Thursday, 30 April 2026
above article banner area

Bertamu Ke Bulan Ramadhan

Selama ini banyak orang mengatakan bahwa kita sedang mempunyai tamu besar dan mulia, yaitu bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan dikatan datang dan kita harus menyambut sebaik-baiknya. Bahkan juga banyak spanduk di mana-mana bertuliskan : “Marhaban Ya Ramadhan”. Semua sepakat tentang istilah itu, kita menyambut bulan Ramadhan dengan penuh kegembiraan dan kebahagiaan. Hanya barang kali, pertanyaan kecil dan sederhana yang perlu dijawab, yaitu apa benar istilah Ramadhan sebagai tamu itu. Sudah benarkah, ramadhan kita posisikan sebatas sebagai tamu. Apa tidak perlu kita pertanyakan, Bulan Ramadhankah yang sebenarnya menjadi tamu, atau sesungguhnya justru kita sebagai kaum muslimin dan bahkan juga manusia semuanya yang seharusnya berposisi sebagai tamu Bulan Ramadhan itu. Siapa menjadi tamu siapa rasanya penting didiskusikan. Sebab biasanya perbedaan posisi juga berpengaruh pada perilaku seseorang. Tatkala, saya misalnya sedang menjadi tamu, maka saya harus menyesuaikan dengan pemilik rumah. Tamu, biasanya disebut kal mayyit, atau bagaikan mayit, artinya diperlakukan apa saja oleh pemilik rumah harus mengikutinya. Kalau tidak mau mentaati pemilik rumah, maka tidak perlu datang ke rumah dimaksud. Menghadapi persoalan sederhana ini, kiranya perlu diperjelas, siapa sesungguhnya yang pantas disebut sebagai pemilik rumah itu. Seseorang disebut sebagai pemilik, manakala orang tersebut memiliki hak penuh terhadap yang dimilikinya. Sebagai contoh, seseorang disebut sebagai pemilik rumah, jika ia berhak atas rumah itu, dan dia berhak menempati sampai kapan pun. Berbeda dengan posisi sebagai tamu, maka ia akan tinggal di rumah itu sebentar atau seperlunya. Sekalipun tamu tersebut pergi atau meninggalkan rumah, maka pemiliknya masih bertempat tinggal di rumah itu. Karena itu pemilik rumah bisa jauh lebih lama menempatinya daripada sebatas tamu. Persoalan sederhana ini menjadi agak berkembang, tatkala berbicara tentang siapa yang berwenang dan memiliki hak mengatur. Seorang tamu, tentu tidak memiliki hak atau wewenang mengatur. Seperti disebut di muka bahwa tamu hanya berhak memakai fasilitas yang diijinkan oleh pemiliknya. Selain itu pada umumnya sebagai tamu, ia harus menjaga etika, ketentuan, atau aturan-aturan yang diberlakukan oleh pemilik rumah. Selanjutnya tamu yang baik, maka harus mengikuti apa saja yang dikehendaki atau digariskan oleh pemilik rumah. Sebagai tamu yang baik, ia harus mengikuti apa saja yang dikehendaki oleh pemilik rumah. Sampai di sini, pembicaraan tentang siapa bertamu kepada siapa, rasanya menjadi penting diluruskan. Yaitu , apakah bulan Ramadhan berstatus menjadi tamu, atau justru sebaliknya, kita umat manusia yang menjadi tamu Bulan Ramadhan. Melihat dari waktu yang dilalui, maka Bulan Ramadhan jauh lebih lama dibandingkan dengan usia manusia. Bulan Ramadhan masih akan tetap ada hingga sampai bumi ini berhenti berputar, atau kiamat. Sudah sekian lama, Bulan Ramadhan ada dan selanjutnya sampai kapan pun bulan Ramadhan masih akan ada, ratusan dan bahkan ribuan tahun yang akan datang. Sedangkan usia manusia terbatas, hanya beberapa puluh tahun saja. Manusia hidup dari masa ke masa, silih berganti, dan tidak terlalu lama itu. Manusia hanya bertahan hidup rata-rata antara 60 hingga 80 tahun saja. Setelah itu meninggal, sedangkan Bulan Ramadhan akan tetap ada. Berangkat dari cara berpikir ini, maka sesungguhnya akan lebih tepat jika manusia, termasuk kaum muslimin, disebut berposisi sebagai tamu Bulan Ramadhan dan bukan sebaliknya. Hidup manusia bagaikan musyafir, menjalani hidup secara silih berganti, meninggalkan bulan satu, lalu memasuki bulan berikutnya. Setelah keluar dari Bulan Sya’ban misalnya, kemudian meneruskan perjalanan hidup memasuki bulan berikutnya, yaitu bulan Ramadhan. Ternyata masing-masing bulan, memiliki derajat kemuliaan masing-masing. Bulan Ramadhan dipandang sebagai bulan yang mulia. Al Qur’an turun pertama kali pada Bulan Ramadhan. Di antara malam bulan Ramadhan terdapat satu malam istimewa, disebut sebagai malam lailatul qodar, yakni satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapapun yang melewati atau bertamu ke Bulan Ramadhan, dengan keistimewaannya itu, oleh Allah diwajibkan mengikuti aturan dan atau ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan, baik yang bersifat wajib atau pun sebatas anjuran. Misalnya, sebagai kaum yang beriman, maka diwajibkan menjalankan ibadah puasa. Selain itu, dianjurkan untuk memperbanyak membaca al Qur’an, bertasbih, bertahmid, tahlil, takbir, istigfar, berinfaq dan shodaqoh, menyantuni orang miskin dan anak yatim, dan amalan ibadah lainnya. Sebagai tamu yang baik, maka siapapun berkeinginan mengikuti ketentuan yang diberlakukan oleh tuan rumah. Sebagai tamu, maka tidak selayaknya mengatur pemilik rumah, yakni Bulan Ramadhan. Sebagai tamu, maka justru harus selalu menyesuaikan dengan ketentuan yang telah diberlakukannya. Akhirnya, pada saat ini semua kaum muslimin yang beriman, di manapun sedang menjadi tamu bulan mulia dan agung, yaitu Bulan Ramadhan. Mereka bergembira sedang menjadi tamu bulan yang mulia. Sebagai wujud kegembiraan itu, dan sekaligus bersyukur, sebagai tamu yang baik, maka harus menjaga semua ketentuan yang diberlakukan oleh pemiliknya. Jika lulus dalam musyafir melewati bulan mulia ini, atau lulus dalam bertamu ke Bulan Ramdhan, maka sebagaimana janji Allah dalam al Qur’an, akan dimuliakan dan akan disebut sebagai orang yang bertaqwa. Semoga derajat mulia itu benar-benar berhasil kita raih bersama. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *