Di awal tahun ini, oleh karena dianggap sebagai orang tua, saya memperoleh pertanyaan tentang bekal penting untuk menghadapi tahun 2011 ini. Pertanyaan itu sepintas sederhana, dan mungkin juga sebatas berbasa basi. Akan tetapi apapun pertanyaan itu, saya anggap serius atau penting, karena saya kaitkan dengan pendidikan atau setidaknya sebagai naseh
at. Pertanyaan itu bersifat umum, sehingga saya jawab dengan jawaban yang umum pula. Jawaban yang saya berikan kepadanya adalah sebagai berikut. Pertama, saya mengatakan bahwa menghadapi tahun depan, kita harus belajar dari tahun-tahun sebelumnya. Saya mengajak memandang bahwa, tahun 2010 sepanjang usia jagat raya ini hanya sekali datang. Sebelum dan setelahnya tidak pernah hadir lagi. Tidak akan kita jumpai lagi tahun 2010. Tahun itu sudah meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Tidak akan pernah berulang kembali. Perjalanan waktu, dari tahun ke tahun, tidak sebagaimana film atau kaset, bisa diputar kembali. Perjalanan tahun tidak demikian. Hal itu juga berlaku pada satuan waktu lainnya, misalnya hari, tanggal dan tahun. Pada hari rabu tanggal 05 Janurai 2011, sepanjang sejarah kehidupan hanya jatuh pada hari kemarin. Hari itu datang hanya sekali saja. Setelah itu tidak akan muncul hari selasa pada tanggal yang sama dan pada tahun yang sama, hingga sampai kapan pun. Oleh karena itu, umpama kemarin itu, tanggal 05 Januari 2011 tidak diisi dengan perbuatan baik, maka hari itu tidak akan memberi manfaat apa-apa. Hari itu, selama 24 jam akan hilang percuma. Umpama sebuah pita, maka pita itu akan berwarna putih, tidak akan muncul gambar apa-apa, karena memang tidak ada kegiatan. Begitu juga sebaliknya, jika hari itu kita isi dengan sesuatu yang merugikan, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain, maka pita kehidupan yang kita hasilkan akan berwarna tidak baik pula. Melalui nasehat yang bersifat umum yang saya sampaikan, saya mengajak mulai awal tahun 2011 ini, kita isi pita kehidupan ke depan penuh warna. Yaitu warna-warna kehidupan yang indah. Kalau Islam mengatakan bahwa seseorang yang paling baik, adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain, maka saya mengajak untuk mengisi pita sepanjang tahun 2011 dengan kebaikan. Menjalankan kemauan itu memang sulit, dan belum tentu terwujud, namun setidak-tidaknya sudah memiliki niat untuk melakukan yang terbaik. Melalui nasehat itu, saya hanya akan mengatakan kepada orang yang meminta nasehat itu, agar bersama-sama mengisi umur yang tidak terlalu lama ini dengan kegiatan yang terbaik, mulia atau luhur. Kita harus memanfaatkan umur sebaik-baiknya. Kita tidak boleh lupa atau lengah menggunakan umur dengan seenaknya. Umur yang kita jalani akan kita pertanggung-jawabkan kepada Sang Pemberi umur, ialah Allah swt. Saya memberikan contoh, bahwa pada setiap pagi saya menulis artikel pendek dan sederhana. Maka setidaknya, artikel tersebut menjadi bukti bahwa saya masih hidup pada hari itu. Dengan cara menulis pada setiap pagi itu, kemudian saya posting melalui website, facebook, dan scribb, maka saya ingin bersilaturrahmi dan sekaligus memberi sesuatu kepada orang lain. Kedua, kita harus optimis. Masa depan harus dihadapi dengan percaya diri. Bahwa kita akan berhasil membangun kehidupan yang semakin baik. Kita harus yakin bahwa kita mampu menyelesaikan amanah yang kita hadapi. Kita tidak boleh merasa lemah, rendah diri atau pesimis. Menyerah sebelum mencoba melakukan terhadap tugas-tugas yang telah dipercayakan, tidaklah semestinya. Kita harus bersikap pantang menyerah. Kita harus bertekad bahwa tatkala nanti dipanggil oleh Tuhan, ——- meninggal dunia, maka jangan sampai ada pekerjaan yang tersisa, belum berhasil diselesaikan. Perkara tugas itu belum sempurna kualitasnya sebagaimana yang diharapkan, maka bukanlah menjadi soal. Yang terpenting tugas itu harus diselesaikan hingga tahap akhir. Jangan sampai kita menjalani hidup dengan menyisakan amanah yang belum terselesaikan. Selain itu, kita harus bertekat untuk membuat sejarah hidup yang indah, gemilang, dan terbaik. Kita harus meninggali suatu karya yang monumental, atau sejarah hidup yang terbaik, agar dijadikan pelajaran bagi generasi mendatang. Sebagai dosen, ——-karena yang meminta nasehat itu adalah seorang dosen, maka nasehat saya, jika memiliki tugas menyusun disertasi misalnya, harus diselesaikan, apapun bentuknya. Jangan sampai ada sejarah kegagalan hidup, sekecil apapun. Kegagalan akan menyiksa diri sendiri sepanjang hidup. Itulah dua jawaban atas pertanyaan seseorang, dan sekaligus sebagai pesan sederhana di awal tahun 2011. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
