Saturday, 9 May 2026
above article banner area

Berinvestasi Kebaikan

Di zaman demokrasi seperti sekarang ini, terasa benar bahwa hidup ini adalah investasi. Semua orang menginginkan agar bisa menjalani hidup untuk meraih yang terbaik. Ukuran kebaikan adalah sejauh mana berhasil memberi manfaat sebanyak-banyaknya bagi orang lain. Kiranya tidak ada seorangpun yang menginginkan orang lain menjadi susah, menderita, atau setidak-tidaknya terganggu olehnya. Atas dasar pandangan ini, wajar jika seseorang memiliki keinginan agar bisa berbuat baik di tengah-tengah masyarakatnya meraih posisi-posisi strategis. Pada zaman terbuka dan demokratis seperti sekarang ini, untuk meraih posisi strategis itu selalu melalui proses pemilihan banyak orang. Seseorang akan dipilih untuk menempati posisi itu jika telah dikenal memiliki integritas, kualitas akademik, dan kerja lebih unggul. Sekalipun akhir-akhir ini, sementara orang memilih calon pemimpin atas dasar imbalan, misalnya berupa uang, tetapi pertimbangan yang lebih mendalam, seperti misalnya telah dikenal baik, memiliki hubungan luas, perilaku yang terpuji, dan tidak selalu menyusahkan akan tetap dijadikan pertimbangan. Apalagi, jika pemilihan calon pemimpin atau posisi strategis itu tidak memungkinkan melalui cara-cara yang tidak terpuji, seperti lewat pemberian sesuatu itu. Dalam suasana terbuka seperti ini, orang akan mengenal seseorang tentang integritasnya, kualitas pikirannya, cara kerjanya, dan bagaimana selama ini orang tersebut memiliki solidaritas dan watak, serta berperilaku yang baik. Sekali saja seseorang melakukan kesalahan, apakah terkait dengan moral, perangai buruk, dan bahkan juga kurang amanah, maka ia tidak akan terpilih dan bahkan akan dijauhi. Dalam kehidupan sehari-hari di era sekarang, orang akan mencari teman atau sahabat yang bisa diajak bekerjasama untuk menyelesaikan problem-problem kehidupannya. Orang tidak akan mau bergaul dengan sesama teman yang justru mendatangkan persoalan dari pertemanannya itu. Oleh karena itu, kita saksikan dalam kehidupan ini, terdapat orang yang sedemikian banyak dan luas hubungannya, tetapi juga sebaliknya. Selain itu bisa dirasakan, ada hubungan-hubungan antar teman yang sebenarnya, tetapi juga ada yang hanya sebatas formalitas, basa-basi, kepura-puraan sekedar untuk menjaga penampilan di permukaan. Padahal sesungguhnya, antar sesamanya ternyata menyimpan rasa kebencian yang mendalam. Hubungan seperti ini, tidak akan saling menguntungkan, dan tidak akan memilihnya sebagai pimpinan, jika suatu saat dilakukan pemilihan kepemimpinan. Penilaian terhadap seseorang tidak terjadi secara spontan. Penilaian itu berdasar pengalaman dan pengamatan dalam kurun waktu panjang. Biasanya, sebelum memilih seseorang sebagai calon pemimpin akan menginventarisasi kebaikan-kebaikan yang telah ditunjukkan, dan juga sebaliknya kelemahan-kelemahan yang telah dilakukannya. Itulah sebabnya, saya katakan bahwa hidup ini adalah investasi. Dan investasi itu tentu tidak boleh yang berkadar negative, dan sebaliknya harus positif. Sebetulnya hal terkait dengan investasi kebaikan telah ditunjukkan oleh Allah melalui kitab suci al Qur’an dengan kalimat yang jelas, yang intinya yaitu : …… berbuat baiklah, maka Allah, rasul, dan kaum muslimin semuanya akan melihat terhadap kebaikan itu. Oleh karena itu, sekali lagi, saya merasakan bahwa hidup ini adalah berinvestasi, dan seharusnya investasi itu yang bernilai positif, dan bukan sebaliknya, yang negative. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *