Sunday, 19 April 2026
above article banner area

Pendidikan Islam Di Kunfudha

Dalam suatu perjalanan  ke Saudi Arabia, saya pernah berkunjung  ke Kunfudha. Daerah ini kira-kira bisa ditempuh dengan kendaraan darat sekitar 5 jam dari Makkah.  Sekalipun jarak tempuh sekitar 5 jam tetapi   cukup jauh, karena sepanjang jalan menuju  daerah  itu  keadaannya cukup bagus dan lempang, sehingga semua kendaraan bisa melaju dengan sangat cepat.  Sepanjang jalan di padang pasir umumnya tidak banyak belokan.

  Banyak hal  menarik  di daerah itu, tetapi yang menjadi perhatian saya adalah tentang pendidikan anak-anak. Umumnya anak-anak sejak sekitar  usia empat tahun sudah diperkenalkan dengan al Qurán.  Dengan suasana bermain,  mereka diajak menghafal al Qurán. Di mulai dari juz amma, dipilihkan surat-surat pendek.   Saya sempat kagum,  anak-anak kecil  dengan  ceria  menghafal al Qurán. Di antara  anak-anak itu saling  berkompetisi. Anak yang berhasil menghafal memperoleh apresiasi dari orang tuanya dan juga saudara-saudaranya yang lebih tua.  Keberhasilan menghafal al Qurán mendapatkan  penghargaan dari lingkungannya.   Semakin bertambah umur, hafalan al Qurán semakin bertambah. Seolah-olah menghafal al Qurán menjadi tuntutan bagi anak-anak di daerah itu. Dalam pembicaraan  sehari-hari, masing-masing anak dikenali, tidak saja  tentang nama dan siapa orang tua, di mana  tempat tinggalnya, melainkan juga seberapa banyak  al Qurán yang sudah  dihafal olehnya.   Pendidikan  Islam  dijalankan secara alami dan bertahap. Sejak kecil  sudah dimulai dengan pembiasaan hidup secara Islam.  Dimulai dari hal-hal  yang sederhana. Misalnya, sebelum makan harus membasuh kedua tangannya, mengambil makanan dengan tangan kanan, dan tidak mengambil makanan yang bukan haknya.  Cara-cara ini adalah  sebagai bentuk kongkrit  mengamalkan ajaran  bahwa kebersihan adalah bagian dari iman dan  selalu  harus memilih makanan yang halal.          Ajaran sederhana  tersebut  dibiasakan hingga anak-anak tersebut benar-benar bisa menjalankan secara istiqomah. Manakala dinilai sudah berhasil, maka kebiasaan itu ditambah lagi  yang  baru, misalnya setiap ketemu harus mengucapkan salam dan menjawabnya tatkala ada orang lain mengucapkan salam, memulai  kegiatannya dengan  membaca basmallah dan mengakhiri dengan hamdallah dan seterusnya.   Selain itu anak-anak didekatkan dengan  masjid. Pada setiap waktu, anak-anak diajak ke masjid untuk menjalankan shalat berjamaáh.  Memang masjid dengan kedatangan anak-anak tersebut menjadi ramai. Akan tetapi, semua orang memahami  bahwa hal itu adalah bagian dari upaya mendidik  anak-anak.   Hal menarik lainnya adalah terkait pendidikan  bertanggung jawab. Sejak usia dini anak-anak  sudah dibiasakan, setidaknya  mengurus   keperluannya  sendiri.  Bahkan sebagai pelajaran bertanggung jawab, anak-anak dilatih  mengurus adik-adiknya. Orang tua baru menolong anak-anaknya,  manakala benar-benar memerlukan.  Ada anggapan di masyarakat Konfudha,  bahwa anak yang selalu ditolong maka hidupnya akan selalu  menggantungkan  pada orang lain. Anak-anak sejak dini harus dibiasakan mandiri, dan bahkan harus bisa mengurus orang lain.  Mengurus adik-adiknya dianggap sebagai pelatihan  dalam bertanggung jawab dan membantu  orang lain. Melalui cara ini juga  menumbuhkan jiwa kepemimpinan. Orang tua  berperan memberikan contoh, nasehat,  dan memberikan bimbingan dalam kehidupan sehari-hari.  Anak-anak tidak dimanjakan. Dengan demikian,  tugas-tugas orang tua tidak tidak terlalu berat.   Membandingkan apa yang terjadi di Kunfudha  dengan kebiasaan di tanah air ini,  lebih-lebih   di perkotaan,  terasa sangat jauh. Umumnya anak-anak  di Indonesia  sangat dimanja. Kita lihat, setiap pagi orang tua harus mengantarkan anak-anaknya ke sekolah dan juga menjemput tatkala pulang. Keterlibatan orang tua terhadap kehidupan anak, kadang sedemikian jauh.  Hingga sampai masuk perguruan tinggi, anak-anak  masih dibantu oleh orang tuanya. Seakan-akan orang tua menjadi pelayan bagi  anak-anaknya.   Hal yang demikian itu menjadikan anak kurang cepat dewasa. Mereka terbiasa dilayani dan tidak pernah belajar melayani, termasuk melayani dirinya sendiri. Generasai seperti ini tidak akan memiliki mental yang kokoh. Mereka tidak cepat mandiri dan selanjutnya selalu menggantungkan orang lain. Generasi seperti ini akan cepat  menyerah  tatkala menghadapi persoalan.  Kunfudha adalah daerah padang pasir, sehingga orang-orangnya   memerlukan ketahanan fisik dan mental yang kuat. Daerah yang di musim panas sangat panas dan kadang sebaliknya, terlalu dingin menjadikan orang-orangnya harus beradaptasi dengan tuntutan alam itu.  Selain itu, pendidikan Islam yang ditanamkan secara alami dalam kehidupan sehari-hari, ternyata  berhasil menjadikan Islam sebagai cara hidup sehari-hari.   Pendidikan sebagaimana disebutkan itu  kiranya bisa dilakukan di mana saja, termasuk di Indonesia. Sehingga  sekalipun  misalnya, pelajaran agama di sekolah  jumlah jamnya   terbatas, maka  sebenarnya penanaman nilai-nilai Islam bisa dilakukan di sepanjang waktu. Misalnya, tatkala ketemu antar  sesama dan apalagi dengan guru dibiasakan mengucap salam, memulai semua pekerjaan dengan basmallah dan mengakhiri dengan  hamdallah, selalu menggunakan milik atau haknya sendiri, hormat dan menyayangi sesama, dibiasakan shalat berjamaáh di sekolah dan lain-lain.  Itu semua  sebenarnya adalah bagian dari pendidikan Islam. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *