Friday, 8 May 2026
above article banner area

Kedamaian Dalam Islam

Seorang teman datang bersilaturrahmi ke kantor. Maunya, lewat tilpun yang disampaikan sebelumnya, ia akan datang ke rumah. Tetapi saya katakan bahwa lebih baik ke kantor saja, agar lebih longgar atau leluasa. Sekalipun urusan pribadi, tidak apa ke kantor, sebab memang hari itu jadwal kegiatan saya tidak terlalu padat. Ternyata memang betul, pada jam yang dijanjikan ia datang. Teman ini, saya kenal sudah cukup lama. Menurut informasi yang saya dapatkan, ia sesungguhnya tidak memiliki latar belakang pendidikan agama yang cukup banyak, tetapi semangat keberagamaannya cukup mendalam. Ia memiliki imajinasi tentang keindahan Islam yang luar biasa. Tetapi lagi-lagi, setiap ketemu ia selalu mengungkap betapa terdapat jarak yang sedemikian jauh, antara idealitas Islam dengan kenyataan dalam kehidupan sehari-hari. Ia membayangkan bahwa jika kaum muslimin benar-benar menjadikan Islam sebagai pedoman hidupnya, maka di kalangan kaum muslimin akan terjadi kedamaian dan juga sejahtera. Ia mengatakan akan terjadi apa yang disebut dengan baldatun thoyyibatun warobbun ghofur.

Kedatangannya menemui saya ke kampus itu, ternyata hanya ingin ngajak saya berbicara tentang itu. Ia menanyakan apa sesungguhnya yang salah, dari umat Islam selama ini hingga kehidupan yang semestinya sedemikian indah dan damai, tetapi ternyata tidak bisa tercipta, sekalipun mayoritas beragama Islam. Atas pertanyaan itu, saya tidak ingin membawanya dalam diskusi yang berat-berat, tetapi saya mengajak melihat pada hal yang terknis, kecil dan sederhana. Saya mengatakan bahwa Islam itu sesungguhnya memang sederhana, yakni kedamaian. Islam mengajarkan hidup bersama, yang disebut dengan berjama’ah. Sholat berjama’ah misalnya, lebih diutamakan dari pada sholat sendirian. Tetapi ternyata, kaum muslimin lebih suka sholat sendiri-sendiri di rumah. Dalam diskusi kecil itu, ia mengajak bicara tentang apa kiranya yang perlu disempurnakan untuk meningkatkan kualitas kehidupan ini, terkait dengan Islam. Saya mengatakan pendidikan. Kuncinya adalah pendidikan. Lantas ia juga menanyakan, pendidikan seperti apa. Saya menjawabnya dengan sederhana, yakni pendidikan Islam, dimulai mempelajari kitab suci al Qur’an dan tauladan kehidupan Rasulullah. Ketika saya ajak berbicara tentang pendidikan Islam itu, rupanya ia teringat pada pelajaran agama Islam di sekolah dulu. Menyebut pelajaran agama, ia kemudian teringat pelajaran fiqh, tauhid, akhlak, bahasa Arab dan tarekh. Pelajaran itu, katanya lebih banyak memberikan beban. Belajar fiqh kemudian yang ditangkap sebagai belajar tentang rambu-rambu, mana yang dibolehkan dan mana yang dilarang, mana yang harus dan mana yang boleh dipilih. Akibatnya, ketika itu, yang ia ingat kurang tertarik, termasuk juga tidak tertarik kepada gurunya. Diskusi sederhana itu, karena waktunya juga terbatas, agar nanti ketika pulang terasa ada sesuatu yang berkesan, maka saya ajak memperbincangkan al Qur’an. Saya mulai dengan mengungkapkan atas kekaguman saya terhadap ayat yang paling banyak diulang-ulang, yaitu bismillahirrahmanirrakhir. Saya menyebutkan bahwa ayat itu, di dalam surat al fatekhah yang hanya berjumlah 7 ayat, dua di antaranya berisi terntang sifat Allah yang mulia itu, yakni Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Selain itu, setiap surat dalam al Qur’an yang berjumlah 114 buah itu, hanya satu surat saja yang tidak dimulai dengan ayat basmallah itu. Berangkat dari data itu, lalu ia saya ajak berdiskusi lebih lanjut. Saya ajak ia membayangkan, bahwa jika pengulang-ulangan terhadap ayat itu kita pandang sebagai sesuatu yang istimewa dan penting, maka bukankah Islam sesungguhnya adalah memandang betapa pentingnya kasih sayang itu seharusnya mewarnai seluruh kehidupan kaum muslimin sehari-hari. Teman saya yang di masa kecilnya kurang mendapatkan pelajaran agama secara cukup tersebut, tampak setuju. Ia juga menyimpulkan bahwa Islam memang agama kasih sayang dan juga agama kedamaian. Lantas, ia menanyakan dari mana kita memulai agar bisa mewujudkan kehidupan Islam yang damai itu. Saya mengatakan bahwa kuncinya adalah pendidikan dalam pengertian yang luas. Secara sederhana, agar itu bisa segera tampak dan cepat dirasakan, tentu seharusnya dimulai dari diri sendiri. Dari lingkungan keluarga bisa dijalankan. Jika pada tingkat yang lebih luas, maka yang tepat adalah dimulai dari para pemimpinnya. Islam tidak cukup dibicarakan, tetapi harus dijalankan dan ditauladankan. Rasulullah sendiri sebagai pembawa ajaran Islam juga disebut sebagai uswah hasanah atau tauladan yang baik. Oleh karena itu, kita sebagai pengikutnya, juga seharusnya melakukan hal itu. Melalui cara sederhana ini Islam yang damai itu akan tampak dan terasakan. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *