Friday, 12 June 2026
above article banner area

Pesan Presiden dalam Peringatan Isro’ dan Mi’roj 1431 H

Selain penegasan kembali substansinya yaitu diperolehnya perintah sholat lima kali sehari semalam kepada Nabi Muhammad SAW  dan umatnya, ada dua hal penting yang bisa dipetik dari peringatan isro’ dan mi’roj 1431 H di Istana Negara, Jum’at, 9 Juli 2010. Pertama, dari penceramah Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang tentang pentingnya ilmu pengetahuan bagi kemajuan dan peradaban bangsa Indonesia dan pembenahan model pendidikan yang dikotomik sebagaimana selama ini berlangsung secara menyeluruh. Sebab,  menurut  Rektor UIN Malang ini model pendidikan semacam ini tidak akan pernah melahirkan manusia utuh sebagaimana yang dicita-citakan bersama berapapun anggaran yang dikeluarkan. Lebih parah lagi, model pendidikan kita hanya melahirkan manusia-manusia yang berpikir pragmatis dan materialistis.

  Sebaliknya, di lembaga-lembaga pendidikan keagamaan model pendidikannya hanya akan melahirkan lulusan yang menguasai agama secara sempit. Agama hanya dibatasi pada pengertian aktivitas ritual belaka, sehingga terjadi simplifikasi makna agama secara luar biasa. Padahal, dalam pandangan mantan Pembantu Rektor I Universitas Muhammadiyah Malang selama  tiga belas tahun itu bersama mantan Mendiknas Prof. H. Abd. Malik Fadjar itu, agama (baca: Islam) mencakup seluruh aspek kehidupan, mulai dari tatanan kehidupan (tingkat individu,  keluarga, hingga masyarakat, dan negara), ekonomi, politik, pendidikan, hukum, budaya, sampai ilmu pengetahuan. Dengan simplifikasi demikian, wajar jika sampai kapan pun masyarakat Islam tidak akan pernah maju.  Umat Islam akan tetap menjadi bagian masyarakat yang marginal dan tidak bisa mengambil peran penting dalam berbagai percaturan masyarakat global di berbagai bidang.         Kedua, pesan dari Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono. Selaku Kepala Negara, beliau perpesan lewat pidato tanpa teks agar bangsa Indonesia dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia diharapkan dapat mengangkat  kembali kejayaan Islam lewat peradaban yang sudah lama dibangun oleh para filsuf Islam masa lalu, seperti Ibnu Sina (980-1037 H), Al-Kindi (809-873 H), Ibnu Rusyd (1126-1198 H), Al-Farabi (961 H),  Imam 1058-1101H),  Al-Khawarizmi (seorang filsuf yang menemukan angka nol), dan lain-lain di berbagai ilmu pengetahuan. Tak dipungkiri kemajuan Islam pada abad ke-8 sampai 13 Masehi yang sangat pesat di bidang ilmu pengetahuan dapat menguasai berbagai peradaban Barat yang sudah ada sebelumnya. Periode tersebut merupakan zaman keemasan Islam. Sisa-sisa  kejayaan peradaban Islam pun kini masih bisa disaksikan di hampir semua negara bekas wilayah kekuasaan Islam dulu, seperti di Irak, Spanyol, Mesir, Turki, Syiria dan sebagainya.   Harapan Presiden tersebut bukan tanpa alasan. Sebab, peradaban Islam dianggap sebagai salah satu peradaban paling besar pengaruhnya di dunia, selain peradaban Barat dan Konfusius. Menurut Huntington dalam The Clash of Civilization usai perang dingin akan ada 7 (tujuh) peradaban besar dunia yang akan saling berebut pengaruh, yaitu peradaban Barat, peradaban Islam, peradaban Konfusius, peradaban Kristen Ortodoks, peradaban Hindu, peradaban Budha, dan peradaban Afrika dan Amerika Latin. Menariknya, Huntington menempatkan peradaban Islam sebagai sebuah peradaban besar dunia yang akan sangat berpengaruh dalam kehidupan modern. Tesis Huntington kini terbukti. Islam tampil sebagai salah kekuatan besar saat ini dan sangat mempengaruhi geososial, politik, dan ekonomi dunia dengan berbagai ragamnya. Tetapi sayang dalam ilmu pengetahuan Islam tertinggal dengan Barat. Ketertinggalan ini akibat arus modernisme yang mangalir deras ke dunia Islam bersamaan dengan gelombang globalisasi, sehingga umat Islam terjebak pula dalam tatanan modernisme ala Barat. Bersamaan itu muncul pula gelombang sekularisme dan liberalisme muncul sebagai kekuatan raksasa yang pengaruhnya ke hampir seluruh sendi kehidupan masyarakat modern. Sekularisme dan liberalisme tak bisa dipungkiri telah mengakibatkan peradaban Islam tumpul. Sebab, para intelektual muslim sebagai agen peradaban Islam terpengaruh model berpikir ala Barat. Selain itu, dua gelombang besar itu juga mengakibatkan dunia Islam diisi dengan peradaban material. Oleh karena itu, ajakan Presiden sangat relevan dengan isu sentral saat ini bahwa bangsa Indonesia sudah selayaknya memiliki jati diri dan karakter yang kokoh dan tidak terombang-ambing oleh kekuatan eksternal dari mana pun. Lebih dari itu, untuk mengembalikan kejayaan peradaban Islam diperlukan strategi yang tepat lewat inovasi dan pendidikan, khususnya pendidikan tinggi Islam, yang tepat pula. Harapan Presiden perlu disambut oleh para intelektual muslim, generasi muda Islam, pendidik muslim dan pengelola lembaga-lembaga pendidikan Islam di Tanah Air. Saya yakin kejayaan peradaban Islam akan dapat diraih kembali. Sebab, peradaban Islam bersumber dari al Qur’an dan sunnah Nabi, yang tentu memiliki kekuatan besar. Karena itu, jika umat Islam, termasuk para intelektual dan cendekiawannya, mau menggali dengan serius dan komprehensif semua kandungan al Qur’an dan sunnah dalam semua aspek kehidupan, maka kejayaan peradaban Islam bisa diraih kembali.   _________ Yogyakarta, 11 Juli 2010  

Penulis : Prof DR. H. Mudjia Rahardjo

Pembantu Rektor I Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *