Monday, 25 May 2026
above article banner area

Andaikan Akhlak Diperbaiki Dan Berhasil

Melihat kenyataan-kenyataan penyimpangan yang terjadi di tengah masyarakat memang sudah memprihatinkan. Kejahatan mulai tingkat bawah, menengah, hingga tingkat tinggi yang merugikan negara dan bangsa sudah sedemikian akut. Seolah-olah orang benar dan jujur sudah sangat sulit didapatkan di negeri ini. Sekedar mencari calon pimpinan KPK, panitia penyeleksi yang dibentuk oleh pemerintah, tampak mengalami kesulitan mencari calon yang dianggap ideal.  

  Memang masih banyak orang baik di negeri ini. Tetapi sebagai calon KPK tidak saja orang baik yang dicari, melainkan juga orang yang mau dan bisa berbuat baik. Kriteris mau dan bisa berbuat baik, adalah orang yang mampu melihat kenakalan dan atau apalagi kejahatan di tengah masyarakat. Selain itu juga berani bertindak dan mengambil resiko. Tugasnya tidak saja ditunaikan atas dasar jumlah imbalan yang akan diterima, tetapi didasari pada  kecintaannya terhadap kebenaran, keadilan, dan komitmen, serta integritasnya terhadap nilai-nilai luhur kemanusiaan, negara, dan bangsa.   Mencari orang dengan ukuran seperti itu ternyata tidak mudah. Pelamar sejak dibuka, memang cukup banyak. Mereka juga terdiri atas orang-orang baik, paling tidak menurut ukuran mereka sendiri. Namun sebagai kepala KPK, tidak saja baik menurut yang bersangkutan, dan atau juga para pendukungnya, melainkan dipilih yang terbaik menurut ukuran-ukuran yang dipegangi oleh pihak-pihak yang mendapatkan amanah memilihnya.   Pertanyaan mendasar yang perlu direnungkan adalah,  mengapa bangsa ini dirudung oleh persoalan besar seperti ini. Yaitu miskin orang jujur dan adil. Kekurangan uang, negeri ini bisa berhutang ke luar negeri, tetapi tatkala miskin pemimpin jujur ternyata tidak mudah diselesaikan. Dengan miskin orang jujur maka, negeri ini harus menambah anggaran untuk pengawasan, polisi, kejaksanaan, membentuk KPK, dan bahkan juga memperluas dan menambah  bangunan penjara.  Betapa besar biaya yang harus dikeluarkan, sebagai akibat oleh kemiskinan kejujuran ini.   Dalam Islam, kejujuran ditempatkan pada posisi yang amat mulia. Bahkan Islam sendiri hadir di muka bumi sesungguhnya adalah agar orang menjadi jujur. Nabi sendiri pernah dimintai oleh seseorang tentang ajaran yang jika dilaksanakan bisa selamat dan masuk surga. Maka dijawab oleh nabi dengan jawaban sederhana, yaitu jangan bohong. Artinya, orang tersebut dianjurkan untuk agar selalu menjaga kejujurannya.   Banyak orang mengira, bahwa  menjaga kejujuran adalah ringan dan mudah. Akan tetapi pada kenyataannya sangat sulit dilakukan oleh  siapapun. Para pejabat tingkat apapun ternyata gagal, atau tidak lulus menjaga pesan nabi yang sederhana itu. Buktinya, ada  presiden, menteri, gubernur, anggota DPR, pimpinan BUMN, bupati, wali kota, pengusaha, pimpinan perguruan tinggi,  kepala sekolah, dosen, guru dan lainnya secara  merata, pernah diduga dan bahkan telah dinyatakan bersalah dan akhirnya ada di antaranya dipenjara. Tidak jujur juga dilakukan oleh rakyat biasa, mahasiswa, dan bahkan juga murid-murid, sehingga tatkala mereka mengikuti ujian, harus dijaga secara ketat.         Peraturan atau pun undang-undang ternyata gagal menjadikan orang selalu jujur. Polisi, jaksa, hakim, kampus-kampus, lembaga pendidikan apapun  juga tidak ada yang mengklaim dirinya paling sukses  membangun kejujuran. Beberapa tahun terakhir, dibuat warung kejujuran di sekolah-sekolah sebagai ekperimentasi untuk  menerapkan kejujuran, ternyata juga tidak banyak yang berhasil. Warungnya bangrut dan akhirnya menghentikan kegiatannya.   Jika semua itu gagal, lalu apakah sesungguhnya masih ada,  instrument yang bisa digunakan untuk membangun manusia dan bahkan masyarakat hingga menjadi  jujur. Tentu jawabnya ada, hanya persoalannya adalah, apakah dipercaya dan selanjutnya mau menjalankannya. Padahal jika ada kemauan saja, untuk melahirkan orang jujur dengan tawaran itu, maka  pelaksanaannya tidak akan memerlukan anggaran yang memberatkan. Untuk menjalankan konsep itu, modalnya hanya satu, ialah ada kemauan.   Cara yang dimaksudkan itu ialah menjalankan ajaran agamanya secara benar dan sungguh-sungguh. Bagi kaum muslimin misalnya, pagi-pagi benar, tatkala mendengar  suara adzan subuh segera bangun, ambil air wudhu dan datang ke masjid. Bertemu dengan tetangga di pagi itu. Dengan cara itu maka, pikiran dan hati menjadi tenteram. Sebelum berangkat kerja, ambil air wudhu, untuk sholat dhuha, dan selanjutnya dengan mengucapkan basmallah,  pergi meninggalkan rumah untuk bekerja, mencari rizki yang halal, baik dan berbarokah. Mengawali pekerjaannya dengan mengucap basmalah, dan menjalankan pekerjaan itu dengan sungguh-sungguh, ikhlas, amanah, sabar dan selalu mengakhirinya dengan hamdalah.   Setiap mendengarkan adzan pada setiap waktu sholat, maka berhenti sejenak dari kerja, datang untuk sholat berjamaáh. Tiba pada waktunya, harta yang didapat dihitung untuk dikeluarkan zakatnya. Selain itu, juga masih mengeluarkan sebagian hartanya untuk infaq, shodaqoh, dan wakaf jika ada yang harus diwakafkan. Pada setiap datang bulan ramadhan, menjalankan puasa dan memakmurkan bulan itu dengan banyak ibadah. Menunaikan ibadah haji manakala telah waktu dan sanggup, baki  secara fisik maupun pembekalannya.   Mereka juga tidak saja mencintai dirinya sendiri dan keluarganya, melainkan mampu menumbuhkan kecintaannya terhadap orang lain, tetangga, sahabat dan siapa saja yang memerlukannya. Dengan kecintaannya itu, mereka selalu mengulurkan tangannya untuk mengenal, memahami, menghargai, mencintai dan membangun saling tolong menolong. Selain itu, apa saja yang dianggap buruk dan merugikan, baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain, selalu  mereka hindari.   Gambaran sederhana itu sesungguhnya adalah akhlak. Itu semua adalah ajaran yang dibawa dan ditauladankan oleh Rasulullah, Muhammad saw. Menjalankan itu semua, secara individu tidak perlu dirancang, diputuskan bersama, apalagi menunggu anggaran dan keputusan pemerintah atau lembaga legislative segala. Jika harus diperlukan kekuatan penggerak, maka kekuatan itu hendaknya datang dari para pemimpin atau siapa saja yang merasa dirinya sebagai pemimpin, baik  pemimpin formal, non formal, atau informal. Persoalannya adalah sederhana saja, apakah mau dan bersedia para pemimpin bangsa ini memulai dan memberikan ketauladannya. Jika mau, maka membangun akhlak bangsa ini sesungguhnya tidak sulit dan juga tidak mahal, tetapi memang berat menjalankannya.   Apabila  hal itu dijalankan, maka hasilnya  akan nyata. Masyarakat akan terbina secara baik, melalui tempat-tempat ibadah, ajaran kitab suci,  dan juga tauladan dari para elitenya, baik yang formal maupun yang lainnya. Banyak orang mengidolakan kehidupan Rasulullah dan masyarakatnya tatkala di Madinah. Prestasi semacam itu ingin diraih, tetapi sayangnya pintu menuju keberhasilan itu tidak dilalui. Akhlak masyarakat  tidak dibangun sebagaimana nabi menjalankannya. Padahal jika akhlak masyarakat  dibangun dan berhasil, maka tidak  perlu repot-repot memilih anggota dan ketua KPK seperti sekarang ini. Membangun akhlak,  sebagaimana  nabi melakukannya, adalah melalui ketauladanan, ilmu dan kearifan, serta sifat kasih sayang terhadap semua secara merata.   Membangun masyarakat dengan cara membagi-bagi, memperebutkan, menghukum, saling mencurigai antar sesama, apalagi tidak diikuti oleh saling memahami dan memaafkan, maka tidak akan menghasilkan apa-apa. Jika hal itu yang dilakukan, maka akan lahir saling membenci, mencari benarnya sendiri, dan konflik yang tidak berkesudahan. Cara-cara itu,  selain tidak akan membawa hasil, ternyata biaya konflik itu juga mahal dan, masih ada kerugian lagi lainnya, yaitu dipandang belum menyandang akhlak yang mulia.   Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *