Beberapa minggu terakhir ini kita mendapatkan informasi melalui berbagai media tentang pemilihan presiden dan wakil presiden. Proses pencalonan yang rupanya tidak mudah dilalui itu, ternyata berhasil juga memunculkan tiga pasangan calon pemimpin bangsa, yaitu Bapak Dr.Susilo Bambang Yudhoyonoi dan Pak Budiono, Pak Yusuf Kala dan Pak Wiranto serta Ibu Megawati Sukarnoputri dan Pak Prabowo. Pasangan calon presiden tersebut masing-masing didukung oleh partai politik, yaitu misalnya Pak SBY didukung oleh Partai Demokrat, PAN, PKS dan PPP; Pak Yusuf Kala dan Pak Wiranto didukung oleh Partai Golkar dan Partai Hanura, sedangkan Ibu Megawati didukung oleh PDIP dan Partai Gerindra.
Memilih ketiga calon tersebut rasanya memang tidak mudah. Sebab masing-masing pasangan calon pemimpin bangsa ini, sudah tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Semua miriplah. Semua pernah tergabung dalam pemerintahan. Tatkala negeri ini dipimpin oleh Pak Harto, di sana ada Pak Wiranto, Pak Prabowo, Pak SBY, Pak Budiono. Ketika bangsa ini dipimpin oleh Gus Dur, para tokoh itu juga ada di sana. Demikian juga ketika kepemimpinan bangsa ini dipegang oleh Ibu Megawati, maka Pak Yusuf Kala, Pak SBY juga menjadi bagiannya. Dan terakhir, ketika Presiden dijabat oleh Pak SBY, wakil presiden dijabat oleh Pak Yusuf Kala, demikian pula Pak Budiono memimpin BI. Para calon pasangan presiden tersebut semua orang yang sudah lama dikenal oleh rakyat sebagai calon pemilihnya. Sekalipun mereka harus mengikuti test kesehatan, rupanya itu hanya formal saja. Semua kita tahu bahwa Pak SBY, Pak Budiono, Pak Yusuf Kala, Pak Wiranto, Ibu Mega dan Pak Prabowo selama ini tampak sehat, baik jasmani maupun rohaninya. Kesehatan mereka tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Selain itu, para calon pasangan tersebut, andaikan diumpamakan sebagai sebuah pertujukkan, semua sudah pernah menari dan bahkan tariannya juga sudah disaksikan oleh penonton, yang dalam hal ini adalah rakyat yang akan memilih. Dilihat dari aspek umur, semua sudah sangat dewasa, tidak ada seorang pasangan pun yang berumur kurang dari 50 tahun. Bahkan mungkin, —–saya tidak mengenal persis, semua sudah di atas 60 tahun. Jika ingatan saya benar, semua sudah berada pada fase kematangan yang cukup sempurna, artinya sudah dewasa dalam berbagai halnya. Keterlibatan para pasangan calon presiden tersebut terhadap pembangunan bangsa yang sudah sedemikian lama, sehingga jelas telah mengantarkan mereka pada pemahaman terhadap persoalan bangsa ini secara cukup dan bahkan sempurna. Mereka itu kiranya telah mengerti betul tentang relung-relung kehidupan negeri ini. Misalnya di mana ada kantong-kantong kemiskinan, pendidikan yang masih harus diperbaiki, jumlah pengangguran yang besar, pendidikan yang masih perlu didongkrak mutunya, rakyat masih sulit mendapatkan layanan kesehatan dan seterusnya. Mereka juga sudah paham di mana sumber-sumber kekayaan negeri ini yang belum diekploitasi, seperti misalnya tambang minyak, batu bara, emas, dan lain-lain. Mereka juga sudah tahu betul bahwa bangsa ini memiliki kekayaan laut yang sedemikian besarnya, namun anehnya para nelayannya masih miskin. Para calon pasangan presiden dan wakil presiden juga tahu bahwa banyak kekayaan laut yang sering diserobot oleh warga Negara tetangga yang nakal. Saya yakin atas dasar pengalaman di pemerintahan, para calon pemimpin ini tahu persis apa yang sebenarnya menjadi sebab bangsa ini sulit keluar dari problem-problem besar sebagaimana yang terasakan selama ini. Saya juga yakin, mereka telah berkesimpulan sama, bahwa sebab-sebab itu lebih banyak bersumber dari factor internal dari pada factor eksternalnya. Misalnya, masih sering terjadi konflik antar elite yang tidak pernah usai, minimnya sikap amanah, belum tertanam budaya kualitas, masih suka menerabas, mengedepankan formalitas , mementingkan diri, keluarga dan juga golongan dan seterusnya. Bahkan tidak perlu diragukan lagi, semua calon pimpinan bangsa ini juga sudah paham berapa tanggungan utang luar negeri yang setiap tahun harus dibayar. Para calon pasangan presiden dan wakil presiden, semua juga sudah tahu di wilayah mana terdapat potensi konflik dengan berbagai latar belakangnya. Mereka paham, karena para tokoh tersebut bukan orang baru dan bahkan juga bukan tokoh baru di negeri ini. Saya juga yakin, bahwa mereka tahu apa sesungguhnya yang menjadi sebab ketertinggalan bangsa ini. Negerinya sangat kaya, tetapi aneh, rakyatnya masih banyak yang miskin. Sebagian memang sudah kaya, tetapi kadang terlalu kaya. Sebaliknya, sebagian miskin dan terlalu miskin. Maka, artinya di negeri ini masih sedang terjadi kesenjangan yang luar biasa, sehingga dirasakan tidak adil. Anehnya yang kaya tidak segera peduli pada yang miskin. Bahkan ada fenomena bahwa yang kaya bertambah cepat semakin terlalu kaya. Sebaliknya, yang miskin juga tidak bergerak, tetap miskin. Sekalipun Pancasila, diajarkan di sekolah bahwa keadilan sosisal bagi seluruh rakyat Indonesia, ajaran itu ternyata belum tampak jelas dalam kehidupan ini. Begitu juga birokrasi kadang masih kaku, formalitas, berpihak pada yang kuat, dan banyak penyimpangan. Sehari-hari terdengar berita bahwa pejabat menyimpang, korupsi, kolosi dan nepotisme. Proyek-proyek pembangunan masih banyak yang bocor. Penyimpangan itu terjadi secara merata, bukan saja di kalangan bawah, tetapi juga kalangan atas. Kita mengetahui tidak sedikit orang-orang terhormat seperti oknum anggota parlemen, menteri, gubernur, bupati, walikota, pimpinan bank, jaksa, hakim dan bahkan di kalangan KPK sendiri, mereka berurusan polisi. Aneh, polisi tertangkap polisi, diadili, dan kemudian dipenjara. Di negeri ini, sedang terjadi berbagai tontonan yang sangat tidak menarik dan bahkan menyedihkan. Gambaran itu semua, menunjukkan bahwa sesungguhnya bangsa ini bukan sebatas miskin secara ekonomis, melainkan miskin dari aspek yang lain. Bangsa ini rupanya sedang mengalami krisis yang mendasar. Krisis itu bukan berada pada tataran material, melainkan justru berada pada tataran spiritual. Jika itu disebut penyakit, maka penyakit itu bukan lagi jenis penyakit yang menyerang anggota tubuh, tetapi penyakit yang menyerang aspek terdalam dari bagian kemanusiaan, ialah moral, kharakter atau akhlak. Kemiskinan moral, kharakter, etika, dan akhlak maka sungguh penyembuhannya tidak mudah. Tugas itu jauh lebih berat daripada sebatas menyembuhkan kemiskinan ekonomi. Bahkan, persoalan ekonomi itu sesungguhnya, —–jika kita amati secara saksama, terjadi hanyalah sebagai akibat dari kemiskinan aspek moral, karakter, etika, dan akhlak itu. Sayangnya aspek-aspek mendasar tersebut, sementara ini belum terlalu disuarakan dan bahkan masih terlewatkan oleh sementara calon pemimpin bangsa ini. Mereka mengira bahwa kemiskinan ekonomi hanya bisa diselesaikan melalui pendekatan ekonomi. Padahal berbagai problem ekonomi tersebut sesungguhnya adalah merupakan produk dari proses yang melibatkan berbagai variable yang tidak sedikit dan sederhana. Namun sayangnya, belum ada calon pemimpin bangsa ini yang memiliki program perbaikan aspek kemanusiaan yang mendasar tersebut. Saya pernah membaca sejarah, bahwa bangsa ini pernah mengalami krisis yang sangat serius, hingga kehidupan masyarakat tidak stabil. Maka ketika itu datanglah pemimpin untuk menyelesaikan krisis itu. Pemimpin tersebut menyusun program yang sangat sederhana, yaitu mencegah apa yang disebut dengan molimo. Saya kira semua mafhum apa yang disebut dengan istilah itu. Sayangnya, selama ini belum terdengar dari para calon pemimpin bangsa ini yang menyuarakan program perbaikan aspek terdalam dari kehidupan manusia. Dulu, Pak Harto, pernah menyuarakan aspek pembangunan itu dengan selalu menyebut Pancasila dan bahkan juga merumuskan P4. Apapun hasilnya, tetapi hal itu menunjukkan betapa pemimpin itu telah memperhatikan aspek penting itu. Sementara bangsa ini, seringkali baru mampu menyentuh aspek luar, dan sebaliknya kurang perhatian pada aspek terdalam yang sebetulnya justru menjadi penyebabnya. Contoh kongkrit, tatkala memberantas korupsi, maka yang dilakukan hanya menangkapi para pejabat yang korup. Padahal sumber korupsi itu, selain rendahnya moral, etika, dan akhlak birokrat atau pejabat, juga disebabkan di antaranya oleh karena system rekruitmen pejabat melalui proses biaya yang sangat mahal. Misalnya, untuk menjadi seorang calon legislative atau bupati saja harus mengeluarkan milyaran rupiah. Padahal dengan beban berat seperti itu, semuanya ——material dan spiritual, menjadi hilang. Tidak saja uang yang harus dibayar, bahkan yang lebih berharga lainnya yaitu moral, etik, kharakter dan akhlaknya pun akan hilang. Sekali lagi program perbaikan aspek mendasar ini, rasanya masih belum banyak disuarakan. Semoga para calon pemimpin bangsa ——Pak SBY, Pak Budiono, Pak Yusuf Kala, Pak Wiranto, Ibu Mega dan Pak Prabowo, tidak menganggap sederhana misi tersebut, hingga tidak terlupakan. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
