Tatkala kita sedang menstudi manajemen pendidikan Islam, maka apa sesungguhnya yang terbayang pada pikiran kita. Manajemen adalah cara untuk manata orang agar lembaga pendidikan berjalan efektif, efisien dan dinamis. Lembaga pendidikan yang dikelola seperti itu akan melahirkan kemajuan. Maka muncullah lembaga pendidikan yang maju pesat, biasa-biasa saja dan bahkan mengalami kemunduran. Tingkat kemajuan lembaga pendidikan itu, bisa jadi ditengarai berkaitan dengan pelaksnaan manajemennya. Berbicara manajemen juga berbicara tentang pemimpin atau leader, maka kemudian memunculkan istilah leadership. Managemen dan kepemimpinan sesungguhnya memiliki kajian yang berbeda. Tetapi keduanya memiliki titik singgung yang sangat dekat. Memimpin terkait dengan menggerakkan dan mengarahkan kegiatan orang, sedang memanage terkait dengan kegiatan mengatur orang. Mengatur bisa dimaknai secara luas, misalnya menempatkan, member tugas, membagi-bagi , memfasilitasi, mencarikan jalan keluar, menunjukkan penyakit atau rintangan, menghilangkan rintangan-rintangannya, memperlancar dan juga mengubah-ubah tugas yang diberikan, termasuk juga memberhentikan.
Berbicara tentang manajemen bisa mencakup dua obyek sasaran, yaitu sasaran makro, yakni bagaimana lembaga pendidikan diatur oleh sebuah departemen, badan atau organisasi lainnya. Sasaran kajiannya adalah menyangkut bagaimana mengkoordinasi berbagai hal, terkait dengan pembagian sumber-sumber daya —–keuangan, orang maupun fasilitas lainnya, pembagian wewenang, kekuasaan, informasi, kebijakan-kebijakan. Juga kajian tentang rekruitmen pejabat, mobilitas vertical maupun horizontal , dan lebih dari itu kaitannya dengan kebijakan Negara, sasaran-sasaran yang ingin dicapai serta pemilihan stratregi-strategi. Mungkin di sana terjadi kompetisi, perebutan, kooptasi dan hegemonic dari kekuatan-kekuatan tertentu. Semua berpengaruh terhadap managemen pendidikan secara keseluruhan. Selain itu, manajemen juga bisa melihat aspek-aspek yang lebih mikro. Yakni bagaimana lembaga pendidikan dimanaje. Maka di sana ada pula rektruitmen pegawai, pengorganisasian, pemberian wewenang dan tanggung jawab, promosi, sanksi atau hukuman dan seterusnya. Tatkala mengkaji managemen secara mikro maka juga akan terlihat hubungan-hubungan antar orang yang memiliki peran dan tanggung jawab yang berbeda, adanya hirarkhi, ketaatan dan loyalitas, hubungan atasan dan bawahan, hubungan sesama staf, kompetisi, konflik, baik konflik fungsional maupun konflik yang disfungsional. Konflik juga berjalan secara sembunyi-sembunyi dan juga ada yang terang-terangan. Khusus terkait dengan konflik misalnya, konflik antar siapa, sumber-sumber konflik, fase-fase konflik, mekanisme penyelesaian konflik, masa terjadi konflik, dampak konflik terhadap pendidikan dan juga terhadap kosevitas kelompok dan lain-lain. Berbicara manajemen juga berbicara tentang komunikasi, penggunaan bahasa komunikasi, ——dalam al Qur’an dibicarakan tentang berbagai kata untuk menggerakkan orang. Ada qoulan balligho, qoulan sadida, qoulan layyina, qoulan makrufa, qoulan tsaqila dan seterusnya. Berbagai variable tersebut, dapat diamati di sekolah atau lembaga pendidikan. Misalnya, bagaimana kepala sekolah membagi tugas, menempatkan orang, menghargai para stafnya, memotivasi agar lembaga pendidikan menjadi dinamis. Secara sepintas, lembaga pendidikan berjalan seperti biasa. Akan tetapi sebagai seorang peneliti, dengan melakukan pengamatan selintas, akan menemukan apa yang disebut dengan proses-proses social. Di lembaga pendidikan itu, sesungguhnya ada berbagai kekuatan yang berpengaruh terhadap manajemen. Misalnya, mengapa seseorang diberi tugas pada wilayah tertentu, jabatan tertentu dan juga imbalan tertentu. Mengapa seseorang sedang tidak diberi peran secara leluasa. Kekuatan apa dibalik itu yang mendasari keputusan itu. Mengapa hal itu terjadi. Melihat kenyataan itu, pertanyaannya adalah kekuatan-kekuatan apa dibalik itu semua. Penelitian yang bersifat mikro ——dengan pendekatan fenomenologinya akan memahami makna di balik teks kehidupan itu. Selain itu mungkin seorang peneliti, akan memahami makna-makna yang terkait dengan apa saja dalam organisasi pendidikan. Maka, jika demikian halnya peneliti akan memahami manajemen pendidikan dari perspektif interaksinis simbolik, dan seterusnya. Dalam cara yang lain, terkait dengan tujuan penelitiannya, maka peneliti akan memahami dari perspektif fakta social. Maka sesuai dengan paradigma yang digunakan itu, kemudian dipilihlah misalnya teori structural fungsional. Peneliti dalam hal ini akan mengkaji tentang sebab akibat terhadap perilaku yang terjadi di dalam pelaksanaan manajemen pendidikan, khususnya pendidikan Islam. Tulisan yang semula sebatas untuk menjawab pertanyaan beberapa mahasiswa yang datang konsultasi untuk penulisan tesis, kiranya perlu dibaca bagi yang lainnya. Rupanya persoalan-persoalan sederhana seperti ini masih diperlukan bagi mereka tatkala sedang mempersiapkan penelitian yang terkait dengan manajemen maupun kepemimpinan pendidikan Islam. Semogalah ada manfaatnya.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
