Haiáh Tahfidz al-Qurán adalah nama lembaga baru di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Lembaga ini mewadahi para mahasiswa, dosen, dan karyawan yang memiliki kesibukan tambahan khusus yaitu menghafal al-Qurán. Selama ini ternyata peminat penghafal al-Qurán di kampus UIN Maliki semakin lama semakin banyak jumlahnya. Atas dasar kenyataan itu, maka perlu dibentuk lembaga yang khusus memberikan pelayanan dan juga pengembangannya. Sementara orang mengangggap bahwa para mahasiswa yang menghafal al-Qurán prestasi akademiknya tidak akan unggul, karena waktu dan energinya terkuras untuk kegiatan menghafal kitab suci itu. Anggapan ini ternyata sama sekali tidak benar. Beberapa mahasiswa yang meraih prestasi unggul di UIN Maliki Malang ternyata justru dari mereka yang menghafal al-Qurán. Sejak diresmikan menjadi universitas, dari sebelumnya berupa sekolah tinggi, yaitu pada tahun 2004, UIN Maulana Malik Ibrahim yang kemudian disingkat UIN Maliki Malang sudah tiga kali menyelenggarakan wisuda sarjana. Setiap kali wisuda sarjana yang diikuti sekitar 600 an orang, ternyata yang meraih Indek Prestasi tertinggi adalah wisudawan penghafal al Qurán. Para penghafal al-Qurán tersebut tidak selalu mahasiswa yang berasal dari program studi agama, semisal Fakultas Tarbiyah atau Fakultas Syariáh, melainkan juga berasal dari Fakultas Sains dan teknologi, Psikologi, Humaniora dan lainnya. Memang struktur kurikulum yang dikembangkan oleh UIN Maliki Malang tidak memisahkan antara mereka yang hanya khusus mengkaji al Qurán dan hadits dengan mereka yang mengkaji sains. Semua mahasiswa dari jurusan apapun diwajibkan belajar Bahasa Arab, selain Bahasa Inggris, dan demikian pula mendalami al-Qurán Terkait dengan kegiatan menghafal al Qurán ini, dalam skala yang jumlahnya banyak, saya pernah melihat di Teheran. Yang saya anggap menarik di sana ialah bahwa para penghafal al Qurán di negeri itu, kebanyakan memulainya sejak usia diri. Mulai umur empat tahun, anak-anak sudah diperkenalkan dengan hafalan al Qurán. Sehingga wajar jika pada usia 8 atau 9 tahun, mereka sudah hafal al-Qurán. Selanjutnya, pada usia remaja, para penghafal al-Qurán ini belajar sains dan teknoplogi seperti fisika, kimia, matematika, biologi maupun bidang-bidang ilmu lainnya. Di Indonesia, sebenarnya tradisi menghafal al Qurán juga telah banyak dilakukan. Hanya saja, kegiatan itu tidak terpublikasikan secara luas, sehingga tidak dikenal banyak orang. Kegiatan itu biasanya dilakukan di pondok pesantren yang dibimbing oleh para kyai. Saya sendiri, baru beberapa tahun terakhir ini tahu, bahwa di Malang Selatan, terdapat pesantren yang khusus mengajar anak-anak sejak usia dini menghafal kitab suci al Qurán. Dengan kegiatan itu berhasil menjadikan anak-anak usia Sekolah Dasar (SD) sudah hafal al Qurán 30 juz. Hal ini sama yang terjadi dan saya lihat sendiri di Iran, sebagaimana yang saya sebutkan di muka. Kegiatan menghafal al-Qurán juga tumbuh di lingkungan UIN Maliki Malang. Kegiatan itu pada awalnya tidak terorganisasi secara resmi. Semula atas bimbingan beberapa dosen yang kebetulan hafal al-Qurán 30 juz, para mahasiswa atas kesadaran mereka sendiri menghafal kitab suci ini di kampus. Kegiatan itulah kemudian pada saat ini diberi wadah dalam organisasi resmi, artinya masuk dalam struktur universitas, bernama Haiáh Tahfidz al-Qurán. Lembaga yang baru dibentuk secara resmi ini diharapkan berhasil mendorong lebih banyak lagi para mahasiswa, dosen, dan karyawan UIN Maliki Malang untuk mengkaji dan menghafal al- Qurán. Sehingga ke depan, UIN Maliki Malang diharapkan menjadi bagian dari gerakan upaya membudayakan atau membumikan al Qurán di kampus dan juga tengah-tengah masyarakat luas. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
