Saturday, 18 April 2026
above article banner area

Sholat Subuh Di Masjid Jami’ Kota Tuban

Hari Ahad pagi, tanggal 25 April 2010 kemarin, saya mendapat undangan untuk ceramah pagi di Tuban. Untuk memenuhi undangan itu, saya berangkat dari rumah jam 01.00, nyampai di Tuban jam 04.00. Saya langsung ke masjid jami’ kota Tuban untuk menunaikan sholat subuh.

Rupanya sejak beberapa tahun terakhir, di beberapa kota, muncul fenomena baru, yaitu penyelenggaraan pengajian Ahad pagi. Kegiatan seperti itu, umumnya diminati banyak pengunjung, hingga ribuan jumlahnya. Saya dengar di beberapa kota, seperti di Ponorogo, Madiun, Bojonegoro, Lumajang, Tuban dan masih ada di beberapa kota lagi lainnya diselenggarakan kegiatan semacam itu dan selalu ramai dikunjungi jamaáh. Baru pertama kali itu, saya masuk masjid jami’ kota itu. Bangunannya saya lihat sangat indah, rupanya dibuat menyerupai masjid di Makah atau di Madinah. Begitu pula kebersihannya terjaga baik. Tidak terkecuali, tempat wudlu hingga kamar kecil tampak bersih sekali. Gambaran bahwa Islam itu mengajarkan tentang kebersihan, kerapian, dan keindahan telah ditunjukkan lewat masjid itu. Beberapa petugas kebersihan di pagi itu sudah tampak berjaga dan bahkan bekerja di sekitar masjid. Di beberapa tempat, untuk menjaga kebersihan, ditulis peringatan bahwa siapapun agar selalu menjaga kebersihan. Bahkan juga ada ancaman, bagi siapa yang melanggar, misalnya membuang sampah seenaknya, jika ketahuan petugas, akan didenda. Cara seperti itu, kiranya baik dilakukan, agar tempat ibadah menjadi kelihatan selalu bersih dan indah. Rupanya masjid jama’ itu selalu banyak dikunjungi oleh jamaáh dari luar kota Tuban, sehubungan dengan tempatnya yang berdekatan dengan makam Sunan Bonang. Para peziarah makam salah seorang wali songo ini, terutama ketika masuk waktu sholat, memanfaatkan masjid itu untuk istirahat dan atau sholat. Karena itulah, rupanya petugas kebersihan masjid harus selalu bekerja keras. Ketika duduk sambil menunggu datangnya waktu sholat subuh itu, terbayang di pikiran saya alangkah indahnya, umpama pada setiap waktu sholat, termasuk waktu subuh, masjid itu dipenuhi oleh jamaáh dari kaum muslimin yang bertempat tinggal di sekitarnya. Saya membayangkan, alangkah indahnya, pada setiap dikumandangkan adzan, segera kaum muslimin dan muslimat berdatangan ke tempat ibadah untuk sholat berjamaáh. Keindahan masjid itu, tentu akan tampak semakin sempurna. Dem ikian pula suasana kotanya, akan semakin semarak dan indah. Lebih jauh dari itu, saya juga membayangkan, umpama di setiap kota di negeri ini, khususnya yang mayoritas penduduknya muslim, selalu terdapat masjid yang besar, indah dan bersih, seperti di Tuban, dan pada setiap waktu sholat semua para pimpinannya ——baik pimpinan formal maupun informal, sholat berjamaáh, maka kota-kota itu akan sangat indah. Kebiasaan seperti itu, akan menjadikan hubungan sillaturrahim di antara seluruh warga kota akan kokoh. Kondisi seperti itu akan melahirkan kedamaian. Hubungan antar jamaáh yang semua itu adalah warga kota bakan menjadi sangat dekat. Masjid akan benar-benar menjadi pusat warga kota bertemu dan menjadi pusat peradaban. Sayangnya hingga saat ini, di kebanyakan masyarakat masih baru menyadari betapa pentingnya masjid, tetapi kesadaran itu belum diikuti oleh kesadaran selanjutnya, yaitu betapa pentingnya masjid itu dimanfaatkan. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *