Saturday, 18 April 2026
above article banner area

Kegiatan Menulis Bagi Mahasiswa

Sebagai seorang pimpinan perguruan tinggi yang sedikit banyak suka menulis,  sudah barang tentu, saya sangat senang ketika  menemukan tulisan  mahasiswa. Setiap kali saya temukan tulisan mahasiswa,  baik di koran, majalah,  atau apa saja, saya selalu sempatkan membaca. Bagi saya,  dalam  menulis terjadi  proses berpikir. Sehingga  siapapun yang  sedang menulis,  sebenarnya  adalah seorang yang sedang memikirkan sesuatu. Maka hal itu relevan dengan tugas mereka  sehari-hari, ——sebagai seorang mahasiswa,  harus selalu berlatih berpikir tanpa henti.

  Dalam menulis,  seseorang selalu berusaha agar tulisannya mudah dimengerti dan dipahami oleh orang lain. Maka secara otomatis,  penulis berusaha agar tulisannya  terorganisasikan sedemikian rupa  sehingga  sistematis, logis dan jelas. Tulisan yang tidak sistematis, tidak akan menarik dan tidak akan dibaca orang, karena sulit dipahami. Begitu juga tulisan harus logis, artinya mengikuti logika yang jelas. Tuntutan lainnya,  yaitu selain logis, bahwa statemen yang dikemukakan,   harus dilengkapi data yang diperlukan, agar tulisan itu dipercaya oleh pembacanya.   Dengan demikian menulis adalah proses berpikir secara cermat. Oleh karena itu, sulit  rasanya bagi siapapun bisa menulis dengan baik manakala  yang bersangkutan tidak memiliki bekal kecerdasan yang cukup baik. Aktivitas menulis tidak akan sanggup dilakukan oleh orang yang   daya pikirnya lembek. Orang yang  berhasil menulis dengan baik, sudah barang tentu,  menunjukkan bahwa yang bersangkutan memiliki kekuatan intelektual yang baik. Itulah sebabnya, salah satu tolok ukur untuk mengetahui kecerdasan   seseorang yang baik   adalah  berupa tulisan yang  berhasil dibuatnya.   Dalam sejarah pendidikan  menerangkan  bahwa bangsa Parsi Kuno dahulu,  dikenal menjadi maju ilmu pengetahuannya tatkala berhasil menggerakkan  bangsanya dalam tulis menulis.  Ukuran kecerdasan seseorang di negeri itu dilihat dari kemampuannya dalam menulis atau mengarang.  Sehingga  untuk  menguji para siswanya  dilakukan dengan cara memberikan tugas  untuk  membuat karangan. Dalam  ujian akhir  suatu jenjang pendidikan,  para siwa dimasukkan ke ruang  yang telah disiapkan, kemudian  mereka ditugasi untuk membuat karangan. Waktunya ditentukan sebebas-bebasnya, kadang  bisa berhari-hari. Dengan cara menulis itu,  maka para siswa akan kelihatan siapa yang memiliki nalar atau pikiran kuat atau sebaliknya.   Cara seperti tersebut juga diterapkan dalam menseleksi calon pejabat di negeri itu. Dasar logika yang digunakan adalah  bahwa orang yang tidak pernah menulis maka tidak akan dianggap  sebagai orang pintar, sehingga tidak  layak diberi jabatan untuk mengurus orang banyak. Oleh karena itu, rasanya tepat bahwa salah satu cara menseleksi calon ketua KPK yang baru saja dilakukan beberapa waktu yang lalu, adalah dilihat dari kemampuan menulis.   Sayangnya cara  itu, dengan alasan tertentu, tidak digunakan di sekolah-sekolah, bahkan  bentuk soal ujian selalu hanya  berupa  pilihan ganda, sehingga akibatnya para pesertanya berbuat curang, misalnya  saling bertukar menukar kunci jawaban.    Para mahasiswa yang sudah berlatih untuk  membiasakan diri menulis, maka sebenarnya yang bersangkutan sudah berlatih banyak hal terkait dengan intelektualnya,  sosialnya,  dan bahkan juga emosionalnya.   Saya seringkali mengatakan bahwa, kehebatan seseorang, terutama di bidang ilmu-ilmu sosial, maka sebenarnya  bisa diketahui  dari dua hal, yaitu pertama, bagaimana hasil tulisannya selama itu. Dan kedua,  dari bagaimana cara berbicaranya.  Seseorang yang tidak pernah menulis dan berbicara dengan baik, maka ia tidak bisa diketahui  sejauh mana kemampuan intelektualnya.     Umumnya  mahasiswa yang rajin menulis menunjukkan bahwa ia  adalah seorang  yang  cerdas. Oleh karena itu, untuk mengetahui sejauh mana kekuatan inteletual  seseorang bisa dilihat dari hasil tulisannya.  Bahkan, dari tulisan-tulisan seseorang,  tidak saja kecerdasannya saja yang bisa dilihat, melainkan juga tingkat kesehatannya. Orang yang sehat biasanya berbeda dari orang yang tidak sehat. Tentu,  yang dimaksudikan di sini adalah bukan kesehatan secara fisik, melainkan kesehatan pikiran, jiwa dan ruhaninya.   Seseorang yang hati dan jiwanya tidak sehat, maka pembicaraannya tidak terkontrol, dan demikian pula tulisannya. Tulisan yang bernuansa negative sebenarnya adalah mencerminkan pikiran dan suasana batin bagi penulisnya. Orang yang lagi jengkel, kecewa, dan atau  sakit hati, maka tulisannya akan kacau balau. Oleh karena itu, jika misalnya suatu ketika terdapat  tulisan yang isinya  menyerang, menghujat, fitnah atau merendahkan orang lain,  maka dari sana tergambar bahwa penulisnya sedang tidak sehat.   Menulis tentang sesuatu dari pespektif negative, akan  merugikan bagi dirinya sendiri. Penulisnya akan diketahui  sebagai orang yang sedang sakit, baik pikirannya, perasaan atau jiwanya.  Oleh karena itu, tatkala  menulis pun harus berhati-hati.  Tatkala sedang menulis harus dipikirkan nilai atau pesan positif apa yang akan disampaikan  kepada para pembacanya. Dari  tulisan seseorang tidak saja  diketahui isi tulisannya,  melainkankan juga pribadi penulis yang bersangkutan.     Oleh karena itu secara sederhana dapat dilihat   kaitan antara tulisan  dengan kekuatan intelektual, suasana batin,  atau jiwa bagi penulisnya . Oleh karena itu ketika menulis, semestinya   tidak sembarangan. Tulisan yang dibuat, tentu hendaknya  menjadikan orang lain atau pembacanya tercerahkan, memperoleh inspirasi, pemahaman,  dan  yang tidak kurang pentingnya adalah berhasil menggembirakan para pembacanya. Tulisan yang hanya membikin orang lain susah, jengkel, dan sakit, seharusnya  dihindari.   Namun  menurut hemat saya,  adanya kemauan menulis di kalangan mahasiswa,   harus diberikan apresiasi. Sebab dengan kegiatan itu, mahasiswa sudah  berlatih menggunakan daya nalar dan sekaligus emosinya.  Kegiatan menulis juga berguna bagi  proses pematangan diri, berlatih berkomunikasi dengan orang lain, bertanggung jawab,  terbuka, berani dan memiliki jiwa yang bebas.  Tanpa bekal itu semua, siapapun tidak akan bisa menulis dengan baik. Menulis memerlukan pikiran dan jiwa yang lapang, luas dan keberanian. Itulah sebabnya saya senang dengan mahasiswa yang suka menulis. Melalui tulisan itu, saya dapat  melihat tingkat intelektual, kedewasaan, dan bahkan juga aspek lainnya. Wallahu a’l

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *