Tuesday, 17 March 2026
above article banner area

Peranan hewan Tanah

Salah satu organisme penghuni tanah yang berperan sangat besar dalam perbaikan kesuburan tanah adalah fauna tanah. Proses dekomposisi dalam tanah tidak akan mampu berjalan dengan cepat bila tidak ditunjang oleh kegiatan makrofauna tanah. Makrofauna tanah  mempunyai  peranan  penting  dalam  dekomposisi  bahan  organik  tanah  dalam penyediaan unsur hara. Makrofauna akan  meremah-remah substansi nabati yang mati, kemudian  bahan  tersebut  akan  dikeluarkan  dalam  bentuk  kotoran.  Secara  umum, keberadaan aneka macam fauna tanah pada  tanah yang tidak terganggu seperti padang rumput, karena siklus hara berlangsung  secara kontinyu. Arief (2001), menyebutkan, terdapat suatu peningkatan nyata pada siklus hara, terutama nitrogen pada lahan-lahan yang ditambahkan mesofauna tanah sebesar 20%-50%.

Fauna tanah memainkan peranan yang sangat penting dalam pembusukan zat atau bahan-bahan organik dengan cara :

1.   Menghancurkan jaringan secara fisik dan meningkatkan ketersediaan daerah bagi aktifitas bakteri dan jamur,

2.   Melakukan pembusukan pada bahan pilihan  seperti gula, sellulosa dan sejenis lignin,

3.   Merubah sisa-sisa tumbuhan menjadi humus,

4.   Menggabungkan bahan yang membusuk pada lapisan tanah bagian atas,

5.   Membentuk kemantapan agregat antara bahan organik dan bahan mineral tanah.

(Barnes, 1997).

Meskipun fauna tanah khususnya mesofauna tanah sebagai penghasil senyawa- senyawa organik tanah dalam ekosistem tanah, namun bukan berarti berfungsi sebagai subsistem produsen. Tetapi, peranan ini merupakan nilai tambah dari mesofauna sebagai subsistem  konsumen  dan  subsistem  dekomposisi.  Sebagai  subsistem  dekomposisi, mesofauna  sebagai  organisme  perombak  awal  bahan  makanan,  serasah,  dan  bahan organik lainnya (seperti kayu dan akar) mengkonsumsi bahan-bahan tersebut dengan cara melumatkan  dan  mengunyah  bahan-bahan  tersebut.  Mesofauna  tanah  akan  melumat bahan dan mencampurkan dengan sisa-sisa  bahan organik lainnya, sehingga menjadi fragmen berukuran kecil yang siap untuk didekomposisi oleh mikrobio tanah (Arief,

2001).  Tarumingkeng  (2000),  menyebutkan  bahwa  dalam  suatu  habitat  hutan  hujan tropika diperkirakan, dengan hanya memperhitungkan serangga sosial (jenis-jenis semut, lebah  dan  rayap),  peranannya  dalam  siklus  energi  adalah  4  kali  peranan  jenis-jenis vertebrata.

Organisme-organisme yang berkedudukan di dalam tanah sanggup mengadakan perubahan-perubahan besar di dalam tanah, terutama dalam lapisan atas (top soil), di mana terdapat akar-akar tanaman dan perolehan bahan makanan yang mudah. Akar-akar tanaman yang mati dengan cepat dapat dibusukkan oleh fungi, bakteria dan golongan- golongan organisme lainnya (Sutedjo dkk., 1996)

Serangga pemakan bahan organik yang mambusuk, membantu merubah zat-zat yang  membusuk  menjadi  zat-zat  yang  lebih  sederhana.  Banyak  jenis  serangga  yang meluangkan  sebagian  atau  seluruh  hidup  mereka  di  dalam  tanah.  Tanah  tersebut memberikan serangga suatu pemukiman atau sarang, pertahanan dan seringkali makanan. Tanah tersebut diterobos sedemikian rupa sehingga tanah menjadi lebih mengandung udara, tanah juga dapat diperkaya oleh hasil ekskresi  dan tubuh-tubuh serangga yang mati. Serangga tanah memperbaiki sifat  fisik tanah dan menambah kandungan bahan organiknya (Borror dkk., 1992). Wallwork (1976), menegaskan bahwa serangga tanah juga  berfungsi  sebagai  perombak  material  tanaman  dan  penghancur  kayu.  Szujecki

(1987) dalam Rahmawaty (2000), mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi keberadaan serangga tanah di hutan, adalah: 1) struktur tanah berpengaruh pada gerakan dan   penetrasi;   2)   kelembaban   tanah   dan   kandungan   hara   berpengaruh   terhadap perkembangan dalam daur hidup; 3) suhu tanah mempengaruhi peletakan telur; 4) cahaya dan tata udara mempengaruhi kegiatannya.

Suhardjono  (2000),  menyebutkan  pada  sebagian  besar  populasi  Collembola tertentu,  merupakan  pemakan  mikoriza   akar  yang  dapat  merangsang  pertumbuhan simbion dan meningkatkan pertumbuhan tanaman. Di samping itu, Collembola juga dapat berfungsi menurunkan kemungkinan timbulnya penyakit yang disebabkan oleh jamur. Collembola  juga  dapat  dijadikan  sebagai   indikator  terhadap  dampak  penggunaan herbisida. Pada tanah yang tercemar oleh herbisida jumlah Collembola yang ada jauh lebih sedikit dibandingkan pada lahan yang tidak tercemar.

Keanekaragaman  fauna  tanah  pada  musim  atau  tipe  permukaan  tanah  yang berbeda memiliki perbedaan. Hal ini dapat diketahui dari hasil penelitian Suhardjono dkk. (1997), yang menyebutkan bahwa terdapat perbedaan keanekaragaman suku yang tertangkap  pada  musim  dan  lokasi  yang  berbeda.  Selain  itu  pada  penelitian  yang dilakukan oleh Mercianto dkk. (1997), diketahui bahwa pada keanekaragaman tegakan yang berbeda terdapat perbedaan mengenai keanekaragaman jumlah suku dari serangga tanah (tegakan Dipterocarpaceae dan Palmae, tegakan Dipterocarpaceae, serta tegakan Dipterocarpaceae dan Rosaceae).

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *