Wednesday, 20 May 2026
above article banner area

Memburu Derajat Khusnul Khotimah

Pagi-pagi setelah pulang dari masjid shalat subuh,  saya mendapatkan tilpun dari teman lama, yang dulu kuliah bersama. Secara singkat mengkhabarkan bahwa pada saat ini,  dia sudah pensiun. Atas informasi itu, saya menanyakan tentang umurnya. Ternyata, dia sudah berumur 60 tahun, dan karena itu sejak 4 tahun lalu sudah tidak berdinas lagi.  Sebagai seorang pegawai biasa, umur 56 harus sudah pensiun.

  Memang sebenarnya  umur 56 tahun, asalkan sehat, siapapun  masih  produktif. Karena itu, sejak memasuki masa pensiun, dia diminta untuk menjadi guru di lembaga pendidikan swasta. Selain itu, menurut informasi yang saya dapatkan,  dia  setiap sore ngajar mengaji anak-anak  di mushalla  yang tidak jauh dari rumahnya. Selanjutnya, dia  mengaku bahwa,  tatkala sudah berumur ini yang dipentingkan adalah  agar khusnul khotimah.   Dalam pembicaraan  itu, ——masih melalui tilpun,  saya coba mengapresiasi pandangannya tentang khusnul khotimah itu. Saya mengatakan bahwa, memang dulu ketika masih muda,  kita  semua berusaha agar lulus kuliah, mendapatkan pekerjaan,  membangun rumah tangga, dan membayangkan agar hidup sejahtera. Ukuran-ukuran keberhasilan itu jelas, yaitu lulus, mendapatkan pekerjaan,  besar gaji yang diterima, dan juga rumah tangga yang dibangun.   Setelah melewati umur enam puluh tahun,  ternyata target itu berubah, yaitu agar hidupnya khusnul khotimah. Yaitu, tatkala  mengakhiri kehidupan nanti ,  bisa  berhasil menutupnya dengan baik, atau disebut khusnul khotimah. Mendengar kalimat itu, teman saya menjadi bersemangat meneruskan pembicaraannya. Dia mengatakan bahwa dalam hidup ini yang justru penting adalah mendapatkan  derajat  itu.   Selanjutnya sebagai ungkapan rasa syukur, ia menceritakan bahwa dalam hidupnya, untuk ukuran-ukuran tertentu,  mengaku sudah berhasil. Dalam pendidikan, ia berhasil menyelesaikannya  hingga sarjana strata dua (S2). Jabatan, sekecil apapun pernah dirasakan. Anak-anaknya sudah lulus S1,  sudah bekerja dan bahkan di antaranya sudah menikah. Dia juga sudah berhasil membangun rumah sendiri. Dengan demikian, ukuran-ukuran yang ingin diraih ketika masih  muda dulu sudah tercapai semuanya.   Sekalipun sekedar pembicaraan lewat tilpun di pagi itu, saya mendapatkan pelajaran hidup yang berharga. Seseorang,  tatkala sudah melewati  umur 60 tahun, khususnya  bagi mereka yang memahami dan menyadari makna atau arti kehidupan,   ternyata memiliki target yang  jauh lebih sulit daripada target-target yang dicanangkan ketika masih muda dahulu. Target yang dimaksudkan itu  ialah ingn mengakhiri hidupnya denga baik, atau disebut  khusnul khotimah. Target yang terakhir ini tidak ada sekolahnya dan juga lembaga pendidikan lain semacam kursus atau pelatihan yang bisa mempersiapkannya. Selain itu, untuk meraih target ini tidak bisa dicapai dengan cara meminta bantuan orang lain.     Untuk menjadi khusnul khotimah maka seseorang harus meraihnya sendiri secara pribadi. Caranya adalah selalu meningkatkan keimanan, amal saleh,  dan juga akhlak yang baik pada setiap waktu tanpa henti. Hal itu dilakukan, karena tidak akan mungkin seseorang mengetahui kapan kehidupannya akan berakhir.   Itulah  sulitnya cita-cita atau target itu  diraih. Bisa jadi seseorang menganggap usianya masih akan lebih  panjang, tetapi ternyata  mati mendadak, dan begitu juga sebaliknya. Akhir kehidupan bagi semua orang tidak bisa ditebak atau dirancang. Mengakhiri kehidupan tidak sama dengan mengakhiri pidato atau ceramah.   Siapapun tatkala berceramah atau pidato bisa mengakhiri sesuai dengan yang dimaui. Berbeda dengan itu,  adalah kematian.  Orang berpidato biasanya mengakhirinya dengan kalimat-kalimat penutup yang baik, misalnya dengan mengucapkan terima kasih dan juga meminta maaf atas kesalahannya.  Artinya, berpidato bisa diakhiri dengan khusnul khotimah. Sedangkan kematian, tidak bisa dilakukan seperti itu, karena datangnya kematian selalu mendadak dan tidak bisa dirancang.   Akan tetapi ternyata, tidak semua orang mengetahui dan menyadari tentang arti dan makna kehidupan ini. Banyak orang yang sudah berumur lebih dari 60 tahun,  dan bahkan menjelang 80 tahun, belum  tahu  tentang itu semua.   Hal itu tampak misalnya, seseorang  sekalipun sudah melewati umur itu,——70 tahun dan bahkan lebih,  masih bercita-cita sebagaimana orang yang berumur belasan tahun. Mereka masih mengejar kekuasaan dan kekayaan. Mereka merasa bahwa apa yang didapat selama ini, ——sekalipun menurut ukuran umum sudah berlebihan, masih merasa kurang.   Dengan mudah kita lihat,  banyak orang hidup  dan  sudah sekian lama umurnya dijalani, ternyata belum mengerti tentang arti dan makna hidupnya itu. Hal itu terlihat dari kegiatan yang dilakukan sehari-hari,  mereka  hanya mengejar-ngejar kehidupan yang bersifat material, padahal  usianya menjelang berakhir. Seolah-olah mereka akan hidup selama-lamanya. Mereka mencari bekal hidup tanpa henti, dan tidak berusaha memanfaatkannya untuk kebaikan, baik bagi dirinya dan apalagi untuk orang lain.  Namun sementara ada pula, ——sebagaimana teman saya, setelah memasuki masa pensiun,  yang diinginkan adalah khusnul khotimah. Ia ingin mengakhiri hidupnya dengan baik.   Teman saya,  dalam  tulisan ini, rupanya  berhasil  memahami arti dan  makna kehidupan.  Setelah pensiun, ia masih mau bekerja menjadi guru swasta dan bahkan melakukan  kegiatan, —–sekalipun kecil dan sederhana, yaitu mengajar mengaji tanpa imbalan. Semua itu ia lakukan  sebagai upaya  memburu derajat  sebagai khusnul khotimah.  Ia ingin mengakhiri hidupnya dengan baik, yaitu baik di mata orang maupun di mata Allah swt., ialah  khusnul khotimah. Wallahu a’lam. 

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *