Friday, 17 April 2026
above article banner area

Bebek, Telor, dan SDM

Pagi ini saya benar-benar mengalami kelelahan. Setelah datang dari Jeddah selama beberapa hari, tanpa istirahat, hari berikutnya sudah harus pergi ke Jakarta untuk suatu acara diskusi yang diselenggarakan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Majlis Pendidikan Dasar dan Menengah. Sekalipun badan terasa sangat capek, saya merasa harus hadir, memenuhi undangan Prof.Dr.Yahya A Muhaimin, sebagai ketuanya. Sepulang dari Jakarta, saya langsung berangkat ke Pondok Pesantren Asy-Syalafiyah as- Syafi’iyah Asem Bagus, Situbondo. Dengan kendaraan darat, didampingi beberapa teman, saya ke pesantren itu. Sama dengan undangan dari Prof.Yahya A Muhaimin, saya harus hadir atas undangan Pengasuh Pesantren yang sangat terkenal, KH.Fawaid Syamsul Arifin. Sepulang dari Asem Bagus, sudah sekitar jam 10 malam, selanjutnya bakda subuh harus berangkat ke Universitas Muhammadiyah Surakarta, menghadiri undangan diskusi tentang pengembangan pendidikan. Sudah menjadi kebiasaan, mungkin karena saya sedemikian menyenangi dunia pendidikan, dalam keadaan seperti apapun, saya hadir jika ada undangan. Inilah kemudian yang menjadikan saya justru sehat. Rasa capek yang keterlaluan itu menjadikan kebiasaan saya di pagi hari, yakni menulis artikel tertunda. Setelah pulang dari masjid sholat subuh, terpaksa harus istirahat dulu, mengumpulkan tenaga agar siangnya badan agak segar, karena sore harinya masih harus pergi ke Jakarta. Di tengah istirahat itu, saya teringat fenomena kecil tetapi sangat menarik, yaitu bagaimana penggembala bebek memandang jenis kekayaannya yang sebenarnya. Pengembala bebek, biasanya sedemikian sayang pada binatang piaraannya itu. Jika sedikit saja mereka keliru dalam memberikan perlakuan pada bebeknya, maka jumlah telor yang didapat pada hari berikutnya akan berkurang. Oleh karena itu, penggembala bebek selalu tampak lebih mencintai piaraannya itu daripada terhadap dirinya sendiri. Penghasilan pengembala bebek secara riil adalah berupa sejumlah telor yang didapat setiap hari. Semakin banyak telor yang didapat, mereka semakin bahagia. Tetapi, pengembala bebek sadar betul bahwa kekayaan mereka itu bukan telornya itu, melainkan adalah bebeknya. Oleh karena itu, orang tatkala bertanya kepada pengembala bebek, bukan menanyakan jumlah telor yang didapat setiap hari, melainkan jumlah bebek yang dimiliki. Katakanlah misalnya, seorang pengembala bebek setelah diketahui memiliki 100 ekor, lalu berikutnya akan dittany, berapa jumlah telor yang didapat pada setiap hari. Penanya tidak terbalik, menanyai jumlah telornya baru kemudian jumlah bebeknya. Urut-urutan pertanyaan seperti ini menggambarkan bahwa kekayaan sesungguhnya bukan telor, belainkan bebeknya itu. Gambaran ini membawa imajinasi saya pada keadaan bangsa atau juga organisasi social apapun, tidak terkecuali organisasi social keagamaan. Keadaan negeri seperti ini, sekalipun kaya sumber daya alam, tetapi secara ekonomi masih kalah dengan negara maju lainnya. Hal itu disebabkan oleh lemahnya SDM yang dimiliki. Begitu juga banyak organisasi social, tidak mengalami kemajuan, disebabkan oleh SDM nya yang terbatas, baik kuantitas maupun kualitasnya. Saya lalu berpikir, penggembala bebek saja, memahami apa sesungguhnya kekayaan nyata yang harus dipelihara, bukan telornya, melainkan bebeknya. Mestinya, organisasi besar maupun kecil, agar mengalami kemajuan, maka SDM nya yang harus dipelihara dan ditingkatkan kualitasnya, bukan hanya hasil-hasil karya SDM itu. Seringkali kita lebih menempatkan harta atau kekayaan di atas nilai SDM nya. Kita mau membela harta sekalipun harus mengorbankan SDM. Padahal semestinya kita tidak boleh kalah dengan cara berpikir penggembala bebek. Mereka merawat bebeknya di atas segala-galanya, termasuk sebatas telornya. Islam ternyata juga memerintahkan agar factor manusia lebih dimuliakan daripada lainnya. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *