Saturday, 18 April 2026
above article banner area

Ternyata Manusia hanya Bisa Berencana, tetapi Tetap Tuhan yang Menentukannya

Kalimat pada judul di atas layak saya tulis karena peristiwa yang saya alami pada Senin, 26 Juni 2011 membuktikan ungkapan tersebut. Betapa tidak.  Sesuai agenda, Senin 26 Juni 2011 saya diminta menjadi salah seorang nara sumber pada seminar bertema “Current Issues on Linguistics and Literature: Synthesizing the Concepts of Linguistics and Literature in an ELT Framework “  di Fakultas Humaniora dan Budaya di Universitas tempat saya bekerja. Seminar dimulai pukul 9.00 WIB dan berakhir pukul 12. 30 WIB. Saya dijadwal sebagai pembicara sesi pertama dan dilanjutkan oleh pembicara kedua, seorang pakar antropologi dari Amerika Serikat bernama David Gill, Ph.D. Hingga Jum’at tanggal 23 Juni 2011, semua rencana  berjalan normal, sehingga seminar akan berlangsung lancar. Panitia juga telah melakukan persiapan dengan baik dan tidak pernah membayangkan bahwa sesuatu yang tidak diharapkan bakal terjadi.

  Sabtu, 24 Juni 2011 saya menerima undangan mendadak untuk menghadiri rapat di Jakarta mulai Minggu s/d Selasa (25s/d 27 Juni 2011). Rapat dimulai hari Minggu pukul 16. 00 di sebuah hotel berbintang.  Saya segera menghubungi ketua panitia seminar dan menyampaikan apa yang terjadi. Dia sangat shocked dan panik mendengar berita yang saya sampaikan, karena semua peserta sudah konfirmasi akan datang dengan pembicara yang sudah mereka ketahui. Lagi pula mencari pengganti pembicara hanya dalam waktu dua hari jelas bukan pekerjaan mudah. Solusinya saya tetap berangkat ke Jakarta hari Minggu pagi, dan Senin pagi tanggal 26 Juni 2011 saya harus sudah berada di kampus paling lambat pukul 9.00 WIB. Saya segera menghubungi petugas tiket untuk mengatur penerbangan saya. Minggu pagi saya berangkat menuju Jakarta dan mengikuti rapat pukul 16.00 WIB. Senin pagi saya meninggalkan hotel pukul 04.30 WIB menuju bandara Soekarno-Hatta dan mengikuti penerbangan pertama ke Malang pukul 06.40 WIB. Pesawat berangkat tepat waktu, sehingga saya merasa aman karena sesuai jadwal akan tiba di bandara Abd. Saleh Malang pukul 08.10 WIB sehingga sebelum pukul 09.00 WIB saya bisa tiba di kampus tempat seminar. Ketika pendaratan tinggal beberapa menit ada pengumuman dari pramugari bahwa karena cuaca buruk pesawat tidak bisa mendarat di bandara Abd. Rahman Saleh Malang dan harus dipindahkan ke bandara Juanda di Surabaya. Semua penumpang gelisah, terutama yang punya agenda kegiatan yang terjadwal. Tapi apa boleh buat daripada dipaksakan mendarat di Abd. Rahman Saleh dengan risiko keselamatan. Semua penumpang maklum dan malah beberapa penumpang memberikan apresiasi ke pilot atas keputusan tersebut, walau kegiatan menjadi kacau. Akhirnya pesawat mendarat di Juanda dengan mulus. Sebelum kami keluar dari pesawat ada pengumuman bahwa kami diminta masuk ruang tunggu dan pesawat akan terbang menuju Malang jika cuaca sudah kembali normal. Setelah menunggu hampir dua jam, ada pengumuman bahwa pesawat menuju Malang akan diberangkatkan. Saya melihat jam menunjuk pukul 11.00 WIB. Kami segera masuk pesawat yang akan terbang ke Malang. Hanya dalam waktu 15 menit pesawat sudah mendarat di bandara Abd. Rahman Saleh di Malang. Perjalanan dari bandara Abd. Rahman Saleh ke kampus yang biasanya bisa ditempuh hanya selama tiga puluh menit ternyata hari itu memakan waktu hampir satu jam karena kemacetan lalu lintas di mana-mana, sehingga saya baru bisa sampai kampus pukul 12.15 WIB. Sampai di kampus, saya tidak langsung menuju ke tempat seminar, tetapi ke kantor untuk mengambil makalah yang sudah disiapkan staf dan menaruh tas. Untungnya, atas himbauan panitia sebagian besar peserta seminar masih bertahan dan sabar menunggu kedatangan saya. Beberapa sudah meninggalkan seminar pukul 11.30 WIB, karena ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan. Pukul 12.30 WIB saya  masuk ruang seminar dan menyampaikan makalah selama 30 menit. Saya merasa penyampaian saya tidak bagus karena kondisi psikologis saya yang tidak menguntungkan. Usai presentasi, moderator memberikan kesempatan kepada peserta untuk menyampaikan pertanyaan. Ada dua pertanyaan yang diajukan. Saya masih sempat menjawab kedua pertanyaan tersebut. Tepat pukul 13.30 WIB saya meninggalkan ruang seminar dan mampir ke rumah, yang hanya memakan waktu lima menit dari kantor, untuk ganti baju dan dokumen yang saya perlukan. Pukul 14.00 WIB saya kembali ke bandara Abd. Rahman Saleh untuk ikut penerbangan pukul 14.30 WIB, dengan harapan dapat mengikuti rapat lagi di Jakarta pukul 16.00 WIB. Pukul 15.20 WIB pesawat mendarat di bandara Soekarno-Hatta  dengan selamat. Setelah keluar dari pesawat, saya segera bergegas mencari bus DAMRI jalur Blok M yang lewat di depan hotel saya menginap. Menurut perkiraan, saya tiba di hotel paling lambat pukul 16.30 WIB, sehingga saya terlambat selama kurang lebih setengah jam. Perkiraan saya meleset total. Perjalanan dari bandara menuju hotel memakan waktu hampir lima jam karena kepadatan lalu lintas  yang luar biasa pada sore itu, sehingga saya bisa masuk hotel hampir pukul 21.00 WIB. Bisa dibayangkan bagaimana kepanikan saya selama perjalanan. Sebab, panitia terus menghubungi dan menanyakan di mana posisi saya. Ketika saya masuk hotel pukul 21.00 WIB, tentu saja rapat sudah usai, dan teman-teman yang mengetahui kedatangan saya pada tertawa. Semua bertanya “dari mana saja pak kok seharian tidak tampak?”. Saya hanya bisa cengar cengir mendegar pertanyaan mereka. Hari itu bagi saya menyedihkan, tanpa menyalahkan siapapun. Tetapi jika diresapi dalam-dalam ada hikmah luar biasa yang bisa saya petik. Dari dua peristiwa yang saya alami itu sampai pada kesimpulan bahwa ternyata manusia itu hanya bisa membuat rencana. Tetapi toh pada akhirnya Tuhan pula yang menentukan segalanya. Persiapan untuk mengikuti seminar di Malang saya lakukan dengan baik. Jika sesuai rencana, saya bisa mengikuti seminar tepat waktu. Tetapi siapa yang mengira jika tiba-tiba cuaca buruk di atas bandara Abd. Saleh Malang, sehingga pesawat tidak bisa mendarat. Selanjutnya ketika kembali ke Jakarta, perjalanan dari bandara menuju hotel yang dalam waktu normal bisa ditempuh hanya 45 menit berubah menjadi hampir lima jam. Mengapa tiba-tiba terjadi kemacetan luar biasa di Jakarta pada sore itu. Tatkala mau tidur,  malam itu saya merenung atas semua kejadian yang saya alami pada hari itu dan mencari hikmahnya. Tiba-tiba saya teringat guru ngaji saya di kampung dulu yang pernah mengajarkan untuk selalu mengucapkan “insya Allah” tatkala akan melakukan sesuatu. “Insya Allah” adalah terminologi dalam bahasa Arab yang  seharusnya diucapkan oleh seorang muslim  yang menyertai pernyataan akan berbuat sesuatu pada waktu yang akan datang. Dengan ucapan tersebut, seorang muslim berjanji untuk melakukan perbuatan kecuali tidak memungkinkan karena berbagai hal, dan semuanya atas ijin Allah.  Dalam ungkapan “insya Allah” terkandung makna pengakuan diri betapa sebenarnya manusia sangat lemah di hadapan Allah dan sebuah deklarasi bahwa ada dzat yang mengatur segalanya di dunia ini, yakni Allah Tuhan Yang Maha Esa. Penjelasan tentang “insya Allah” diterangkan di dalam Al Qur’an surat Al-Kahf ayat 23-24 “Dan jangan sekali-sekali engkau mengatakan terhadap sesuatu, “Aku pasti melakukan itu besuk pagi”. kecuali (dengan mengatakan) insya Allah. Dan ingatlah kepada Tuhanmu… dst”. Pengakuan diri bukan kepasrahan. Pengakuan merupakan sikap gentle seorang hamba atas keterbatasan yang dimiliki. Sadar karena kekurangannya, maka seseorang tidak berani mengatakan kata ‘pasti’ dalam  menjalankan sebuah rencana. Ungkapan “saya pasti lulus, atau saya pasti berhasil” bagi seorang mahasiswa yang  baru mengikuti ujian merupakan sikap sombong yang tidak tahu diri. Bagaimana mungkin seseorang bisa memastikan sesuatu, sementara dia tidak bisa menguasai semuanya. Berbagai kemungkinan masih akan terjadi. Sedangkan  kepasrahan merupakan sikap menerima apa adanya atas berbagai hal tanpa ada upaya. Sikap pasrah adalah sikap pasif. Di balik sikap gentle berupa pengakuan atas kelemahan yang dimiliki, sesungguhnya pada saat yang sama terpancar sebuah kekuatan. Mengapa demikian? Realitas hidup dan kehidupan ini berjalan dalam oposisi biner (binary opposition). Misalnya, jauh-dekat, benar-salah, tinggi-rendah, kuat-lemah, tua-muda, sulit-mudah, kaya-miskin, dst. Kita tidak bisa mengatakan seseorang itu ‘kaya’, tanpa ada pembandingnya yaitu ‘miskin’. Begitu juga, kita tidak bisa menyebut orang ini ‘lemah’, tanpa ada pembandingnya yang ‘kuat’. Sayang dalam hidup ini tidak banyak orang mengakui kelemahannya. Yang sering kita lihat adalah sikap  menonjolkan kelebihannya. Padahal, dengan menonjolkan kelebihannya tanpa disadari seseorang  memamerkan kekurangannya, atau malah kebodohannya. Dalam ungkapan sederhana bisa dikatakan karena tidak pernah ada orang menyebut dirinya hebat, dan ditunggu-tunggu tetap tidak ada orang menyebut dirinya hebat, maka dia sendiri saja yang menyebut dirinya hebat. Saya teringat materi kuliah metodologi penelitian ketika membahas masalah keterbatasan sebuah karya ilmiah seperti penelitian. Saya sering sampaikan kepada mahasiswa bahwa tidak ada karya ilmiah oleh siapapun yang tidak memiliki kelemahan atau kekurangan. Weakness is human. Karena itu, tidak perlu takut atau ragu untuk membuat karya ilmiah. Tetapi, harus ada sikap gentle berupa pengakuan kelemahan atau keterbatasan yang ada, mungkin aspek metodologi, teori, analisis, kekurangan data, atau bahkan bahasanya, yang semuanya ditulis agar peneliti berikutnya tidak melakukan hal (kekurangan) yang sama. Seorang peneliti atau penulis karya ilmiah  tidak perlu merasa malu dengan mengakui kelemahannya. Sebab, dengan begitu, secara tidak langsung dia telah menunjukkan kekuatan karya ilmiahnya, tanpa harus mengatakannya. Menyadari betapa lemahnya seorang hamba di hadapan Tuhan, maka sudah selayaknya ungkapan “insya Allah” senantiasa menghiasi bibir dan lidah setiap muslim setiap kali  akan melangkah. Dengan mengucapkan “insya Allah” dengan tulus, seseorang muslim tidak saja meneguhkan ke-Esa-an Tuhannya, tetapi juga menegaskan “keimanannya” di hadapan sang Pencipta dan bahwa sejatinya manusia hanya mampu membuat perencanaan. Tuhan pula yang akhirnya menentukan segalanya,   _______   Malang, 1 Juli 2011

Penulis : Prof DR. H. Mudjia Rahardjo

Pembantu Rektor I Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *