Nama : Lindha Kurniawati
Alamat : Pondok Pesantren TIDAR, Tidar Dudan Rt 01 Rw 10 Kel. Tidar Utara Kec. Magelang Selatan Kota Magelang 56123
Nomor : 085702659055
Belajar atau menuntut ilmu merupakan hal yang sangat penting untuk mewujudkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Tanpa ilmu, manusia tidak dapat melakukan segala hal. Untuk mencari nafkah perlu ilmu, beribadah perlu ilmu, bahkan makan dan minum pun perlu ilmu. Dengan demikian, belajar merupakan sebuah keharusan yang tidak dapat ditolak, apalagi terkait dengan kewajiban seorang hamba kepada Rab-Nya. Jika seorang muslim tidak mengetahui kewajibannya sebagai seorang hamba, bagaimana bisa ia memperoleh keselamatan di dunia dan akhirat.
Lantas bagaimana cara kita bisa mendapatkan ilmu? Ada banyak cara untuk bisa mendapatkan ilmu, namun kali ini kita akan membahas tips mendapatkan ilmu ala Imam Syafi’i yang terdapat pada mahfudhot.
أَخِي لَنْ تَنَالَ العِلْمَ إِلاَّ بِسِتَّةٍ سَأُنْبِيْكَ عَنْ تَفْصِيْلِهَا بِبَيَانٍ: ذَكَاءٌ وَحِرْصٌ وَاجْتِهَادٌ وَدِرْهَمٌ وَصُحْبَةُ أُسْتَاذٍ وَطُوْلُ زَمَانٍ
Saudaraku! Kamu tidak akan mendapatkan ilmu, kecuali dengan enam perkara, akan aku beritahukan perinciannya dengan jelas:
1). Kecerdasan
2). Ketamakan (terhadap ilmu)
3). Kesungguhan
4). Uang (biaya)
5). Dekat dengan guru
6). Waktu yang lama
Mari kita simak penjelasan tentang “Tips Mendapatkan Ilmu Ala Imam Syafi’i”:
1. Kecerdasan
Sejatinya tak sedikit manusia yang menginginkan dirinya menjadi cerdas, pintar serta memiliki banyak ilmu. Cerdas di sini bukan berarti harus memiliki IQ yang tinggi, melainkan orang yang bisa menangkap ilmu yang diberikan oleh pendidik.
Cerdas dapat diasumsikan sebagai anugerah bawaan dari lahir, yaitu kemampuan berpikir orang yang cepat mengerti, memahami, menangkap maksud dari suatu kondisi atau pun keadaan. Sedangkan, pintar adalah banyaknya ilmu yang diperoleh dari proses pembelajaran secara formal di sekolah atau pun informal lewat lingkungan sekitar dan pengalaman hidup.
2. Ketamakan (terhadap ilmu)
Tamak disini adalah tamak akan ilmu. Sifat tamak akan menjadikan seseorang tidak pernah merasa cukup atas apa yang ia miliki, karena selalu merasa kurang. Akhirnya ia menggunakan berbagai cara untuk memuaskan sifat ketamakannya. Misalnya saja orang yang tamak diberi satu gunung emas, pasti ia akan menginginkan dua gunung emas dan begitupun seterusnya.
Sifat tamak ini tidak disukai jika tamak dalam urusan duniawi saja, namun sifat tamak ini diperbolehkan dalam tiga hal, yaitu:
3. Tamak dalam urusan ilmu
Misalnya saja seseorang itu semangat dalam belajar dan tidak puas dengan pengetahuan yang ia dapatkan sehingga ia akan terus mencari tahu hal-hal yang baru, sehingga pengetahuan dan wawasannya semakin bertambah dan semakin banyak. Tamak seperti ini sangat diperbolehkan bahkan diharuskan, karena tamak tersebut dalam hal yang positive bukan dalam hal yang negative.
4. Tamak dalam urusan beribadah
Kita boleh tamak dalam hal beribadah, karena beribadah adalah suatu kewajiban seorang hamba terhadap Sang Kholiq. Sifat tamak dalam beribadah akan menjadikan seorang hamba lebih giat untuk mendekatkan diri pada Rab-Nya.
5. Tamak dalam urusan menolong orang lain
Kita diperbolehkan tamak dalam urusan menolong orang lain, namun menolong disini bukan menolong dalam hal negative, akan tetapi menolong disini adalah menolong dalam hal kebaikan dan kebenaran. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Surat Al-Maidah ayat 2.
وتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya”. (Q.S Al-Maidah: 2)
1. Uang (biaya)
Biaya di sini mengandung arti, seorang yang ingin menuntut ilmu harus dengan biaya. Misalnya, setiap orang tua yang ingin mendaftarkan anaknya ke universitas harus membayar uang pangkal, uang makan, dan uang kost jika anaknya merantau, serta kebutuhan lainnya agar konsentrasi, serta tidak terganggu selama proses menuntut ilmu, dan pendidik pun seharusnya juga dibayar oleh peserta didik agar pendidik bisa konsentrasi mengajar peserta didik dan tidak perlu kerja lagi, karena sudah mendapat upah dari mengajarnya.
Salah satu kewajiban orang tua dalam pendidikan anaknya adalah menyiapkan bekal atau biaya yang cukup untuk kelangsungan pendidikan anaknya. Begitu pula sang anak harus membantu meringankan beban orang tuanya dalam hal biaya dengan cara menghemat atau meminimalisir kebutuhan yang kurang penting nan boros, serta mencoba mencari lowongan beasiswa.
Bagaimana pun keadaan ekonomi orang tua para penuntut ilmu, mereka harus tetap semangat dengan tekun belajar, belajar dengan sungguh-sungguh, dan pantang menyerah, karena menuntut ilmu itu sulit dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Para penuntut ilmu yang tidak mempunyai semangat juang tinggi dalam menuntut ilmu, maka akan menghabiskan biaya dan waktu dengan sia-sia.
Merupakan suatu keharusan bagi seorang penuntut ilmu untuk bersungguh-sungguh, kontinyu, dan tidak kenal lelah untuk berhenti belajar.
2. Dekat dengan guru
Para penuntut ilmu hendaklah memuliakan ilmu dan pemiliknya dengan sepenuh hati. Penting untuk diketahui bahwa para penuntut ilmu tidak akan mendapatkan ilmu dan manfaatnya, melainkan dengan memuliakan ilmu itu sendiri dan menghormati keagungan pendidiknya.
Suksesnya seseorang dikarenakan memuliakan ilmu dan pendidiknya. Sebaliknya, kegagalan seseorang dalam belajar itu karena tidak beritikad memuliakan dan menghormati pendidiknya.
Barangsiapa melukai hati pendidiknya, berkah ilmunya tertutup dan hanya sedikit kemanfaatannya. Umpama dokter dan pendidik, keduanya tidak akan memberi nasehat bila tidak dimuliakan. Maka terimalah penyakitmu, bila kau acuhkan doktermu dan terimalah kebodohanmu, bila kau tentang pendidikmu. Hal ini telah dijelaskan dalam Mahfudhot:
إِنَّ الْمُعَلِّمَ وَالطَبِيْبَ كِلاَ هُمَا # لَا يَنْصَحَانِ إِذَا هُمَا لَمْ يُكْرَمَا
Sesungguhnya guru dan dokter itu dua-duanya
Tidak akan memberi nasehat kalau keduanya tidak dihormati
فَاصْبِرْ لِدَائِكَ إِنْ جَفَوْتَ طَبِيْبَهَا # وَاقْنَعْ بِجَهْلِكَ إِنْ جَفَوْتَ مُعَلِّمًا
Maka sabarlah atas penyakitmu kalau engkau menjauhi dokter
Dan puaslah dengan kebodohanmu jika engkau menjauhi guru
Pada hakikatnya kebodohan itu merupakan sebuah “penyakit” yang perlu ”diobati”, maka orang yang menjauhi guru itu tak ubahnya seperti orang sakit yang tak mau menemui dokter. Ia tidak akan lepas dari kebodohannya sebagaimana orang sakit yang tak kunjung sembuh.
3. Waktu yang lama
Prinsip lain yang dinasehatkan oleh Imam Syafi’i bagi penuntut ilmu adalah memerlukan waktu lama. Para penuntut ilmu harus menyiapkan diri menghabiskan waktu yang panjang untuk mencapai pemahaman yang mendalam terhadap ilmu. Kesediaan mencurahkan perhatian dan menempuh proses yang lama merupakan kunci untuk meraih keutamaan-keutamaan ilmu yang sangat tinggi. Banyak hal yang dapat dipelajari dalam waktu singkat, tapi untuk menghasilkan penguasaan yang matang kerap memerlukan waktu yang lama nan panjang. Meski demikian, sekedar siap menjalani masa yang panjang tidak banyak bermakna, apabila tidak disertai ketekunan.
Setelah mengetahui tips mendapatkan ilmu ala Imam Syafi’i bisa diterapkan ya teman-teman. Semoga bermanfaat.
Arabiyatuna Arabiyatuna
