Dalam suatu perjalanan ke Saudi Arabia, saya pernah berkunjung ke Kunfudha. Daerah ini kira-kira bisa ditempuh dengan kendaraan darat sekitar 5 jam dari Makkah. Sekalipun jarak tempuh sekitar 5 jam tetapi cukup jauh, karena sepanjang jalan menuju daerah itu keadaannya cukup bagus dan lempang, sehingga semua kendaraan bisa melaju dengan sangat cepat. Sepanjang jalan di padang pasir umumnya tidak banyak belokan.
Banyak hal menarik di daerah itu, tetapi yang menjadi perhatian saya adalah tentang pendidikan anak-anak. Umumnya anak-anak sejak sekitar usia empat tahun sudah diperkenalkan dengan al Qurán. Dengan suasana bermain, mereka diajak menghafal al Qurán. Di mulai dari juz amma, dipilihkan surat-surat pendek. Saya sempat kagum, anak-anak kecil dengan ceria menghafal al Qurán. Di antara anak-anak itu saling berkompetisi. Anak yang berhasil menghafal memperoleh apresiasi dari orang tuanya dan juga saudara-saudaranya yang lebih tua. Keberhasilan menghafal al Qurán mendapatkan penghargaan dari lingkungannya. Semakin bertambah umur, hafalan al Qurán semakin bertambah. Seolah-olah menghafal al Qurán menjadi tuntutan bagi anak-anak di daerah itu. Dalam pembicaraan sehari-hari, masing-masing anak dikenali, tidak saja tentang nama dan siapa orang tua, di mana tempat tinggalnya, melainkan juga seberapa banyak al Qurán yang sudah dihafal olehnya. Pendidikan Islam dijalankan secara alami dan bertahap. Sejak kecil sudah dimulai dengan pembiasaan hidup secara Islam. Dimulai dari hal-hal yang sederhana. Misalnya, sebelum makan harus membasuh kedua tangannya, mengambil makanan dengan tangan kanan, dan tidak mengambil makanan yang bukan haknya. Cara-cara ini adalah sebagai bentuk kongkrit mengamalkan ajaran bahwa kebersihan adalah bagian dari iman dan selalu harus memilih makanan yang halal. Ajaran sederhana tersebut dibiasakan hingga anak-anak tersebut benar-benar bisa menjalankan secara istiqomah. Manakala dinilai sudah berhasil, maka kebiasaan itu ditambah lagi yang baru, misalnya setiap ketemu harus mengucapkan salam dan menjawabnya tatkala ada orang lain mengucapkan salam, memulai kegiatannya dengan membaca basmallah dan mengakhiri dengan hamdallah dan seterusnya. Selain itu anak-anak didekatkan dengan masjid. Pada setiap waktu, anak-anak diajak ke masjid untuk menjalankan shalat berjamaáh. Memang masjid dengan kedatangan anak-anak tersebut menjadi ramai. Akan tetapi, semua orang memahami bahwa hal itu adalah bagian dari upaya mendidik anak-anak. Hal menarik lainnya adalah terkait pendidikan bertanggung jawab. Sejak usia dini anak-anak sudah dibiasakan, setidaknya mengurus keperluannya sendiri. Bahkan sebagai pelajaran bertanggung jawab, anak-anak dilatih mengurus adik-adiknya. Orang tua baru menolong anak-anaknya, manakala benar-benar memerlukan. Ada anggapan di masyarakat Konfudha, bahwa anak yang selalu ditolong maka hidupnya akan selalu menggantungkan pada orang lain. Anak-anak sejak dini harus dibiasakan mandiri, dan bahkan harus bisa mengurus orang lain. Mengurus adik-adiknya dianggap sebagai pelatihan dalam bertanggung jawab dan membantu orang lain. Melalui cara ini juga menumbuhkan jiwa kepemimpinan. Orang tua berperan memberikan contoh, nasehat, dan memberikan bimbingan dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak tidak dimanjakan. Dengan demikian, tugas-tugas orang tua tidak tidak terlalu berat. Membandingkan apa yang terjadi di Kunfudha dengan kebiasaan di tanah air ini, lebih-lebih di perkotaan, terasa sangat jauh. Umumnya anak-anak di Indonesia sangat dimanja. Kita lihat, setiap pagi orang tua harus mengantarkan anak-anaknya ke sekolah dan juga menjemput tatkala pulang. Keterlibatan orang tua terhadap kehidupan anak, kadang sedemikian jauh. Hingga sampai masuk perguruan tinggi, anak-anak masih dibantu oleh orang tuanya. Seakan-akan orang tua menjadi pelayan bagi anak-anaknya. Hal yang demikian itu menjadikan anak kurang cepat dewasa. Mereka terbiasa dilayani dan tidak pernah belajar melayani, termasuk melayani dirinya sendiri. Generasai seperti ini tidak akan memiliki mental yang kokoh. Mereka tidak cepat mandiri dan selanjutnya selalu menggantungkan orang lain. Generasi seperti ini akan cepat menyerah tatkala menghadapi persoalan. Kunfudha adalah daerah padang pasir, sehingga orang-orangnya memerlukan ketahanan fisik dan mental yang kuat. Daerah yang di musim panas sangat panas dan kadang sebaliknya, terlalu dingin menjadikan orang-orangnya harus beradaptasi dengan tuntutan alam itu. Selain itu, pendidikan Islam yang ditanamkan secara alami dalam kehidupan sehari-hari, ternyata berhasil menjadikan Islam sebagai cara hidup sehari-hari. Pendidikan sebagaimana disebutkan itu kiranya bisa dilakukan di mana saja, termasuk di Indonesia. Sehingga sekalipun misalnya, pelajaran agama di sekolah jumlah jamnya terbatas, maka sebenarnya penanaman nilai-nilai Islam bisa dilakukan di sepanjang waktu. Misalnya, tatkala ketemu antar sesama dan apalagi dengan guru dibiasakan mengucap salam, memulai semua pekerjaan dengan basmallah dan mengakhiri dengan hamdallah, selalu menggunakan milik atau haknya sendiri, hormat dan menyayangi sesama, dibiasakan shalat berjamaáh di sekolah dan lain-lain. Itu semua sebenarnya adalah bagian dari pendidikan Islam. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
