Dalam sebuah perbincangan kecil dengan beberapa orang yang bertempat tinggal di pedesaan, saya mengenal istilah yang sebelumnya belum penah saya bayangkan, yaitu penyakit berupa manusia. Di waktu libur, kebetulan saya berjalan-jalan ke pedesaan. Saya hanya ingin mempelajari, jenis usaha pertanian yang sekiranya bisa dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan kampus di masa depan.
Semula saya mendapatkan informasi, bahwa melalui usaha pertanian, semisal menanam pohon basia, hasilnya lumayan besar. Umpama saja kampus memiliki tanah seluas 5000 hektar, ditanami jenis pohon tersebut, maka hasilnya sudah mencukupi untuk membiayai seluruh kegiatan operasional kampus pada setiap tahunnya. Saya ingin mengklarifikasi informasi menarik itu, dengan mencoba mendatangi petani tanaman pohon tersebut di beberapa daerah. Informasi tersebut ternyata memang ada benarnya. Usaha di bidang perkebunan pohon basia misalnya, selain perawatannya ringan, juga hasilnya cukup baik. Beberapa orang mengatakan bahwa usaha itu sangat feasible dilakukan. Hanya, dikatakan bahwa, jenis pohon tersebut rawan penyakit. Biasanya, penyakit lama berhasil dibasmi, maka muncul jenis penyakit baru. Bahkan akhir-akhir ini ditemukan jenis penyakit yang lebih sulit ditanggulangi, terutama tatkala pohon itu sudah menjelang besar, siap dipanen. Penyakit yang dimaksudkan itu, ——–menurut petani di pedesaan tersebut, ialah berupa manusia. Sebutan penyakit berupa manusia tersebut, saya menjadi penasaran. Saya ingin mendapatkan penjelasan apa sebenarnya yang dimaksud dengan penyakit berupa manusia tersebut. Apakah yang dimaksudkan dengan istilah manusia itu sebagai kata kiasan ataukah benar-benar berupa manusia. Ternyata saya mendapatkan jawaban, bahwa penyakit yang dimaksud itu adalah benar-benar manusia, yaitu para pencuri kayu. Mereka menjelaskan bahwa setelah tanaman itu menginjak besar, dan pohonnya sudah laku dijual, maka bisa saja datang para pencuri kayu. Mereka bukan saja mencuri sebatang atau dua batang, melainkan sejumlah besar pohon. Mereka membawa mobil pengangkut kayu, dan selanjutnya dengan alat-alat mesin pemotong, dalam waktu yang tidak terlalu lama, berhasil menebang puluhan batang pohon. Para pencuri kayu seperti itulah yang disebut sebagai jenis penyakit yang sangat sulit untuk dibasmi. Mereka menyebut, para pencuri kayu tersebut sebagai jenis penyakit baru tanaman pohon basia. Jika penyakit itu berupa binatang, maka bisa saja dicarikan obat pembasminya. Akan tetapi jika berupa manusia, maka belum ditemukan obat pembasminya. Sehingga, membasmi penyakit berupa manusia, tidak mudah dilakukan. Para pencuri kayu itu, tatkala beroperasi selalu tidak sendirian. Jika dihadapi, mereka juga akan melawan. Mendengar penjelasan petani di pedesaan tersebut, saya menjadi sadar, ——memang benar, bahwa jika penyakit itu berupa manusia di mana dan kapan pun akan sulit dibasmi. Padahal, sebenarnya penyakit berupa manusia itu, tidak saja sudah muncul di pedesaan atau di hutan, dengan sasaran kebun kayu basia, melainkan sudah menjamah di berbagai bidang kehidupan ini. Penyakit berupa manusia itu sebenarnya sudah lama ada di mana-mana, misalnya di birokrasi pemerintahan, lembaga negara, organisasi politik, BUMN, berbagai perusahaan-perusahaan, dan bahkan mungkin juga di lembaga-lembaga pendidikan sekalipun. Birokrasi yang di dalamnya terdapat orang-orang yang tidak memiliki komitmen teradap lembaganya dan bahkan selalu ingin mendapatkan keutungan pribadi secara berlebihan dengan cara korupsi, kolusi dan nepotisme, maka mereka itu sebenarnya adalah merupakan penyakit institusi yang sangat sulit dibasmi. Sebuah organisasi pemerintah, lembaga negara, BUMN atau perusahaan-perusahaan yang memiliki pejabat atau pegawai yang bermental korup, sama halnya institusi tersebut sedang berpenyakit. Lembaga apa saja yang sedang terjangkit penyakit, berupa manusia-manusia munafik, korup, bermental perusak, selamanya tidak akan berhasil mengembangkan institusinya, dan sebaliknya bahkan suatu saat akan bangkrut. Membasmi penyakit berupa manusia, akan jauh lebih sulit daripada membasmi penyakit konvensional, berupa binatang pengganggu. Penyakit berupa binatang,—-apapun jenisnya, bisa segera dibasmi dengan racun. Berbeda dengan itu, adalah penyakit berupa manusia, yang tampil secara tidak jelas. Bisa saja mereka berkedudukan tinggi, berpenampilan gagah, setiap hari berpakaian jas lengkap dengan dasinya, tetapi sebenarnya yang bersangkutan adalah masuk kategori yang disebut sebagai penyakit institusi, berupa manusia. Penyakit berupa manusia tidak mudah dikenali. Penyakit itu bersemayam di hati orang yang bersanghkutan. Penampilan dan kata-katanya mungkin hebat, tetapi bisa jadi, mereka berhati jahat, selalu hanya menginginkan keuntungan dirinya sendiri dan merusak organisasi atau institusi di mana ia berada. Bangsa ini, sudah 65 tahun merdeka, tetapi belum meraih kemakmuran secara merata. Kondisi seperti itu, sebagai akibat dari adanya penyakit yang amat ganas. Penyakit itu, menurut orang desa, berupa manusia. Dalam bentuknya yang kongkrit, pada saat ini disebut koruptor. Mereka itu ada di mana-mana, bisa jadi di birokrasi pemerintah, lembaga negara, organisasi politik, BUMN, perusahaan-perusahaan, lembaga pendidikan dan lain sebagainya. Padahal penyakit berupa manusia, daya perusaknya jauh lebih dahsyat, dan ternyata amat sulit membasminya. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
