Forum masyarakat dunia, PBB, tanggal 21 September 2011 menyelenggarakan sidang tahunan untuk membahas isu-isu internasional yang terjadi di semua belahan dunia selama satu tahun terakhir, tak terkecuali isu tentang Palestina. Sebagai sebuah bangsa, melalui Presidennya, Mahmoud Abbas, Palestina memanfaatkan Sidang tahunan kali ini untuk meminta pengakuan kepada PBB sebagai anggota badan dunia itu. Jika diterima, berarti Palestina berstatus sebagai negara baru setelah Sudan Selatan yang merdeka, lepas dari Sudan Utara beberapa bulan lalu. Pengakuan PBB atas Palestina tentu impian bagi semua rakyat Palestina yang sejak 1967 hidup dalam penderitaan karena cengkeraman Israel. Sebagaimana diduga sebelumnya, langkah Mahmoud Abbas dipastikan kandas di tengah jalan. Pasalnya, Amerika Serikat, sebagai sekutu utama Israel, sejak semula sudah menolak rencana tersebut. Bahkan, Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, mengancam jika Palestina tetap ngotot dengan langkahnya untuk memperoleh pengakuan PBB, Amerika akan menggunakan hak istimewanya untuk memveto rencana Palestina tersebut. Lebih dari itu, Amerika juga akan menghentikan bantuan keuangan yang selama ini diterima Palestina untuk menjalankan kehidupan sehari-hari. Tentu saja dengan penghentian bantuan keuangan, Palestina akan sangat menderita, karena selama ini rakyat Palestina hidup dari dana bantuan para donatur. Menurut Amerika Serikat, Palestina hanya akan bisa merdeka jika lewat perundingan damai dengan Israel, tidak lewat forum PBB seperti yang diajukan Abbas. Karena itu, satu-satunya jalan bagi Palestina untuk merdeka adalah dengan melanjutkan perundingan damai dengan Israel yang selama ini sudah diprakarsai oleh kuartet negosiator yang mana Amerika Serikat sebagai salah satu anggotanya. Di mata Palestina, berbagai bentuk perundingan damai dengan Israel selama ini tidak membuahkan hasil sama sekali. Berbagai prakarsa damai dengan Israel ibaratnya hanya mengolor-olor waktu hingga Palestina kehabisan energi atau bosan untuk melanjutkan perjuangan melawan Israel. Bahkan, semua kesepakatan dengan Palestina juga diingkari oleh Israel. Di tengah-tengah perundingan damai, Israel juga tetap membangun pemukiman baru di wilayah Palestina. Palestina meminta Israel menghentikan pembangunan pemukinan sebagai syarat perundingan. Seperti biasanya, Israel menolak seruan Palestina, dan sebaliknya malah menuduh Palestina tidak mau melakukan perundingan damai. Rakyat Palestina sendiri juga tidak kompak dalam menghadapi Israel. Padahal, belajar dari bangsa-bangsa lain, perjuangan melawan penjajahan hanya bisa dilakukan dengan kekuatan rakyat yang kompak. Kenyataannya, bangsa Palestina terpecah antara faksi Hamas yang berhaluan keras dan Fatah, yang moderat. Di mata Israel, Hamas sangat membahayakan dan dianggap sebagai salah satu organisasi teroris. Karena itu, Israel tidak mau bertemu dengan perwakilan Hamas di setiap perundingan. Sebaliknya, di mata rakyat Palestina, Fatah dianggap lemah menghadapi Israel karena selalu menuruti permintaan Israel. Sebagian besar rakyat Palestina lebih memihak Hamas dalam perjuangan menghadapi Israel. Karena itu, upaya Mahmoud Abbas mengajukan Palestina sebagai anggota PBB ditanggapi dingin saja oleh sebagian besar rakyatnya. Para pemimpin Hamas malah berharap pengajuan Mahmoud Abbas kandas, sehingga satu-satunya cara melawan Israel adalah lewat kekuatan senjata bisa terus dilakukan. Pertanyaannya adalah mengapa Mahmoud Abbas begitu ngotot mengajukan usulan ke PBB agar diterima sebagai anggota kendati diancam oleh Amerika Serikat dengan diveto dan bantuan keuangan yang selama ini diterima akan dihentikan? Israel sendiri juga mengancam akan menahan uang hasil pajak Palestina jika tetap ngotot mengajukan diri sebagai anggota PBB. Padahal, bantuan keuangan dari Amerika Serikat dan pajak yang diterima dari Israel merupakan sumber utama kehidupan rakyat Palestina. Setidaknya ada tiga alasan sebagai berikut: 1. Berbagai upaya damai dengan Israel selama bertahun-tahun tidak membuahkan hasil, sehingga Palestina sejatinya sudah frustasi dengan upaya-upaya damai tersebut. Sebab, sejak Mahmoud Abbas tampil menggantikan mendiang Yasser Arafat memimpin perjuangan rakyat Palestina, keinginan Palestina untuk merdeka dan hidup bertetangga sebagai negara merdeka dengan Israel masih jauh dari kenyataan. Padahal, Palestina selalu ngalah dengan kemauan Israel. 2. Presiden Mahmoud Abbas ingin menunjukkan kepada masyarakat dunia bahwa perjuangan rakyat Palestina untuk merdeka masih ada, tetap berlangsung dan tidak surut. Sebab, diakui atau tidak, sepeninggal Yasser Arafat, rakyat Palestina merasa kehilangan tokoh yang selama ini menjadi figur perjuangan melawan zionis Israel. Karisma dan kepemimpinan Mahmoud Abbas dianggap jauh di bawah Yasser Arafat. 3. Mahmoud Abbas ingin menguji apakah PBB masih bisa dipercaya sebagai lembaga internasional yang mengayomi semua bangsa di dunia. Karena itu, upaya Mahmoud Abbas sebenarnya sekadar perjuangan secara simbolik. Sebenarnya Mahmoud Abbas sudah tahu bahwa perjuangannya tidak akan membuahkan hasil. 4. Kalaupun gagal di forum Sidang Umum PBB, Mahmoud Abbas telah membuat sejarah dengan proposalnya untuk mengajukan Palestina sebagai anggota PBB. Bagi kita – yang orang awam – membaca dan mengikuti sejarah perjuangan rakyat Palestina sungguh melelahkan. Perlawanan rakyat Palestina melawan Israel jauh dari seimbang dan sudah berlangsung sejak bangsa zionis itu mencaplok wilayah Palestina pada 1967. Israel memiliki kekuatan militer sangat taggguh – bahkan konon – salah satu yang paling tangguh di kawasan Timur Tengah, lengkap dengan senjata modernnya. Sementara Palestina hanya bermodalkan semangat dan batu kerikil untuk menghadapi Israel lewat gerakan yang disebut intifada. Karena tidak seimbang, tak terhitung rakyat Palestina, tua-muda, laki-perempuan, menjadi korban keganasan tentara zionis dan tidak mengenal belas kasihan. Menghadapi Palestina yang sudah lemah tak berdaya, Isarel bukan malah kasihan, tetapi sebaliknya justru membabi buta, hingga korban meninggal sampai hari ini tak terhitung jumlahnya. Anehnya, jika ada satu saja warga Israel yang meninggal karena dibunuh oleh para pejuang Palestina, Isarel menggempur habis dengan memakan korban berlipat-lipat ganda jumlahnya sebagai kompensasinya. Yang mengherankan lagi adalah masyarakat internasional tampaknya sudah menjadikan derita rakyat Palestina sebagai pemandangan biasa, sehingga setiap kali ada korban jatuh reaksinya juga dingin-dingin saja. Malah sebagai sekutu utama, Amerika Serikat selalu memihak Israel setiap konflik Palestina-Israel meletus dengan mengatakan Isarel sebagai bangsa berdaulat berhak membela diri dan sebaliknya meminta Palestina untuk menghentikan aksi-aksi terorisnya. Amerika sangat berkepentingan dengan Israel sebagai basis kekuatan militer di Timur Tengah. Sebaliknya, dengan Palestina tidak ada kepentingan sama sekali. Karena itu, Amerika pasti pasang badan untuk membela kepentingan Israel di mana saja. Jika selama ini para presiden Amerika Serikat, termasuk Obama, menyatakan keinginannya agar Israel dan Palestina bisa hidup bertetangga sebagai sama-sama negara merdeka sejatinya tidak lebih dari lip surface diplomasi politik internasional saja. Obama pasti tidak bodoh memberikan peluang kepada Palestina untuk memerdekakan diri di tengah-tengah upaya untuk bisa melanjutkan kepemimpinannya tahun 2012. Untuk bisa menang pada pemilu 2012, Obama tentu memerlukan dukungan masyarakat Yahudi Amerika, yang walaupun jumlahnya tidak besar memiliki kekuatan lobi yang luar biasa. Sekadar diketahui, tidak ada kebijakan politik Amerika yang luput dari lobi Yahudi. Pun tidak ada calon presiden Amerika yang bisa menang tanpa dukungan Yahudi. Dengan demikian, betapa lemahnya posisi diplomasi Palestina. Karena itu, walau didukung oleh sebanyak 120 negara anggota PBB, upaya Palestina tetap kandas. Suara 120 negara yang mendukung penuh kemerdekaan Palestina sama sekali tidak punya makna dibanding dengan kekuatan lobi Amerika yang menghalangi upaya Abbas. Belum lagi hak veto yang dimiliki oleh Amerika Serikat. Kita tidak tahu kapan konflik Palestina-Israel akan berakhir. Di runut dari perspektif sejarah, konflik Palestina-Israel merupakan salah satu konflik paling pelik di dunia, karena tidak saja menyangkut masalah martabat sebuah bangsa Palestina yang merasa terhina oleh Israel sebagai penjajah dan juga pencaplokan wilayah yang sudah berabad-abad lamanya dihuni oleh bangsa Palestina dan para leluhurnya, tetapi juga ada aspek agama yang sangat sulit diselesaikan. Bagi Palestina, Israel adalah penajajah yang kejam yang dengan seenaknya menganeksasi tanah kelahiran mereka yang diawali dengan gelombang eksodus imigram Yahudi masuk ke Palestina dari Eropa pada 1882-1903 dan dukungan Menlu Inggris untuk mendirikan negara Israel lewat Deklarasi Balfour pada November 1917. Pada Mei 1948, imigran Yahudi mendeklarasikan berdirinya negara Israel. Karena itu, bagi Palestina sampai kapan pun Israel harus dilawan hingga hengkang dari tanah Palestina. Sebaliknya, bagi Israel, Palestina adalah wilayah yang dijanjikan menurut kitab suci bangsa Yahudi. Justru Palestina yang dianggap telah merebut tanah leluhur bangsa Yahudi itu. Karena itu, jika hingga sekarang rakyat Palestina bisa tinggal di wilayah yang sekarang mereka tempati itu semata karena kebaikan hati Israel. Di mata Israel, orang Palestina telah menempati tanah yang sesungguhnya bukan untuk mereka, sebagaimana dijanjikan Tuhan menurut kitab suci orang Yahudi. Perlu diketahui, di mata Israel dan para sekutunya, konsep negara Palestina itu sama sekali tidak ada. Karena itu, sampai kapan pun sebenarnya Israel tidak akan pernah bersedia menerima kehadiran Palestina sebagai sebuah negara merdeka dan hidup berdampingan bersamanya. Di mata masyarakat internasional, konflik Isarel-Palestina diselesaikan lewat pendekatan dengan cara keduanya hidup sebagai bangsa yang berdampingan. Palestina yang sudah merasa sangat lemah dan tidak mungkin bisa menang melawan Israel dengan kekuatan militer sanggup hidup berdampingan dengan Israel. Para pejabat Palestina mau diajak bertemu dan duduk bersama dengan pejabat Israel untuk merundingkan perdamaian. Tetapi sekali lagi, berbagai bentuk pertemuan untuk melahirkan perdamaian berakhir dengan hampa. Semuanya seremonial belaka. Sejatinya, Palestina dibuat mainan saja oleh Israel. Mungkin hingga Mahmoud Abbas meninggal, perjuangan rakyat Palestina belum membuahkan hasil, sebagaimana mendiang Yasser Arafat. Tetapi, saya yakin perjuangan rakyat Palestina melawan Israel tidak akan pernah berhenti, apapun hasilnya. Begitu juga, Mahmoud Abbas bisa berakhir, tetapi perjuangan Palestina tampaknya akan tetap terus menyala. Jika demikian, maka kawasan Timur Tengah tampaknya akan tetap menjadi kawasan yang membara sepanjang hak hidup rakyat Palestina tidak diperoleh. Sungguh aneh di tengah kemajuan peradaban dunia saat ini yang mestinya semua masyarakat dunia bisa menikmati kesejahteraan hidup akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kita masih menyaksikan dengan jelas sebuah penderitaan yang sekian lama dialami oleh bangsa Palestina. Saya lalu bertanya kepada Tuhan di mana keadilan-Mu ya Tuhan? Mengapa Engkau biarkan sesama bani Adam itu terus bertikai tanpa diketahui kapan akan berakhir? Bukankah nyawa yang hilang sia-sia di kedua belah pihak sudah tak terhitung jumlahnya? Apa sebenarnya yang Engkau maui di balik penderitaan bangsa Palestina yang berjuang melawan Israel hanya dengan bermodalkan semangat dan alat perjuangan apa adanya? Bukankah do’a untuk bangsa yang bertikai itu telah dikumandangkan oleh berjuta-juta umat beragama di dunia ini agar pertikaian segera berakhir? Saya yakin Allah Maha Mendengar. Tetapi jawaban atas doa itu memang hak prerogratif-Nya. Memperhatikan perjuangan Mahmoud Abbas di Forum PBB yang begitu berat, tampaknya bisa disimpulkan bahwa penderitaan rakyat Palestina itu masih akan berlangsung lama dan kita tidak tahu kapan akan berakhir. Kalau begitu, bagi rakyat Palestina perjuangan adalah bentuk kehidupan itu sendiri. Hidup adalah perjuangan dan perjuangan berarti hidup!. ___________ Malang, 20 September 2011
Penulis : Prof DR. H. Mudjia Rahardjo
Pembantu Rektor I Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
