Wednesday, 29 April 2026
above article banner area

Tatkala Manusia Sudah Menjadi Penyakit

Dalam sebuah perbincangan kecil dengan beberapa orang yang bertempat tinggal di pedesaan, saya mengenal istilah yang sebelumnya belum penah saya bayangkan, yaitu penyakit berupa manusia. Di waktu libur, kebetulan saya berjalan-jalan ke pedesaan. Saya hanya ingin mempelajari, jenis usaha pertanian yang sekiranya bisa dikembangkan untuk memenuhi  kebutuhan kampus di masa depan.

  Semula saya mendapatkan informasi, bahwa melalui usaha pertanian, semisal menanam pohon basia, hasilnya lumayan besar.    Umpama saja kampus memiliki tanah seluas 5000 hektar, ditanami jenis pohon  tersebut, maka hasilnya  sudah mencukupi untuk membiayai seluruh kegiatan operasional kampus pada setiap tahunnya. Saya ingin mengklarifikasi informasi menarik itu, dengan mencoba mendatangi petani tanaman pohon tersebut di beberapa daerah.      Informasi tersebut ternyata memang ada benarnya. Usaha di bidang perkebunan pohon basia misalnya, selain perawatannya ringan, juga hasilnya cukup baik. Beberapa orang mengatakan bahwa usaha itu sangat feasible dilakukan. Hanya, dikatakan bahwa, jenis pohon tersebut rawan penyakit. Biasanya,   penyakit lama berhasil dibasmi, maka  muncul jenis penyakit baru. Bahkan akhir-akhir ini ditemukan jenis penyakit yang lebih sulit ditanggulangi, terutama tatkala pohon itu sudah menjelang besar, siap dipanen.   Penyakit yang dimaksudkan  itu, ——–menurut petani di pedesaan tersebut, ialah berupa manusia.   Sebutan penyakit berupa manusia tersebut, saya menjadi  penasaran. Saya ingin mendapatkan penjelasan apa sebenarnya yang dimaksud dengan penyakit berupa manusia tersebut. Apakah yang dimaksudkan dengan istilah manusia itu sebagai kata kiasan ataukah benar-benar berupa manusia. Ternyata saya mendapatkan jawaban, bahwa penyakit yang dimaksud itu adalah benar-benar manusia, yaitu para  pencuri kayu.     Mereka menjelaskan bahwa setelah  tanaman  itu menginjak besar, dan pohonnya sudah laku  dijual, maka bisa saja datang para pencuri kayu. Mereka bukan saja mencuri sebatang atau dua batang, melainkan sejumlah besar  pohon. Mereka membawa mobil pengangkut kayu, dan selanjutnya dengan alat-alat mesin pemotong, dalam waktu yang tidak terlalu lama,  berhasil menebang puluhan batang pohon. Para pencuri kayu seperti itulah yang disebut sebagai jenis penyakit yang sangat sulit untuk dibasmi.   Mereka menyebut,   para pencuri kayu tersebut sebagai jenis penyakit baru tanaman pohon basia. Jika  penyakit itu  berupa binatang, maka bisa saja dicarikan obat pembasminya. Akan tetapi jika  berupa manusia, maka belum ditemukan obat pembasminya.  Sehingga,  membasmi  penyakit berupa manusia, tidak mudah dilakukan. Para pencuri kayu itu,  tatkala  beroperasi selalu  tidak sendirian.  Jika dihadapi, mereka juga akan melawan.     Mendengar penjelasan petani di pedesaan tersebut, saya menjadi sadar, ——memang benar, bahwa jika penyakit itu berupa manusia di mana dan kapan pun akan sulit dibasmi. Padahal,  sebenarnya penyakit berupa manusia itu, tidak saja  sudah muncul di pedesaan atau di hutan,  dengan sasaran kebun   kayu basia, melainkan sudah menjamah di berbagai  bidang kehidupan ini.   Penyakit berupa manusia itu sebenarnya sudah lama ada di mana-mana, misalnya di birokrasi pemerintahan, lembaga negara, organisasi politik,  BUMN, berbagai perusahaan-perusahaan,  dan bahkan mungkin juga di lembaga-lembaga pendidikan sekalipun. Birokrasi yang di dalamnya terdapat orang-orang yang tidak memiliki komitmen teradap lembaganya dan bahkan selalu ingin mendapatkan keutungan pribadi secara berlebihan dengan cara korupsi, kolusi dan nepotisme,  maka mereka itu sebenarnya adalah merupakan penyakit institusi  yang sangat sulit dibasmi.   Sebuah organisasi pemerintah, lembaga negara, BUMN atau perusahaan-perusahaan yang memiliki pejabat atau pegawai yang  bermental korup, sama halnya  institusi  tersebut sedang berpenyakit. Lembaga apa saja yang sedang terjangkit penyakit, berupa manusia-manusia munafik, korup, bermental perusak, selamanya   tidak akan berhasil mengembangkan institusinya, dan sebaliknya bahkan suatu saat akan bangkrut.   Membasmi penyakit berupa manusia, akan jauh lebih sulit daripada membasmi penyakit konvensional,  berupa binatang pengganggu. Penyakit berupa binatang,—-apapun jenisnya,  bisa segera dibasmi dengan racun.  Berbeda dengan itu, adalah penyakit berupa manusia, yang tampil secara tidak jelas. Bisa saja mereka berkedudukan tinggi, berpenampilan  gagah,  setiap hari berpakaian jas lengkap dengan dasinya, tetapi sebenarnya yang bersangkutan adalah masuk kategori yang disebut sebagai penyakit institusi,  berupa manusia.   Penyakit berupa manusia tidak mudah dikenali.  Penyakit itu bersemayam di hati orang yang bersanghkutan. Penampilan dan kata-katanya mungkin hebat, tetapi bisa jadi,  mereka berhati jahat, selalu hanya menginginkan keuntungan dirinya sendiri dan merusak organisasi atau institusi di mana ia berada.   Bangsa ini, sudah 65 tahun  merdeka, tetapi belum meraih kemakmuran secara merata. Kondisi seperti itu,   sebagai akibat dari adanya  penyakit yang amat ganas. Penyakit itu, menurut orang desa, berupa manusia. Dalam bentuknya yang kongkrit, pada saat ini disebut  koruptor.   Mereka itu ada di mana-mana, bisa jadi  di birokrasi pemerintah, lembaga negara, organisasi politik, BUMN, perusahaan-perusahaan, lembaga pendidikan dan lain sebagainya. Padahal penyakit berupa manusia,  daya perusaknya jauh lebih dahsyat, dan ternyata amat sulit membasminya. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *