkan hubungan kerja dan tugas. Peranan hubungan kerja

dapat dibangun dengan membangun tugas anggota kelompok selama kegiatan.

28

Keterampilan-keterampilan selama kooperatif tersebut antara lain sebagai berikut

(Lungdren, 1994).

a. Keterampilan Kooperatif Tingkat Awal

1) Menggunakan kesepakatan

Yang dimaksud dengan menggunakan kesepakatan adalah menyamakan

pendapat yang berguna untuk meningkatkan hubungan kerja dalam

kelompok.

2) Menghargai kontribusi

Menghargai berarti memperhatikan atau mengenal apa yang dapat

dikatakan atau dikerjakan anggota lain. Hal ini berarti harus selalu setuju

dengan anggota lain, dapat saja kritik yang diberikan itu ditujukan

terhadap ide dan tidak individu.

3) Mengambil giliran dan berbagi tugas

Pengertian ini mengandung arti bahwa setiap anggota kelompok bersedia

menggantikan dan bersedia mengemban tugas/tanggungjawab tertentu

dalam kelompok.

4) Berada dalam kelompok

Maksud di sini adalah setiap anggota tetap dalam kelompok kerja selama

kegiatan berlangsung.

5) Berada dalam tugas

Yang dimaksud berada dalam tugas adalah meneruskan tugas yang

menjadi tanggungjawabnya, agar kegiatan dapat diselesaikan sesuai waktu

yang dibutuhkan.

29

6) Mendorong partisipasi

Mendorong partisipasi berarti mendorong semua anggota kelompok untuk

memberikan kontribusi terhadap tugas kelompok.

7) Mengundang orang lain

Maksudnya adalah meminta orang lain untuk berbicara dan berpartisipasi

terhadap tugas.

8) Menyelesaikan tugas dalam waktunya

9) Menghormati perbedaan individu

Menghormati perbedaan individu berarti bersikap menghormati terhadap

budaya, suku, ras atau pengalaman dari semua siswa atau peserta didik.

b Keterampilan Tingakat Menengah

Keterampilan tingkat menengah meliputi menunjukkan penghargaan dan

simpati, mengungkapkan ketidaksetujuan dengan cara dapat diterima,

mendengarkan dengan arif, bertanya, membuat ringkasan, menafsirkan,

mengorganisir, dan mengurangi ketegangan.

c. Keterampilan Tingkat Mahir

Keterampilan tingkat mahir meliputi mengelaborasi, memeriksa dengan

cermat, menanyakan kebenaran, menetapkan tujuan, dan berkompromi.

5. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif

Urutan langkah-langkah prilaku guru menurut model pembelajaran kooperatif

yang diuraiakan oleh Arends (1997) adalah sebagaimana terlihat pada tabel 2.1.

30

Tabel 2.1

Sintaks Pembelajaran Kooperatif

Fase Tingkahlaku Guru

Fase 1:

Menyampaikan tujuan dan

memotivasi siswa

Guru menyampaikan semua tujuan

pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran

tersebut dan memotivasi siswa belajar.

Fase 2:

Menyajikan informasi

Guru menyajikan informasi kepada siswa

dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan

bacaan.

Fase 3:

Mengorganisasikan siswa ke

dalam kelompok-kelompok

belajar

Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana

caranya membentuk kelompok belajar dan

membantu setiap kelompok agar melakukan

transisi secara efisien.

Fase 4:

Membimbing kelompok bekerja

dan belajar

Guru membimbing kelompok-kelompok

belajar pada saat mereka mengerjakan tugas

mereka.

Fase 5:

Evaluasi

Guru mengevaluasi hasil belajar tentang

materi yang telah dipelajari atau masingmasing

kelompok mempresentasikan hasil

kerjanya.

Fase 6:

Memberikan penghargaan

Guru mencari cara-cara untuk menghargai

baik upaya maupun hasil belajar individu

dan kelompok.

(Arends, 1997)

Terdapat enam fase utama dalam pembelajaran kooperatif (Arends, 1997).

Pembelajaran dalam kooperatif dimulai dengan guru menginformasikan tujuantujuan

dari pembelajaran dan memotivasi siswa untuk belajar. Fase ini diikuti

dengan penyajian informasi, sering dalam bentuk teks bukan verbal. Kemudian

dilanjutkan langkah-langkah di mana siswa di bawah bimbingan guru bekerja

bersama-sama untuk menyelesaikan tugas-tugas yang saling bergantung. Fase

terakhir dari pembelajaran kooperatif meliputi penyajian produk akhir kelompok

atau mengetes apa yang telah dipelajari oleh siswa dan pengenalan kelompok dan

usaha-usaha individu.

31

6. Pendekatan dalam Pembelajaran Kooperatif

Walaupun prinsip dasar pembelajaran kooperatif tidak berubah, terdapat

beberapa variasi dari model tersebut. Ada empat pendekatan pembelajaran

kooperatif (Arends, 2001). Di sini akan diuraikan secara ringkas masing-masing

pendekatan tersebut.

a. Student Teams Achievement Division (STAD)

STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di

Universitas John Hopkin dan merupakan pendekatan pembelajaran kooperatif

yang paling sederhana. Guru yang menggunakan STAD, juga mengacu kepada

belajar kelompok siswa, menyajikan informasi akademik baru kepada siswa setiap

minggu menggunakan presentasi verbal atau teks. Siswa dalam suatu kelas

tertentu dipecah menjadi kelompok dengan anggota 4-5 orang, setiap kelompok

haruslah heterogen, terdiri dari laki-laki dan perempuan, berasal dari berbagai

suku, memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Anggota tim

menggunakan lembar kegiatan atau perangkat pembelajaran yang lain untuk

menuntaskan materi pelajarannya dan kemudian saling membantu satu sama lain

untuk memahami bahan pelajaran melalui tutorial, kuis, satu sama lain dan atau

melakukan diskusi. Secara individual setiap minggu atau setiap dua minggu siswa

diberi kuis. Kuis itu diskor, dan tiap individu diberi skor perkembangan. Skor

perkembangan ini tidak berdasarkan pada skor mutlak siswa, tetapi berdasarkan

pada seberapa jauh skor itu melampaui rata-rata skor yang lalu.

Setiap minggu pada suatu lembar penilaian singkat atau dengan cara lain,

diumumkan tim-tim dengan skor tertinggi, siswa yang mencapai skor

32

perkembangan tinggi, atau siswa yang mencapai skor sempurna pada kuis-kuis

itu. Kadang-kadang seluruh tim yang mencapai kriteria tertentu dicantumkan

dalam lembar itu.

b. Investigasi Kelompok

Investigasi kelompok mungkin merupakan model pembelajaran kooperatif

yang paling kompleks dan paling sulit untuk diterapkan. Model ini dikembangkan

pertama kali oleh Thelan. Berbeda dengan STAD dan jigsaw, siswa terlibat dalam

perencanaan baik topik yang dipelajari maupun bagaimana jalannya penyelidikan

mereka. Pendekatan ini memerlukan norma dan struktur kelas yang lebih rumit

daripada pendekatan yang lebih terpusat pada guru.

Dalam penerapan investigasi kelompok ini guru membagi kelas menjadi

kelompok-kelompok dengan anggota 5 atau 6 siswa yang heterogen. Dalam

beberapa kasus, kelompok dapat dibentuk dengan mempertimbangkan keakraban

persahabatan atau minat yang sama dalam topik tertentu. Selanjutnya siswa

memilih topik untuk diselidiki, melakukan penyelidikan yang mendalam atas

topik yang dipilih itu. Selanjutnya menyiapkan dan mempresentasikan laporannya

kepada seluruh kelas.

c. Pendekatan Struktural

Pendekatan ini dikembangkan oleh Spencer Kagen dan kawan-kawannya.

Meskipun memiliki banyak kesamaan dengan pendekatan lain, namun pendekatan

ini memberi penekanan pada penggunaan struktur tertentu yang dirancang untuk

mempengaruhi pola interaksi siswa. Struktur tugas yang dikembangkan oleh

33

Kagen ini dimaksudkan sebagai alternatif terhadap struktur kelas tradisional,

seperti resitasi, di mana guru mengajukan pertanyaan kepada seluruh kelas dan

siswa memberi jawaban setelah mengangkat tangan dan ditunjuk. Struktur yang

dikembangkan oleh Kagen ini menghendaki siswa bekerja saling membantu

dalam kelompok kecil dan lebih dicirikan oleh penghargaan kooperatif, daripada

penghargaan individual.

Ada struktur yang dikembangkan untuk meningkatkan perolehan isi

akademik, dan ada struktur yang dirancang untuk mengajarkan keterampilan

sosial atau keterampilan kelompok. Dua macam struktur yang terkenal adalah

think-pair-share dan numbered-head-together, yang dapat digunakan oleh guru

untuk mengajarkan isi akademik atau untuk mengecek pemahaman siswa terhadap

isi tertentu. Sedangkan active listening dan time token, merupakan dua contoh

struktur yang dikembangkan untuk mengajarkan keterampilan sosial.

d. Jigsaw

Jigsaw pertama kali dikembangkan dan diujicobakan oleh Elliot Aronson

dan teman-teman di Universitas Texas, dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan

teman-teman di Universitas John Hopkins (Arends, 2001).

Untuk melihat dengan jelas perbandingan antara keempat pendekatan

pembelajaran kooperatif atau yang lebih sering disebut sebagai tipe pembelajaran

kooperatif dapat dilihat pada tabel 2-2.

34

Tabel 2.2

Perbandingan Empat Pendekatan dalam Pembelajaran Kooperatif

STAD Jigsaw Penyelidikan

Kelompok

Pendekatan

Struktur

Tujuan

kognitif

Informasi

akademik

sederhana

Informasi

akademik

sederhana

Informasi

akademik tingkat

tinggi dan

keterampilan

inkuiri

Informasi

akademik

sederhana

Tujuan

sosial

Kerja kelompok

dan kerja sama

Kerja kelompok

dan kerja sama

Kerja dalam

kelompok

kompleks

Keterampilan

kelompok dan

keterampilan

sosial

Struktur

tim

Kelompok belajar

heterogen dengan

4-5 orang

anggota

Kelompok belajar

heterogen dengan

5-6 orang

anggota,

menggunakan

pola “kelompok

asal” dan

“kelompok ahli”

Kelompok belajar

dengan 5-6 orang

anggota homogen

Bervariasi,

berdua,

bertiga,

kelompok 4-6

orang anggota

Pemilihan

topik

pelajaran

Biasanya guru Biasanya guru Biasanya siswa Biasanya guru

Tugas

utama

Siswa dapat

menggunakan

lembar kegiatan

dan saling

membantu untuk

menuntaskan

materi belajarnya

Siswa

mempelajari

materi dalam

“kelompok ahli”,

kemudian

membantu

anggota

“kelompok asal”

mempelajari

materi itu

Siswa

menyelesaikan

inkuiri kompleks

Siswa

mengerjakan

tugas-tugas

sosial dan

kognitif

Penilaian Tes mingguan Bervariasi, dapat

berupa tes

mingguan

Menyelesaikan

proyek dan

menulis laporan,

dapat

menggunakan tes

uraian.

Bervariasi

Pengakuan Lembar

pengetahuan dan

publikasi lain

Publikasi lain Lembar

pengakuan dan

publikasi lain

Bervariasi

(Sumber: Arends, 2001).

35

E. Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw

Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran

kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang

bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu

mengarjarkan bagian tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya (Arends,

1997).

Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan model pembelajaran

kooperatif, dengan siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4–6 orang

secara heterogen dan bekerjasama saling ketergantungan yang positif dan

bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari

dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain (Arends,

1997).

Jigsaw didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap

pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya

mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan

dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain. Dengan

demikian, “siswa saling tergantung satu dengan yang lain dan harus bekerja sama

secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan” (Lie, A., 1994).

Para anggota dari tim-tim yang berbeda dengan topik yang sama bertemu untuk

diskusi (tim ahli) saling membantu satu sama lain tentang topik pembelajaran

yang ditugaskan kepada mereka. Kemudian siswa-siswa itu kembali pada

tim/kelompok asal untuk menjelaskan kepada anggota kelompok yang lain tentang

apa yang telah mereka pelajari sebelumnya pada pertemuan tim ahli.

36

Pada model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, terdapat kelompok asal

dan kelompok ahli”. Kelompok asal, yaitu kelompok induk siswa yang

beranggotakan siswa dengan kemampuan, asal, dan latar belakang keluarga yang

beragam. Kelompok asal merupakan gabungan dari beberapa ahli. Kelompok ahli,

yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok asal yang berbeda yang

ditugaskan untuk mempelajari dan mendalami topik tertentu dan menyelesaikan

tugas-tugas yang berhubungan dengan topiknya untuk kemudian dijelaskan

kepada anggota kelompok asal. Hubungan antara kelompok asal dan kelompok

ahli digambarkan sebagai berikut (Arends, 2001).

Kelompok Asal

Kelompok Ahli

Gamb ar 2.1: Ilustrasi Kelompok jigsaw

Para anggota dari kelompok asal yang berbeda, bertemu dengan topik yang

sama dalam kelompok ahli untuk berdiskusi dan membahas materi yang

ditugaskan pada masing-masing anggota kelompok serta membantu satu sama lain

untuk mempelajari topik mereka tersebut. Setelah pembahasan selesai, para

anggota kelompok kemudian kembali pada kelompok asal dan mengajarkan pada

teman sekelompoknya apa yang telah mereka dapatkan pada saat pertemuan di

+ =

X *

+ +

+ +

+ =

X *

+ =

X *

+ =

X *

= =

= =

X X

X X

* *

* *

37

kelompok ahli. Jigsaw didesain selain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab

siswa secara mandiri juga dituntut saling ketergantungan yang positif (saling

memberi tahu) terhadap teman sekelompoknya. Selanjutnya di akhir

pembelajaran, siswa diberi kuis secara individu yang mencakup topik materi yang

telah dibahas. Kunci tipe Jigsaw ini adalah interdependensi setiap siswa terhadap

anggota tim yang memberikan informasi yang diperlukan dengan tujuan agar

dapat mengerjakan kuis dengan baik.

Untuk pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, disusun langkahlangkah

pokok sebagai berikut; (1) pembagian tugas, (2) pemberian lembar ahli,

(3) mengadakan diskusi, (4) mengadakan kuis. Adapun rencana pembelajaran

kooperatif tipe jigsaw ini diatur secara instruksional sebagai berikut (Slavin,

1995):

a. Membaca: siswa memperoleh topik-topik ahli dan membaca materi tersebut

untuk mendapatkan informasi.

b. Diskusi kelompok ahli: siswa dengan topik-topik ahli yang sama bertemu

untuk mendiskusikan topik tersebut.

c. Diskusi kelompok: ahli kembali ke kelompok asalnya untuk menjelaskan

topik pada kelompoknya.

d. Kuis: siswa memperoleh kuis individu yang mencakup semua topik.

e. Penghargaan kelompok: penghitungan skor kelompok dan menentukan

penghargaan kelompok.

Setelah kuis dilakukan, maka dilakukan perhitungan skor perkembangan

individu dan skor kelompok. Skor individu setiap kelompok memberi sumbangan

38

pada skor kelompok berdasarkan rentang skor yang diperoleh pada kuis

sebelumnya dengan skor terakhir. Arends (1997) memberikan petunjuk

perhitungan skor kelompok sebagaimana terlihat dalam Tabel berikut.

Tabel 2.3

Konversi Skor Perkembangan

Skor Kuis Individu Skor Perkembangan

1. Lebih dari 10 poin di bawah skor awal

2. 10 poin sampai 1 poin di bawah skor awal

3. Skor awal sampai 10 poin di atasnya

4. Lebih dari 10 di atas skor awal

5. Nilai sempurna (tidak berdasarkan skor awal)

5

10

20

30

30

Untuk menentukan tingkat penghargaan yang diberikan untuk prestasi

kelompok, menurut Arends (1997) dapat dilihat dalam Tabel 2.4 berikut.

Tabel 2.4

Tingkat Penghargaan Kelompok

Rata- rata kelompok Penghargaan

15

20

25

Good Team (tim yang bagus)

Great Team (tim yang hebat)

Super Team (tim yang super)

F. Pokok Bahasan Aksi Interaksi

Konsep tentang Aksi Interaksi dapat dijelaskan secara ringkas sebagai

berikut (Karmana O., 2002; Ibarat T. et al., 2000; Pratiwi D.A. et al., 2000; dan

Lederer R., 1985). Suatu organisme hidup akan selalu membutuhkan organsime

lain dan lingkungan hidupnya. Hubungan yang terjadi antara individu dengan

lingkungannya sangat kompleks, bersifat saling mempengaruhi atau timbal balik.

Hubungan timbal balik antara unsur-unsur biotik dengan abiotik membentuk

sistem ekologi yang disebut ekosistem.

39

Pola-pola interaksi terjadi dalam berbagai tingkatan, mulai dari individu,

populasi, komunitas, sampai tingkatan ekosistem. Interaksi antara faktor-faktor

biotik dan abiotik secara garis besar dapat dilihat pada pola rantai makanan, aliran

energi, jaring-jaring makanan, dan sistem biogeokimia.

Dalam suatu interaksi, terjadi proses pengaliran energi. Aliran energi terjadi

karena adanya peristiwa makan-memakan. Peristiwa makan-memakan

membentuk suatu rantai makanan. Rantai makanan saling terkait membentuk

jaring-jaring makanan.

Rantai makanan adalah perpindahan materi dan energi dari makhluk yang

satu ke makhluk yang lainnya melalui sederetan organisme yang makan dan yang

dimakan. Para ilmuwan ekologi mengenal tiga macam rantai pokok, yaitu rantai

pemangsa, rantai parasit, dan rantai saprofit.

Rantai pemangsa landasan utamanya adalah tumbuhan hijau sebagai

produsen. Rantai pemangsa dimulai dari hewan yang bersifat herbivor yang

memakan tumbuhan sebagai konsumen I, dilanjutkan dengan hewan karnivora

yang memangsa organisme konsumen I sebagai konsumen II, dan berakhir pada

hewan pemangsa karnivor maupun herbivor sebagai konsumen III. Rantai parasit

berlangsung antara organisme besar misalnya babi, kerbau, manusia, pohon

beringin, pohon johar, dan hewan dan tumbuhan tinggi lainnya. Rantai parasit

dimulai dari organisme besar hingga organisme yang hidup sebagai parasit.

Contoh organisme parasit antara lain cacing pita yang hidup sebagai parasit pada

babi, bakteri yang hidup sebagai parasit pada usus manusia, dan benalu yang

hidup sebagai parasit pada pohon beringin. Rantai saprofit berlangsung antara

40

sisa-sisa organisme yang mati (seperti tumbuhan dan hewan) dan organisme yang

berperan sebagai pengurai, misalnya bakteri dan jamur di dalam tanah. Rantai

saprofit dimulai dari organisme mati atau bagian organisme yang jatuh ke tanah

seperti daun, buah, batang mati, dan biji, sampai organisme pengurai.

Dalam ekosistem terjadi siklus biogeokimia. Siklus biogeokimia merupakan

siklus unsur atau senyawa kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke biotik

dan kembali lagi ke abiotik. Siklus biogeokimia antara lain siklus nitrogen, siklus

karbon dioksida, siklus oksigen, dan siklus air.

Dalam keberadaannya, ekosistem selalu mengalami perkembangan.

Perkembangan ekosistem menuju kedewasaan dan keseimbangan disebut suksesi.

Suksesi dibedakan menjadi dua, yaitu suksesi primer dan suksesi sekunder.

Suksesi primer terjadi jika komunitas asal terganggu yang menyebabkan

hilangnya komunitas secara total sehingga di komunitas asal tersebut terbentuk

habitat baru. Suksesi sekunder terhadi bila suatu komunitas mengalami gangguan

baik secara alami maupun buatan dan tidak merusak total tempat tumbuh

organisme sehingga dalam komunitas tersebut substrat lama dan kehidupan masih

ada.

Hubungan komunitas dengan lingkungan membentuk berbagai ekosistem.

Ditinjau dari penyusunnya, suatu ekosistem terdiri atas unsur abiotik, produsen,

konsumen, dan dekomposer.

Ekosistem terbagi menjadi ekosistem darat dan ekosistem perairan.

Ekosistem darat terbagi atas bioma gurun, bioma padang rumput, bioma hutan

basah, bioma hutan gugur, taiga, dan bioma tundra. Ekosistem perairan dibagi

41

menjadi ekosistem air tawar dan ekosistem air laut. Ekosistem air tawar terdiri

dari sungai dan danau, sedangkan ekosistem air laut terdiri dari ekosistem laut,

ekosistem pantai, ekosistem estuari, dan ekosistem terumbu karang. Seluruh

ekosistem di bumi ini membentuk satu kesatuan yang disebut biosfer.

Ditinjau dari segi struktur isi, pokok bahasan Aksi Interaksi terdiri dari tiga

subpokok bahasan yang antara masing-masing subpokok bahasan relatif tidak

merupakan suatu prasarat untuk pokok bahasan yang lain. Di samping itu,

berdasarkan tuntutan GBPP Bidang Studi Biologi Kurikulum 1994, pembelajaran

yang sesuai adalah pembelajaran secara berkelompok yang berbasis pada

keterampilan proses dan aktivitas siswa yang berorientasi pemecahan masalah

berdasarkan pengamatan dan diskusi dengan menggunakan metode ilmiah untuk

memahami prinsip dan pola interaksi dalam ekosistem. Pembelajaran yang

mungkin dilakukan adalah pembelajaran yang berorientasi pemecahan masalah

berdasarkan hasil pengamatan dan diskusi kelompok yang identik dengan model

pembelajaran kooperatif tipe jigsaw.

G. Penelitian-penelitian yang Relevan

Di bawah ini akan disajikan beberapa hasil penelitian yang relevan dengan

penelitian ini. Hasil penelitian pendukung yang dimaksud yaitu hasil penelitian

penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pada pembelajaran IPA

umumnya, maupun pada pengajaran bidang studi biologi itu sendiri, serta

pengajaran matematika antara lain:

42

1. Hasil penelitian yang dilakukan Budiningarti, H. (1998) yang

mengembangkan perangkat pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pada

pengajaran fisika di SMU menunjukkan, bahwa hasil belajar siswa pada kelas

guru model dan kelas guru mitra menunjukkan peningkatan pengetahuan

untuk tes hasil belajar produk dan tes hasil belajar psikomotor. Hasil

penelitian ini juga menunjukkan bahwa guru dapat menerapkan model

pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan baik dan meningkatkan

keterampilan kooperatif siswa selama PBM berlangsung.

2. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Setyaningsih, S. (1999), bahwa

pembelajaran biologi pada kelas I SLTP yang berorientasi model

pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, dapat meningkatkan keterampilan guru

mengelola KBM, meningkatkan kualitas pengelolaan proses belajar mengajar

oleh guru, meningkatkan kualitas interaksi siswa dengan lingkungan belajar,

dan meningkatkan prestasi belajar siswa yang meliputi peningkatan nilai ratarata

dan meningkatkan jumlah siswa yang mencapai ketuntasan belajar.

3. Penelitian yang dilakukan oleh Widada W., (1999) mengungkapkan bahwa,

dengan pengembangan perangkat pembelajaran yang berorientasi model

pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ternyata 82,35% dari keseluruhan TPK

yang diajarkan telah tuntas dipelajari oleh siswa pada mata pelajaran

matematika di SMU.

4. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Pendi (2002) dengan menerapkan

pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dalam pembelajaran mata kuliah Fisika

Dasar II pokok bahasan arus listrik dan rangkaian listrik arus searah

43

menunjukkan, bahwa secara umum kemampuan dosen dalam mengelola

pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah baik. Dosen mampu melatihkan

keterampilan kooperatif dan mengoperasikan perangkat pembelajaran yang

hampir sesuai dengan alokasi waktu yang tersedia, serta membuat mahasiswa

antusias dalam mengikuti pembelajaran. Mahasiswa pada umumnya

menyatakan senang dan baru terutama tentang keterampilan kooperatif.

Mahasiswa berminat untuk mengikuti pembelajaran selanjutnya dengan model

yang sama. Kemudian dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe

jigsaw mahasiswa mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang

sulit.

H. Kerangka Berpikir

Keberhasilan pendidikan madrasah pada pondok pesantren sangat ditentukan

oleh akademik intelektual dan penampilan moral seorang alumni madrasah.

Bagaimanapun nilai raport dan hasil ujiannya, moral keagamaan yang melekat

pada sikap dan perilakunya akan menjadi tolok ukur bagi keberhasilan lembaga

pendidikan tempat ia belajar.

Apabila dikaji lebih lanjut berdasarkan teori yang telah ada maka salah satu

alternatif peningkatan kualitas pembelajaran pada madrasah pondok pesantren

yang menekankan pendidikan kecerdasan akademik dan moral atau akhlak adalah

penerapan teori kognitif. Teori belajar konstruktivis adalah salah satu penerapan

teori kognitif.

44

Salah satu implikasi teori belajar konstruktivis dalam pembelajaran adalah

penerapan pembelajaran kooperatif. Dalam pembelajaran kooperatif siswa atau

peserta didik lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit

apabila mereka saling mendiskuiskan masalah-masalah tersebut dengan temannya.

Melalui diskusi dalam pembelajaran kooperatif akan terjalin komunikasi di mana

siswa saling berbagi ide atau pendapat. Melalui diskusi akan terjadi elaborasi

kognitif yang baik, sehingga dapat meningkatkan daya nalar, keterlibatan siswa

dalam pembelajaran dan memberi kesempatan pada siswa untuk mengungkapkan

pendapatnya

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif

tipe jigsaw memiliki dampak yang positif terhadap kegiatan belajar mengajar,

yakni dapat meningkatkan aktivitas guru dan siswa selama pembelajaran,

meningkatkan ketercapaian TPK, dan dapat meningkatkan minat siswa dalam

mengikuti pembelajaran berikutnya.

Selain itu, pembelajaran kooperatif tipe jigsaw merupakan lingkungan

belajar di mana siswa belajar bersama dalam kelompok kecil yang heterogen,

untuk menyelesaikan tugas-tugas pembelajaran. Siswa melakukan interaksi sosial

untuk mempelajari materi yang diberikan kepadanya, dan bertanggung jawab

untuk menjelaskan kepada anggota kelompoknya. Jadi, siswa dilatih untuk berani

berinteraksi dengan teman-temannya.

Keseluruhan aspek kooperatif yang dilakukan oleh siswa selama

pembelajaran yang berorientasi kooperatif merupakan bagian dari pendidikan

akhlak atau moral kepada peserta didik. Dan apabila keterampilan-keterampilan

45

kooperatif terus dilatihkan kepada siswa selama pembelajaran maka cermin siswa

yang berakhlak mulia yang ditunjukkan dengan sikap-sikap positif dapat tercapai.

Berdasarkan kerangka berfikir secara teoritis yang dikutip dari pendapat

para ahli, dan secara empiris dari hasil penelitian terdahulu, dapat dikatakan

bahwa pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan kualitas

pembelajaran. Dengan demikian, diharapkan penerapan model pembelajaran

kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan kualitas proses dan kualitas hasil

belajar biologi pokok bahasan Aksi Interaksi pada siswa kelas I Madrasah Aliyah

Pondok Pesantren Nurul Haramain Putri NW Narmada Lombok Barat NTB.

 

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *