Thursday, 21 May 2026
above article banner area

Kota Terpadat se Dunia Dalam Sepekan

Namanya sebuah  kota, di mana-mana hidup dan ramai sepanjang waktu, kecuali pada waktu-waktu tertentu, misalnya di malam hari. Tetapi kota yang satu ini, hanya ramai dan amat padat, bahkan  terpadat di seluruh dunia, hanya selama sepekan saja, yaitu  Mina. Semua  jama’ah haji harus mabit di  lembah itu. Keadaan daerah itu rata,  namun  kanan dan kirinya diapit oleh  gunung, memanjang. Kota itu berjarak sekitar 10 km dari kota Makkah. Di kota itu tidak terdapat penduduk yang menetap, dan hanya ramai di musim haji, khususnya waktu pelemparan jumrah saja.  

Pada hari-hari  biasa, daerah padang pasir itu sangat sepi, bagaikan di tengah hutan. Daerah itu baru menjadi kota,  pada saat   jama’ah haji sedang mabith di sana, untuk melempar jumroh. Pada saat itu daerah tersebut sangat padat. Jutaan orang bertempat tinggal di daerah itu. Untuk mengurangi kepadatan, semua kendaraan oleh pemerintah tidak diijinkan masuk, kecuali mobil-mobil pengangkut jama’ah haji dan mobil petugas dari pemerintah.  Namun demikian, pada hari-hari tersebut keadaannya amat padat. Jalan-jalan menuju tempat pelemparan jumrah dari penginapan masing-masing, sangat padat. Di mana-mana macet, bukan karena padatnya kendaraan, ——karena jalan-jalan  tertentu kendaraan dilarang masuk, tetapi karena banyak orang berjalan kaki. Bayangkan, macet bukan karena banyak  mobil atau kendaraan, melainkan oleh karena banyaknya pejalan kaki.   Berjalan kaki saja bisa macet, kadang tidak ada lobang  sedikitpun  yang bisa dimasuki orang. Pada saat jama’ah haji sedang di Mina, kota itu bagaikan lautan manusia. Jalan-jalan sudah diatur secara searah, tetapi juga di sana-sini masih macet. Semua jama’ah haji pada saat itu semua berkumpul di tempat itu. Namun, mereka berada  di daerah itu hanya beberapa hari, sehingga kota itu hidup hanya sepekan, yaitu sehari sebelum wukuf dan tiga hari setelahnya. Jutaan orang pada saat itu berada di Mina. Namun begitu, keadaannya cukup tertib. Barangkali bisa dibayangkan, betapa berat dan repot mengurus perkemahan dalam waktu singkat itu. Pemerintah harus menyiapkan tenda dan berbagai fasilitas lainnya, termasuk air yang cukup selama itu.  Namun begitu,  ketika acara mabit di tempat itu selesai, semua jama’ah meninggalkan tempat itu. Maka,  daerah itu menjadi sepi kembali, seperti hutan, dan baru  akan ramai kembali setahun kemudian pada acara yang sama. Itulah  kemudian saya  sebut, daerah itu sebagai  kota terpadat sedunia hanya dalam waktu sepekan. Memperhatikan pelaksanaan ibadah haji, termasuk penyediaan fasilitas di Mina, saya selalu membayangkan, betapa beratnya beban yang harus dipikul oleh pemerintah Saudi Arabia. Pada saat seperti itu, datanglah tamu-tamu dari seluruh dunia yang berjumlah jutaan orang. Mereka menghendaki agar mendapatkan pelayanan yang cukup dan memuaskan. Tidak saja harus memperbaiki jalan-jalan, menyediakan kendaraan, tetapi juga perkemahan dan juga penyediaan air yang cukup selama seluruh jama’ah haji bertempat tinggal di daerah itu.  Bisa dibayangkan, sekedar memenuhi satu aspek saja, yaitu air misalnya, tidak mudah dilakukan. Sebab daerah itu adalah merupakan padang pasir, sehingga tidak mudah mendapatkan air. Selain itu, barangkali  juga tidak bisa dibayangkan, andaikan daerah itu berada di negara yang terlalu demokratis, sehingga banyak orang menuntut kebebasan seluas-luasnya dan kemudian menguasai serta memonopoli sumber-sumber kebutuhan orang banyak itu. Jika itu terjadi pemerintah akan sangat lebih sulit  memberikan pelayanan kepada orang yang harus datang dan tinggal di tempat itu. Tempat-tempat itu akan sangat sulit dan sekaligus mahal menggunakannya. Memperhatikan logika seperti itu, rasanya dalam hal-hal tertentu,  pemerintah memang seharusnya menguasai hajat hidup orang banyak secara mutlak, sehingga bisa melindungi kebutuhan semua orang.   Seringkali sementara orang menganggap,  jika pemerintah terlalu kuat maka akan ada banyak pihak yang dirugikan. Akan tetapi, bukankah sebaliknya, yaitu agar berhasil melayani kebutuhan banyak orang secara adil dan maksimal, maka ternyata justru kekuatan pemerintah secara mutlak yang diperlukan. Pemerintah perlu memiliki kekuatan pemaksa.  Manakala sesuatu yang dibutuhkan oleh banyak orang dikuasai pihak-pihak tertentu, maka akan  lahir memonopoli, akibatnya banyak orang atau rakyat dirugikan. Kiranya peran pemerintah dalam  pengelolaan  Mina, ——kota terpadat se dunia dalam sepekan, bisa dijadikan pelajaran bagi siapapun, termasuk oleh bangsa Indonesia, dalam  memberikan pelayanan yang bersifat umum kepada seluruh rakyat dan masyarakat lainnya. Dalam hal-hal tertentu, pemerintah harus menguasai secara mutlak, dan tidak boleh menyerahkan kepada pihak tertentu, apalagi pihak asing, yang hanya akan menopoli dan mengambil keuntungan sebesar-besarnya. Pemerintah harus kuat agar bisa  melindungi rakyat dan orang banyak. Cara itu ternyata telah dilakukan  oleh pemerintah Saudi untuk melayani para jama’ah haji sebaik-baiknya. Wallahu a’lam.  

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *