Saturday, 9 May 2026
above article banner area

Pelantikan Rektor

Hari Rabu siang tanggal 29 April 2009 saya menghadiri undangan Direktur Pendidikan Tinggi Islam Departemen Agama, untuk membahas persiapan sertifikasi dosen dan dilanjutkan seminar dengan tema menghadapi masalah pendidikan tahun 2010-2929 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sore hari itu juga saya mendapatkan tilpun dari protokol Departemen Agama, memberi tahu bahwa pada tanggal 30 April 2009 jam 16.00 sore, saya akan dilantik sebagai Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2009 – 2013. Mendapatkan kabar itu, sekalipun mendadak, saya tidak terkejut karena SK Presiden tentang pengangkatan sebagai rektor pada periode itu sudah agak lama saya terima, surat tersebut telah ditanda-tangani oleh Presiden sejak tanggal 27 Pebruari 2009 yang lalu. Setelah mendapatkan informasi dari pihak protocol itu, saya mengabari Humas UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Pak Drs. Sutaman, MA, dan juga isteri, karena setiap pelantikan selalu didampingi oleh dharma Wanita. Hari Kamis tanggal 30April 2009, tepat jam 16.00 acara pelantikan dilaksanakan oleh Menteri Agama disaksikan oleh para undangan, yang terdiri atas para pejabat eselon I yaitu Sekjen Departemen Agama, Dirjen Pendidikan Islam, Dirjen Bimas Islam, Dirjen Bimas Kristen Protestan, Dirjen Bimas Kristen Katholik, Dirjen Bimas Hindu dan Dirjen Bimas Budha. Selain itu dihadiri para pejabat eselon II dan tidak ketinggalan para Pembantu Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof.Dr.H. Mudjia Rahardja, Drs.H.Turmudi, M.Si, Dr. H. Baharuddin, M.Pdi, Dr. Saad Ibrahim dan Kepala Biro Administrasi Umum, Dra.Cholidan, serta anak saya yang terkecil, Asma’ Putri Kamila.

Pelantikan tersebut bagi saya pribadi tidak terasa sebagai sesuatu yang istimewa, karena di tempat yang sama sudah tercatat empat kali ini dilantik untuk memimpin perguruan tinggi yang sama. Sesuatu hal yang mungkin bagi orang lain dipandang sebagai hal yang sacral, maka kesakralan itu bagi saya, karena sudah berkali-kali itu, sehingga kurang terasakan. Sebagai rangkaian acara pelantiukan tersebut, sebagaimana lazimnya dibacakan kalimat-kalimat yang datang dari langit, yakni ayat-ayat suci al Qur’an. Dari gema suara itulah saya merasakan ada sesuatu yang sangat mengesankan. Bagian ayat yang dibaca oleh Qori’ yang sedemikian indah mengambarkan betapa amanah harus ditunaikan dan dijalankan secara adil. Selain itu, pengarahan Menteri Agama agar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menjadi tauladan bagi pengembangan perguruan tinggi Islam di Indonesia, rasanya menjadi tantangan tersendiri dan masuk dalam kesadaran sanubari yang mendalam. Kalimat dari Menteri Agama saya pandang sebagai harapan besar, mulia, dan luhur yang harus ditunaikan sekalipun dalam keadaan apapun. Harapan itu disampaikan sendiri oleh Menteri Agama, hingga tidak salah jika hal itu saya anggap sebagai representasi dari umat Islam se Indonesia. Rupanya kabar tentang pelantikan tersebut sudah menyebar di antara para pimpinan fakultas, dosen dan karyawan dan beberapa teman, kolega dan sahabat lainnya. Hal itu saya lihat dari tidak sedikit sms yang masuk ke HP saya, menyampaikan ucapan selamat dan doa agar selalu mendapatkan kekuatan dan pertolongan dari Allah swt., sehingga amanah memimpin UIN Maulana Malik Ibrahim Malang berhasil ditunaikan sebaik-baiknya. Satu demi satu pesan singkat atau sms saya balas, dengan ucapan terima kasih dan tentu saja, saya mengajak selalu memperbaharui niat dan tekad untuk bekerja lebih keras dalam membangun pilar peradaban Islam yang tinggi, agung, dan mulia melalui kampus yang kita cintai bersama ini. Saya selalu sadar bahwa membangun kampus perguruan tinggi Islam, semacam UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ini ke depan, adalah merupakan pekerjaan besar yang tidak akan mungkin bisa ditunaikan sendiri atau oleh sekelompok kecil orang. Membangun kampus adalah merupakan pekerjaan berat, berupa mengembangkan seluruh komponen pendidikan tinggi yang ada, mulai dari aspek yang sangat sederhana, misalnya menjaga kebersihan dan keamanan kampus hingga pekerjaan yang paling rumit, yakni secara terus menerus melakukan kajian agar berhasil menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran ilmu pengetahuan melalui kegiatan risetnya. Selain itu juga melaksanakan pendidikan dan pengajaran serta pengabdian pada masyarakat. Tugas ini, ——lebih-lebih di zaman yang selalu berubah cepat, sebagaimana terjadi pada akhir-akhir ini bukanlah pekerjaan mudah untuk ditunaikan. Tuntutannya semakin tinggi dan cepat hingga diperlukan kemampuan beradaptasi yang tinggi. Selain itu juga menuntut bagi semua pihak, ——tanpa terkecuali, melibatkan diri secara aktif, dan tidak boleh ada seorang pun yang merasa berada dipinggirkan, apalagi mengatakan sebagai orang yang tidak terpakai. Saya selalu yakin, betapapun berat tantangan ke depan, selalu akan bisa dijawab atau diselesaikan dengan baik, manakala seluruh komponen yang ada di kampus ini berhasil menyatukan niat, tekad, kemauan dan kemampuannya untuk meraih cita-cita bersama itu. Kampus akan segera menjadi besar dan kuat jika semua komponen yang ada bersedia memperjuangkan cita-cita yang luhur, agung dan mulia itu dan sekaligus bersedia pula berkorban. Kesediaan berjuang dan berkorban secara tulus dan ikhlas, menurut hemat saya adalah merupakan pintu utama dalam membangun pilar peradaban Islam, lewat pengembangan kampus ini. Sudah barang tentu, atas kelemahan yang selalu disandang oleh siapapun, ——tidak terkecuali pecinta kampus ini, kerja keras tersebut harus disempurnakan dengan selalu memohon pertolongan, kekuatan, petunjuk dari Allah swt. Insya Allah, dengan semangat dan kerja keras tanpa henti, yang selalu disempurnakan dengan doa, memohon kepada Allah swt, maka cita-cita yang luhur, mulia dan agung itu akan tercapai. UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, yang keberadaannya diharapkan menjadi salah satu tauladan bagi Perguruan Tinggi Islam Negeri lainnya dalam berinovasi dan berkreasi di tanah air ini adalah merupakan keinginan, harapan, atau cita-cita yang benar-benar realistik. Setelah dilantik, saya mengajak seluruh warga kampus bertekad bersama-sama menyatukan hati, niat ikhlas, sabar dan istiqomah bekerja keras menjadikan UIN Maulana Malik Ibrahim sebagai perguruan Tinggi Islam terbaik. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *