Sebagai seorang pimpinan perguruan tinggi yang sedikit banyak suka menulis, sudah barang tentu, saya sangat senang ketika menemukan tulisan mahasiswa. Setiap kali saya temukan tulisan mahasiswa, baik di koran, majalah, atau apa saja, saya selalu sempatkan membaca. Bagi saya, dalam menulis terjadi proses berpikir. Sehingga siapapun yang sedang menulis, sebenarnya adalah seorang yang sedang memikirkan sesuatu. Maka hal itu relevan dengan tugas mereka sehari-hari, ——sebagai seorang mahasiswa, harus selalu berlatih berpikir tanpa henti.
Dalam menulis, seseorang selalu berusaha agar tulisannya mudah dimengerti dan dipahami oleh orang lain. Maka secara otomatis, penulis berusaha agar tulisannya terorganisasikan sedemikian rupa sehingga sistematis, logis dan jelas. Tulisan yang tidak sistematis, tidak akan menarik dan tidak akan dibaca orang, karena sulit dipahami. Begitu juga tulisan harus logis, artinya mengikuti logika yang jelas. Tuntutan lainnya, yaitu selain logis, bahwa statemen yang dikemukakan, harus dilengkapi data yang diperlukan, agar tulisan itu dipercaya oleh pembacanya. Dengan demikian menulis adalah proses berpikir secara cermat. Oleh karena itu, sulit rasanya bagi siapapun bisa menulis dengan baik manakala yang bersangkutan tidak memiliki bekal kecerdasan yang cukup baik. Aktivitas menulis tidak akan sanggup dilakukan oleh orang yang daya pikirnya lembek. Orang yang berhasil menulis dengan baik, sudah barang tentu, menunjukkan bahwa yang bersangkutan memiliki kekuatan intelektual yang baik. Itulah sebabnya, salah satu tolok ukur untuk mengetahui kecerdasan seseorang yang baik adalah berupa tulisan yang berhasil dibuatnya. Dalam sejarah pendidikan menerangkan bahwa bangsa Parsi Kuno dahulu, dikenal menjadi maju ilmu pengetahuannya tatkala berhasil menggerakkan bangsanya dalam tulis menulis. Ukuran kecerdasan seseorang di negeri itu dilihat dari kemampuannya dalam menulis atau mengarang. Sehingga untuk menguji para siswanya dilakukan dengan cara memberikan tugas untuk membuat karangan. Dalam ujian akhir suatu jenjang pendidikan, para siwa dimasukkan ke ruang yang telah disiapkan, kemudian mereka ditugasi untuk membuat karangan. Waktunya ditentukan sebebas-bebasnya, kadang bisa berhari-hari. Dengan cara menulis itu, maka para siswa akan kelihatan siapa yang memiliki nalar atau pikiran kuat atau sebaliknya. Cara seperti tersebut juga diterapkan dalam menseleksi calon pejabat di negeri itu. Dasar logika yang digunakan adalah bahwa orang yang tidak pernah menulis maka tidak akan dianggap sebagai orang pintar, sehingga tidak layak diberi jabatan untuk mengurus orang banyak. Oleh karena itu, rasanya tepat bahwa salah satu cara menseleksi calon ketua KPK yang baru saja dilakukan beberapa waktu yang lalu, adalah dilihat dari kemampuan menulis. Sayangnya cara itu, dengan alasan tertentu, tidak digunakan di sekolah-sekolah, bahkan bentuk soal ujian selalu hanya berupa pilihan ganda, sehingga akibatnya para pesertanya berbuat curang, misalnya saling bertukar menukar kunci jawaban. Para mahasiswa yang sudah berlatih untuk membiasakan diri menulis, maka sebenarnya yang bersangkutan sudah berlatih banyak hal terkait dengan intelektualnya, sosialnya, dan bahkan juga emosionalnya. Saya seringkali mengatakan bahwa, kehebatan seseorang, terutama di bidang ilmu-ilmu sosial, maka sebenarnya bisa diketahui dari dua hal, yaitu pertama, bagaimana hasil tulisannya selama itu. Dan kedua, dari bagaimana cara berbicaranya. Seseorang yang tidak pernah menulis dan berbicara dengan baik, maka ia tidak bisa diketahui sejauh mana kemampuan intelektualnya. Umumnya mahasiswa yang rajin menulis menunjukkan bahwa ia adalah seorang yang cerdas. Oleh karena itu, untuk mengetahui sejauh mana kekuatan inteletual seseorang bisa dilihat dari hasil tulisannya. Bahkan, dari tulisan-tulisan seseorang, tidak saja kecerdasannya saja yang bisa dilihat, melainkan juga tingkat kesehatannya. Orang yang sehat biasanya berbeda dari orang yang tidak sehat. Tentu, yang dimaksudikan di sini adalah bukan kesehatan secara fisik, melainkan kesehatan pikiran, jiwa dan ruhaninya. Seseorang yang hati dan jiwanya tidak sehat, maka pembicaraannya tidak terkontrol, dan demikian pula tulisannya. Tulisan yang bernuansa negative sebenarnya adalah mencerminkan pikiran dan suasana batin bagi penulisnya. Orang yang lagi jengkel, kecewa, dan atau sakit hati, maka tulisannya akan kacau balau. Oleh karena itu, jika misalnya suatu ketika terdapat tulisan yang isinya menyerang, menghujat, fitnah atau merendahkan orang lain, maka dari sana tergambar bahwa penulisnya sedang tidak sehat. Menulis tentang sesuatu dari pespektif negative, akan merugikan bagi dirinya sendiri. Penulisnya akan diketahui sebagai orang yang sedang sakit, baik pikirannya, perasaan atau jiwanya. Oleh karena itu, tatkala menulis pun harus berhati-hati. Tatkala sedang menulis harus dipikirkan nilai atau pesan positif apa yang akan disampaikan kepada para pembacanya. Dari tulisan seseorang tidak saja diketahui isi tulisannya, melainkankan juga pribadi penulis yang bersangkutan. Oleh karena itu secara sederhana dapat dilihat kaitan antara tulisan dengan kekuatan intelektual, suasana batin, atau jiwa bagi penulisnya . Oleh karena itu ketika menulis, semestinya tidak sembarangan. Tulisan yang dibuat, tentu hendaknya menjadikan orang lain atau pembacanya tercerahkan, memperoleh inspirasi, pemahaman, dan yang tidak kurang pentingnya adalah berhasil menggembirakan para pembacanya. Tulisan yang hanya membikin orang lain susah, jengkel, dan sakit, seharusnya dihindari. Namun menurut hemat saya, adanya kemauan menulis di kalangan mahasiswa, harus diberikan apresiasi. Sebab dengan kegiatan itu, mahasiswa sudah berlatih menggunakan daya nalar dan sekaligus emosinya. Kegiatan menulis juga berguna bagi proses pematangan diri, berlatih berkomunikasi dengan orang lain, bertanggung jawab, terbuka, berani dan memiliki jiwa yang bebas. Tanpa bekal itu semua, siapapun tidak akan bisa menulis dengan baik. Menulis memerlukan pikiran dan jiwa yang lapang, luas dan keberanian. Itulah sebabnya saya senang dengan mahasiswa yang suka menulis. Melalui tulisan itu, saya dapat melihat tingkat intelektual, kedewasaan, dan bahkan juga aspek lainnya. Wallahu a’l
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
