Beberapa teman sepulang haji menemui saya. Mereka ingin menyatakan kegembiraan dan bersyukur atas nikmat yang telah diterima, sepulang dari menjalankan ibadah haji. Tanpa mereka bayangkan jauh sebelumnya, ternyata ibadah haji yang merupakan dambaan kaum muslimin pada umumnya telah mereka jalankan dengan baik. Mereka sadar bahwa haji pada saat sekarang ini tidak murah, baik dari biaya maupun kesempatannya. Mereka tahu bahwa untuk bisa berangkat haji, harus antri tidak kurang dari empat tahun sejak mendaftar dan membayar sejumlah uang yang ditentukan. Pada kesempatan itu, saya hanya mengajak mereka untuk merenung tentang perjalanan hidup ini. Seringkali kita berkeinginan meraih sesuatu yang besar. Keinginan seperti itu baik-baik saja dan bahkan seharusnya dimiliki. Namun tatkala apa yang diinginkan itu telah diraih, tidak sedikit orang yang tidak sadar bahwa keinginannya itu sesungguhnya telah berhasil diraih. Seolah-olah keinginan itu masih belum terpenuhi. Padahal sesungguhnya semua yang diharapkan telah diraih, dan bahkan melebihi dari yang diharapkan semula. Dalam kesempatan itu, saya mengatakan bahwa, jika seseorang sudah berkeluarga, memiliki isteri, anak, rumah, kendaraan, lulus S3, dan bahkan juga telah menjalankan rukun Islam yang kelima ialah haji, maka berarti yang bersangkutan telah mendapatkan nikmat yang terlalu banyak. Tugas selanjutnya, bukan lagi mencari, tetapi adalah merawat nikmat dan karunia itu. Apa yang harus dicari sesungguhnya sudah didapatkan. Pada saat selanjutnya adalah merawat karunia itu sebaik-baiknya. Namun demikian, tugas merawat karunia besar itu juga tidak mudah. Sebagai seorang yang menyandang gelar akademik puncak, lulus S3, seharusnya melakukan peran-peran yang sesuai dengan gelar yang disandangnya itu. Seorang dosen yang telah lulus S3 kemudian berhenti meneliti, menulis, dan kurang mencintai ilmu dan para mahasiswanya, mau tidak mau akan disebut sebagai orang yang gagal merawat karunia itu. Memang, banyak orang ingin mendapatkan karunia kemuliaan, namun ternyata setelah diraih, ternyata merawatnya juga tidak mudah dilakukan. Saya ketika itu mengatakan bahwa boleh-boleh saja, seorang bergelar doctor (S3) mencari kegiatan tambahan untuk mengisi waktu di sela-sela memberi kuliah, memberi bimbingan mahasiswa, meneliti dan menulis buku. Tetapi kegiatan tambahan itu seharusnya ada relevansinya dengan kegatan pokok sebagai seorang doctor dan pengajar di perguruan tinggi. Sesungguhnya ada kegiatan yang relevan dan ada kegiatan yang jauh relevansinya dari status sebagai seorang dosen. Seorang lulusan S3 dan sekaligus sebagai dosen, rasanya tidak tepat jika harus bekerja tambahan mengurus angkutan kota. Peran itu bukan rendah dan harus dijauhi, tetapi kurang relevan dilakukan oleh seorang doctor dan sekaligus dosen perguruan tinggi. Demikian pula identitas sebagai haji juga harus dirawat. Masyarakat biasanya menuntut supaya setiap sesuatu dijalankan sesuai kelazimannya, agar terlihat pantas. Masyarakat, di mana-mana ternyata bersikap kritis. Mereka tidak menyukai sesuatu jika tampak kurang pantas. Seorang yang baru saja pulang dari ibadah haji, kemudian tidak sholat berjama’h di masjid, maka masyarakat melihatnya kurang pantas. Hal seperti ini kecil, tetapi yang kecil pun semestinya dipelihara sebaik-baiknya. Inilah salah satu cara merawat karunia yang telah diterima. Dalam Islam, siapa saja yang berhasil merawat nikmat atau karunia yang mulia ini disebut sebagai orang yang bersyukur. Mereka yang pandai mensyukuri nikmat, maka akan ditambahkan nikmat itu secara terus menerus, dan sebaliknya jika kufur, artinya tidak menyukurinya, maka di mata masyarakat pun mereka akan jatuh. Dalam al Qur’n, terhadap orang-orang yang tidak bersyukur, diancam dengan adzam yang pedih. Semogalah kita semua mampu mensyukuri dan merawat keberhasilan hidup yang telah diraih ini sebaik-baiknya. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
